
Disisi lain Salma beserta para karyawan baru saja selesai sholat dzuhur dan baru akan memesan makanan. Seperti hari - hari sebelumnya Salma selalu memesan makanan untuk mereka makan siang ke restoran sebrang butiknya.
''Karin, tolong belikan 10 porsi makanan, menunya seperti biasa saja tapi jika kalian bosan kalian boleh menggantinya.'' titah Salma pada Karin, sedangkan dirinya sedang melanjutkan pekerjaannya.
''Kok sepuluh Bu? Biasanya kan cukup sembilan.'' tanya Karin ia bingung karena jumlah karyawan butik hanya tujuh orang ditambah pak satpam dan Salma sendiri.
''Iya, sebab di pos satpam ada supir baru saya Rin jadi sekalian belikan juga untuknya.'' jelas Salma.
''Oh jadi tadi pagi ibu diantar supir pribadi? Wah.. ibu hebat.'' seloroh Karin.
''Iya, itu karena suami saya yang memintanya dan bukan saya juga yang gaji Rin, tapi suami saya. Dia bahkan dengan patuhnya menunggui saya selama bekerja.'' balas Salma masih dengan menggores - goreskan pensilnya.
''Wah.. kayaknya suami ibu cinta banget ya.. sama ibu.'' simpul Karin dengan senyum - senyum membayangkan jika dirinya kelak akan seperti Salma.
''Emm.. tidak juga kok Rin. Ah sudahlah lebih baik sekarang kamu segera beli makanan, kasihan yang lain pasti sudah kelaparan.'' ucap Salma.
''Oke.. Bu.'' sahut Karin kemudian berlalu dari sana.
Cinta? Bahkan Salma saja masih bingung dengan perasaannya, meski Salma merasa sangat nyaman ketika berada disamping Taufik. Sekarang apa mungkin Taufik mencintainya? dan apakah mungkin dia juga merasakan kenyamanan yang Salma rasakan? Tapi.. jika dilihat dari sikapnya sih sepertinya tidak mungkin. Mas Taufik bahkan hanya berbicara sekedarnya saja pada Salma dan selama hampir 2 bulan ini mereka menikah pun tidak ada percakapan yang begitu berarti bagi keduanya.
''Ah.. sudah ah kenapa aku jadi mikirin itu sih.'' gumam Salma pada dirinya sendiri.
🌟🌟🌟🌟
Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan oleh Salma kemarin bahwa hari ini ia bersama dengan Karin juga seorang karyawannya akan membeli kebutuhan untuk butiknya.
Mobil yang dikemudikan pak Atif pun meninggalkan rumah utama setelah Salma mengantar kepergian suaminya seperti biasa. Kini mobil itu menuju tempat yang Salma tuju yaitu sebuah pabrik kain langganan Salma, sedangkan Karin dan Dewi (karyawan Salma lainnya) sudah menunggu Salma disana, ya.. seperti yang telah mereka sepakati kemarin jika Karin bersama dengan Dewi akan pergi kesana terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat Salma pun sampai disana dan langsung mencari dan membeli barang yang dibutuhkannya dibantu kedua karyawannya, tak terasa waktu begitu cepat berlalu hari pun telah beranjak menjadi siang lengkap dengan matahari yang memancarkan sinar teriknya seperti siap melahap kulit mereka. Dengan dibantu pak Atif mereka mengangkat barang belanjaannya kedalam bagasi mobil, kemudian pergi berlalu dari sana menuju sebuah masjid untuk menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu sebelum setelah itu mereka akan meluncur mencari makan siang.
Kini mereka telah sampai di sebuah rumah makan tak lupa Salma mengajak pak Atif untuk ikut makan, namun ketika sampai didalam pak Atif memilih makan dimeja yang terpisah dari Salma juga karyawannya. Salma memaklumi hal itu, mungkin saja pak Atif masih segan atau bahkan merasa kurang nyaman apalagi mereka semua perempuan dan hanya pak Atiflah laki - laki diantara mereka.
Memesan makanan, tak lama dari itu pesanan mereka pun akhirnya datang dan langsung melahap makanan yang mereka pesan karena sudah merasa lapar sejak tadi, Salma telah menghabiskan makanannya terlebih dahulu dan ia ingin pergi ke toilet sebentar.
__ADS_1
''Kalian habiskanlah makanannya, saya permisi mau ke toilet dulu.'' ucap Salma pada kedua orang didepannya yang sedang asik melahap makanan masing - masing.
''Oh.. iya bu silahkan.'' sahut keduanya kompak, Salma pun beranjak dari duduknya lalu berlalu ke arah toilet.
Didalam toilet, Salma telah menyelesaikan keinginannya untuk buang air kecil lalu mencuci tangannya dan keluar dari sana. Baru beberapa langkah Salma menjauh dari pintu toilet, tak sengaja Salma melihat ada seseorang yang sangat ia kenal dan sudah lama ia rindukan karena lama tak bertemu. Mempercepat langkahnya agar segera mensejajarkan dirinya dengan orang tersebut.
''Izma!'' seru Salma memanggil orang yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
Berbalik dan ''Salma? Ya Allah.. kamu kemana aja?'' kejutnya dibarengi dengan tanya.
''Assalamu'alaikum, maaf tadi lupa saking senengnya bisa ketemu kamu lagi.'' lanjut Salma kemudian mereka saling menautkan pipinya secara bergantian kanan kiri.
''Wa'alaikumsalam Warahmatullah. Iya gak papa, aku juga sampai lupa.'' balas Izma, lebih lengkapnya Izma Safitri teman kuliah Salma yang hilang kontak beberapa tahun yang lalu.
''Justru kamu yang kemana aja, aku telpon dan cariin kamu tapi kamu ilang gak ada kabar.'' cemberut Salma.
''Iya.. iya maaf, waktu itu aku lupa pamit mau pulang kampung sama kamu karena bapakku sakit Sal dan dalam perjalanan pulang aku sempet kejambretan sampe hp aku juga ikut ilang. Makanya aku gak bisa kabarin kamu karena semua kontak udah pada hilang ketika penjambretan itu.'' jelas Izma.
''Ya itu.. kamu tahu sendirilah Sal, kalau aku itu suka lupa dan hampir gak pernah hapal sama jalan yang pernah aku lewatin. Apalagi aku hanya pernah dua kali ke rumah kamu selama kita temenan, jadi mana mungkin aku tahu dan kamu juga gak pernah bilang alamat lengkap rumah kamu dijalan apa jadi mana bisa aku cari.'' seloroh Izma membela dirinya dengan mengingatkan Salma pada salah satu kelemahannya yang tidak pernah bisa menghapal sebuah jalan, ya.. memang sedikit menyimpang dari kelemahan lainnya😂.
''Ah.. sudahlah kenapa juga aku mempermasalahkan itu, yang penting sekarang kita udah ketemu. Apa kabar kamu? Kayaknya kamu bahagia banget ya.. sampe tambah tembem aja.'' ledek Salma pada temannya itu yang terlihat sangat berisi dari terakhir kali mereka bertemu kemudian menjawil pipinya.
''Aah.. diam kamu Salma, jangan bahas - bahas masalah body deh.. aku bete nih.'' kesal Izma dengan mengkerucutkan bibirnya dan Salma malab semakin tertawa.
''Sebenernya aku tuh udah nikah, udah punya anak juga. Makanya liat nih badan aku jadi segede gini, sejak hamil dan melahirkan aku udah jarang mikirin bentuk badan aku. Yang terpenting saat itu anak aku sehat dan tidak kekurangan sesuatu apapun, sekarang pun masih begitu karena aku berusaha memberikan ASI secara eksklusif untuk perkembangannya'' papar Izma yang membuat Salma kaget bukan main.
Nikah? Punya anak? Hah.. Salma benar - benar sudah ketinggalan banyak moment dari temannya itu. Padahal dulu mereka begitu dekat dan selalu berbagi hal sekecil apapun, tapi kini datang ke acara pernikahan satu sama lain saja tidak ah.. jangankan datang tahu pun tidak. Tapi, mau bagaimana lagi mungkin ini takdir untuk mereka berdua yang harus Salma terima.
Kalau tidak salah terakhir kali mereka bertemu itu sekitar dua tahun yang lalu ketika mereka sama - sama baru menyelesaikan study S1-nya. Kala itu Salma baru merintis karirnya menjadi seorang desainer, sedangkan Izma karena mengambil jurusan yang berbeda dari Salma yaitu mengambil jurusan dalam bidang bisnis sehingga ia memilih melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, yang kebetulan perusahaan itu adalah perusahaan yang cukup terkenal saat itu.
''Kapan kamu menikah?'' tanya Salma setelah mengendalikan keterkejutannya.
''Sekitar dua tahun lalu lah Sal. Sekembali aku dari kampung, aku kesini untuk resign dari pekerjaanku karena bapak memintaku untuk segera menikah. Dan karena saat itu aku belum memiliki seorang pendamping untuk dikenalkan pada orang tuaku, akhirnya bapak memutuskan untuk menjodohkanku dengan anak salah satu temannya bapak di kampung.'' ucap Izma kemudian diam sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
''Tapi saat aku mengajukan surat resign pada atasanku, dia tidak menyetujui keputusanku itu secara langsung ia cukup mempersulit aku. Dia bilang sebelum aku mengatakan alasanku keluar maka dia tidak akan menyetujui aku berhenti dari kantor. Hingga aku pun mengatakan semua kepadanya dan dia tiba - tiba saja memintaku untuk mempertemukan dia dengan bapakku, aku kaget juga sangat bingung namun segera aku menolaknya. Tetapi dia terus saja memaksaku hingga aku pusing dibuatnya karena semakin menambah masalahku saja dan dengan terpaksa aku membawanya menemui bapak di kampung.'' menghela napas panjang sedangkan Salma masih serius menyimak tanpa ingin menyela sama sekali, dia benar - benar penasaran dengan hidup temannya itu.
''Sesampainya disana, dia berkata pada bapak bahwa dia sudah lama menyukai aku dan dia juga akan menikahiku, saat itu juga dia meminangku didepan bapak dan ibu. Aku terkejut sangat sangat terkejut, tapi berbeda dengan bapak yang terlihat sangat bahagia karena ternyata dia tidak perlu menjodohkanku. Mereka menerima pinangannya dengan senang hati tapi berbeda denganku yang saat itu hanya bisa tertegun saking kagetnya. Bayangkan saja Sal dia adalah atasanku dan tiba - tiba saja dia berkata menyukaiku dan ingin menikahiku, didepan orang tuaku pula.'' lanjut Izma yang dibalas dengan tatapan tak terbaca dari Salma.
''Huh.. singkat cerita akhirnya aku pun menyetujui pinangan tersebut, karena dia terus menyakinkanku bahwa dia serius dan bersungguh - sungguh. Sebulan setelah itu kami menikah dan sah menjadi sepasang suami istri hingga sekarang. Ya.. kurang lebih begitulah Sal, hidupku benar - benar seperti mimpi bahkan mungkin dongeng.'' ujar Izma mengakhiri ceritanya diiringi tawanya.
''Emm.. maaf sebelumnya ya.. Iz, tapi kamu bahagiakan dengannya? Kamu baik - baik saja kan?'' khawatir Salma ternyata sejak tadi Salma mendengarkan banyak pikiran - pikiran yang menimbulkan kecemasan bagi Salma.
''Hehe.. kamu tenang saja cantik, aku baik - baik saja dan Alhamdulillah aku juga bahagia buktinya aku sampai punya anak.'' balas Izma dilanjut dengan terkekeh.
''Ya.. syukur Alhamdulillah kalau begitu, aku juga ikut senang. Eh.. iya ngomong - ngomong mana anakmu, apa kamu tidak membawanya? aku ingin sekali melihatnya.'' tanya Salma dengan antusias sangat berbeda dari ekspresinya tadi.
''Ah iya.. aku sampai lupa, ayo ikut aku dia tadi sedang tidur dan sekarang dia sedang ditemani pengasuhnya. Tuh.. dimeja sebelah sana'' ucap Izma sambil menunjuk salah satu meja, terlihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong balita laki - laki yang tampan.
 Mereka pun berjalan ke arah meja tersebut, setelah sampai disana Izma mengenalkan anaknya yang bernama Akmal itu pada Salma karena ternyata ia sudah bangun dan Salma sangat bahagia ketika Akmal mau ia gendong, bahkan ia tidak menangis dan terlihat anteng saja berada dipangkuan Salma.
''Berapa tahun dia Iz?'' Salma menanyakan usia anak Izma.
''Satu tahun setengah, sebentar lagi dia akan lepas ASI dan aku akan segera menguruskan tubuhku ini haha...'' sahut Izma diakhiri tawanya.
''Ah.. kamu Iz, gak dikurusi juga gak papa kok, justru kamu jadi terlihat tambah imuttt lho..'' goda Salma pada Izma disertai kekehannya.
Sedangkan Izma hanya membalasnya dengan dengusan sebal ''Huh.. dasar Salma menyebalkan.''
Mereka banyak mengobrol dan bercerita satu sama lain, tak lupa Salma pun menceritakan bahwa kini dirinya pun sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Tak menyia - nyiakan kesempatan Izma pun kembali meledek dan menggoda Salma ketika ada cela, apalagi ini pengantin baru? wah.. lagi hangat - hangatnya nih..
Begitulah mereka selalu siap saling meledek dan tentunya saling mendukung juga, ya.. seperti dukungan berupa like, coment dan vote dari readers😘
.
.
Bersambung...
__ADS_1