
Ting Tong..
Bunyi bel rumah orang tua Taufik, Salma baru saja sampai dan dengan segera ingin bertemu dan melihat keadaan mertuanya itu.
Ceklek..
"Assalamu'alaikum Bi, bagaimana keadaan Mama sekarang?" Serobot Salma saat pintu sudah dibuka oleh salah satu asisten di rumah itu.
"Wa'alaikumsalam Non, silahkan masuk Non. Alhamdulillah Nyonya sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya Non, tapi beliau masih lemas dan belum bisa bangun dari tempat tidurnya. Mari saya antar ke kamar beliau Non.." papar dan tawar Bi Ani pada Salma.
"Iya Bi, mari!" Balas Salma yang memang sudah tidak ingin menunggu lagi.
"Assalamu'alaikum Ma!" Salam Salma pada Bu Sahidah ketika ia membuka pinta dan masuk kedalam kamar mertuanya.
"Wa'alaikumsalam, sayang! kamukah itu? Mama senang kamu datang kesini." Sahut dan tanya Bu Sahidah dengan suara lemahnya.
Lalu Bu Sahidah pun berusaha bangun dari posisi berbaringnya dengan susah payah, melihat mertuanya yang ingin bangun dan terlihat kesulitan dengan cepat Salma pun meletakkan tasnya. Lalu membantu Bu Sahidah untuk bangun dan bersandar dikepala ranjang.
"Terima kasih sayang." Ucap Bu Sahidah, Salma lalu mendudukan dirinya ditepi ranjang samping Bu Sahidah.
"Iya Ma, ini aku Salma. Mama kenapa tidak memberitahuku dari awal jika Mama sedang sakit? Aku merajuk pada Mama!" Protes Salma dengan melipat kedua tangannya didada dan memulai aksi merajuknya pada Bu Sahidah.
Bu Sahidah terkekeh melihat kelakuan menantu kesayangannya itu, padahal baru beberapa menit Salma berada disisinya. Tapi hal itu benar-benar ampuh membuatnya terhibur dan merasa kembali sehat.
__ADS_1
"Hehe.. sayang, jangan begitu Mama hanya sakit biasa kok. Kamu jangan mencemaskan Mama ya.. Mama baik-baik saja, apalagi sekarang sudah ada kamu disini." Balas Bu Sahidah meraih tangan Salma dan menggenggamnya. Kemudian tersenyum berusaha membuat Salma yakin dan percaya.
"Bagaimana aku bisa tidak merasa cemas Ma, Mama sedang sakit dan aku tidak mengetahuinya sama sekali. Aku merasa seperti orang lain disini." Ucap Salma lagi dengan sedikit sendu.
"Sayang.. apa maksudmu? Kenapa kamu berbicara seperti itu nak, Mama hanya tidak mau anak-anak Mama khawatir nantinya. Maka dari itu, Mama meminta Papa untuk tidak memberitahumu ataupun Taufik soal ini." Sanggah Bu Sahidah lalu mempererat pegangan tangannya pada tangan Salma.
"Kamu tahu tidak sayang? Bagi Mama, kamu itu bukan hanya sekedar seorang menantu tapi sudah Mama anggap seperti anak kandung Mama sendiri. Bahkan terkadang rasa sayang Mama beri kepadamu, itu melebihi rasa sayang Mama pada Taufik yang tak lain adalah anak kandung Mama sendiri, nak. Jangan meragukan ketulusan Mama ya.. sayang, Mama jadi sedih nih." Lanjut Bu Sahidah menjelaskan kepada Salma dengan panjang lebar.
Mendengar menuturan mertuanya Salma jadi merasa bersalah dan segera memeluk tubuh mertuanya itu. Ia juga sudah berurai air mata sejak tadi, ia merasa benar-benar bersyukur memiliki ibu mertua sebaik dan setulus Bu Sahidah dan ya.. ia sadari jika kasih sayang Bu Sahidah memang begitu besar terhadapnya. Lalu kenapa tadi ia mengatakan hal tak masuk akal seperti itu, ia sungguh merutuki pikirannya tadi.
"Maaf Ma, maafkan aku. Hiks.. hiks.." cicit Salma dalam pelukan mertuanya.
"Iya sayang, tidak apa-apa." Sahut Bu Sahidah membalas pelukan Salma dan mengelus punggung Salma.
"Mungkin karena efek dari hormon kehamilannya Salma menjadi lebih perasa seperti ini, apalagi Taufik sedang tidak ada disisinya saat ini." Batin Bu Sahidah dengan terus mengelus Salma.
"Iya, Mama belum makan, kamu juga belum makan'kan sayang?" Tanya balik Bu Sahidah karena Salma tiba tepat diwaktu jam makan siang, jadi sudah pasti jika Salma belum makan sekarang.
"Iya Ma, tapi sekarang Mama makan lebih dulu lalu minum obat dan istirahat. Baru setelah itu Salma akan makan, tunggu dulu ya Ma. Salma akan minta Bi Ani menyiapkan makanan Mama dulu." Jawab Salma yang kemudian bangkit dan pergi ke dapur untuk menemui para asisten di rumah mertuanya.
Setelah beberapa saat, Salma kembali ke kamar Bu Sahidah dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Bu Sahidah ditangannya.
"Ayo Ma, biar Salma yang menyuapi Mama makan." Pinta Salma ketika ia sudah duduk disamping Bu Sahidah, dengan tangan yang sudah memegang mangkuk.
__ADS_1
"Ah.. sayang tidak apa-apa biar Mama makan sendiri saja." Tolak Bu Sahidah merasa tidak enak untuk merepotkan Salma.
"Ayolah Ma, biarkan aku yang melakukannya." mohon Salma yang ingin tetap ia yang menyuapi mertuanya.
"Hah.. baiklah, baiklah." Ujar Bu Sahidah yang akhirnya mengalah pada keinginan sang menantu.
"Nah.. begitu dong." Balas Salma girang karena diperbolehkan juga akhirnya, entah kenapa akhir-akhir ini Salma memang selalu sedikit memaksa pada orang-orang disekitarnya jika ia sudah menginginkan sesuatu.
Lalu dengan telaten dan penuh perhatian Salma pun menyuapi Bu Sahidah makan, sesekali ia juga menyeka makanan yang tertinggal disekitar sudut bibir Bu Sahidah. Salma senang begitu pun Bu Sahidah, ia merasa sangat, sangat bersyukur diberi menantu sebaik dan selembut Salma. Ia bahkan tak henti-hentinya untuk tersenyum selama ia makan tadi, hingga sesudah ia makan dan meminum obatnya Salma memintanya untuk beristirahat. Namun, sebelum itu Bu Sahidah kembali mengingatkan Salma untuk makan siang dan memintanya untuk beristirahat juga setelahnya, karena ia tahu pasti Salma merasa lelah saat ini dengan kondisinya yang sedang hamil ia merawat dan mengurusi dirinya tadi.
Salma kini sudah dimeja makan, ia makan dengan ditemani oleh beberapa asisten disana. Tadi ia meminta mereka untuk menemaninya makan, ia sedang tidak mau makan sendirian. Ya.. meskipun tadi sempat mendapat penolakan dari mereka, karena mereka merasa sungkan dan tidak enak jika harus makan satu meja dengan menantu majikan mereka. Tapi seperti sebelum-sebelumnya Salma akan selalu bisa membujuk atau bisa dikatakan memaksa mereka dengan ide dan cara-caranya itu, hingga akhirnya mereka pun mengalah dan mau meski hanya bisa makan sambil menunduk dan dengan tangan mereka yang gemetar.
"Huh.. Nona ini, benar-benar sangat pemaksa. Dulu kurasa ia tidak seperti ini, ah ya.. mungkin karena kehamilannya Nona Salma jadi seperti ini. Huh.. untunglah aku tadi menuruti keinginannya, kalau tidak nanti bayinya bisa saja mengeces. Aku bahkan hampir saja melupakan tentang kehamilannya tadi." Keluh dan gumaman dalam hati salah satu asisten disana yang mempercayai soal mitos bayi yang akan mengeces nantinya, ketika keinginan sang ibu tidak dituruti saat sedang mengandung.
.
.
.
Maaf aku Upnya jadi gak teratur dan bolong-bolong kayak gini. Dan makasih pada kalian yang masih setiap nunggu aku Up dan baca novelku ini.
Makasih banget, dan jika kalian tidak keberatan tolong tinggalkan juga jejaknya setelah kalian baca ya.. dengan Like, Koment dan Vote.
__ADS_1
.
Bersambung...