
Didalam sebuah pesawat, Salma yang duduk bersebelahan dengan Karin, tiba-tiba mengerutkan dahinya karena merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Ia bangkit dari duduknya dan ingin segera pergi ke toilet, setelah beberapa saat ia kembali ke tempat duduknya dengan langkah lunglai dan wajah yang sedikit memucat.
"Bu, apa ibu baik-baik saja? Apa tidak apa-apa?" Tanya Karin ketika sudah melihat Salma duduk disebelahnya, dan ia merasa sedikit cemas karena melihat wajah Salma yang tidak menggambarkan bahwa Salma sedang baik-baik saja.
"Hmm.. saya baik-baik saja, mungkin benar dugaan saya kemarin bahwa lambung saya sedang sedikit bermasalah. Mungkin karena saya makan dengan tidak teratur." Sahut Salma dengan menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Apa ibu mau minum obat? Kebetulan saya membawa beberapa jenis obat, untuk jaga-jaga saja tadinya." Tawar Karin dengan akan membuka tas dipangkuannya.
"Tidak Karin, tidak usah. Saya pasti akan merasa baik-baik saja nanti." Tolak Salma karena menyakini ini hanyalah penyakit magh biasa, meski sebelumnya ia tak pernah mempunyai riwayat penyakit tersebut. Namun, mengingat waktu makannya akhir-akhir ini tak teratur jadi ia pun menyimpulkan hal seperti itu.
"Ah.. baiklah Bu, jika seperti itu.. tapi ibu bilang saja jika memerlukan sesuatu." Balas Karin yang masih mengkhawatirkan keadaan Salma.
"Hmm.. ya Karin, terima kasih." Ucap Salma yang sebenarnya sudah tak ingin banyak bicara lagi.
Waktu berlalu dengan cepat, pesawat yang ditumpangi Salma dan Karin pun akhirnya sampai dengan baik da selamat di salah satu bandara terbesar di ibu kota.
Dan disisi lain, masih berada di bandara yang sama. Taufik dan Pak Aji yang bertujuan akan menjemput Salma pun, kini sedang menunggu kemunculannya didepan pintu kedatangan dengan perasaan tak sabar ingin segera bertemu.
Setelah beberapa waktu menunggu, barulah terlihat oleh mereka sosok yang sedari tadi ditunggu-tunggunya. Salma dan Karin berjalan beriringan dengan Karin yang mendorong troli berisi koper dan barang-barang bawaan mereka berdua. Salma berjalan dengan sangat pelan, entah karena merasa lelah atau sedang berusaha menetralkan rasa pusingnya yang sedari tadi menyerang kepalanya.
Bahkan Karin sudah berkali-kali menanyakan keadaan Salma, karena rasa khawatirnya melihat keadaan Salma yang sepertinya malah semakin buruk dari sebelum-sebelumnya.
"Bu.. apa ibu yakin, ibu masih bisa menahannya?" Tanya Karin untuk kesekian kalinya.
"Ya, nanti saat sampai rumah saya akan langsung minum obat dan istirahat." Sahutnya melangkah dengan langkah lunglainya.
Melihat Salma yang semakin mendekatinya, namun terasa cukup lama menurutnya. Hingga Taufik pun tak bisa lagi untuk menahan kakinya melangkah mendekati Salma. Ia berjalan menghampiri istri tercintanya yang sangat dirindukannya itu, dan ketika sudah berhadapan dengannya tanpa sepatah kata pun lagi ia segera merengkuhnya kedalam dekapannya.
"Mas.." Ucap Salma lirih, sebenarnya ia juga sudah melihat suaminya tadi dari jauh. Namun mau bagaimana, ia benar-benar merasa tak berdaya untuk melangkah lebih cepat lagi dari ini. Dan akhirnya ia hanya bisa pasrah saja, hingga melihat Taufik yang lebih dulu menghampirinya dan tanpa ia duga suaminya itu memeluknya lagi di tempat umum seperti ini.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Mas, sudah menunggu lama?" Ucap Salma lagi ketika Taufik melerai pelukannya.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah.." balas Taufik, namun seketika wajah bahagianya berubah menjadi khawatir ketika melihat wajah Salma yang pucat pasi.
Taufik benar-benar terkejut, ketika melihat wajah Salma dan merasa sangat cemas. Bagaimana mungkin ia tak melihatnya tadi? Ia begitu senang tadi, hingga tak terlalu memperhatikan wajah dan tubuh lelah Salma.
"Salma apa kamu baik-baik saja, lihat wajahmu.. kenapa bisa seperti ini? Apa begitu banyaknya pekerjaanmu disana, sampai-sampai kamu kelelahan seperti ini." Ujar Taufik mulai menunjukkan kekhawatirannya.
"Tidak Mas, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa lelah saja saat ini dan ingin segera pulang ke rumah." Sahut Salma dengan memegang tangan Taufik yang saat ini sedang menyentuh wajahnya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang segera. Agar kamu bisa cepat beristirahat." Balasnya lagi dan langsung merangkul tubuh Salma.
"Pak Aji tolong bawakan barang-barang milik Salma." Titahnya yang ditujukan pada supir pribadinya itu.
"Baik tuan." Sahut Pak Aji yang langsung mengerjakan titah dari Taufik.
"Karin, mari kita pulang bersama biar saya antar kamu sampai rumah." Ajak Salma pada asistennya itu.
"Oh.. begitu, ya sudah kalau begitu kamu hati-hati ya.. pulangnya. Dan saya duluan ya.." pamit Salma.
"Iya Bu, ibu juga hati-hati dan semoga ibu juga lekas sembuh." Balas Karin lagi tulus.
"Iya terima kasih Karin, Assalamu'alaikum." Dan Salma pun berlalu dengan dipapah oleh Taufik.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Timpal Karin yang juga melanjutkan langkahnya untuk menghampiri sang ayah.
"Mas, aku mengantuk sekali. Bolehkah aku bersandar padamu?" Tanya Salma ketika mereka sudah duduk didalam mobil yang siap untuk melaju meninggalkan bandara.
"Ya, tentu. Bersandarlah sesukamu." Balas Taufik yang segera memperbaiki posisi duduknya, agar Salma nyaman saat bersandar padanya nanti.
__ADS_1
Salma pun mulai menyandarkan kepalanya didada Taufik, dan mulai memejamkan kepalanya sambil merasai rasa sakit dan pusing dikepalanya.
"Apa perlu ku panggilkan dokter saja nanti?" Tanya Taufik dengan tangan yang sedang mengelus kepala Salma.
"Emm.. tidak perlu Mas, aku hanya butuh istirahat saja sekarang." Sahut Salma masih dengan mata terpejamnya.
Hingga beberapa menit berlalu, Taufik merasakan nafas Salma sudah mulai berhembus teratur didalam pelukannya. Hingga ia pun hanya diam tak bertanya kembali, karena sadar mungkin Salma sangatlah lelah saat ini. Dielusnya terus kepala dan punggung Salma hingga mobil merekapun sampai di kediamannya.
Mobil terhenti tepat didepan pintu utama rumah, dan karena tak ingin mengganggu istirahat Salma Taufik pun membopong tubuh Salma dan segera masuk kedalam rumah untuk menidurkan Salma di tempat tidur mereka. Taufik masuk dengan diikuti oleh Pak Aji yang membawakan koper dan barang-barang milik Salma, untuk ditaruhnya kedalam kamar Salma.
"Terima kasih Pak, sekarang bapak istirahatlah juga. Malam sudah semakin larut, dan terima kasih atas kerja kerasnya hari ini." Ucap Taufik kepada Pak Aji yang baru saja selesai menyimpan koper Salma.
"Iya sama-sama tuan, itu sudah menjadi tugas dan pekerjaan saya. Kalau begitu, saya permisi tuan dan selamat istirahat untuk tuan dan nona Salma." Balas Pak Aji yang kemudian berlalu dan menutup pintu kamar Taufik.
Taufik bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati kaki Salma. Membukakan alas kaki yang masih terpasang dengan apik dikaki Salma, kemudian beralih melepaskan kerudung Salma dengan sangat pelan dan hati-hati karena Taufik tahu bahwa disana terdapat jarum yang bisa saja melukai Salma dan membuatnya terjaga dari tidurnya.
Selesai dengan semua itu, ia pun berlalu untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dan kini Taufik sudah kembali duduk disamping Salma yang sedang tertidur dengan pulasnya.
"Tidurlah dengan tenang, kamu pasti sangat kelelahan disana. Sampai kamu jadi seperti sekarang ini, kamu benar-benar wanita pekerja keras Salma. Aku bangga padamu." Ucapnya dengan tangan yang merapihkan anak rambut Salma yang menutupi sebagian wajahnya.
"Tapi.. apakah aku salah membiarkanmu bekerja dan kelelahan seperti ini, disaat jelas-jelas aku bisa memenuhi semua keinginan dan kebutuhanmu. Apakah aku harus melarangmu Salma?" Sambungnya dengan mengutarakan kegundahan dan keresahan hatinya yang tak rela melihat Salma bekerja keras dan kelelahan seperti sekarang ini.
.
.
Tolong dukungannya ya guyss...
dengan Like dan Votenya😍
__ADS_1
.
Bersambung...