
Tiga hari sudah berlalu dari semenjak Salma dilarikan ke rumah sakit. Dan hari ini merupakan hari terakhir yang diperkirakan oleh dokter bahwa Salma akan segera siuman, perasaan Taufik sudah tidak karuan menanti hal itu tiba. Taufik sudah ketar-ketir dan terus bertanya pada dokter yang merawat Salma, mengenai kapan sang istri akan segera terbangun dari tidurnya. Ia cemas dan merasa sangat was-was, bagaimana tidak? Dokter berucap jika sampai hari ini Salma tak kunjung juga siuman dan terbangun, maka Salma akan dinyatakan koma dan tak ada yang tahu kapan ia akan kembali tersadar.
Sontak saja hal itu menjadikan ketakutan dan kekhawatiran Taufik semakin menjadi. Apalagi hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa istrinya itu akan siuman, ia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa, sejak semalam dan bahkan beberapa malam sebelumnya ia terus saja memanjatkan do'a-do'a dan permohonan agar Salma segera kembali dalam dekapannya dalam keadaan sehat seperti sebelum-sebelumnya.
Taufik terus merenung hingga tak lama terdengarlah kedua mertuanya yang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum.." seru kedua mertua Taufik yang baru saja tiba, mereka sudah dari semalam memberitahu Taufik akan kedatangannya ini.
Mereka berinisiatif datang untuk menggantikan Taufik yang sudah beberapa hari ini full terus menjaga dan menunggu Salma di rumah sakit. Juga karena mereka ingin melihat dan mengetahui keadaan Salma secara langsung. Ya, meskipun sebenarnya mereka selalu datang setiap hari kesini untuk menjenguk Salma, meski hanya untuk beberapa jam saja kemudian mereka pun kembali pulang karena permintaan Taufik yang tak ingin kalau sampai mertuanya itu kelelahan.
Namun, tetap saja bagi orang tua memastikan dan mengetahui bahwa anaknya dalam keadaan baik-baik saja itu tidaklah cukup. Terkadang akan tetap ada rasa cemas dan khawatir kala kita belum memastikannya secara langsung. Dan mungkin itulah yang sedang dirasakan oleh Pak Imam dan Bu Ilma saat ini.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah. Ayah, Ibu silahkan masuk." Sahut Taufik membalas salam mereka sambil mencium tangan mereka.
"Bagaimana keadaannya sekarang nak, apa sudah ada perkembangan?" Tanya Bu Ilma seraya menatap dan mengelus wajah pucat putrinya yang sudah terbaring beberapa hari itu. Sedangkan Pak Imam, ia sudah duduk disofa sudut ruangan tersebut sambil melihat dan mendengarkan percakapan mereka.
"Belum Bu, masih sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Kita tunggu dan berdo'a saja semoga hari ini Salma akan segera tersadar, karena jika tidak begitu.." ucapan Taufik sedikit terhenti karena ia menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Karena jika tidak, Salma akan dinyatakan koma dan mungkin akan butuh waktu lebih lama lagi untuk kita menunggunya terbangun." lanjut Taufik yang dibalas helaan nafas panjang oleh Pak Imam dan sedikit isakan tangis Bu Ilma yang terus menatapi Salma dengan tatapan sendunya.
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu itu nak, apa tidak apa-apa terus kamu tinggal seperti ini?" Tanya Pak Imam mengalihkan pembicaraan mereka agar tak membuat suasana pagi ini menjadi mendung.
"Masih sama Yah, kami masih berusaha mencari pelakunya hingga saat ini. Tapi Ayah tidak perlu khawatir Husain dan yang lain pasti bisa mengatasinya meski tanpa Taufik." Jawab Taufik yang melangkah mendekati ayah mertuanya, kemudian ikut mendudukan dirinya sofa.
"Ya.. semoga saja masalahnya segera menemukan titik temu, juga semoga dalangnya segera tertangkap." Timpal ayah mertuanya.
__ADS_1
"Ya, semoga saja. Oh ya.. sebenarnya Taufik ada janji dengan Husain sekarang, emm.. entahlah apa yang ingin dia bicarakan. Tapi kelihatannya ini cukup serius, oleh karena itu bolehkan Taufik minta tolong untuk menjaga Salma disini selama Taufik pergi keluar menemui Husain, Ayah?" Papar Taufik dengan tidak enak hati.
"Kamu ini ada-ada saja, tentu saja kami akan menjaga dan menunggunya tanpa perlu kamu minta. Jika tidak seperti itu, lalu untuk apa hmm kami kemari? Sudah.. sudah, berangkatlah! Mungkin memang ada sesuatu yang penting disana." Ucap Pak Imam sambil menepuk-nepuk kecil bahu menantunya itu.
"Terima kasih Ayah, Ibu.." ujar Taufik kepada kedua mertuanya kini sudah sama-sama duduk disofa.
"Ah.. dan ya.. tadi malam Mama bilang bahwa dia juga akan kesini hari ini. Dia pasti senang, karena ada kalian juga disini." Sambung Taufik yang mengingat percakapannya semalam bersama ibunya.
"Ah.. syukurlah nanti Ibu ada teman ngobrol disini." Girang Bu Ilma.
"Jam berapa katanya dia akan kesini?" Tanya Bu Ilma sambil menoleh kearah Taufik yang kini tengah bersiap untuk pergi.
"Mungkin akan agak siangan Bu. Ayah, Ibu kalau begitu aku pergi dulu. Assalamu'alaikum.." Jawab Taufik dan langsung berpamitan pada mertuanya.
🌟🌟🌟🌟
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Taufik ketika sudah berhadapan dengan Husain. Ia sudah sangat penasaran dan bertanya-tanya akan apa yang ingin Husain bicarakan, saat semalam secara tiba-tiba Husain menghubunginya dan mengatakan bahwa mereka perlu bicara dan membahas persoalan yang penting.
Husain tidak langsung menjawab, ia membuka laptopnya kemudian diarahkan dan diperlihatkannya layar laptop itu pada Taufik. Dan Taufik pun secara otomatis mengalihkan pandangannya ke layar laptop itu, yang ternyata sedang menampilkan sebuah video.
Satu menit.
Dua menit.
Dan..
__ADS_1
"Jadi kecelakaan itu..?" Tanya Taufik dengan ekspresi kagetnya, ia menatap Husain resah seolah menuntut penjelasan dan ingin cepat mengetahui hal ini lebih lengkap lagi.
"Ya benar Tuan, kecelakan itu memang disengaja dan telah direncanakan sebelumnya." Husain membenarkan apa yang sedang Taufik pikirkan saat ini.
Kemudian Husain pun mulai menjelaskan awal kecurigaannya, saat ia bertanya dan mengobrol dengan supir yang membawa Salma saat kecelakaan itu berlangsung. Disana ia sudah merasakan adanya kejanggalan-kejanggalan, sehingga ia pun berencana mencari dan menguak kejadian yang sebenarnya.
Husain menemukan jika kecelakan yang Salma alami ini, ternyata ada kaitannya dengan permasalahan proyek yang sedang mereka hadapi. Karena tepat di hari kecelakaan itu terjadi dan Taufik pun meninggalkan lokasi pembangunan di kota A, proyek yang sedang mereka garap dan baru saja berjalan 30% itu mengalami kehancuran dibeberapa bagian. Ya.. sepulang dari Husain mengantarkan pakaian ganti untuk Taufik kemarin, ia mendapat laporan dari bawahannya disana mengenai hal ini.
Dari sana Husain semakin yakin akan kecurigaannya itu, hingga ia terus menghabiskan waktunya untuk menyelidiki kasus ini. Namun sayang, hingga saat ini Husain belum mengetahui pasti siapa dalang dibalik semua ini, Husain yakin jika mereka sudah merencanakan hal ini secara matang. Karena dari semua yang mereka telah lakukan tidak ada satu pun jejak yang mereka tinggalkan, bahkan mobil yang dipakai mereka menabrak lari Salma kemarin ternyata memakai plat polisi palsu sehingga tidak ada celah untuk Husain menemukan mereka dalam waktu dekat ini.
Setelah mendengar penjelasan dari Husain, Taufik merasa semakin geram dikepalkannya kedua tangannya itu, dan dengan rahang yang mengeras ditatapnya kembali layar laptop itu dengan sangat tajam seakan ia tengah memelototi sang pelaku.
"Jadi seperti ini cara kalian bermain? Ck, melakukan siasat menjijikan seperti ini hanya untuk menjatuhkanku?" Ucapnya dengan geram dan mengeratkan giginya.
"Husain.. cari mereka secepatnya dan jebloskan segera mereka ke dalam penjara! Aku tidak sudi membiarkan mereka berkeliaran bebas terlalu lama." Perintanya dengan kilatan mata yang menahan amarahnya.
"Ya, baik Tuan." Sahut Husain patuh.
.
.
.
Bersambun...
__ADS_1