Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 18 Ibu dari anakmu


__ADS_3

Salma masih berada di kamarnya, siang ini dengan sengaja ia melewatkan makan siangnya padahal sejak dulu hal seperti ini tidak pernah terjadi pada Salma. Setelah cukup lama menangis, Salma pun tertidur masih disofa yang tadi ia duduki.


Tadi sebelum akhirnya tertidur disofa, Salma sempat menenangkan dirinya terlebih dahulu. Mencoba untuk menghalau perasaannya yang tak menentu dan menekan semua emosinya yang menurutnya itu berlebihan.


"Harusnya aku bisa mengerti dan memahami situasi Mas Taufik, bukan malah menangis sedih seperti ini. Harusnya aku lebih bersabar tadi, huh.. istri macam apa aku ini😌" Salma membatin.


Hari beranjak sore, terdengar suara adzan berkumandang menandakan waktu ashar telah tiba. Salma mengerjapkan matanya sebelum akhirnya kembali pada alam sadarnya, bangun dan terduduk dengan tangan yang memegangi lehernya yang terasa pegal dan sedikit sakit. Mungkin karena posisi tidurnya yang tidak benar menjadikan sebagian tubuhnya terasa pegal serta kaku.


Bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri, mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat ashar yang dilanjut membaca ayat-ayat Al - Qur'an.


Setelah beberapa lama terdengar suara klakson mobil pertanda ada sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumah. Salma masih duduk dan membaca Al - Qur'an, karena merasa tanggung ia melanjutkan dulu bacaannya.


Sedangkan dibawah Taufik sudah memasuki rumah, ia dibuat sedikit terkejut dengan perubahan isi rumahnya. Beberapa pas bunga, hiasan - hiasan yang khas akan ciri seorang perempuan dan yang paling Taufik sukai adalah foto pernikahannya yang dipajang didinding dengan ukuran yang cukup besar dan bingkai dengan ukiran yang indah.


Taufik tersenyum bahagia, kali ini senyumannya cukup lebar dan sangat menggambarkan bahwa ia menyukai perubahan rumahnya ini. Memang benar kata orang, jika sentuhan perempuan berperan sangat penting dalam memperindah dan mempercantik rumah. Dan sekarang Taufik pun merasakan dan mempercayai hal itu.


Dengan perasaan bahagia dan keinginannya yang ingin dengan segera bertemu dengan Salma, Taufik bergegas menaiki undakan tangga dengan setengah berlari. Dan bersamaan dengan itu Salma berdiri menyimpan Al - Qur'an dan melipat sajadah dan mukenanya. Bersiap melangkah kearah pintu, meski tak sesemangat seperti tadi tapi Salma tetap senang mengetahui bahwa Taufik telah pulang. Ketika akan memegang handle pintu tiba - tiba pintu sudah lebih dulu terbuka, sempat kaget namun kemudian Salma tersenyum begitu lebar dan indah.


''Mas...'' seru Salma tanpa menunggu apapun lagi, Salma segera menghambur kedalam pelukan Taufik begitu pun dengan Taufik yang membalas pelukan Salma dengan eratnya.


Akhirnya.. setelah melewati waktu yang menurut mereka sangat lama itu, kini mereka bisa kembali bertatap muka dan meleburkan semua rasa rindu yang membuat mereka tersiksa akhir - akhir ini.


''Assalamu'alaikum'' seru Taufik berbarengan dengan tangan yang membalas pelukan Salma tadi, Salma mengurai pelukannya kemudian membalas salam dari Taufik.


''Wa'alaikumsalam Warahmatullah, maaf Mas aku tidak menyambutmu didepan.'' ujar Salma melihat kearah Taufik yang sedari tadi menatapnya, mencium tangan Taufik lalu membawakan tas kerjanya yang ada ditangan kiri Taufik.


''Tidak papa, maaf tadi aku tidak segera pulang ke rumah. Tadi aku langsung ke kantor, maaf juga tidak memberitahumu terlebih dahulu.'' ucap Taufik masih dengan menatap Salma.


''Tidak Mas, tidak papa. Lagi pula tadi Bi Ati sudah memberitahuku.'' ujar Salma.


"Ya sudah, ayo masuk dan duduklah dulu. Aku akan membawakan minum dulu untukmu." lanjut Salma kemudian berlalu menuju dapur.


Taufik membuka dasi dan jasnya, kemudian duduk disofa dengan mata menerawang melihat seisi kamarnya yang sudah terdapat beberapa foto pernikahannya dengan Salma. Taufik kembali tersenyum kala mengingat hari bersejarah dalam hidupnya itu, bisa menikahi dan memiliki Salma.


Salma kembali dengan membawa secangkir teh hangat ditangannya.


"Ini Mas minumnya." ujarnya sambil menyodorkan cangkir tersebut pada Taufik.

__ADS_1


"Mau mandi sekarang atau nanti? Biar aku siapkan dulu airnya." imbuh Salma dengan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk menyiapkan air untuk Taufik mandi.


Belum sempat Salma melangkah, Taufik menahan tangannya dan membuat Salma berbalik kembali menghadap kearahnya.


''Ya.. Mas, perlu sesuatu?'' tanya Salma.


Taufik tidak langsung menjawab, ia menatap Salma lekat membuat Salma bingung sekaligus malu juga gugup.


''Aduuh.. ada apa dengannya dan kenapa juga jantungku berdebar seperti ini?'' batin Salma.


''Apa kamu yang mengubah isi rumah juga kamar ini?'' tanya Taufik pada Salma, dan Salma baru ingat akan hal itu sekarang.


"Apa Mas Taufik marah ya.., karena aku tidak meminta izinnya dulu tentang hal ini. Aah.. kenapa aku bisa lupa, untuk meminta izinnya." gerutu Salma dalam hatinya dengan perasaan menyesal dan bersalah pada Taufik.


''M..maaf Mas, iya aku yang sudah mengubahnya. Maaf aku tidak meminta persetujuanmu dulu waktu itu.'' jawab Salma dengan takut - takut.


''Ya.. harusnya kamu meminta izin dulu padaku sebelumnya.'' lanjut Taufik membuat Salma semakin takut.


Glek..Β  Salma menelan ludahnya.


''Maaf Mas aku salah. Apa Mas tidak menyukainya?" tanya Salma, namun Taufik bangkit dari duduknya dan mulai berjalan.


Salma mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Taufik.


"Maksud kamu Mas?" tanyanya.


"Iya, jika kamu menaruhnya disini, kita kan jadi bisa melihatnya langsung baik ketika akan tidur maupun bangun tidur. Iya 'kan?" tutur Taufik yang malah membuat Salma tersipu.


"Lho.. kenapa? Apakah kamu tidak sependapat denganku?" tanya Taufik lagi karena Salma belum juga meresponnya.


"Eh.. tidak Mas, bukan seperti itu. Baiklah nanti aku akan memajangnya juga disana. Ya sudah, kalau begitu aku siapkan airnya dulu ya Mas.'' kemudian Salma berlalu ke kamar mandi, setelah mendapat anggukan dari Taufik.


🌟🌟🌟🌟


Selesai dengan makan malamnya, Salma dan Taufik kembali ke kamar. Mengganti pakaian, menggosok gigi dan mencuci muka mereka. Setelah itu, Taufik membuka laptopnya dengan duduk disofa, Salma menghampirinya dan bertanya mengenai pakaian yang akan mereka kenakan ke undangan mertuanya besok malam.


''Mas! mas akan memakai pakaian yang mana, untuk ke undangan Mama besok malam? '' tanya Salma.

__ADS_1


''Yang mana saja, apa yang kamu siapkan itu yang akan aku pakai.'' sahut Taufik melihat Salma kemudian kembali menunduk melihat laptopnya.


''Ya sudah kalau begitu, aku akan menyiapkannya sekarang. Agar besok kita hanya tinggal bersiap.'' lanjut Salma kemudian berlalu dari hadapan Taufik.


Sesampai di kamar ganti Salma membuka lemari pakaian Taufik dan mulai memilah pakaian mana yang layak dipakai oleh Taufik ke acara nanti.


''Apa yang ini saja ya.. tapi, nanti aku 'kan akan memakai gaun berwarna biru tua. Aku ingin mas Taufik juga mengenakan pakaian dengan warna yang sama dengan warna pakaianku.'' gumam Salma didepan jejeran baju - baju Taufik dengan tersenyum saat mengatakan hal itu.


''Aah.. yang ini saja, ini sangat cocok untuk dipakai Mas Taufik dan warnanya pun sama dengan gaunku.'' gumam Salma kembali, kemudian ia memisahkan pakaian yang telah dipilihnya itu ke tempat lain. Tempat yang sama yang sudah terdapat gaun yang akan Salma pakai nanti.


Salma kemudian memilihkan sepatu dan jam tangan yang akan Taufik kenakan nanti. Hingga tanpa ia sadari, ia sudah terlalu lama di dalam kamar ganti itu, sampai - sampai Taufik mencari dan menghampirinya disana.


''Salma.. ayo istirahat, ini sudah terlalu malam.'' ajak Taufik yang mengejutkan Salma, ya.. kini jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam sedangkan Taufik tahu betul Salma tidak pernah tidur terlalu larut seperti ini.


''Eh.. iya Mas, ternyata aku terlalu asik disini.'' sahut Salma kemudian ia pun mengikuti langkah Taufik yang sudah berlalu terlebih dahulu didepannya.


Merangkak menaiki ranjang kemudian merebahkan dirinya, sedangkan Taufik duduk disisi ranjang sebelah Salma dengan tangan yang masih mengotak - atik handphonenya. Masih belum terpejam, Salma sedang menimbang untuk mengatakan sesuatu pada Taufik atau tidak. Salma bangkit dan duduk kembali, lalu berucap


''Mas, apa aku boleh minta sesuatu darimu?'' tanya Salma.


Taufik pun menoleh pada Salma menautkan alisnya namun tetap mengangguk, kemudian ia meletakkan handphonenya diatas nakas. Kembali menatap Salma dan berujar,


''Apa yang kamu inginkan?'' tanya Taufik kemudian karena sepertinya anggukannya tadi tidak membuat Salma mengatakan keinginannya.


Salma pun mengubah posisi duduknya, duduk bersila seperti yang Taufik lakukan hingga kini ia dan Taufik pun duduk berhadapan dengan saling menatap satu sama lain.


Salma menunduk sejenak sampai rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, hal ini ia lakukan untuk mengumpulkan segenap keberaniannya juga untuk mengusir keraguannya. Tak lama dari itu, Salma mendongkakkan kepalanya seraya tangannya menyelipkan rambut yang terurai tadi kebelakang telinganya.


Bersitatap dengan Taufik yang sejak tadi memperhatikan gerak - geriknya.


''Emm.. begini, bolehkah aku menjadi ibu dari anak - anakmu Mas?'' ucap Salma akhirnya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, like juga vote ya..


__ADS_2