Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 36 Mengantar Salma


__ADS_3

Sudah hampir seminggu dari hari Salma dan Taufik berkunjung ke rumah Wijaya. Dan selama itu juga Salma rutin mengantarkan makan siang untuk Taufik ke kantornya, seperti yang diminta Taufik tempo hari. Dan siang ini pun begitu, kini Salma sudah duduk dikursi sofa ruangan kerja Taufik.


"Mas.. sudah dulu kerjanya, ayo dimakan makan siang." Ucap Salma sambil tangannya sibuk menata makanan diatas meja yang berada didepannya.


Taufik pun beranjak dari kursi kerjanya, dan berjalan mengampiri Salma.


"Kapan, emm.. maksudku jam berapa penerbanganmu besok?" Tanya Taufik ketika sudah mendudukan dirinya disamping Salma dan bicara dengan memperhatikan Salma.


Hah.. jujur saja sebenarnya sampai saat ini pun, ia masih merasa berat dan enggan sekali melepas kepergian Salma. Namun, ini sudah menjadi keputusannya mengizinkan dan membiarkan Salma mengejar apa yang menjadi cita - citanya. Dan Taufik juga tidak mau, jika dia sampai menjadi suami yang pengekang dan melarang pasangannya untuk melakukan ini itu padahal hal tersebut justru yang membuat pasangannya bahagia.


"Sekitar pukul sembilan mas, memang kenapa?" Sahut Salma dengan menoleh kearah suaminya berada, dan ketika melihat Taufik Salma dapat melihat wajah Taufik yang seakan murung mendengar jawabannya.


"Kenapa mas? Apa.. mas berubah pikiran sekarang?" Tanya Salma lagi dengan takut - takut jika tebakannya itu benar.


"Ah.. tidak, tidak bukan begitu. Apa kamu sudah menyiapkan barang bawaanmu?" Balas Taufik berusaha mengalihkan perasaannya agar tak terlalu merasa sedih.


"Emm.. sudah mas, jadi besok aku tinggal pergi ke bandara." Ujar Salma.


"Baiklah, besok biar aku yang mengantarmu ke bandara." Lanjut Taufik kemudian meraih makan siangnya yang sejak tadi sudah Salma siapkan.


Salma tidak menyahuti Taufik lagi, dia terdiam sesaat setelah mendengar ucapan Taufik. Kini Salma masih setia menatap wajah Taufik, terlihat jelas ada gurat kegelisahan di sana.


"Kenapa? Ayo makan makananmu." Seru Taufik yang melihat Salma masih dengan posisi sebelumnya dan belum menyentuh makan siangnya.


"Iya mas." Timpal Salma yang kemudian mulai menikmati makanannya dengan pikiran yang masih semraut dan begitupin dengan Taufik yang mengalami hal yang sama.

__ADS_1


Selesai dengan itu semua, Salma berpamitan pada Taufik akan kembali ke butiknya karena ia memiliki sebuah janji temu dengan salah satu kliennya untuk membicarakan perihal pesanan kliennya itu.


"Aku pamit mas, Assalamu'alaikum." Pamit Salma dengan mencium tangan Taufik setelah tadi menjelaskan tentang pekerjaannya yang sekarang Alhamdulillah semakin banyak pembeli dan pelanggannya.


"Baiklah hati - hati, Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Sahut Taufik dengan menatap Samen yang berjalan menjauh darinya.


"Huh.. andai saja aku bisa melarangmu. Namun aku terlalu takut untuk membuatmu sedih." Ucap Taufik dalam hatinya.


Salma ke luar dari ruangan Taufik dan melihat Fitri yang sedang duduk di mejanya dengan melakukan pekerjaannya. Lalu ia pun mendekat dan ingin menyapanya, seperti biasa Salma selalu melakukannya dengan keramahan dan senyum tulusnya. Entah mengapa Salma merasa bahwa ia perlu untuk mendekati dan mengenal Fitri, ia bahkan ingin menawarkan sebuah pertemanan pada Fitri. Entahlah karena alasan apa, namun yang jelas itu yang Salma inginkan saat ini.


Disisi lain Fitri pun bisa merasakan hal itu, ia melihat istri atasannya itu seolah ingin mengetahui banyak hal tentangnya. Fitri bahkan sempat terheran - heran saat mengetahui Salma sangatlah baik padanya, karena yang Fitri tahu biasanya seorang atasan ataupun istri atasan selalu bersikap angkuh dan hanya memerintah saja bisanya. Namun Salma tidak, Salma bahkan tak pernah memperlakukan dan membuatnya merasa seperti seorang bawahan, meski kebenarannya ia hanyalah seorang bawahan disini.


Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya Salma pun berpamitan pada Fitri untuk segera meninggalkan kantor suaminya itu.


"Nyonya anda sangat baik dan tulus. Tapi maaf, karena mungkin anda akan sedikit ikut terseret dalam aksi balas dendam saya pada Husain. Maafkan saya nyonya, saya tidak mungkin mundur dari tujuan awal saya itu." Batin Fitri sambil menatap punggung Salma yang semakin menjauhinya.


🌟🌟🌟🌟


Hari pun berganti, kini Salma sedang bersiap untuk pergi ke bandara dengan Taufik yang setia duduk menunggu Salma dengan sabarnya.


"Sudah? Ayo kita turun dan biar aku yang membawa kopermu." Ucap Taufik bangkit dari duduknya, ketika melihat Salma baru keluar dari ruang ganti dengan menyeret kopernya.


"Em.. baiklah, terima kasih mas." ujar Salma menyahuti Taufik.


Menuruni tangga dan berjalan menuju halaman depan dimana mobil dan Pak Aji sudah siap mengantar mereka ke bandara. Beberapa hari sebelumnya Salma juga sudah memberitahu dan berpamitan pada keempat orang tuanya secara langsung, dengan mengunjungi rumah mereka dan meminta izin pada mereka. Bahkan semalam sehabis makan malam dan membantu bi Ati juga yang lain membereskan meja makan, Salma berpamitan dan berpesan pada mereka untuk menjaga dan memperhatikan makanan Taufik selama ia tidak di rumah. Salma begitu mengkhawatirkan Taufik yang terkadang lupa dengan kesehatan tubuhnya.

__ADS_1


Hingga sampailah mereka didepan mobil, pak Aji mengambil alih koper dari tangan Taufik dan membantu memasukannya kedalam bagasi mobil. Mereka sudah duduk didalam mobil kini, dengan kebisuan dari keduanya. Memang hal itu bukanlah hal yang baru lagi bagi mereka, namun sedari tadi Salma dapat merasakan ada sesuatu yang janggal dari sikap Taufik. Tidak, bukan hanya hari ini saja, bahkan sejak kemarin siang Taufik selalu terlihat gelisah dan seakan sedang terganggu dengan suatu hal dan Salma dapat melihat itu dengan jelas.


"Apa mas Taufik seperti itu karena kepergianku? Tapi.. kenapa? Bukankah dia sudah mengizinkanku, jadi mengapa dia harus meresahkan hal ini?" Bingung Salma hingga membatin dalam hati.


Akhirnya Salma pun memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu, memperbaiki duduknya menjadi menghadap kearah Taufik. Meraih tangan Taufik yang membuat Taufik seketika menoleh kearahnya, dan kemudian berucap.


"Mas.. kamu kenapa?" Menatap mata Taufik dan sejenak terdiam.


"Jika kamu ragu dengan kepergianku, aku tidak papa kok membatalkan penerbanganku." Ujar Salma yang kini ingin mengikhlaskan keinginannya itu, dari pada harus membuat suaminya merasa cemas dan tak nyaman.


"Hei.. ada apa denganmu?" Jawab Taufik yang kaget mendengar ucapan Salma.


"Aku tahu mas, kamu pasti sedang memikirkan itu 'kan? Dan kamu terganggu oleh hal itu." Ungkap Salma.


"Aku benar - benar tidak papa mas, jika tidak mengikuti acara itu. Karena yang seharusnya aku cari itu adalah keridhoanmu. Dan jika dalam hal ini kamu tidak merasa nyaman, bahkan tidak memberiku ridhomu lalu untuk apa aku memaksakannya." Lanjut Salma yang seketika membuat Taufik merasa bersalah akan sikap dan perasaannya yang seakan egois sampai tak ingin ditinggal oleh Salma.


Membalas pegangan tangan Salma dan menatapnya.


"Tidak Salma, maaf membuatmu bingung. Aku tak bermaksud begitu, aku hanya mencemaskanmu. Entah kenapa aku merasa takut dengan kepergianmu ini. Tapi, itu mungkin hanya kekhawatiranku saja yang berlebihan padamu." Balas Taufik.


"Sudahlah.. ayo kita turun, nanti kamu malah tertinggal pesawatmu." imbuh Taufik yang ternyata mereka memang sudah sampai di bandara, bahkan pak Aji sudah keluar dari mobil dan akan menurunkan koper milik Salma.


...----------------...


Mohon dukungan ya guyss..

__ADS_1


dengan Like, Coment dan Votenya.


__ADS_2