Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 48 Memberitahu


__ADS_3

Salma masih tak menyangka bila saat ini ia tengah mengandung, mengandung buah cintanya dengan Taufik. Ia merasa seakan kejadian beberapa saat yang lalu itu adalah mimpi, mimpi yang membuatnya bahagia sangat,sangat bahagia. Dirabanya perut yang masih terlihat sangat rata itu, dielusnya secara perlahan hingga lagi-lagi ia kembali meneteskan air matanya.


"Kamu benar-benar disana, nak? Kamu tahu? Bunda.. sudah menantikanmu sejak lama, dan akhirnya.. kini kamu hadir dan tumbuh diperut Bunda." Ucap Salma diiringi dengan tangisan harunya, sambil terus mengelus perutnya.


Keinginan dan impiannya itu akhirnya terkabulkan juga, ia sangat bersyukur kepada Sang Pemberi Rezeki yang telah mempercayai dan menganugerahinya dengan sosok kecil yang saat ini bersemayam didalam perutnya. Ia berjanji akan menjaga apa yang telah dititipkan padanya itu, ia juga takkan lelah untuk terus berucap hamdalah sebagai bentuk syukur dan terima kasihnya kepada Sang Pencipta alam semesta ini.


Salma tersenyum dalam linangan air matanya, merasa lega. Karena apa yang selalu ia panjatkan dalam do'a-do'anya, kini satu persatu menjadi kenyataan. Hubungannya dengan Taufik semakin hari semakin membaik, dan sekarang tak lama lagi suara tangisan dari malaikat kecil mereka akan segera hadir memenuhi isi rumah mereka. Dan tentunya hal itu akan membuat keluarga kecil mereka nanti semakin lengkap dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Salma.." seru seseorang yang baru memasuki kamar dengan kedua tangannya yang nampak kerepotan membawa nampan berisi makan siang untuk mereka.


Ya.. itu Taufik, setelah kejadian yang mengharukan tadi. Taufik turun dan meminta Bi Ati untuk menyiapkan makan siang untuk Salma, ia tak mau jika Salma kembali melewatkan waktu makannya. Apalagi saat ini ada nyawa lain dalam tubuh Salma yang akan sangat membutuhkan asupan dan gizi yang baik, untuk tumbuh kembangnya didalam sana.


Salma sedikit terperanjat dan menoleh kearah asal suara. Dilihatnya sang suaminya sedang melangkah kearahnya, dengan sangat perlahan dan hati-hati karena khawatir menu makan siang mereka akan tumpah. Melihat itu, segera Salma menghapus bekas air matanya dan bangkit untuk membantu Taufik dengan mengambil alih nampan ditangannya.


"Kenapa repot-repot dibawa kesini Mas? Aku kan nanti bisa turun, dan memakannya dibawah bersamamu." Ucap Salma dengan membawa nampan itu, lalu meletakkannya diatas meja depan sofa yang tadi ia duduki.


"Tidak apa-apa, aku senang melakukannya. Dan karena hari ini berbeda dan spesial, maka aku berinisiatif membawakannya untukmu kesini." Balas Taufik dengan mendekati Salma, kemudian merangkul dan mengecup keningnya singkat.


Salma tersenyum dan tersipu malu mendengar dan mendapat perlakukan seperti itu dari Taufik. Ia sangat senang karena kini Taufik semakin menunjukan kepedulian dan perhatiannya pada dirinya.


"Ayo.. kita makan sekarang." Ajak Taufik dengan menuntun Salma untuk kembali duduk.


"Hmm.." angguk Salma.

__ADS_1


"Mau aku bantu menyuapimu?" Tawar Taufik yang lagi-lagi membuat wajah Salma bersemu merah.


"Tidak Mas, terima kasih. Aku bisa sendiri." Sahut Salma dengan menundukkan kepalanya.


Melihat Salma yang seperti itu, selalu berhasil membuat Taufik merasa gemas. Ia tahu bahwa saat ini Salma sedang dilanda rasa malu, hingga ia tak berani hanya untuk sekedar menatapnya dan memperlihatkan wajah merahnya itu. Padahal saat-saat seperti inilah yang selalu Taufik tunggu dan rindukan dari sosok istri cantik nan menggemaskannya ini.


"Kenapa? Apa kamu merasa malu? Seharusnya tidak perlu seperti itu, bukankah aku ini suamimu." Goda Taufik , ia berbicara dengan jarak yang sangat dekat dengan telinga Salma, sehingga Salma sedikit menjauhkan dirinya dari Taufik karena merasa geli dengan perlakuan suaminya itu.


"Mass.." seru Salma dengan nada memperingati Taufik, menandakan ia sudah sangat malu dan tidak tahan jika terus Taufik goda.


"Apa sayang..?" Balas Taufik yang semakin gencar dan bersemangat untuk menggoda Salma.


Salma menelan salivanya ketika mendengar kata 'Sayang' kembali Taufik ucapkan untuknya.


"Ah Mas.. kamu menyebalkan! Kenapa kamu terus menggodaku." Ujar Salma merajuk pada Taufik. Ia duduk membelakangi Taufik dengan mencebikkan bibirnya.


"Sayang.. aku hanya bercanda, kenapa kamu menganggapinya dengan serius. Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi, sekarang mari kita makan." Bujuk Taufik dengan mendekati Salma dan memeluk tubuhnya dari arah belakang.


Salma terkejut dengan tindakan Taufik, ia baru saja menetralkan rasa aneh yang ia rasakan ketika Taufik terus memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Dan kini perasaan aneh itu muncul kembali dan membuatnya merasa tak karuan.


"Apa.. kamu tidak kasihan padanya nanti, jika kamu menolak untuk makan seperti ini?" Bujuk Taufik lagi dengan mengulurkan tangannya kearah perut Salma dan mengelusnya perlahan, masih dengan posisinya yang sedang memeluk Salma.


Salma semakin menegang mendapat sentuhan diperutnya, ia menyesal kenapa tadi ia malah merajuk dan kini ia ingin segera mengakhiri ini semua.

__ADS_1


"M..mas, ba..baiklah a..ku akan makan. Tapi, to..tolong betulkan posisi dudukmu sekarang." Balas Salma dengan gelagapan dan segera menyingkirkan tangan Taufik dari perutnya. Ia belum terbiasa mendapat perlakuan seperti itu dari Taufik, dan karena itu ia merasa kurang nyaman sekarang.


"Iya, seperti itu dong. Jangan marah lagi ya.. sayang." Ucap Taufik senang karena berhasil membujuk Salma, tapi ia tidak menyadari kegugupan Salma yang ia perlakukan seperti itu. Ia hanya menurut dan memperbaiki posisi duduknya lagi seperti semula.


Setelah melalui sedikit drama, akhirnya merekapun selesai dengan acara makan siangnya. Dan kini mereka sedang berbincang dan rencananya mereka akan segera memberitahu orang tua mereka soal kabar gembira ini. Entah akan seperti apa reaksi dari orang tua mereka nanti, karena Salma dan Taufik jelas tahu bahwa orang tua mereka sudah sangat ingin mendapatkan kabar ini dari Salma dan juga Taufik.


"Jadi bagaimana? Apa kita akan menelpon mereka sekarang?" Tanya Salma yang nampak tidak sabar dan ingin segera memberitahu keluarganya.


"Mama pasti akan sangat senang Mas, karena beliau begitu menantikan hal ini." Imbuh Salma membayangkan akan seperti nanti reaksi ibu mertuanya.


"Ya, dan sepertinya bukan hanya Mama. Tapi semua keluarga kita pasti akan sangat senang mendapat kabar ini." Tambah Taufik dengan tak kalah semangatnya dan diangguki oleh Salma.


"Ya sudah, aku akan menelpon Mama sekarang atau kamu mau memberitahukannya sendiri?" Tanya Taufik pada Salma.


"Tidak Mas, kamu saja yang beritahu. Aku akan menelpon dan memberitahu ibu saja, bagaimana?" Sahut Salma dengan diakhiri tanya.


"Iya, itu ide yang bagus." Timpalnya kemudian merekapun menelpon ibunya masing-masing untuk memberitahukan kehadiran calon cucu mereka.


Lama mereka berbincang, bahkan sekali-kali mereka saling menukar ponsel mereka karena orang yang mereka telpon masing-masing ingin mendengar suara keduanya. Hingga terjadilah kehebohan diantara mereka, kala Bu Sahidah berinisiatif ingin pergi dan menemui Salma ke rumah Taufik saat itu juga. Namun, dengan penuh kesabaran Taufik segera memberinya pengertian, bahwa beliau tidak perlu tergesa-gesa untuk ke rumahnya. Karena rencananya besok Taufik akan mengundang semua keluarganya untuk datang ke rumahnya yang akan mengadakan acara syukuran kecil-kecilan dan hanya akan dihadiri oleh keluarga saja.


.


.

__ADS_1


LIKE, COMENT DAN VOTENYA YA..


Bersambung...


__ADS_2