
Hari terus berlalu kini Salma maupun Taufik sudah menjalani hari-harinya seperti biasa, sudah tak terlihat lagi wajah suram nan sendu di wajah keduanya. Bukan karena mereka sudah melupakan kejadian menyakitkan itu, namun sebab kini mereka sudah lebih ikhlas dengan semua musibah yang kemarin mereka alami.
Hubungan mereka pun kini sudah semakin erat dan mampu untuk sekedar memahami diri pasangannya satu sama lain. Nyatanya, walau harus melalui jalan yang sulit dan menyakitkan seperti kemarin, Taufik maupun Salma menjadi semakin yakin bahwa Allah SWT tidak pernah sekalipun menginginkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada hamba-Nya. Dan apabila hal itu terjadi, Allah tak pernah absen untuk memberikan limpahan hikmah serta pelajaran hidup pada kita semua.
Salah satu bukti nyata yang saat ini dirasakan oleh Taufik maupun Salma, usai semua tragedi kemarin adalah justru semakin menumbuhkan rasa Mawadah Warahmah dalam hubungan dan keluarga kecil mereka itu. Hal ini jelas merupakan salah satu bentuk curahan dan limpah kasih Allah SWT kepada mereka.
Tak hanya sampai di sana, sepertinya pepatah habis gelap terbitlah terang memang benar adanya. Karena kabar gembira lainnya kembali menyapa keluarga mereka, Fikri adik satu-satunya Salma dikabarkan akan segera melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat ini. Ya, dia memutuskan untuk menikah diusianya yang masih terbilang muda. Bahkan Salma tidak pernah menduga hal ini sebelumnya, adik kecilnya itu akan segera melepas masa lajangnya. Rasanya ia baru saja kemarin menghadiri acara wisuda sang adik.
Namun meski begitu, Salma merasa ikut bahagia untuk adiknya. Ia bahkan sangat mendukung Fikri untuk hal ini, karena memang menurutnya Fikri sudah terbilang cukup dewasa dan hal yang paling penting ia juga kini sudah memiliki pekerjaan tetap.
Setelah wisudanya kemarin, Fikri ikut bekerja dan membantu perusahaan ayahnya. Kondisi Pak Imam yang memang terbilang sudah tak muda lagi membuatnya kewalahan dalam menghandle perusahaannya, sehingga mau tidak mau Fikri bekerja di perusahaan sang ayah. Meski sebenarnya disisi lain Fikri memiliki keinginan untuk membangun bisnisnya sendiri, tapi tak apa itu bisa ia lakukan nanti setelah setidaknya ia sudah cukup berpengalaman. Pikir Fikri
...
"Jadi kapan Fik, pernikahanmu akan dilangsungkan? " Tanya Taufik pada adik iparnya, sesaat setelah mereka duduk di halaman belakang rumah Pak Imam.
"Rencananya bulan depan kak, ya.. do'akan saja semoga tidak ada kendala apapun dengan persiapan ataupun dengan acaranya nanti. " Sahut Fikri
Dan tak lama setelah itu, Salma pun datang dengan membawa tiga cangkir teh hangat untuk mereka.
"Ini Mas tehnya" Ujar Salma sambil menyodorkan secangkir teh pada suaminya, kemudian pada sang adik.
"Oh ya.. ngomong-ngomong kakak jadi penasaran, bagaimana ceritanya kamu bisa membuat Nisa yakin dan percaya padamu? Bukankah satu kampus sudah tahu kamu itu seperti apa? " Tanya Salma dengan nada sedikit mencibir, setelah ia ikut bergabung diantara obrolan kedua pria itu.
"Ah.. kakak mulai lagi. Sudahlah kak, kakak selalu saja mencari celah untuk meledekku." Sahut Fikri dengan mencebikan bibirnya.
"Lagi pula kakak kan sudah tahu semuanya. Tapi yah.. aku benar-benar bersyukur karena akhirnya aku bisa membuat Nisa percaya dan memilihku. " Sambung Fikri mengingat kembali bagaimana perjuangannya mendapatkan cinta dari calon pengantinnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Fikri sontak saja Salma terkekeh, merasa miris sekaligus lucu kala mengingat kisah adiknya ini. Memang akan sulit mendapatkan kepercayaan dari seseorang, terlebih lagi ketika nama kita sudah tertulis di deretan nama-nama dengan tinta merah oleh masyarakat😂.
(Bagi yang lupa dengan kisah Fikri ada di episode 4, episode 7 dan episode 25)
Berbeda dengan Taufik yang justru malah menautkan kedua alisnya, tertanda ia tidak mengerti dengan percakapan kedua kakak beradik di depannya itu.
"Tunggu dulu, sebenarnya apa maksud ucapan kalian barusan. Aku tidak mengerti, sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu." Protes Taufik yang merasa bahwa dirinya sudah tertinggal sebuah informasi penting.
"Nanti saja mas, aku akan jelaskan. Sekarang sudah mau dzuhur, yuk.. bersiap untuk shalat." Ajak Salma pada suaminya, karena tanpa terasa ternyata hari sudah beranjak siang.
"Dek, kakak tinggal ya.. " Pamitnya pada sang adik, yang terlihat mulai sibuk dengan ponsel genggamnya.
"Iya kak" Sahut Fikri singkat, sepertinya ia sedang chatting-an dengan seseorang.
Salma dan Taufik pun akhirnya berlalu ke kamar mereka yang ada di rumah Pak Imam.
⭐⭐⭐⭐
"Iya, kita mampir ke sini dulu ya.. sebentar. " Sahut Taufik tanpa menyebutkan tempat tujuan mereka.
Tak berapa lama, mobil mereka masuk ke area parkir sebuah rumah sakit.
"Rumah sakit? Mau apa mas Taufik kesini? Apa dia mau menjenguk seseorang, atau malah mas Taufik sakit? " Batin Salma menerka-nerka.
"Ayo" Ajak Taufik menggandeng tangan Salma yang masih berdiri mematung.
"Mas.. mau menjenguk siapa? " Tanya Salma memecah keheningan lorong rumah sakit.
__ADS_1
"Ah tidak, kita kesini bukan untuk menjenguk. Tapi, kita akan memeriksa keadaanmu. " Timpal Taufik masih setia berjalan dengan menggandeng Salma.
"Aku?! Kenapa, bukankah aku sudah baik-baik saja? Kamu ini sebenarnya kenapa mas?" Protes Salma yang reflek menghentikan langkahnya, lalu mendongkak menatap wajah suaminya.
"Kamu tenang saja, ini hanya pemeriksaan biasa. Kita hanya akan mengecek kondisi rahimmu saat ini. Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat untuk melakukan program, hmm? " Jelas Taufik pada Salma
"Ah maaf, aku lupa mas. Mas juga sih, kenapa gak bilang dari awal. " Ucap Salma membela diri
"Iya.. rasanya aku sudah tidak sabar menantikan hari dimana 'dia' akan tumbuh disini dan melengkapi keluarga kecil kita. " Taufik berucap sambil salah satu tangannya mengelus perut rata Salma, kemudian mengecup kening Salma sesaat setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Sedangkan Salma, jelas saja kini dia sedang tersipu malu mendapat perlakukan seperti itu dari suaminya. Terlebih ini di tempat umum, oh ya.. ngomong-ngomong tempat umum sepertinya mereka lupa akan hal itu. Tapi tak apalah, lagi pula lorong tempat mereka berdiri saat ini terbilang kosong. Hanya ada beberapa orang saja dan itu pun mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri.
...
"Dilihat dari hasil pemeriksaan, Alhamdulillah kondisi rahim ny. Salma bersih dan sehat. Sehingga tidak masalah, apabila tuan dan nyonya ingin melakukan program dalam waktu dekat ini." Jelas seorang dokter perempuan sesudah membaca hasil pemeriksaan yang tadi dijalani oleh Salma
"Ah iya dok, apa kami bisa menjalani programnya sekarang? Jika memang keadaan Salma sudah baik-baik saja." Tanya Taufik antusias.
"Tentu tuan. "
Dokter kandungan tersebut pun akhirnya menjelaskan mengenai program yang mereka maksudkan, menjelaskan dan memberikan anjuran-anjuran yang seharusnya dilakukan oleh Salma dan Taufik. Hingga pada akhirnya dokter tersebut memberikan beberapa resep obat juga vitamin untuk membantu menyuburkan rahim Salma.
"Terima kasih dok, kalau begitu kami permisi. " Pamit Salma pada dokter Sarah ketika konsul mereka sudah selesai.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...