Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 55 Masalah serius?


__ADS_3

"Ayo! Kita sudah sampai." Tutur Taufik sambil meyodorkan tangannya kepada Salma, setelah ia sudah berdiri disamping mobil.


Salma menyambut uluran tangan Taufik dan turun dari mobil.


"Kenapa kita kesini Mas?" Tanya Salma ketika ia melihat tempat yang dimaksud Taufik.


"Iya.. karena aku ingin menemanimu berbelanja. Belilah apa saja yang kamu suka." Sahut Taufik sambil menggandeng Salma masuk kedalam Mall.


"Tapi Mas, aku sedang tidak ingin membeli apapun." Balas Salma yang bingung kenapa Taufik seakan memaksanya.


"Ayolah sayang.. kali ini saja, apa kamu tidak mau melihat suamimu sendiri merasa senang?" Ujar Taufik dengan jurus pura-pura merajuknya.


"Haha.. kamu Mas selalu saja seperti itu, baiklah.. baiklah aku akan membeli sesuatu. Mari.." balas Salma yang kini menarik Taufik menuju salah satu toko disana.


"Apa yang ingin kamu beli? Biar bantu ku pilihkan." Ucap Taufik melihat-lihat barang yang dipajang di toko tersebut.


"Mungkin.. sebuah tas, ya.. aku akan beli tas saja." Jawab Salma yang tadi tampak masih mempertimbangkannya.


"Hmm.." Taufik mengangguk sambil mulai membantu Salma untuk memilih.


"Bagaimana jika yang ini..?" Tanya Taufik menunjukkan sebuah tas berwarna coklat susu.


"Hmm itu bagus, tapi.. sepertinya tidak deh Mas, ini sangat mahal." Tolak Salma setelah meraih dan melihat bandrol harga tas tersebut.


"Lho kenapa memangnya? Kamu tidak perlu memikirkan soal harganya, kamu tinggal pilih saja yang mana yang kamu suka dan ingin kamu beli. Soal membayarnya, biar nanti aku yang mengurusnya." Ucap Taufik lalu ia pergi menghampiri salah satu pramuniaga disana, agar mengikuti dan melayani Salma selama ia berbelanja. Tak lupa Taufik juga memberikan tas yang tadi kepada pramuniaga itu, serta menunjuk beberapa tas lainnya dan memintanya untuk membungkusnya.


"Sayang.. aku tinggal dulu sebentar ya, kamu lanjutkan saja belanjanya." Pamit Taufik pada Salma, setelah kembali menghampirinya.


"Iya, tapi Mas mau kemana?" Balas Salma.


"Aku mau ke toilet dulu sebentar, kamu lanjutkan saja." Salma pun mengangguk dan Taufik berlalu dari sana.


Selepas dari semua itu, Taufik kembali membawa Salma ke suatu tempat. Ia benar-benar melakukan apa yang diucapkannya tadi, membawa dan menghabiskan waktunya bersama Salma. Hingga tak terasa hari sudah petang, ditambah lagi dengan Salma yang sudah kelelahan karena terus berjalan seharian ini.


"Pak, kita pulang." Seru Taufik pada Pak Aji ketika mereka sudah kembali masuk ke mobil.


"Baik tuan."


"Kamu pasti kelelahan, maaf aku bahkan sampai lupa dengan kondisimu saat ini." Ucap Taufik dengan merangkul dan mengecup kening Salma.

__ADS_1


"Ya, tapi hanya sedikit. Selebihnya aku senang, bahkan sangat senang karena hari ini kamu mau menghabiskan wakutumu denganku." Sahut Salma dengan senyum sumringahnya.


"Tapi.. ada apa kamu tiba-tiba begini Mas?" Lanjut Salma lagi karena memang ia masih heran dengan tingkah Taufik hari ini.


"Hahaha.. memang kenapa? Aku hanya mencoba memanjakan istriku, apa itu salah? Apa hari ini, aku begitu mencurigakan ya.. sampai kamu bertanya seperti itu?" Ujar Taufik dengan tertawa, ia sudah dapat menduga hal ini dan Salma pasti akan mempertanyakan hal tersebut. Mengingat ia memang tidak pernah begini, apalagi bersikap romantis terhadap istrinya selama mereka menikah.


"Ya.. kamu agak sedikit aneh hari ini, apa.. jangan-jangan kamu sedang menyembunyikan sesuatu ya dariku?" Tuding Salma tatapan galaknya, yang malah membuatnya semakin lucu dan menggemaskan dimata Taufik.


"Hahaha..." tawa Taufik kembali pecah saat melihat ekspresi yang Salma tunjukan.


"Kamu benar-benar lucu sayang. Tapi.. kamu tidak usah khawatir, mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu. Hanya saja, memang ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu saat ini." Ucap Taufik yang membuat Salma semakin was-was dan penasaran akan hal tersebut.


"Apa itu? Katakan saja padaku saat ini Mas, kamu jangan ragu. Aku bisa kok, kamu percaya untuk menjaga rahasiamu." Balas Salma menatap Taufik dengan penuh harap.


Sebenarnya Taufik ingin sekali kembali tertawa, namun ditahannya hal itu.


"Em.. tidak sekarang! Itu.. nanti saja kita bicarakan, ketika kita sudah sampai di rumah."


"Yah.. kenapa Mas? Sekarang saja, ayo katakan sekarang padaku Mas." Salma yang sudah sangat penasaran pun akhirnya mengguncang Taufik untuk mengatakannya saat itu juga.


"Tidak! Aku akan mengatakannya di rumah saja." Tegas Taufik sengaja ingin memilih waktu yang tepat sehingga keduanya nanti akan nyaman saat membicarakan soal ini.


"Kira-kira apa ya.. yang ingin Mas Taufik bicarakan? Sepertinya itu sangat serius, kenapa aku jadi deg-degan begini ya?" Gumam Salma dalam hatinya, ia jadi merasa cemas sendiri saat memikirkannya.


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Waktu berlalu, kini Salma sudah berada di kamarnya setelah sebelumnya ia dan Taufik menyelesaikan makan malam mereka bersama. Kini ia duduk dengan masih diliputi rasa penasarannya, karena sampai saat ini Taufik tak kunjung juga mengatakan apapun mengenai hal itu.


Ceklek..


"Ini, minum dulu susumu." Ujar Taufik yang baru kembali dari dapur untuk membuatkan susu hamil untuk Salma.


Seperti biasanya Taufik akan selalu mengingatkan dan membuatkan susu hamil untuk Salma. Dan hal ini, sudah menjadi salah satu ritual yang akan ia lakukan sebelum mereka pergi tidur. Taufik yang akan selalu setia meminta dan memaksanya meminum susu hamilnya. Seberapa keras pun Salma menolak akan selalu ada alasan dan bujukkan yang Taufik layangkan untuknya. Bahkan ia selalu saja mengutip kembali setiap perkataan dokter Sarah tempo hari yang memintanya untuk lebih memperhatikan asupan gizi untuk kandungannya.


Dan jika sudah seperti itu, Salma hanya bisa menurut dan menatuhinya saja. Ya.. meskipun saat meminumnya Salma akan selalu menutup hidungnya, berupaya dengan itu ia tak mencium aroma yang berasal dari susu tersebut.


"Hmm.. baiklah, tapi.. apa aku tidak bisa untuk sehari saja libur meminum ini. Aku benar-benar merasa bosan." Balas Salma masih dengan upayanya bernegosiasi pada Taufik.


"Kamu tenang saja, masih banyak varian rasa lainnya jika kamu merasa bosan dengan rasa yang ini." Ujar Taufik kembali menutup cela untuk Salma, dan sang lawan bicara pun hanya bisa menghela napas mendengar hal itu.

__ADS_1


"Huhh.. baiklah, ini sudah selesai." Salma menyerahkan gelas kosong tersebut pada Taufik, setelah ia meneguk habis susunya.


"Sekarang, ayo katakan apa yang ingin kamu bicarakan sejak tadi. Jangan menunggu sampai rasa penasaranku hilang dan aku tak berminat lagi mendengarnya." Lanjut Salma menatap Taufik dengan kesal.


"Mmm... baiklah, baiklah. Aku akan mengatakannya sekarang, tapi tolong kamu jangan cemberut seperti ini sayang. Takutnya nanti aku malah akan tidak fokus saat berbicara." Tutur Taufik dengan menyimpan gelas tadi diatas nakas.


"Memangnya apa, kaitannya?" Salma masih dengan menatap Taufik, tapi yang dilihat malah membalasnya dengan kekehan.


"Ah.. sudahlah, ayo cepat katakan!" Salma semakin kesal saja melihat Taufik seperti itu, entah kenapa sekarang emosinya mudah sekali berubah. Bahkan ia akan mudah kesal pada hal-hal kecil sekalipun.


"Ekhmm.. jadi.. begini, aku akan kembali pergi ke luar kota untuk mengontrol proyekku disana. Dan.. kali ini mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang sebelumnya. Karena disana ada pekerjaan yang cukup penting yang harus segera ku selesaikan." Papar Taufik hati-hati.


"Emm.. aku tahu kamu pasti keberatan akan hal ini, tapi disana benar-benar sedang ada pekerjaan yang sangat penting. Aku harap kamu akan mengerti posisiku saat ini, karena sebenarnya aku juga tidak ingin pergi dan meninggalkanmu sendiri disini." Imbuh Taufik ketika Salma masih tertegun dan belum juga terlihat akan merespon ucapannya.


"Mas.. apa maksudmu itu? Tentu saja, aku tidak akan merasa keberatan akan hal itu, justru aku akan selalu mendukungmu. Aku tidak akan pernah mau menjadi penghambatmu dan mempersulitmu dengan menghalang-halangi pekerjaanmu." Ucap Salma yang terhenti karena Taufik tiba-tiba mengecupnya.


"Cukup sayang! Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, Aku tidak suka. Kamu istriku, ibu dari anak-anakku, jangan pernah berpikir dan merasa seakan-akan kamu itu tidak penting bagiku. Apalagi sampai mengatakan hal seperti itu, kamu bukan penghambat sayang.. tapi kamu adalah anugerah untukku yang harus selalu ku jaga dan ku syukuri keberadaannya." Sanggah Taufik yang kemudian kembali mengecup Salma.


Salma sebenarnya kaget dan terperangah dengan serangan dadakan dari Taufik itu, namun akhirnya ia pun tersenyum bahagia mendengar penuturan Taufik. Dan untuk menutupi rasa bahagianya yang sudah terlampau itu, ia pun hanya terkekeh kecil dan kembali berucap.


"Ya, baiklah Mas. Aku tidak akan berkata seperti itu lagi, dan soal Mas yang akan pergi. Mas tidak perlu merasa khawatir, aku akan baik-baik saja disini. Emm.. kapan rencana Mas akan pergi?" Tanya Salma.


Taufik mengelus puncak kepala Salma dan kembali ia mengecup Salma, namun kali ini ia mengecup keningnya.


"Sebelumnya aku berterima kasih padamu sayang, atas pengertianmu ini. Huft.. dan rencananya 3 hari dari sekarang aku akan pergi, karena disana terjadi beberapa masalah yang cukup serius yang harus segera aku selesaikan. Aku harus segera mengusutnya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya." Balas Taufik menjelaskan betapa gentingnya masalahnya kali ini.


"Masalah serius? Memangnya masalah apakah itu dan apakah seserius itu? Apa itu berbahaya?" Cemas Salma, mengkhawatirkan suaminya jika nanti ia pergi kesana.


"Kamu tidak perlu khawatir, semua pasti akan baik-baik saja. Kamu juga tidak perlu memikirkan masalah ini, kamu cukup menjaga kesehatanmu dan jangan bekerja terlalu lelah. Dan akan ku usahakan juga untuk tidak terlalu lama disana, kamu do'akan saja aku agar bisa dengan cepat menyelesaikan masalah ini." Ucap Taufik dengan merenguh Salma dan berusaha menenangkannya.


"Hmm.. baiklah, aku pasti akan selalu mendo'akanmu." Balas Salma dengan mengangguk dipelukan Taufik.


.


.


โคตโคตโคต


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah kalian membaca, dengan LIKE, COMENT DAN VOTE.

__ADS_1


Terima kasih๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2