
Hari beranjak menjadi malam, semua karyawan yang tak memiliki tugas malam sudah pulang terlebih dahulu tadi sore. Tinggallah beberapa orang saja didalam perusahaan besar itu, termasuk Fitri dan Husain didalamnya.
Fitri yang masih tidak terima karena harus kembali bekerja, meski seharusnya ia sudah pulang juga seperti yang lain saat ini. Namun, dia pun hanya bisa mengalah dan menuruti Husain, bukan! Bukan karena ia takut atau segan pada Husain. Tapi ia lebih takut dan mengkhawatirkan pekerjaannya yang bisa kapan saja hilang darinya, jika saja bukan karena itu ia pasti akan dengan bebas membantah dan menolak Husain. Karena bagaimanapun ia bekerja disini hanya untuk Taufik, untuk menjadi sekretaris tuan Taufik, bukan menjadi kacungnya Husain seperti ini.
"Kamu selesaikan ini, ini dan juga yang ini." Titah Husain dengan menyerahkan beberapa berkas kepada Fitri.
Dan Fitri yang sejak tadi sedang melamun pun tersentak mendengar suara memerintah dari Husain itu. Melihat apa yang disodorkan oleh Husain, hingga kemudian ia pun kembali menyuarakan ketika sukaannya.
"Apa? Apa kau tidak salah, memberiku pekerjaan sebanyak ini bahkan disaat seharusnya aku sedang beristrihat saat ini?" Sergah Fitri yang geram dengan sikap Husain yang semena-mena padanya.
"Iya, mana mungkin aku pernah salah. Sudah kerjakan saja jangan banyak ptotes, bukankah kamu ingin ini segera selesai?" Balas Husain cuek tanpa melirik Fitri sedikitpun, ia justru sudah memulai pekerjaannya.
"Apa dia bilang? Dia tidak pernah melakukan kesalahan? Haha.. ya benar saja. Justru seluruh hidupnya itu adalah sebuah kesalahan." Gerutu Fitri yang dengan suara kecil, meski begitu Husain masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi ia memilih untuk tidak meladeni Fitri, yang memang hanya akan membuang waktunya saja.
Dan dengan sangat terpaksa Fitri pun akhirnya mengerjakan apa yang Husain perintahkan tadi, namun setelah beberapa waktu berlalu dan Fitri sudah mulai mengetik ulang berkas kedua. Fitri baru merasa ada kejanggalan yang terjadi saat ini, dilihatnya Husain dan beberapa berkas yang ada didepannya, kemudian ia beralih melihat tumpukan berkas yang ada didekatnya dan akhirnya ia menemukan ketidakadilan disana.
"Hei.. apa-apa ini? Kenapa pekerjaanku lebih banyak dibandingkan punyamu? Kamu sedang mengerjaiku ya..?" Tuding Fitri yang langsung saja mengambil sebagian berkas yang harus dikerjakannya dan memindahkannya pada tumpukan milik Husain.
"Ini, ini.. enak saja kau! Kau pikir ini seharusnya pekerjaan siapa? Sudah untung aku dengan baik hatinya mau membantumu, tapi kau dengan liciknya malah memperalatku." Lanjut gerutuan Fitri dengan tangan yang sudah kembali sibuk mengetik.
"Apa yang kau lakukan, kenapa memindahkannya kesini. Ini kau yang kerjakan!" Ucap Husain yang menyerahkan kembali berkas tadi.
"Stopp! Kau yang kerjakan atau aku tidak akan membantumu sama sekali!!" Tegas Fitri dengan menahan tangan Husain yang ingin mengembalikan berkas malang tersebut.
"Kau pikir kau siapa, beraninya memerintahku." Bantah Husain dengan menatap tajam kearah Fitri.
"Dan kau pikir, kau juga siapa dengan seenaknya memanfaatkan kebaikanku?" Balas Fitri membalas tatapan tajam Husain.
"Aku? Aku atasanmu. Dan apa tadi? Memanfaatkan kebaikanmu? Itu bukan memanfaatkan, tapi ini memang tugasmu sebagai seorang bawahan!" Tandas Husain lagi.
"Sebagai bawahan? Maaf sebelumnya tuan, tapi perlu anda ketahui dan anda ingat. Bahwa saya bekerja disini bukan untuk anda, saya disini bekerja dan digaji oleh tuan Taufik untuk menjadi sekretarisnya, bukan untuk dianiaya olehmu seperti ini!" Ucap Fitri dengan sedikit menohok Husain.
"Ah.. itu sama saja, bukankah berkas-berkas ini juga berkaitan dengan tuan Taufik?" Timpal Husain mencari pembenaran.
__ADS_1
"Oh.. jelas ini berbeda tuan, karena seharusnya semua berkas ini adalah pekerjaan dan kewajiban anda. Lalu kenapa anda melemparnya kepada saya? Apa anda ini pemakan gaji buta?!!" Fitri dan Husain terus meperselisihkan berkas itu, hingga tanpa mereka sadari waktu terus berjalan semakin larut.
"Aah.. sudahlah, aku yang akan mengalah dan mengerjakan ini." Putus Husain karena ia takut jika terus seperti ini, pekerjaannya tidak akan selesai-selesai sampai besok.
"Haah..baguslah. Dan bukankah seharusnya seperti itu!" Sahut Fitri cuek.
Fitri bangkit dari duduknya, ia berencana akan mengambil minum karena merasa harus sejak tadi beradu argumen dengan Husain.
"Mau kenapa kamu?" Tanya Husain melihat Fitri berdiri.
"Aku haus, jadi aku akan mengambil minum." Balasnya seadanya.
"Oh.. buatkan untukku juga kalau begitu." Ujar Husain dengan wajah tanpa dosanya.
Fitri yang mendengarnya terjengkit, namun karena sudah tak berselera berdebat ia pun hanya membalasnya dengan mengkerlingan matanya, kemudian pergi dari sana begitu saja.
Dan tak lama dari itu, Fitri kembali dengan membawa beberapa botol minuman dingin dari pantry. Duduk dan meletakkan bawanya dimeja, meminum minuman tersebut yang juga diikuti oleh Husain yang mulai membuka dan meminumnya. Beberapa menit berlalu, terdengar pintu ruangan Husain diketuk. Ya mereka saat ini sedang di ruangan Husain, dan ternyata petugas kantor yang sedang kebagian berjaga malam yang mengetuk pintu dengan membawa sekantong berukuran sedang ditangannya.
"Masuk saja Pak." Teriak Fitri dengan mata yang masih ia fokukan ke layar didepannya.
"Ini makanannya mbak Fit." Ucap penjaga tersebut dengan menyodorkan kantong kresek yang sejak tadi ia tenteng.
Saat tadi ke pantry Fitri bertemu dengan bapak penjaga tersebut yang sedang berkeliling mengontrol setiap ruangan, dan karena di pantry sedang tidak ada makanan jadinya ia meminta bapak tersebut untuk membelikannya.
"Ah.. iya pak, terima kasih. Dan kembalinya untuk bapak saja ya.." Balas Fitri dengan tersenyum dan tangan yang mulai membuka snack lalu memakannya.
"Terima kasih banyak mbak, kalau begitu saya permisi. Mau keliling lagi." Pamitnya dan berlalu dari sana.
Husain masih setia menatap Fitri yang sudah anteng memakan snacknya, meski dengan tangan yang tetap sibuk mengetik.
Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Husain pun tersenyum melihat tingkah Fitri.
"Ternyata kamu belum berubah. Kamu masih seperti dulu Fitri, saat-saat kita berdua masih bersama." Ucap Husain membatin dan dengan seketika raut wajahnya berubah sendu, mengingat masa lalunya.
__ADS_1
ππππ
Pagi hari di negara X, di sebuah kamar hotel terlihat Salma sedang mengepack dan membenahi barang-barangnya kedalam koper miliknya. Rencananya pagi ini ia dan juga Karin akan check out, dari hotel yang beberapa hari ini menjadi tempat istirahat mereka.
Karena waktu menuju jam pernerbangan mereka masih cukup lama, Salma dan Karin pun akan pergi berbelanja dan membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga dan rekan kerja mereka di tanah air. Hal ini sebenarnya sudah dirancang oleh keduanya, karena pada hari-hari sebelumnya mereka sangat sibuk dan tidak mungkin untuk membeli oleh-oleh pada hari-hari tersebut. Sehingga mereka memilih pagi ini sebagai gantinya, dan lagi pula mereka juga butuh liburan setelah melalui hari yang penat dan melelahkan sebelumnya.
"Mari Bu, Ibu sudah selesai? Apa ada yang perlu saya bantu?" Tanya Karin ketika Salma baru keluar dari kamar hotelnya dengan membawa kopernya.
"Sudah Karin, dan terima kasih atas tawarannya. Tapi, saya bisa membawanya sendiri, lagi pula kamu jugakan sedang membawa barang-barangmu sendiri." Balas Salma yang disahuti oleh kekehan dari Karin.
"Hehhe.. iya ya.. Bu, kalau begitu mari kita turun." Ajak Karin dan merekapun berjalan menuju lift untuk sampai dimeja resepsionis hotel.
"Iya, mari." Timpal Salma.
Dan kini sampailah mereka di sebuah tempat pusat belanjaan, setelah sebelumnya mereka sarapan dan check out dari hotel.
"Kamu akan beli apa Rin?" Tanya Salma dengan mata yang ia edarkan mencari sesuatu yang menarik dan cocok untuk dijadikan oleh-oleh.
"Entahlah Bu, saya bingung. Saya akan membeli beberapa cendramata dan pakaian saja untuk teman-teman di butik." Sahutnya dengan mulai mendekati salah satu penjual.
"Ya sudah, kamu pilihlah dulu. Saya tinggal kesana ya.. sebentar." Ucap Salma dan berlalu menuju toko jam tangan disana. Ia berniat akan membelikan itu saja untuk suaminya.
Lama memilah jam tangan mana yang cocok dan akan disukai oleh sang suami, hingga akhirnya Salma membeli dua buah jam tangan untuk suami, karena ia sudah sangat bingung memilih diantara kedua jam itu.
Selesai dengan itu ia mencari oleh-oleh untuk yang lainnya, dan ya.. hampir saja ia lupa dengan barang pesanan adiknya. Yang entahlah dia selalu saja meminta barang yang sulit untuk dicarinya.
Waktu terus berlalu dengan cepat, hingga Salma dan Karin sudah berada didalam pesawat yang akan mengantar mereka untuk sampai di kampung halaman.
"Bismillah, tunggu aku pulang mas." Ucapnya dengan senyuman mengembang dibibirnya, dan sebelumnya ia juga sudah mengucapkan do'a-do'a agar diselamatkan dan dilindungi selama perjalanan. Tak lupa ia juga membaca do'a menumpangi kendaraan udara secara bersama-sama dengan Karin tadi.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk Like dan Votenya ya.. teman-temanππ
Bersambung...