
Pagi hari menyapa, setelah tadi Salma membantu Taufik bersiap kini mereka akan turun untuk sarapan. Sebelum keluar dari kamarnya, Salma melirik kearah nakas dimana album foto yang semalam ia pinjam dan ditaruhnya disana.
"Ah.. sayang sekali aku tidak bisa lanjut membacanya sekarang. Pekerjaanku di butik sedang banyak, mungkin lain waktu aku membacanya lagi." ucap Salma kemudian berlalu menyusul Taufik yang sudah lebih dulu turun kebawah.
Meletakkan tasnya juga tas kerja Taufik dikursi, kemudian mengambilkan nasi dan lauk ke piring Taufik yang sudah terduduk menunggunya. Selepas itu, ia pun duduk dikursi depan Taufik dan mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
Usai semua itu, Salma mengantar kepergian Taufik lalu memasuki mobilnya dan berlalu pergi ke butiknya. Saat dalam perjalanan menuju butik, handphone Salma bergetar.
Drt.. drrt...
Pertanda sebuah pesan masuk.
Salma pun dengan segera mengambil handphonenya yang berada dalam tasnya, membuka dan membaca pesan tersebut yang ternyata pesan dari salah satu teman Salma.
Sedetik setelah membaca pesan itu mata Salma berbinar sangat indah, ia terlihat sangat gembira membaca informasi dari temannya itu. Dan tanpa berpikir lagi, ia membalas pesan itu untuk menanyakan informasi detailnya. Karena berita ini adalah hal yang dinanti - nanti oleh Salma sejak lama, jadi ia tidak mau kalau harus kehilangan kesempatan untuk itu.
Tak terasa Salma sudah sampai di butik dan sudah duduk dikursi kerjanya. Hari ini seperti biasanya Salma disibuk dengan semua pesanan dan pekerjaannya. Ditengah - tengah kesibukkannya mendesain, ia teringat kembali dengan pesan yang didapatnya tadi. Jika tadi ia merasa gembira, namun tidak dengan sekarang yang terlihat termenung memikirkan ajakan temannya tadi untuk mengikuti dan menghadiri sebuah acara fashion show di luar negeri. Ya benar, isi pesan tadi adalah informasi bahwa akan diadakannya acara fashion show ini.
Sebenarnya Salma juga sudah mendapatkan tawaran dan undangannya langsung dari salah satu panitia yang mengurus acara tersebut, tadi baru saja Karin yang memberitahu Salma kalau ia diundang melalui email resmi mereka. Namun Salma belum memberi jawaban pasti akan mengikuti acara tersebut atau tidak.
Salma masih bingung dan dilema, harus mengikutinya atau tidak. Yang mendasari kebingungan Salma kali ini adalah ia yang kini sudah menikah dan berstatus sebagai istri, ia tidak akan sebebas dulu ketika masih lajang yang memutuskan segala sesuatu seorang diri dan hanya tinggal meminta izin ayah dan ibunya saja.
Tentu dengan statusnya sekarang Salma harus mempertimbangkannya secara matang dan tentu dengan izin Taufik atau jika perlu ia mendiskusikannya dulu dengan Tau. Tapi Salma ragu, ragu jika Taufik tidak akan mengizinkannya mengikuti acara itu, apalagi ini sampai harus ke luar negeri.
Dia bahkan takut hanya untuk sekedar membicarakan hal ini pada Taufik, ia takut Taufik akan marah dan tidak memahami maksud dari keinginannya. Ya.. Salma akui bahwa ia belum betul - betul mengerti Taufik dan cara berpikir Taufik, sehingga ia merasa ragu dan cenderung pesimis dengan keadaan kali ini.
__ADS_1
"Kalau menurut saya, lebih baik ibu bicarakan hal ini dengan suami ibu. Ini adalah kesempatan yang baik untuk butik dan karir ibu, dan akan sangat disayangkan jika ibu melewatkannya." Usul Karin yang memang sejak tadi ada disana melihat kegusaran Salma mengenai hal ini.
Ya.. Salma pun menyadarinya bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuknya dalam memajukan dan mengembangkan karirnya dalam dunia fashion. Dan haruskah ia melewatkan kesempatan emas ini? Hanya karena ia merasa ragu juga takut pada keputusan Taufik. Tidakkah seharusnya Salma mencobanya terlebih dahulu?
"Iya.. kamu benar Karin, setidaknya saya harus mencoba dan apapun keputusannya nanti, saya akan terima." Sahut Salma yang menggapi usulan Karin.
"Tapi.. bagaimana caranya? Apa saya menghubunginya lewat telpon saja ya..?" Timbang Salma lagi.
"Jangan bu, lebih baik ibu pergi saja ke kantornya. Sebentar lagi kan jam makan siang, ibu datang saja kesana dengan membawakan makan siang untuk suami ibu." Usul Karin lagi.
"Emm.. begitu ya. Baiklah, kalau begitu sekarang saya akan pergi kesana." Putus Salma melihat arlojinya, kemudian beranjak berdiri merapihkan meja kerjanya.
"Sementara kamu, seperti biasa membeli makan siang untukmu dan yang lain nanti. Dan terima kasih atas saran - sarannya tadi." Sambung Salma.
"Siap bu, iya bu santai saja. Kalau begitu saya permisi ya bu." Berlalu setelah mendapat sahutan dari Salma.
Kini Salma sudah sampai di kantor Taufik setelah tadi sempat mampir dulu ke sebuah restoran untuk membeli makan siang untuknya juga Taufik.
"Assalamu'alaikum. Permisi mbak, apa tuan Taufik ada di tempat sekarang?" Tanya Salma pada resepsionis kantor Taufik.
"Wa'alaikumsalam, emm.. sebentar." Sahutnya dengan meraih gagang telpon.
"Oh ya dengan siapa dan ada keperluan apa ya bu. Apa ibu sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya resepsionis tersebut dengan ramah sebelum menekan tombol untuk menghubungi seseorang.
"Saya istrinya dan ingin bertemu dengannya, apa bisa? Karena sebelumnya saya memang belum membuat janji." Tanya Salma kembali.
__ADS_1
Resepsionis tersebut terjengkit kaget mendengar penuturan Salma.
"Istri? Oh.. ya ampun, mati aku sampai tidak mengenali istri tuan Taufik." Sesalnya dalam hati.
"Oh.. ma..maaf nyonya, apa bisa anda menunggu sebentar?" Ujarnya yang buru - buru menghubungi seseorang. Salma hanya mengangguk, walaupun sebenarnya ia bingung melihat resepsionis itu menjadi panik.
"Hallo.. maaf mbak Fit, apa tuan Taufik sekarang ada di ruangannya?" Tanya resepsionis tersebut pada seorang wanita disebrang telpon yang tak lain adalah sekretaris baru Taufik.
Ya.. dua hari setelah kepulangannya dari luar kota waktu itu, Taufik memperkerjakan seorang sekretaris agar ada seseorang yang menghandle pekerjaannya disini saat nanti ia dan Husain harus berpergian jauh lagi.
"Ya, tuan Taufik ada. Ada apa ya?" Jawab sekretaris itu.
"Em.. ini mbak istri tuan ada didepan, sudah dulu ya.. mbak saya mau mengantar nyonya kesana." Kata resepsionis itu lagi kemudian menutup telponnya sebelum mendapat sahutan lagi.
"Mari nyonya saya antar keatas." Ajak resepsionis itu yang mempersilahkan Salma memasuki lift.
Sedangkan di lantai atas, sekretaris yang tadi menerima telpon jadi bingung.
"Istri? Istri siapa yang dimaksud? Apa istri tuan Taufik? Apa benar tuan sudah menikah dan memiliki istri?" Gumamnya dengan kebingungan.
Tak lama dari itu, Salma dan resepsionis tadi keluar dari lift. Salma diantar sampai ke meja sekretaris Taufik yang bernama Fitri itu. Setelah sedikit memberi tahu Fitri, si resepsionis tadi pun pamit dan berlalu setelah Salma mengucapkan terima kasih padanya.
"Oh.. jadi benar, ini istri tuan Taufik?" Batin Fitri ketika melihat Salma, lalu ia pun segera mempersilahkan Salma dengan mengetukan pintu ruangan Taufik.
"Masuk"
__ADS_1
..........