
"Oh iya.. tadi kamu belum menjawab pertanyaanku." Lanjut Taufik dengan menatap Salma.
Mengerutkan keningnya pertanda bahwa ia bingung.
"Pertanyaan yang mana mas?" Tanya Salma yang ternyata tidak mengingatnya.
"Huh.. baiklah, biar ku ulangi. Kapan tepatnya kamu akan pergi ke sana? Dan akan berapa lama pekerjaanmu selesai disana?" Taufik mengulang pertanyaannya.
"Oh itu, maaf mas tadi lupa. Rencananya seminggu setelah ini aku akan terbang ke sana, dan mungkin sekitar 3 sampai 4 hari aku akan berada di sana." Jawab Salma yang dibalas dengan ekspresi tak terima dari Taufik.
"Kenapa bisa lama seperti itu, ku kira acara seperti itu tidak akan menghabiskan waktu selama itu. Sekitar satu atau dua hari saja kan selesai harusnya." Protes Taufik yang tidak terima akan ditinggal begitu lama.
Salma tersenyum mendengar protesan Taufik.
"Iya mas, itu jika aku datang ke sana hanya untuk menghadirinya saja. Tapi kan ini berbeda, karena di sana aku juga akan menampilkan beberapa gaun desainanku." Sahut Salma dengan lembut dan perlahan menjelaskannya pada Taufik.
"Jadi ya.. akan memerlukan lebih banyak waktu lagi untuk aku mempersiapkannya." Lanjut Salma lagi, terlihat Taufik seperti sedang berpikir dan mencerna ucapan Salma barusan.
Beberapa saat mereka terdiam, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan Taufik.
Taufik kembali tersadar ketika mendengar ketukan pintu dan segera menyahutinya.
"Ya, masuk.." ujarnya dengan sedikit berteriak.
Pintu pun terbuka, dan muncullah Husain dari balik pintu tersebut.
"Selamat siang tuan, nona.. maaf mengganggu waktu kalian." Ucap Husain sopan pada Salma dan Taufik yang langsung diangguki oleh keduanya.
"Tidak papa, ada apa?" Tanya Taufik langsung pada intinya.
"Begini tuan, di depan ada tuan Wijaya yang ingin bertemu dengan tuan. Apa tuan bisa?" Ucap Husain lagi yang memang harus bertanya seperti itu, karena takut mengganggu waktu kebersamaan pasangan di depannya.
"Ya, biarkan dia masuk!" Titah Taufik dan Husain pun kembali keluar untuk mempersilahkan Wijaya masuk.
__ADS_1
"Mas, sepertinya aku sudah mengganggumu terlalu lama ya. Kalau begitu aku akan pamit pulang saja." Putus Salma setelah kepergian Husain tadi, ia merasa tidak enak karena telah mengganggu waktu kerja Taufik dan terlihat akan segera beranjak dari duduknya.
Belum sempat Salma berdiri, Taufik sudah menahan dan membuat Salma kembali terduduk seperti semula.
"Tidak, tidak perlu seperti itu. Kamu tetaplah duduk di sini dan pulang nanti bersamaku." Balas Taufik dan Salma yang tidak memiliki pilihan lain mengikuti apa yang dikatakan Taufik barusan.
"Assalamu'alaikum.. " seru Wijaya ketika memasuki ruangan Taufik. Sedangkan Husain, ia sudah kembali keruangannya setelah menutup pintu dan meminta sekretaris Fitri membuatkan minum untuk Wijaya.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Sahut Taufik dan Salma bersamaan.
"Eh.. ternyata ada nyonya Taufik juga ya di sini. Senang bertemu anda lagi nyonya." Sapanya pada Salma yang ditanggapi dengan senyuman oleh Salma, karena jujur dia bingung kenapa pria itu bisa mengenalnya. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya dan kapan, Salma benar - benar lupa akan hal itu.
Melihat Salma yang seperti kebingungan, Taufik pun segera menengahi. Sebelum itu, ia pun mempersilahkan Wijaya untuk duduk.
"Dia Wijaya, temanku sekaligus rekan bisnisku. Dia juga pernah bertemu denganmu, saat acara pernikahan kita." Jelas Taufik menjawab kebingungan Salma.
"Oh.. maaf tuan, saya benar - benar lupa." Sesalnya melihat Wijaya dengan perasaan tidak enak.
"Tidak apa - apa nyonya, maklum kita hanya bertemu satu kali dan itupun sangat singkat." Balas Wijaya memaklumi Salma.
"Ya terima kasih." Sahut Taufik yang langsung mengambil berkas iti dan membaca sekilas.
"Ini kebetulan sekali karena anda ada sini nyonya, bagaimana jika malam ini saya mengundang kalian untuk makan malam di rumah saya. Karena kebetulan waktu itu, istri saya sedang berhalangan untuk hadir ke pesta pernikahan kalian. Jadi, maukah anda memenuhi undangan kami?" Tanya Wijaya yang ditujukan langsung pada Salma.
Salma belum menjawab, dia melirik Taufik untuk meminta persetujuannya yang ternyata Taufik pun sedang menatapnya juga. Dan sebagai tanda setujunya Taufik pun akhirnya mengangguk, membuat Salma kembali melihat Wijaya dan menjawab ajakannya.
"Baiklah tuan, InsyaAllah kami akan memenuhi undangan anda. Tapi, bisakah anda tidak memanggil saya nyonya? Sepertinya itu terlalu berlebihan." Jawab Salma yang kemudian mengutarakan ketidaknyamanannya dipanggil 'nyonya' oleh Wijaya.
"Terima kasih telah menerima undangan saya. Lalu.. saya harus panggil apa kalau begitu?" Sahut dan tanya Wijaya lagi.
"Emm.. panggil saja saya Salma tuan." Balas Salma lagi.
Wijaya melihat kearah Taufik dan Taufik yang merasa diperhatikan akhirnya mendongakkan kepalanya. Dan juga membalas tatapan Wijaya, kemudian mengangkat kedua alisnya keatas seolah berkata 'apa?' pada Wijaya. Melihat itu Wijaya menyimpulkan bahwa Taufik tidak merasa keberatan jika dirinya memanggil Salma langsung dengan namanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Salma." Ucap Wijaya meski agak sedikit canggung saat mengucapkannya. Dan ditanggapi dengan anggukan dan senyuman Salma.
"Ya seperti itu tuan, begitu lebih baik." Ucapnya meski dia tahu Wijaya masih kaku dalam pengucapannya, mungkin karena belum terbiasa pikir Salma.
"Kalau begitu, kamu juga jangan memanggil saya tuan. Panggil saja nama saya langsung." Ujar Wijaya yang sudah tidak begitu formal lagi berbicara dengan Salma.
"Mana boleh begitu tuan, biar bagaimana pun usia anda jauh lebih tua diatas saya. Jadi, saya tidak mungkin bersikap tidak sopan seperti itu." Sahut Salma yang tak enak hati bila mengikuti apa yang diucapkan Wijaya, Taufik masih memperhatikan dan membiarkan mereka dengan sesekali mengalihkan padangannya dari berkas yang tengah ia baca.
"Emm.. baiklah, bagaimana jika kamu memanggil saya 'kakak' saja? Mungkin itu akan membuatmu lebih nyaman dan itu juga akan terdengar lebih enak, tidak dianggap tua lagi. Karena bagaimana pun aku tidak setua itu, bahkan aku merasa jauh lebih muda dari usiaku yang sebenarnya. Lihatlah aku masih begitu tampan dan gagah'kan?" Paparnya panjang lebar dengan merapihkan jas yang melekat ditubuhnya.
Mendengar itu Taufik pun tersenyum dibalik lembar kertas yang sedang dibacanya.
"Selalu saja dia narsis seperti itu, dia bahkan tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya itu memang sudah tua, ck.." Ungkap Taufik dalam hatinya.
Salma juga tersenyum melihat dan mendengar Wijaya, kemudian menjawab.
"Baiklah, aku akan memanggilmu kakak saja." ucapnya dengan senyuman. Dan segera diangguki senang oleh Wijaya.
"Ya, itu harus." Ucap Wijaya dengan nada bercandanya. Kemudian keduanya pun terkekeh, ternyata begitu mudah mereka menjadi akrab seperti sekarang.
"Ekhmm, bagaimana kabar keluargamu?" Tanya Taufik menimpali pembicaraan mereka, sekaligus menghentikan kekehan mereka. Setelah ia meletakkan berkas yang telah selesai dibacanya.
"Alhamdulillah mereka baik, dia juga semakin aktif saja dan tak terasa ia sudah beranjak besar." Jawab Wijaya dan kata 'dia' dalam kalimatnya itu ditujukan untuk anaknya.
"Haha.. iya, berapa usianya sekarang? Terakhir kali aku bertemu dengannya dia masih sangat kecil dan baru bisa melangkahkan kaki kecilnya itu." Tanya Taufik lagi dengan mengingat ketika terakhir lagi ia bertemu dengan putra kecil Wijaya yang menggemaskan itu.
"Haha.. iya.. iya, aku mengingatnya. Sebenar lagi dia akan genap berumur dua tahun, kau begitu sibuk sehingga tidak pernah lagi berkunjung kesana. Padahal dia kerap kali menanyakanmu, Fik." Sahut Wijaya lagi.
Sedangkan Salma yang sejak tadi mendengarkan mereka, terlihat bingung dan sedang menerka - nerka.
"Siapa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan itu? Apa mungkin.. anaknya kak Wijaya ya.." gumam Salma dalam hati.
.
__ADS_1
.