Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 69 Perubahan Salma


__ADS_3

Dua minggu sudah setelah Salma pulang dari rumah sakit, ya.. beberapa hari setelah ia sadar dan dinyatakan sehat oleh dokter dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, akhirnya Salma pun diperbolehkan pulang meski setelah itu Salma masih tetap harus sering chek up kesehatannya setiap minggunya ke rumah sakit.


Dan pagi hari ini adalah jadwal Salma untuk kembali chek up kesehatannya, tepatnya hari ini adalah saatnya untuk Salma memeriksakan tangannya. Jika hasil rontgennya hari ini baik, dan tidak menemukan permasalahan apapun maka gips atau penyangga tangan Salma akan segera dilepas oleh dokter hari ini. Dengan begitu, Salma pun akan bisa beraktifitas bebas seperti sebelumnya, meski hanya melakukan pekerjaan atau kegiatan yang ringan-ringan saja dan telah di diskusikan dengan dokter terlebih dahulu.


Taufik sudah nampak semangat dan berbinar pagi hari ini, ia sudah bersiap untuk mengantar Salma dan melihat perkembangan kesehatannya. Ia sebenarnya sudah menunggu lama akan hari ini, Taufik benar-benar merasa tidak tega jika harus melihat Salma yang kesusahan dalam setiap pergerakannya. Ya, meski dirinya selalu dengan senang hati dan selalu siap untuk membantu Salma dalam melakukan apapun. Bahkan selama ini Taufiklah yang selalu siaga menjaga dan merawat Salma, ia yang akan dengan telaten memandikan dan mengurus semua keperluan Salma, meski diawal-awal Salma akan selalu menolak dan merasa tidak enak karena harus menyusahkan suaminya.


Namun dengan kesungguhan dan kesabaran Taufik hingga akhirnya ia pun berhasil untuk membujuk dan meyakinkan Salma. Pernah beberapa kali Taufik melihat Salma yang menangis, kala ia sedang membantunya membersihkan diri dan membantunya berpakaian. Ketika Taufik mempertanyakan tentang alasannya menangis, Salma justru semakin menangis sejadi-jadinya. Ia menangis dengan terus menundukan kepalanya, kemudian ia pun berucap dengan terbata 'Maaf.. aku selalu merepotkanmu, maaf jika aku hanya menjadi beban untukmu'.


Mendengar hal itu jelas saja hati Taufik seakan ditikam sembilu, Taufik pun akhirnya memeluknya dengan terus membisikan dan menyakinkan Salma jika ia tidak pernah sedikitpun merasa direpotkan ataupun disusahkan. Taufik bahkan rela melakukan hal yang lebih dari yang ia lakukan pada Salma saat ini, semakin ia melihat air mata Salma semakin tebal pulalah rasa bersalahnya pada Salma. Ia menyesal karena tidak bisa melindunginya, ia menyesal karena secara tidak langsung menjadi penyebab akan musibah yang Salma alami itu. Ia merasa bodoh dan ceroboh, karena membiarkan istrinya tanpa penjagaan yang layak sehingga para rivalnya bisa dengan mudah melukai istri tercintanya itu.


Senyuman dan wajah berbinar penuh kebahagian dan keceriaan dari Salma pun, kini telah hilang dan tak pernah terlihat lagi oleh Taufik semenjak kejadian di rumah sakit kala itu. Salma yang kini lebih memilih banyak diam dan tak banyak bicara sungguh melukai setiap inci pada tubuh Taufik, hanya keheningan dan tatapan kosong dari Salma yang selalu ia dapatkan. Sesekali terdengar suara isakan ketika mungkin Salma mengingat tentang kejadian menyakitkan itu.


Begitu pun saat ini, terlihat Salma yang sedang terduduk diayunan yang terdapat di balkon kamarnya. Ia duduk dengan pandangan mata yang entah ia arahkan kemana, sebenarnya ini bukan kali pertama lagi bagi Taufik melihat pemandangan seperti ini. Sedih dan sakit sudah pasti sangat ia rasakan ketika melihat sang istri yang masih terpuruk dan belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan pahit itu, namun meski begitu ia mencoba dan berusaha untuk mengerti keadaan Salma. Tak tertinggal juga, Taufik selalu saja berkonsultasi dengan psikiater untuk mendikusikan tentang kesehatan psikis Salma dan bagaimana cara ia membuat Salma berangsur kembali seperti semula.

__ADS_1


Ya, Taufik sadar hal ini bukanlah perkara yang mudah untuk ia selesainya, namun dengan sangat gigih serta disertai do'a dan keyakinanannya yang penuh kepada Sang Khalik ia optimis bisa melalui semuanya dengan baik bersama Salma. Taufik bahkan sudah merencanakan untuk mengikuti program kehamilan seusai kondisi fisik dan psikis Salma kembali pulih, bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu. Namun, ia yakini dengan Salma kembali mengandung anaknya maka Salma akan masa pemulihan Salma dari traumanya ini akan lebih cepat diatasi dan begitu pulalah ajuran psikiater yang sering Taufik temui akhir-akhir ini.


"Sayang..." panggil Taufik pada Salma sesaat setelah ia berada didekat Salma. Mendengar itu Salma pun menolehkan kepalanya kearah Taufik, masih tanpa menyahuti ucapan suaminya. Karena belakangan ini begitulah caranya ia merespon ucapan seseorang hanya sekedar dengan mengangguk asekedarya menggelengkan kepalanya.


"Ayo.. sudah saat kita pergi untuk chek up." Lanjut Taufik dan mendapat anggukan dari Salma, dengan hati-hati Taufik pun membantu Salma untuk berdiri dari posisi duduknya.


🌟🌟🌟🌟


"Tangan nyonya pun sudah bisa dipergunakan seperti sebelumnya, namun mohon diingat jangan dulu melakukan pekerjaan yang berat-berat. Karena ditakutkan otot tangan anda merespon dengan respon-respon yang tidak diinginkan. Karena mungkin perlu pembiasaan kembali secara perlahan-lahan." Sambung dokter yang diangguki mengerti oleh Taufik.


"Iya baik dok, saya mengerti." Sahut Taufik dengan gembira.


"Baiklah, mari sekarang saya bantu melepas penyangga tangan nyonya." Ucap dokter itu kembali dan dengan hati-hati ia pun membantu Salma juga memberi beberapa resep obat untuk membantu pemulihan Salma.

__ADS_1


"Terima kasih dok, kalau begitu kami permisi." Pamit Taufik sambil berjabat tangan dengan dokter itu.


"Iya Tuan, sama-sama." membalas disertai senyuman ramah.


Hingga akhirnya Taufik pun keluar ruangan itu dengan merangkul bahu Salma.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2