Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 25 Wisuda Fikri


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dihari Salma pulang dari rumah mertuanya, saat ini Salma sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Mereka sedang bersiap untuk pergi ke acara wisudanya Fikri, ya.. satu bulan yang lalu Fikri memberitahu Salma bahwa ia akan segera diwisuda dan kini saat - saat yang ditunggunya itupun tiba.


Tadi pagi - pagi sekali Taufik yang mengantar Salma ke rumah orang tuanya, sekalian ia mau meminta maaf jikalau tidak sempat untuk datang ke tempat wisudanya Fikri nanti. Karena hari ini ia memiliki beberapa meeting penting yang tidak bisa ditinggalkan ataupun diwakilkan oleh orang lain.


"Ayah, Ibu.. ayo kita berangkat. Aku sudah siap, kakak juga sudah menunggu dari tadi." ajak Fikri dengan sedikit berteriak karena Ayah dan Ibunya masih didalam kamar mereka.


"Kak bagaimana, aku sudah rapihkan?" tanyanya pada sang kakak yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Sudah, rapih dan tampan." sahut Salma dengan beranjak dari duduknya dan sedikit membantu merapihkan pakaian Fikri.


"Aa.. aku sudah tidak sabar kak." ucap Fikri lagi.


"Sabar dek, sebentar lagi kamu akan benar - benar jadi sarjana." timpal Salma dengan menepuk bahu Fikri pelan.


Tak lama dari itu, Bu Ilma dan Pak Imam pun berjalan menghampiri mereka.


"Ayo kita berangkat, maaf kami membuat kalian menunggu." ucap Pak Imam kepada anak - anaknya, Salma dan Fikri pun mengangguk pertanda mengerti.


Merekapun berlalu menaiki mobil Pak Imam, setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai dan memasuki sebuah gedung. Melihat dan menyaksikan serangkaian acara hingga tiba saatnya para mahasiswa yang diwisuda dipanggil satu persatu keatas panggung.


Semua orang yang ada di gedung tersebut terlihat sangat bahagia, baik para mahasiswa yang akhirnya dapat merampungkan pendidikannya maupun tatapan bangga dan bahagia para orang tua atau wali dari mahasiswa saat melihat anak - anaknya kini telah menjadi sarjana. Begitupun Ayah dan Ibunya Salma yang nampak bangga pada Fikri yang ternyata menjadi salah satu mahasiswa yang lulus dengan nilai terbaik tahun ini.


"Selamat sayang.. Ibu dan Ayah bangga padamu." ucap Bu Ilma pada Fikri ketika Fikri sudah turun dari atas panggung dan menghampiri keluarganya, kemudian Bu Ilma memeluk dan mencium Fikri.


"Ayah bangga padamu, nak." timpal Pak Imam dengan menepuk - nepuk bahu Fikri dan Fikri dengan segera menghambur memeluk ayahnya.


"Terima kasih Ayah, Ibu. Ini semua terjadi karena kalian, terima kasih sudah mensuport aku selama ini." balasnya dengan tangis bahagia didepan ayah dan ibunya.


Kemudian ia beralih pada Salma yang berada disamping orang tuanya.


"Kak.." ucap Fikri menggantung.


"Selamat dek, kakak juga sangat bangga padamu." ujar Salma yang melihat adiknya mendekat. Tanpa menunggu lagi, Fikripun memeluk Salma mengucapkan terima kasih berkali - kali karena Salmalah yang sudah banyak membantunya selama ini, bahkan tak lelah menasehati dan menyemangatinya ketika ia mulai lelah dan ingin menyerah.

__ADS_1


"Sudah.. sudah, lihat tuh teman - teman kamu datang kesini." ucap Salma dengan menepuk punggung Fikri yang masih memeluknya itu, dan Fikri pun segera melepas pelukannya dan menghapus sisa air matanya dengan cepat.


Ketika ia berbalik benar saja, teman - temannya sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Selamat Fik." ucap salah satu teman Fikri setelah ia didepan Fikri dan Salma.


"Terima kasih, selamat juga ya.. buat kalian." balas Fikri, merekapun bergantian saling mengucapkan selamat satu sama lain.


"Hallo.. kak, lama tidak bertemu dengan kakak." sapa Indra salah satu teman Fikri pada Salma. Indra sudah biasa bermain ke rumah Fikri dan sudah mengenali semua keluarga Fikri.


"Oh.. hai, lama juga tidak bertemu dengan kamu Dra. Kakak ucapkan selamat ya.. untuk kamu dan yang lainnya, semoga kalian sukses selalu." balas Salma diiringi do'a yang segera mereka amini dengan cepat.


Salma dan Fikri masih mengobrol dengan beberapa teman Fikri yang memang sudah dekat juga dengan Salma, ya.. saking seringnya bermain ke rumah. Bahkan mereka juga sudah biasa untuk berdiskusi dan meminta bantuan pada Salma dikala ada tugas yang mereka kurang pahami.


Disela - sela mereka sedang mengobrol tiba - tiba mata Fikri melihat pada seseorang yang sejak tadi dicarinya, dengan alasan ingin ke toilet ia pun berlalu dari kerumunan teman - temannya dan segera menghampiri seseorang tadi. Kini tinggallah Salma yang meladeni guyonan dan obrolan teman - teman Fikri, karena ayah dan ibunya pun sedang mengobrol dengan beberapa orang tua wali lainnya tidak jauh dari tempat Salma berdiri sekarang.


Disisi lain, Taufik yang baru selesai dengan meetingnya pun segera menyusul Salma ke tempat Fikri diwisuda. Seperti janjinya ia akan datang jika meeting telah selesai, meski tahu ia datang sudah sangat terlambat tapi ia tetap akan pergi kesana setidaknya untuk mengucapkan selamat pada adik iparnya itu.


Dan ketika ia sudah sampai dan memasuki gedung , matanya menelusuri setiap sudut gedung itu berupaya bisa menemukan Salma dan kedua mertuanya. Setelah beberapa saat mengedarkan penglihatanya, ia menemukan ayah dan ibu mertuanya tengah mengobrol disana, namun dia tidak melihat Salma didekat mereka. Mencoba mempertajam lagi penglihatannya dan barulah terlihat Salma sedang berdiri tepat disebelah kanan mertuanya kini berada.


Sontak saja hal itu membuat Salma terlonjak kaget dan dengan segera ingin menepis tangan yang sudah dengan berani merengkuh tubuhnya itu. Namun..


"Assalamu'alaikum, maaf aku terlambat." ucapnya kemudian mencium kening Salma mesra didepan teman - teman Fikri. Mereka terkejut, namun tak ayal mereka berdehem meledek Salma dan Taufik dan bahkan tak sedikit juga yang terpekik melihat adegan romantis tersebut.


Salma segera tersadar dari keterkejutannya setelah mendengar kegaduhan dari mereka dan dengan segera menjawab salam Taufik, meski kini ia sedang benar - benar merasa malu karena kejadian barusan.


"Eh.. Mas, Wa'alaikumsalam. Tidak papa Mas, justru aku yang harus minta maaf karena sudah mengganggu waktu kerjamu." balas Salma yang berusaha bersikap biasa saja, walau ia sedikit risih dengan tangan Taufik yang berada dipinggangnya yang menjadikan tubuhnya dan Taufik sangat dekat. Bukan tak suka atau apa, hanya saja Salma merasa malu harus memperlihatkan hal ini didepan mereka, yang Salma rasa mereka belum pantas melihatnya.


"Oh iya.. perkenalkan ini suami kakak, dan Mas ini adalah teman - teman kampus Fikri." ujar Salma lagi memperkenalkan suaminya pada teman - teman Fikri.


"Oh.. saya Taufik suami Salma." sahut Taufik pada anak - anak muda didepannya dengan sedikit penekanan pada kata suami Salma. Dan merekapun membalasnya dengan memperkenalkan diri mereka masing - masing.


"Lalu, Fikrinya mana?" tanya Taufik pada Salma karena sejak tadi ia belum melihat adik iparnya itu.

__ADS_1


"Tadi dia bilang ingin ke toilet, tapi kenapa dia lama sekali ya.." sahut Salma yang ikut mencari keberadaan adiknya.


"Biar kami saja kak, yang mencari dan menyusulnya ke toilet." tawar salah satu dari mereka, yang diangguki oleh Salma. Lalu merekapun berlalu pergi mencari Fikri.


Kini tinggal Salma dan Taufik yang sedang memghampiri ayah dan ibunya.


🌟🌟🌟🌟


Disisi lain, Fikri sedang mengejar dan mengajak seseorang untuk berbicara. Namun, sepertinya lawan bicaranya itu tidak mau menanggapi Fikri dan terus mengabaikan keberadaan Fikri yang berusaha berbicara padanya.


"Nis, kamu harus percaya sama aku. Aku tuh.. bener - bener serius sama kamu, oke.. aku ngaku salah karena sikap dan kebiasaan burukku selama ini. Tapi, kamu harus percaya Nis, kalau kali ini aku serius dan gak main - main sama kamu." ucap Fikri panjang lebar pada gadis didepannya.


Ya.. beberapa bulan yang lalu, Fikri bertemu dan mengenal gadis yang telah berhasil mencuri perhatiannya itu. Namun, karena kebiasaannya dulu yang dianggap selalu mempermainkan gadis - gadis di kampusnya, membuat seorang gadis yang kini sangat diinginkan oleh Fikri tersebut tidak percaya dan bahkan tidak pernah sekalipun menanggapi dan memperdulikan Fikri. Fikri menyesal sekarang, benar - benar menyesal karena tidak pernah mendengarkan nasihat kakak dan kedua orang tuanya dulu.


Padahal kali ini dia benar - benar serius dengan gadis depannya itu, ia bahkan rela melakukan apapun untuknya hanya agar dia mau mendengarkan dan mempercayai cinta itu. Tapi sepertinya, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan kepercayaan dan hati gadis cantik tersebut.


"Oke.. kalau saat ini kamu masih belum percaya sama aku. Tapi aku akan buktikan bahwa aku tulus dan serius sama kamu, dan aku akan pastikan kalau kamu akan menjadi milik aku suatu hari nanti." ucapnya lagi dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri.


"Oh iya.. aku ucapkan selamat untuk kamu yang lulus dengan nilai terbaik. Dan aku berdo'a semoga kamu sukses selalu." lanjut Fikri yang masih belum ditanggapi oleh gadis itu.


Mendekat pada gadis tersebut, kemudian berbisik ditelinganya.


"Dan aku juga akan segera membuktikan keseriusanku padamu, dan pasti! pasti aku akan mendapatkanmu. Jadi.. tunggu aku ya.." bisiknya kemudian berlalu dari sana dengan hanya mendapat dengusan sebagai jawaban dari ucapan panjang lebarnya itu.


.


.


Bersambung...


Mohon maaf jika ceritanya malah membuat kalian bosan, saya sedang berusaha yang terbaik.


Maaf juga ya.. Upnya jadi bolong - bolong giniπŸ˜”

__ADS_1


Makasih yang udah mau mampirπŸ™πŸ™


__ADS_2