
"Jadi kalian mau pesan apa?" Tanya Wijaya pada istrinya dan Salma. Ketika mereka sudah sampai dan duduk disalah satu meja di restoran itu.
"Emm.. sebentar." Jawab Izma dengan mulai membuka menunya, begitupun yang dilakukan oleh Salma.
"Oke, lalu jagoan Papa ingin makan apa?" Tanya Wijaya lagi yang kini ditujukan pada Akmal yang duduk dipangkuannya.
"Aku mau pasta saja Pa, bolehkan Ma?" Sahut Akmal yang kemudian meminta persetujuan Mamanya.
"Iya boleh sayang, tapi nanti makan malam harus dengan sayur ya.." balas Izma karena kini ia sudah membiasakan Akmal makan dengan baik dan teratur, tidak hanya mengikuti apa yang diinginkan Akmal saja seperti saat Akmal terus meminta ayam goreng setiap akan makan.
"Oke Ma." Patuh Akmal dengan menggangguk.
"Dan kamu Mas, mau makan apa?" Kini giliran Izma yang bertanya pada suaminya.
"Emm.. steak salmon saja dan untuk minumnya jus jeruk, buat keduanya untuk dua porsi." Sahut Wijaya yang langsung ditulis oleh pramusaji yang sejak tadi berdiri menunggu mereka memesan.
"Dua porsi? Apa itu tidak terlalu banyak Mas? Apa kamu segitu laparnya sampai memesan dua porsi makanan?" Tanya Izma kaget dengan pesanan suaminya, sedangkan pramusaji tadi sudah pergi setelah semuanya selesai memesan.
"Tidak dong sayang. Sudah ah.. tidak perlu menatapku seperti itu." Sahut Wijaya santai, kemudian tangan ia gunakan untuk meraup muka Izma yang masih saja menatapnya tak percaya.
"Ih.." respon Izma sambil memalingkan wajahnya agar terhindar dari tangan usil suaminya itu.
Salma yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi mereka, akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas berat.
"Huh.. Sejak tadi mereka terus saja membuatku merasa iri. Andai saja.. aku bisa seperti mereka dengan Mas Taufik, tapi mau bagaimana? Mas Taufik pasti sekarang sedang sibuk dengan pekerjaannya." Batin Salma dengan mengkerucutkan bibirnya, ia sedikit agak kesal mengingat hal itu.
"Maaf Bu, ini air putihnya." Ucap pramusaji tadi mengantarkan segelas air putih yang diminta Salma untuk meminum obat mualnya.
"Iya, terima kasih mbak." Sahut Salma dengan senyum ramahnya dan pramusaji tadi pun kembali permisi kebelakang.
"Kamu haus banget ya.. Sal? Sampai pesan air minum lebih dulu." Tanya Izma yang bingung melihat Salma.
"Ah.. tidak Iz, ini aku mau minum obatku dulu." Jawab Salma seadanya.
__ADS_1
"Obat? Kamu sakit apa Sal? Apa sekarang kamu baik-baik saja?" Panik dan kaget Izma sampai menempelkan salah satu punggung tangannya didahi Salma.
Salma sampai terkekeh dengan tingkah sahabatnya ini, dan dengan pelan meraih dan menurunkan lagi tangan Izma dari dahinya.
"Tidak Iz, aku Alhamdulillah sehat. Ini hanya obat yang diresepkan oleh dokter kandunganku. Karena aku selalu merasa mual akhir-akhir ini, maka dari itu aku harus minum dulu obat ini. Ya.. semoga dengan ini aku tidak mual ketika makan nanti." Papar Salma membuat Izma mengangguk mengerti.
"Jadi kamu akan selalu mual ketika makan? Lalu bagaimana dengannya, jika kamu tidak makan. Pasti nanti keponakanku tidak mendapat asupan yang baik." Ucap Izma lagi masih merasa khawatir dengan kondisi Salma.
"Kamu tenang saja Iz, dokter telah memberiku beberapa obat dan itu sudah cukup membantuku kembali mendapatkan nafsu makan. Dan rasa mualku sekarang sudah lebih berkurang, hanya sesekali saja aku merasakannya." Balas Salma tersenyum senang melihat perhatian Izma.
"Hah.. syukurlah jika seperti itu Sal. Tadinya ku pikir kamu benar-benar tidak makan, lihat tubuhmu lebih kurus dari sebelumnya." Cerocos Izma lagi dengan menelisik tubuh Salma.
"Haha.. tidak Izma, itu mungkin hanya perasaanmu saja." Sahut Salma yang kemudian kembali melanjutkan tawanya, masa iya ia jadi kurus secepat itu ada-ada saja Izma ini pikir Salma.
Tak lama dari itu dua orang pramusaji mengantarkan pesanan mereka, kemudian berlalu setelah mempersilahkan mereka menyantap makanannya.
"Ayo.. sayang duduk disini, biar Mama suapin kamu." Ucap Izma pada Akmal yang masih betah dipangkuan Papanya.
"Iya Ma." Dan Akmal pun akhirnya turun dan duduk disamping Izma, yang jadilah Akmal kini duduk dengan diapit oleh Izma dan Wijaya.
Dan akhirnya mereka pun memulai makan siang mereka dengan ditemani celotehan Akmal.
Saa mereka sedang asik dan fokus pada makanan masing-masing, tiba-tiba saja datang seseorang yang membuat mereka seketika terjengkit kaget dengan ucapan salamnya. Apalagi Salma, ia terkejut dua kali lipatnya karena belum sempat mereka menoleh dan menjawab salam orang tersebut. Tiba-tiba orang itu langsung mencium pipi Salma, dan tentu saja itu membuat Salma sangat, sangat terkejut.
"Assalamu'alaikum, maaf aku datang terlambat." dan Cup ia mengecup pipi Salma yang sontak saja membuat Salma segera menoleh kearahnya.
"MAS!" Pekiknya dengan mata membulat, padahal tadinya ia sudah ingin marah dan memaki orang itu.
Begitupun dengan yang lain yang kini sudah menoleh pada Taufik, Izma sama kagetnya seperti Salma. Namun, itu berbeda dengan Wijaya yang malah tersenyum melihat adegan Taufik yang secara mendadak mencium Salma.
"Wa'alaikumsalam, ayo duduk Fik. Aku tadi sudah memesankan makanan untukmu." Ucap Wijaya dengan santainya.
"Mas.. kamu.." bingung Izma, berarti suaminya itu sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Sampai ia sudah memesankan makanan untuk Taufik dan tidak salah lagi jika suaminyalah yang menghubungi dan mengajak Taufik kemari, pikir Izma.
__ADS_1
Wijaya hanya tersenyum kearah istrinya, yang ditanggapi helaan napas oleh Izma.
"Huh.. ada-ada saja." Batin Izma sambil menggelengkan kepalanya.
"Hei.. kamu kenapa? Apa kamu tidak senang aku kesini? Kamu bahkan tidak menjawab salamku." Ujar Taufik yang kini sudah memposisikan dirinya disamping Salma.
Salma mengerjapkan mata, lalu ia menggeleng kecil.
"Eh.. iya Mas, Wa..Wa'alaikumsalam. Kamu tahu dari mana aku ada disini?" Sahut Salma setelah berhasil keluar dari keterkejutannya.
"Tidak perlu bertanya seperti itu Sal, siapa lagi coba orangnya jika bukan dia." Timpal Izma dengan menunjuk suaminya, dengan menggunakan gerakan kepala kearah Wijaya.
"Oh.. hmm." Sahut Salma mengangguk, ketika ia menyadarinya.
"Iya juga ya.." gumam Salma sangat kecil.
"Sudahlah, mari kita lanjut makan." Lerai Wijaya yang kembali menikmati makanannya.
"Apa kamu merasa mual sekarang?" Tanya Taufik yang kahwatir dengan Salma, ia berbicara dengan sedikit berbisik takut mengganggu yang lainnya.
"Emm.. tidak Mas, aku tadi sudah meminum obatnya." Sahut Salma kembali menoleh kearah suaminya.
Salma melihat Taufik belum menyentuh makanannya, dan akhirnya ia pun bertanya.
"Kenapa tidak dimakan Mas? Apa Mas ingin memesan yang lain, karena mungkin itu sudah dingin." Tawar Salma yang segera mendapat gelengan dari Taufik.
"Tidak, aku makan yang ini saja." Akhirnya Salma pun mengangguk dan melanjutkan makanannya.
Taufik terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sekarang, dan ia bingung untuk mengatakannya pada Salma. Karena jujur, ia pun sebenarnya berat untuk melakukan hal yang akan ia katakan pada Salma itu, apalagi dengan kondisi Salma yang kini sedang mengandung anaknya.
"Mungkin nanti saja aku bicarakan ini pada Salma, sekarang aku akan menghabiskan waktuku dengan Salma seharin ini." Ucap Taufik membatin sambil menatap Salma yang sedang menikmati makanannya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...