
Dan seperti yang Husain inginkan dan perhitungkan, semua pekerjaan mereka akhirnya rampung juga pada hari ini. Dan seperti yang memang seharusnya terjadi jika semuanya memang sudah selesai mereka akan kembali, namun dikarenakan Husain yang memiliki tugas lain hingga membuatnya kini masih harus tetap berada di sana.
" Fitri, besok kau pulanglah lebih dulu! Pasti akan banyak pekerjaan di sana yang terbengkalai. " Ujar Husain sekembali mereka dari kantor cabang yang kebetulan sempat mereka sambangi tadi.
" Lho, memangnya kau sendiri tidak akan pulang? Kenapa seolah hanya aku saja yang pulang? " Heran Fitri mendengar perkataan Husain tersebut.
" Ya, aku memang masih memiliki urusan lain disini. Jadi, kau pulanglah lebih dulu, tuan Taufik pasti sedang membutuhkan di sana. " Tambah Husain memperjelas perkataannya, dengan pikirannya yang juga kini tengah bercabang memikirkan pria penguntit dirinya yang tempo hari dia tangkap dan dengan terpaksa ia sekap.
Ya, setelah aksi kejar kejaran dan saling baku hantam kemarin, pria berbaju serba hitam yang diduga salah satu kaki tangan dari sosok yang sejak beberapa bulan ini Husain cari itu akhirnya Husain sekap.
Dikarenakan pengakuannya tempo hari kurang meyakinkan, hingga sambil mencari pelaku utama dan bukti-bukti jika seseorang yang disebut pria penguntit itu benar adanya, maka Husain pun memutuskan untuk menyekapnya.
Terlebih Husain juga berencana jika apa yang dikatakan pria itu benar, maka Husain pun akan menjadikannya sebagai salah satu saksi sehingga akan membantunya dalam memperkuat bukti-bukti untuk menjerat sang pelaku hingga dia akan pernah bisa lagi untuk mengelak.
" Hei, kau jangan bercanda Husain! Lalu apakah aku harus pulang sendirian? Ck, yang benar saja. " Keluh dan protes Fitri yang tak terima dengan keputusan Husain yang tiba-tiba tersebut, karena hal ini memang diluar rencana dan gambaran mereka kemarin.
" Ya tentu saja, kau jangan manja! Kau harus tahu dan belajar karena memang seperti inilah dunia kerja, baru hal sepele seperti ini saja kau sudah mengeluh. " Tandas Husain yang sedikit menyinggung pribadi Fitri yang sejak dulu diketahui memang agak ketergantungan pada orang lain.
" Hei.. Masalahnya kau tidak pernah mengatakan apapun kemarin, sekarang tiba-tiba saja kau mengambil keputusan seperti ini! " Fitri masih tak terima, apalagi dengan Husain yang mengatai dirinya seperti tadi.
" Apapun itu seharusnya kau sudah siap, karena semua ini juga termasuk tuntutan dari pekerjaan dan kebijakan perusahaan, jika kau lupa! " Tegas Husain yang mulai terganggu dengan protesan dari Fitri, begitupun dengan Fitri yang merasa kesal namun sudah tidak bisa mengatakan apapun karena ucapan Husain barusan yang mengingatkannya pada isi kontrak kerjanya dulu.
Akhirnya Fitri pun hanya bisa berdecak dan mendengus saja, dengan perasaan dongkolnya yang hanya bisa ia simpan.
✨✨✨✨✨
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, tepatnya disebuah kamar yang cukup luas terlihat seorang pria sudah lengkap dengan pakaian kerjanya, namun terlihat setengah hati bahkan enggan untuk beranjak dan segera pergi.
" Sayang.. Kemarilah, duduk disini. " Pintanya pada sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi dan akan menuju ruang ganti, namun kebetulan melewati dirinya.
" Lho Mas, kenapa belum berangkat? Katanya siang ini ada jadwal meeting yaa? Sudah ku bilang tidak perlu menungguku, nanti telat lho Mas.. " Ucap Salma merasa heran dengan Taufik yang masih terduduk di sana, padahal tadi sebelum dirinya pergi untuk mandi dia sudah berpamitan.
" Sepertinya aku berubah pikiran, sayang.. Bagaimana jika hari ini kita libur saja? Lagipula tanggung juga kan sudah setengah hari ini.. " Ujar Taufik yang kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati Salma yang berdiri dihadapannya masih dengan terbalut bathrobe.
" Yah gak bisa gitu dong Mas, kamu 'kan sudah membuat jadi temu. Kamu gak bisa main batalin gitu aja, kamu harus bertanggung jawab sama kerjaan kamu itu. " Omel Salma akan penuturan Taufik barusan, tak habis pikir kenapa tiba-tiba suaminya jadi seperti ini. Padahal tadi saat ia membantunya bersiap dia tidak seperti ini.
Sebenarnya sudah beberapa minggu ini tingkah Taufik memang sedikit ada yang berubah, dari dia yang selalu ingin berdekatan terus dengan dirinya bahkan sering kali berkunjung ke butik miliknya untuk sekedar makan siang bersama atau menghabiskan waktu bersama.
Taufik yang juga sekarang selalu pulang lebih awal, yang membuat mereka kini kerap kali menghabiskan waktu sore bersama. Sekedar bercengkrama sambil minum teh misalnya, atau menonton siaran sore di televisi dibarengi dengan segala tingkah usilnya.
Dan ternyata ada banyak juga hal-hal yang sebelumnya ia tidak ketahui tentang suaminya itu, kini ia ketahui dan pahami. Meski awalnya sering kali terkejut dan kadang merasa heran, namun kini ia sudah mulai membiasakan diri dan memahami seluk beluk suaminya tersebut.
" Ya sekali-kali mungkin gapapa sayang.. Aku juga masih kangen sama kamu. " Ucap Taufik seraya melabuhkan sebuah kecupan di pipi istri tercintanya itu.
" Ih mas, kamu apaan sih! Setiap hari ketemu juga, udah ah jangan cari-cari alasan sekarang ayo berangkat udah makin siang tuh! " Balas Salma sedikit mendorong tubuh Taufik agar menjauh darinya.
" Ini bukan alasan sayang, aku serius! Bagaimana kalau kita kembali saja ke sana? " Tawar Taufik mencoba menggoda Salma dengan menunjuk kearah ranjang dengan kerlingan matanya, belum lagi dengan tangannya yang kini sudah merayap di atas pundak Salma dan hampir berhasil menyingkap bathrobe milik istrinya itu.
" Mass! Kamu.. ck, benar-benar yaa.. " Tegur Salma yang dengan reflek memundurkan dirinya dan menepis tangan suaminya itu dari pundaknya, kemudian dia pun dengan segera melangkah menuju ruang ganti.
Ya, masa iya rambut mereka berdua saja masih basah sekarang, masa udah mau diulang saja. Mereka tadi bahkan sarapan disaat hari sudah terlihat akan beranjak siang karena hal tersebut
__ADS_1
" Lho.. sayang kenapa? Namanya juga'kan usaha, kita kan sedang melakukan program sekarang jadi sangat diperlukan usaha ekstra. " Ujar Taufik dengan sedikit mengeraskan suaranya agar sampai terdengar oleh Salma yang sudah terlanjur berlalu dari sana.
" Sayang.. Jadi gimana? " Tanya Taufik yang sepertinya masih kekeuh saja dengan keinginannya itu, sampai-sampai menunggui Salma hingga ia keluar dari ruang ganti dengan keadaan sudah terlihat rapih.
" Maass, gak sampai gini juga dong! Kamu juga harus tetap kerja, jangan kayak gini ah.. Aku gak suka. Lagipula aku juga ada beberapa pekerjaan di butik sekarang mass.. " Tolak Salma lembut dengan sedikit menjelaskan keadaan dirinya.
" Kamu beneran nih, mau giniin aku sayang? Dosa lho, nolak keinginan suami.. " Desak dan goda Taufik yang sebenarnya ingin mengerjai istri manisnya itu.
Mendengar itu sontak saja akhirnya Salma menyerah, dengan perasaan yang tak bisa dipungkiri bahwa dia kesal dan sangat sebal dengan suaminya itu tapi pada dia memilih mengalah.
" Ya sudah, terserah Mas aja kalau gitu. " Sahut Salma seraya meletakkan tas kerjanya dengan lemas.
Taufik sontak saja terkekeh melihat itu, melihat wajah memelas bercampur bingung istrinya juga gerakan tubuhnya yang seakan sudah kalah telak darinya.
" Bercanda sayang.. " Ucap Taufik akhirnya dengan tawa yang semakin keras.
" Ihh mass.. Ngeselin deh!! " Pekik Salma yang langsung menghadiahi Taufik dengan pukulan kecil.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1