Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 34 Tak menyangka


__ADS_3

Terlihat dua orang pria dewasa sedang duduk mematung dengan mulut keduanya yang sedang menganga, melihat kenyataan bahwa istri mereka ternyata sudah saling mengenal, bukan hanya itu tapi bahkan sudah akrab, akrab sekali.


Terkejut, merasa tak menyangka namun juga senang meski masih dibalut dengan keheranan dan beribu pertanyaan dikepala keduanya. Memang dari semula keinginan dan rencana awal mereka adalah mendekatkan dan membuat istri - istri mereka menjalin hubungan yang baik, seperti hubungan pertemanan mereka.


Tapi diluar dugaan mereka, tanpa mereka harus bersusah payah mendekatkan dan membuat keduanya akrab, ternyata mereka sudah lebih dulu saling mengenal. Bahkan pertemanan mereka bisa dibilang bukan hanya pertemanan biasa, tapi sudah seperti layaknya dua saudara yang lama tak bersua. Dan jangan lupakan juga! Karena ternyata bukan hanya mereka saja yang dekat, si kecil Akmal juga sangat dekat bahkan lengket sekali pada Salma. Lihat bahkan sekarang ia lebih memilih duduk dipangkuan Salma, ketimbang dipangkuan ibunya sendiri.


"Ekhm.. kalian sudah saling mengenal?" Tanya Wijaya yang diangguki oleh Taufik, setelah keduanya kembali tersadar.


"Sejak kapan?" Tambah Taufik menimpali pertanyaan Wijaya. Mereka kini benar - benar sangat penasaran dengan hal itu.


"Emm.. begini, biar aku yang jelaskan." Ucap Izma yang akan memulai menceritakan pertemanannya dengan Salma. Mereka kini sudah duduk, dimana Izma duduk disebelah Salma yang sedang memangku anaknya. Dan Wijaya juga Taufik yang duduk dihadapan mereka.


"Mas ingat tidak dengan ceritaku tempo hari, dimana waktu itu aku bertemu lagi dengan sahabat baikku? Dan ya.. orang itu adalah Salma, kami sudah saling mengenal beberapa tahun yang lalu. Salma dan aku kuliah di kampus yang sama, walaupun kami mengambil jurusan yang berbeda tapi kami terbilang sangat dekat dan selalu pergi kemanapun berdua." Papar Izma memulai ceritanya.


"Dan beberapa bulan sebelum aku menikah dengamu, aku kehilangan kontaknya. Sehingga kita pun tidak tahu kabar satu sama lain sejak saat itu." Lanjut Izma.


"Ya, hingga beberapa bulan yang lalu kita tidak sengaja bertemu lagi di sebuah rumah makan." Timpal Salma melengkapi cerita Izma. Keheranan Wijaya dan Taufik pun akhirnya terjawab sudah.


"Hmm.. pantas saja." Ujar Taufik.


"Oh ya.. Akmal sayang, salam dulu pada unclemu nak." Ingat Izma pada anaknya.


"Oh iya Ma, Akmal lupa" sahut Akmal yang langsung mendekati Taufik dan menyalaminya.


"Iya sekarang kamu sombong sekali, tadi kamu bahkan mengabaikanku." Timpal Taufik yang pura - pura merajuk pada Akmal.


"Hehe.. maaf uncle, tadi Akmal sangat senang aunty Salma ada disini. Dan inikan pertama kalinya aunty datang kesini." Ujar Akmal lagi dengan cengengesan melihat Taufik merajuk padanya.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kita lanjut ke ruang makan. Karena takutnya makanan disana nanti sudah dingin." Ajak Izma yang diangguki oleh semua orang disana. Mereka beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju ruang makan dengan Akmal yang digendong oleh Taufik.


"Ayo.. silahkan duduk!" Kata Izma mempersilahkan mereka untuk duduk.

__ADS_1


"Oh ya.. ini Iz, aku bawa sedikit makanan untuk kalian. Hampir saja aku melupakannya." Salma menyodorkan bawaannya pada Izma.


"Ya ampun Sal, kenapa harus repot - repot begini." Sahut Izma merasa tak enak pada Salma, namun tetap menyambut dan menerimanya.


"Tidaklah Iz, tidak merepotkan sama sekali. Justru kini aku yang merasa telah merepotkanmu. Dan ya.. ini memang benar - benar kebetulan sekali, disana juga ada cake kesukaan Akmal yang enak kenapa aku ingin membelinya tadi." Balas Salma.


"Oh terima kasih banyak Sal, sudah ah.. jangan merasa tidak enakkan begitu padaku Sal. Lebih baik kita makan, sepertinya mereka juga sudah terlihat lapar." Ujar Izma yang diangguki oleh Salma, mereka pun mulai menuangkan makanan ke piring suami mereka masing - masing. Ditengah - tengah hal itu, tiba - tiba Akmal kembali bersuara.


"Ma.. aku ingin aunty ya.. yang suapin Akmal makan." Pinta bocah itu pada Izma.


"Tidak sayang, aunty juga akan makan. Nanti aunty jadi kerepotan lagi, biar Mama atau mbak saja ya.. yang suapin Akmal?" Bujuk Izma pada Akmal yang kini sudah merubah ekspresinya jadi cemberut.


"Tidak papa Iz, biar aku saja." Timpal Salma yang berhasil membuat Akmal kembali senang.


"Tidak Sal, biar saja aku atau pengasuhnya yang menyuapi Akmal. Nanti dia kebiasaan lagi.. memintamu menyuapinya saat kamu juga akan makan. Seperti waktu itu lho.. Sal." Cegah Izma dengan mengingatkan kejadian waktu mereka tak sengaja bertemu saat di Supermaket.


"Yah.. Mama gak seru.." protes Akmal tapi tetap menurut saat pengasuhnyalah yang menyuapi ia makan.


"Aunty ayo kita main, bukankah tadi aunty sudah berjanji akan menemani Akmal main." Tagihnya saat acara makan telah selesai beberapa waktu lalu.


"Haha.. kamu ingat ternyata, aunty pikir kamu akan lupa. Tapi.. inikan sudah malam sayang, apa tidak sebaiknya kamu tidur? Dan untuk bermain kita bisa melakukannya lain waktu, bagaimana?" Sahut Salma yang memang melihat bahwa Akmal sudah mengantuk.


"Akmal! Ayo minum dulu susunya sayang." Ucap Izma yang baru tiba dari dapur dengan membawakan segelas susu untuk Akmal.


"Itu susu formula? Apa Akmal sudah berhenti minum ASI?" Tanya Salma yang terlihat bingung karena terakhir kali dia bertemu Akmal, Akmal masih menyusu pada Izma.


"Iya, sekarang aku berinya susu formula. Karena aku memang sudah menghentikan ASInya beberapa hari terakhir ini, lagi pula tak lama lagi Akmal akan sudah berumur dua tahun. Jadi aku mencoba untuk membuatnya terbiasa." Jawab Izma yang ditanggapi dengan anggukan oleh Salma.


"Ayo.. sekarang waktunya kamu untuk tidur, tuh kamu sudah mengantuk kan?" Ujar Izma lagi pada anaknya yang terlihat sedang menguap sehabis meminum susunya.


"Em.. iya Ma, tapi dengan aunty juga ya.. Akmal tidurnya. Dan besok setelah Akmal bangun, Akmal akan main dengan aunty. Iya 'kan aunty?" Balas Akmal dengan menunggu jawaban dari Salma. Salma melirik pada Izma, yang kemudian mengiyakan ajakan Akmal agar dia segera pergi tidur.

__ADS_1


Setelah menggosok giginya, Akmal berbaring diranjangnya dengan diapit oleh Salma dan Izma. Hingga akhirnya dia tertidur pulas masuk kedalam mimpinya.


Salma melihat jam tangannya, kemudian bangkit.


"Iz, sepertinya aku akan pulang sekarang. Ini sudah sangat malam, dan sudah waktunya juga untuk kalian istirahat." Ucap Salma izin pamit pada Izma, dan Izma pun mengantar Salma kedepan dimana Wijaya dan Taufik sedang duduk dan membicarakan tentang bisnis mereka.


"Baiklah ayo, aku antar kedepan." Sahut Izma.


"Mas, mari kita pulang. Sudah malam, tidak enak bertamu sampai larut begini. Dan Izma, kak Wijaya terima kasih atas undangan dan makan malamnya. Semoga lain waktu kalian bisa berkunjung juga ke rumah kami." Ajak Salma pada Taufik yang kemudian berbicara pada pemilik rumah.


"Ah.. iya Sal, sama - sama." Balas Izma.


"Iya, InsyaAllah nanti kami juga akan berkunjung ke sana." Tambah Wijaya dan akhirnya mereka pun berpamitan dengan Salma dan Izma yang bercupika - cepiki seperti biasanya dan Wijaya dan Taufik yang saling berjabat tangan dan berpelukan.


"Assalamu'alaikum.." seru Salma dan Taufik.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, kalian hati - hati!" Balas pasutri pemilik rumah. Hingga mobil Taufik pun berlalu dari rumah mereka.


"Hah.. aku masih tak menyangka saja mas. Ternyata sahabatku yang menikah dengan sahabatmu." Ucap Izma pada suaminya.


"Iya, benar - benar diluar dugaan kita. Rencana Allah SWT memanglah yang paling indah." Sahut Wijaya dengan menggiring istrinya masuk kembali kedalam rumah.


.


.


Jangan lupa dukunganya berupa Like dan Votenya ya.. teman - teman😊😊


Makasih😍


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2