
Waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi dini hari, seperti biasanya Salma terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat malam. Namun, ada yang berbeda dengan pagi ini ketika terbangun Salma terlihat terburu-buru untuk sampai di kamar mandi. Dia bahkan sampai berlari kecil untuk segera sampai disana, entah kenapa pagi ini ia tiba-tiba merasa sangat mual dan seperti ada sesuatu yang menyeruak dari dalam perutnya dan ingin segera dikeluarkan dari sana.
"Hoek.. Hoek.. Hoek.." Salma memuntahkan semua isi dalam perutnya ketika sudah sampai di kamar mandi, ia benar-benar kepayahan untuk menahan rasa mualnya itu.
"Aah.. huh.. huh.." Salma menghela nafas berkali-kali dengan alis yang menaut merasai rasa pahit dimulutnya.
"Kenapa aku terus-terusan muntah seperti ini lagi, apa aku masuk angin ya? Kemarin, waktu dalam pesawat pun aku seperti ini." Gumam Salma bingung dengan menatap wajahnya dicermin, lalu ia pun membasuh wajahnya.
Meski dengan keadaannya yang seperti itu, Salma tetap memaksakan dirinya untuk mandi dan mengambil air wudhu. Lalu ia pun melaksanakan ibadah malamnya, lama ia mengaji setelah sebelumnya ia menunaikan beberapa jenis sholat malam.
Namun, tiba-tiba ia kembali merasa mual hingga akhirnya ia pun mengakhiri bacaan Al-Qur'annya. Dan segera berlari ke kamar mandi, setelah sebelumnya tadi melepas mukenanya.
"Hoek.. Hoek.. Hoek.. huh.. Hoeekk.." Rasa mual Salma malah semakin menjadi, sampai-sampai kini Salma pun terkulai lemah dan terduduk dilantai kamar mandi dengan wajahnya yang pusat pasi.
Taufik yang sedang tertidur pun, akhirnya terbangunkan oleh suara Salma yang sedang muntah-muntah. Ia mengerjapkan matanya sebelum kemudian bangun dan menghampiri asal suara tersebut.
"Ada apa dengan Salma? Kenapa kedengarannya ia seperti sedang muntah?" Batin Taufik dengan terus berjalan mendekati pintu kamar mandi dan dengan rasa khawatirnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Salma apa kamu didalam? Salma..? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Taufik yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi, tidak ada sahutan dari dalam hingga membuatnya semakin khawatir dan takut jika terjadi sesuatu pada Salma didalam sana.
"Salma, tolong jawab aku. Apa aku boleh masuk?" Tanyanya lagi, namun tetap tak ada yang menyahut.
"Baiklah, aku akan masuk.." serunya karena tetap tidak ada tanda-tanda Salma akan menyahuti ataupun membuka pintu.
Ceklek..
__ADS_1
"Astaghfirullaah, Salma!" Teriak Taufik yang kaget dan membelalakkan matanya, ketika melihat Salma duduk tergeletak dilantai dengan tubuh yang lemas dan tak berdayanya. Bahkan wajahnya terlihat sangat pucat disana.
"Sayang.. kamu kenapa? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Taufik yang detik itu juga langsung merengkuh dan membopong tubuh Salma dan dibaringkannya di tempat tidur mereka.
Salma masih terdiam dengan sesekali menelan ludahnya susah payah, Salma seakan sudah tak memiliki tenaga lagi hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Taufik. Tenaganya seakan sudah terkuras habis, kala ia memuntahkan semua isi dalam perutnya tadi. Salma bahkan tidak terlalu menghiraukan saat Taufik untuk pertama kalinya memanggil dirinya dengan sebutan 'Sayang', meski sebenarnya ia sempat kaget dan tertegun sesaat tapi jujur saja ia merasa senang dan bahagia disaat-saat tak berdayanya itu.
Melihat Salma yang terus menelan ludanya, membuat Taufik sadar dan segera memberikan segelas air padanya. Dibantunya dengan hati-hati agar airnya tidak tumpah kemana-mana, dan setelah selesai ia menyimpannya kembali diatas nakas.
"Kamu kenapa hmm?" Tanya Taufik lagi dengan mengelus pucuk kepalanya Salma dan menatapnya intens.
"Emm.. aku juga tidak tahu Mas, akhir-akhir ini aku memang sering muntah-muntah seperti ini. Tapi, tidak separah hari ini, aku juga tidak tahu kenapa seperti itu." Jelas Salma dengan suara lirih kemudian mengatur nafasnya.
"Apa kemarin kamu belum makan? Mungkin, penyebabnya bisa saja karena kamu masuk angin." Timpal Taufik masih dengan menatap Salma dengan cemasnya.
"Hmm, mungkin. Karena memang beberapa hari terakhir aku selalu makan terlambat disana." Ucap Salma seadaanya, namun hal itu membuat Taufik kaget dan kesal mengetahui kenyataan seperti itu.
"Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu pergi kemarin. Dan untuk kedepannya pun aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, bahkan hanya untuk pergi ke butik." Imbuh Taufik yang memang sedari awal ia tidak ingin Salma berpergian jauh lagi karena pekerjaannya, hingga akhirnya membuat Salma kelelahan. Ditambah kini, ia memiliki sebuah alasan yang membuatnya semakin yakin untuk melarang Salma.
"Mas.. maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Maaf sudah membuatmu khawatir, tapi haruskah kamu melarangku untuk tidak bekerja seperti ini Mas?" Balas Salma dengan meraih dan menggenggam tangan Taufik, ia merasa bersalah tapi ia juga tidak mau bila Taufik sampai melarangnya bekerja.
"Ini sudah menjadi keputusanku, lebih baik sekarang kamu istirahatlah. Aku akan mandi dulu, sebentar lagi shubuh dan aku harus segera bersiap." Ucap Taufik yang kemudian bangkit dan berlalu ke kamar mandi. Ia bukannya tidak mau menanggapi Salma, tapi takutnya nanti ia malah kembali luluh saat melihat Salma memohon padanya. Taufik tidak suka dengan sikap Salma yang ceroboh seperti ini, dengan keputusannya ini Taufik berharap Salma bisa mengerti dan lebih bijak lagi dalam menjaga kesehatannya.
Masalah Salma yang nantinya akan benar-benar berhenti bekerja atau tidak itu akan Taufik pikirkan lagi nanti.
Salma hanya bisa terdiam dengan menatap punggung Taufik yang kemudian hilang dibalik pintu, dan tanpa terasa air matanya pun menetes seakan menjelaskan kekalutan hatinya.
Dia akan berhenti bekerja? Karir dan butiknya, yang selama ini ia perjuangan habis-habisan akan berhenti dan hilang begitu saja. Akankah Salma bisa melakukan semua itu, mengikhlaskan karir dan mimpi-mimpinya selama ini?
__ADS_1
Hal yang Salma takutkan selama ini akhirnya terjadi juga, sedari dulu ia selalu merasa takut jika kelak suaminya akan melarangnya bekerja. Dan saat ini, semua ketakutannya itu menjadi sebuah kenyataannya. Padahal, sebelumnya Salma sudah merasa senang dan bersyukur karena Allah SWT telah memberinya suaminya baik dan pengertian kepadanya.
Sekarang karena keteledorannya itu, ia membuat Taufik tak percaya lagi padanya dan mencabut izinnya untuk membiarkan Salma tetap berkarir. Ya.. memang benar jika penyebabnya hanyalah permasalahan yang kecil, tapi mungkin karena kekhawatiran Taufik kepada Salmalah yang menyebabkan ia mengambil keputusan hingga sejauh ini.
"Hiks.. apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Salma dengan pilunya.
Tak lama dari itu, Taufik keluar dari kamar mandi. Melihat hal itu dengan cepat Salma menghapus air matanya, dan berusaha bersikap sewajarnya saja.
Taufik melangkah mendekati Salma.
"Sebentar lagi akan adzan, mari akan ku bantu kamu mengambil air wudhu." Ucap Taufik dengan bersiap membopong tubuh Salma.
"Tidak Mas, aku masih bisa berjalan sendiri." Tolak Salma yang memang sudah merasa lebih baik sekarang.
Taufik menatap Salma ragu dengan apa yang Salma ucapkan, mengingat tadi Salma begitu terlihat lemas dan tak bertenaga.
"Ekhm.. baiklah, tapi biarkan aku memapahmu." Ucap Taufik lagi dan langsung merangkul Salma dan memapahnya ke kamar mandi. Salma tak menolaknya, ia hanya terus berjalan dengan perlahan.
Taufik masih menunggu Salma hingga ia selesai, lalu kembali membantunya berjalan hingga akhirnya ia pun pergi untuk berjama'ah di masjid.
.
.
Like, Coment dan Votenya ya.. biar author semangat!!
Bersambung...
__ADS_1