
Tin.. Tin...
Tin.. Tin...
Suara klakson mobil seseorang sedari tadi berbunyi. Terlihat dari dalam mobil si pengendara duduk dengan wajah kesal dan jengkelnya, sepertinya ia sedang menanti seseorang yang sudah lama tak kunjung datang.
Mobil yang terhenti tepat didepan sebuah rumah dengan model minimalis itu kira-kira sudah tiba sejak dua puluh menit yang lalu, namun sang pemilik rumah nampaknya belum juga ada tanda-tanda akan menampakkan diri.
Setelah beberapa saat
"Apa kau tuli? Sudah cepatt..! Apa kau mau ku tinggal, heh?! " Bentaknya dengan jengkel saat orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul dengan langkah tergesa-gesa.
"Iya.. iya, maaf. " Sahut Fitri kala ia sudah berhasil masuk mobil dan duduk disebelah kursi pengemudi.
"Tadi aku bangun kesiangan, makany.." Belum sempat ia selesai menjelaskan, namun ucapannya sudah keburu terpotong.
"Aku tak peduli! Lihat saja, sekali saja kau ulangi hal seperti tadi. Aku bukan hanya akan meninggalkanmu, aku bahkan tak kan segan untuk menendang mu dari kantor! " Geram Husain dengan penuh kekesalan dan ancaman yang Fitri tahu itu bukan main-main.
Fitri hanya bisa meringis sambil sesekali melirik ke arah Husain yang sedang fokus mengendarai mobil dengan tatap ke depan. Fitri tahu sedari dulu Husain memang tidak pernah menyukai orang yang tidak disiplin dan berleha-leha, tapi mau bagaimana lagi tadi pagi ia sungguh tidak mengira akan bangun kesiangan. Entahlah ia juga tidak tahu kenapa bisa sampai bangun telat, padahal kemarin setelah mengepak pakaian dan keperluan lainnya, ia sengaja langsung tidur lebih awal agar tidak terjadi hal seperti ini.
Tapi, ya sudahlah.. nyatanya semua ini sudah terjadi. Fitri memilih diam, tak berniat untuk kembali menjelaskan karena mau bagaimana pun ini memang benar salahnya, dan ini juga ia lakukan agar tidak membuat Husain semakin kesal padanya.
Fitri pun akhirnya membuka handphonenya, kaget dan reflek langsung kembali melihat Husain. Bagaimana bisa ia tak kaget, terlihat di ponselnya Husain sudah puluhan kali menelponnya tapi jangankan ia menjawab, ia bahkan tak tahu dan tak mendengar panggilan Husain tersebut.
__ADS_1
Menggaruk pelipisnya yang tak gatal itu, Fitri benar-benar tidak enak pada Husain saat ini. Terpampang jelas waktu dimana Husain mulai menelponnya hingga ia akhirnya keluar menemuinya, itu memang waktu yang cukup lama. Entah apa yang ada di kepala Husain saat ini, mungkin kini ia sedang memaki dan mengutukinya. Untuk saja kejadian ini tidak sampai membuat Husain mengamuk, Fitri bergidik sendiri membayangkan jika Husain sudah marah, ia sangat hapal seberapa menyeramkannya Husain saat sudah marah.
"Ekhmm.. emm.. Hu.. husain, a.. ku minta maaf ya.. sungguh aku tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Fitri dengan terbata setelah sebelumnya mengumpulkan segenap keberaniannya berbicara pada Husain.
Hening, tidak ada jawaban.
"Hu.. sain? " Panggil Fitri ketika lawan bicaranya belum juga angkat bicara.
Husain mendengus, lalu berkata.
"Memang seharusnya seperti itu!! " Ketus Husain tanpa melirik sedikit pun pada Fitri.
Fitri menarik nafas lega karena setidaknya Husain mau bersuara dan menanggapinya.
"Menurutmu?" Husain malah menjawab dengan pertanyaan.
"Tentu saja, kamu pasti memaafkan ku. Karena jika tidak saat ini kamu pasti sedang marah besar padaku. Kamu ingat? Waktu Ambar dulu telat ketika datang kumpulan osis? Waktu itu kamu habis-habisan memarahinya, kamu bahkan tak segan untuk membentak dan menghukum dia didepan semua anggota. " Ujar Fitri sambil menyebut nama teman mereka dimasa Smanya dulu bersama Husain.
"Kamu pasti ingat kan? Kejadian itu benar-benar membuatku kaget, aku bahkan sempat takut dan menghindari mu sampai beberapa hari. Kamu sangat kejam." Keluh Fitri akan sikap Husain saat itu.
"Dan karena sekarang kamu tidak melakukan hal yang sama padaku, itu artinya aku dimaafkan. Ahh.. aku sampai lupa, kamu kan memang tidak pernah bisa marah padaku sejak dulu. Kamu selalu saja memperlakukanku dengan lembut, jangankan membentak ku untuk meninggikan suaramu saja kamu tak pernah ketika itu bersamaku." Fitri yang tanpa sadar terus mengenang masa-masa kebersamaan mereka.
"Tapi.. kini, kamu berbeda. Kamu kasar, kamu jahat, kamu mengabaikan ku dan kamu selalu saja menatapku dengan penuh amarah seakan aku adalah orang yang paling bersalah dan selalu salah dimata mu." Lanjut Fitri mengutarakan unek-uneknya selama ini dengan suara parau dan diikuti tetesan air mata.
__ADS_1
Husain diam tak bergeming sedikit pun, ia hanya mencengkram erat kemudi berupaya dengan itu ia bisa mengendalikan perasaan dan emosinya.
"Tapi kamu tahu Husain? Meski sekarang aku tahu kamu seperti itu, meski hati ini sudah pernah hancur bahkan masih tetap hancur karena kamu tinggalkan dan kamu khianati, namun dengan bodoh dan naif nya aku tetap masih menginginkanmu. Ya, Husain orang payah ini masih tetap bermimpi memilikimu dan hati yang lemah ini masih tetap merintih memanggil namamu." Fitri terus berucap tanpa memperdulikan air matanya yang sudah membanjiri seluruh wajahnya, berbicara tanpa menoleh pada yang diajak bicara justru pandangannya menatap kosong ke depan kala sedari tadi ia bicara.
"Sebenarnya siapa yang salah disini? Aku masih bingung Husain, apakah kamu yang jelas-jelas pergi dan dengan sengaja berkhianat pada janji-janji yang kita ucapkan dulu ataukah justru aku yang jelas sudah tahu akan semua hal itu, namun dengan tanpa malu dan tak tahu dirinya masih saja bersikeras mempertahankan mu tinggal di hati ini?
Katakan Husain, siapa yang salah? Ku mohon beritahu aku, katakan, KATAKAN PADAKU SEKARANG! " Bagaikan orang yang frustasi Fitri benar-benar mengemukakan semua perasannya yang sudah sejak lama kacau balau itu.
Gila! Dia sudah seperti orang gila menahan semua beban dihatinya, menahan sakit yang dideritanya, menahan luka yang semakin hari justru semakin bertambah jumlahnya. Andai Husain tahu dan andai Husain bisa merasakannya juga akan adakah sedikiiiit saja rasa iba di hati pria itu untuk dirinya.
Lelah. Itu yang sebenarnya selama ini Fitri rasakan, namun akan adakah orang yang memahaminya? Orang yang dengan suka rela meminjamkan pundaknya walau hanya untuk sebentarrr saja ia ingin bersandar, ia ingin tertidur dengan nyaman tanpa harus merasakan lagi sakit maupun sesak yang selama ini membelenggu dan menyiksanya.
Membagi beban yang selama ini ia harus pikul sendiri, mungkin kah dengan cara ia menghilang semua ini akan berakhir? Mungkinkah dengan melenyapkan segala rasa yang ia miliki sebagai manusia baru ia akan tenang? Dengan apapun itu, dengan cara apapun itu, tolongg bisakah seseorang menolongnya?
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1