Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 40 Mengerjai Husain


__ADS_3

Tiga hari sudah Salma berada di negara X dan hari ini adalah acara puncaknya, mereka akan memamerkan dan menampilkan karya-karya desainer dari berbagai belahan dunia. Salma sedang membantu para modelnya bersiap, ia mondar mandir kesana kesini untuk memastikan semua persiapannya berjalan dengan baik dan tidak ada kendala apapun juga.


Namun, saat ia sedang berjalan menghampiri salah satu modelnya tiba-tiba saja kepalanya pusing dan hampir saja ia akan terjatuh jika tidak Karin yang menopang tubuhnya.


"Bu.. apa ibu baik-baik saja? Apa ibu masih suka merasa pusing? Sebaiknya ibu makan saja dulu, biar saya yang membantu mereka bersiap. Lagi pula persiapan kita sebagian besar sudah rampung, kita hanya tinggal menunggu saat kita tampil saja." Ucap Karin menenangkan Salma, lalu mengarahkan tubuh Salma untuk duduk.


"Ya.. tapi hanya sedikit, saya tidak apa-apa. Mungkin memang karena saya belum makan, baiklah saya akan makan dulu. Tapi, apa kamu juga sudah makan?" Tanya Salma pada Karin karena memang beberapa hari terakhir ini mereka sangat sibuk, sampai-sampai waktu makan merekapun jadi tidak teratur dan sering terlambat untuk makan.


"Sudah bu, tadi saya juga belikan untuk ibu. Apa ibu tidak apa-apa hanya memakan itu? Apa tidak sebaiknya ibu.." Ucapan Karin terpotong oleh sanggahan Salma.


"Tidak Karin, tidak perlu repot-repot. Saya makan ini saja, beberapa hari ini lambungku sedang bermasalah. Dan dengan makanan ini setidaknya aku merasa lebih nyaman." Ujar Salma yang memotong ucapan Karin tadi dan Salma pun memakan makanannya.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu ya bu." Pamit Karin berlalu untuk membantu yang lain.


"Ah.. iya, terima kasih Karin." Balas Salma.


"Sama-sama bu, itu sudah menjadi tugas saya." Timpal Karin yang kemudian melenggang pergi.


Acara demi acara telah selesai satu persatu hingga sesi penutupan pun berjalan dengan sukses dan semestinya. Selesai dengan itu semua, Salma dan Karin putuakhirnya sudah kembali ke hotel untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka yang sudah bekerja keras seharian ini. Dan besok rencananya mereka akan kembali pulang ke tanah air.


"Mas bersabarlah, aku akan segera pulang." Gumam Salma dengan posisinya yang kini sedang berbaring diatas tempat tidur dan bersiap untuk pergi ke dunia mimpinya.


🌟🌟🌟🌟


Di tempat lain tepatnya di sebuah perusahaan besar, terlihat seorang laki-laki sedang tersenyum menatap layar ponselnya.


"Akhirnya, hari yang ku tunggu akhirnya tiba juga. Besok akan ku pastikan kamu kembali ke pelukanku dan takkan ku biarkan kamu kembali menyiksaku dengan rindu ini." Gumam Taufik sambil terus menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan wajah cantik istri tercintanya. Ia bahkan sejak tadi terus berbicara dan mengelusi ponselnya itu.

__ADS_1


"Ah.. dan ya, kamu juga harus mempertanggung jawabkan perbutanmu yang telah membuatku kelelahan hanya untuk mencari baju tidurku." Imbuhnya yang memang saat menelpon Salma waktu itu ia belum sempat membicarakan hal ini pada Salma. Padahal ia sudah ingin protes banyak tentang hal ini pada istri cantiknya itu.


Saat ia sedang sibuk memikirkan istrinya, tiba-tiba saja pintu ruangan diketuk oleh seseorang.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuklah." Sahut Taufik pada ketukan pintu tersebut.


"Maaf tuan mengganggu anda, ada beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani. Ini tuan.." Ucap Husain yang segera menyerahkan berkas-berkas itu pada Taufik.


"Baiklah, berikan berkasnya." Sahut Taufik yang langsung menyambut berkas tersebut dari tangan asistennya.


"Oh ya, kapan jadwal untuk kembali mengontrol proyek baru kita yang diluar kota?" Tanya Taufik sambil terus menandatangi berkas-berkas didepannya. Bukan apa-apa dia menanyakan hal itu, hanya saja Taufik takut itu akan berbentrokan dengan waktu kepulangan Salma besok. Jadi ia akan memastikan hal itu terlebih dahulu.


"Emm.. itu sekitar bulan depan tuan. Apa ada yang perlu diubah?" Timpal Husain dengan sedikit mengingat agenda atasannya.


"Baiklah kalau begitu tuan, saya permisi." Lanjut Husain sambil membereskan dan mengambil berkas yang baru saja Taufik tanda tangani.


"Hmm.." Taufik mengangguki dan Husain pun berlalu dari ruangannya.


Keluar dari ruangan Taufik, Husain berjalan mendekati meja Fitri dan berbicara padanya tanpa melihat wajahnya sedikitpun.


"Buatkan saya kopi dan bawa ke ruangan saya SEGERA!!" Titah Husain kemudian berlalu begitu saja setelah menyampaikan perintahnya.


Fitri terbengong untuk beberapa saat, dan..


"Gila! Apa begitu cara dia meminta tolong pada orang lain? Tidak punya sopan santun, bahkan dia tidak melihatku saat mengatakannya. Dia benar-benar gila!!" Gerutu Fitri yang merespon sikap Husain barusan.

__ADS_1


"Bahkan tuan Taufik saja tidak sesombong dirinya. Awas saja kau, akan ku beri pelajaran." Fitri terus saja menggerutu disepanjang ia membuatkan kopi untuk Husain.


Ceklek..


"Permisi tuan, ini kopi anda." Ucap Fitri yang langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Apa kau tidak pernah diajarkan bagaimana cara mengetuk pintu?" Sindir Husain masih dengan posisi kepala yang menundukan dan seakan enggan untuk menatap Fitri.


"Maaf tuan, tadi saya kerepotan jika harus mengetuk dulu pintu. Lagi pula tuan harusnya sudah tahu bahwa saya memang akan masuk untuk membawakan anda kopi kan?" Kilah Fitri yang tidak mau disalahkan.


Husain tak menjawab ucapan Fitri lagi, ia hanya mendengus mendengar pembelaan yang Fitri lakukan. Fitri pun sama halnya dengan Husain, ia segera meletakkan kopi yang ia bawa dimeja kerja Husain dan bergegas keluar karena tidak ingin lama-lama berada di ruangan pengap itu.


"Hah.. tunggu dan rasakan pembalasan dariku. Tak lama lagi kau pasti akan berteriak seperti orang gila." Ucap Fitri ketika keluar dari ruangan Husain dengan cekikikan membayangkan bagaimana nanti reaksi Husain, apakah akan seperti orang yang kebakaran jenggotnya? Haha.. Rasanya Fitri sudah tidak sabar menunggu pertunjukan yang akan dilakukan oleh Husain nanti, dan yang pasti pertunjukan yang ia sutradarai secara langsung itu. Karena sebenarnya tadi ia sudah berhasil menata rencana untuk mengerjai Husain.


Kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaanya, yang tadi sempat terjeda oleh titah tuan gila yang juga sombong, eits.. itu menurut Fitri tadi.


Dan benar saja dugaan Fitri tadi, karena tak berselang lama dari Fitri duduk. Teriakkan Husain mulai terdengar menggema sampai ke meja Fitri, Fitri yang mendengarnya bahkan sempat terkejut. Namun, beberapa saat kemudian ia tertawa sangat lepas dan merasa sangat puas dan berhasil akan siasatnya itu.


"Hahaha... rasakan itu, kau pasti akan lembur semalaman ini. Dan mungkin saja sampai besok pun itu masih belum terselesaikan. Hahaha... haha.." Tawa Fitri terus terdengar meski ia berusaha menahannya agar tak sampai terdengar oleh Husain.


.


.


Jangan lupa Like dan Votenya ya.. pemirsa!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2