
"Sudah, sudah. Bukankah itu malah bagus, berarti Kak Wijaya benar-benar menyayangimu Iz. Dia sangat takut untuk kehilanganmu." Lerai Salma menengahi perselisihan sepasang suami istri itu.
"Huh.. lebih baik sekarang kita langsung saja ke pengukuran, jika desainnya sudah sesuai. Dan.. tidak ada yang perlu ditambah atau diubah lagi kan?" Tanya Salma pada pasutri tersebut.
"Hmm.. sudah sangat sesuai." Jawab Izma dengan masih sedikit kesal.
"Baiklah, Karin tolong bantu ukur mereka!" Seru Salma pada asistennya, segera dilaksanakan oleh Karin.
"Baik Bu." Karin membantu mengukur tubuh Izma dan Wijaya, sedangkan Salma mengukur Akmal sambil sesekali menyahuti celotehan anak tersebut.
"Baiklah sudah selesai, Akmal kamu ingin kado apa dari aunty?" Tanya Salma yang sekarang sedang duduk dengan memangku Akmal.
"Hmm.. apa ya.. terserah aunty sajalah, Akmal bingung." Sahut Akmal yang terlihat sedang berpikir keras, namun pada akhirnya pun ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dan tingkahnya itu tentu saja membuat Salma semakin gemas pada Akmal, belum lagi cara bicaranya yang masih belepotan namun selalu ingin terlihat seperti orang dewasa. Bahkan rasanya ingin sekali Salma mencubit pipi gembul anak itu.
"Mm.. Akmal hanya ingin aunty datang saja nanti dan menemani aku. Aunty tahu tidak? Sebenarnya aku tidak punya banyak teman, itu sebabnya aku ingin bersama aunty." Lanjut Akmal lagi dengan cara bicaranya yang tetap seperti orang dewasa.
Entah bagaimana Akmal bisa seperti ini, diusianya yang belum genap dua tahun itu ia bisa berbicara sepasih ini. Salma bingung dan jadi penasaran sendiri, tentang bagaimana cara Izma mengajak anaknya berinteraksi sehingga membuat Akmal jadi semenggemaskan ini.
"Hmm.. baiklah, tapi Akmal tahu tidak?" Tanya Salma dan hanya mendapat sebuah gelengan kepala dari Akmal.
"Tak lama lagi, Akmal akan mempunyai seorang teman nanti. Jadi kamu jangan bersedih dan mengkhawatirkan hal itu ya..." imbuh Salma dengan perlahan ingin memberitahu Akmal tentang kehadiran calon anaknya.
"Benarkan itu aunty? Kalau begitu, dimana dia sekarang?" Tanya Akmla dengan mata berbinar memancarkan kebahagiaan dan antusiasnya.
Salma tersenyum melihat keantusiasan Akmal.
"Akmal sabar ya, saat ini dia masih ada disini. Dia masih terlalu kecil memang, tapi yang pasti dia yang nantinya akan menjadi teman Akmal." Sahut Salma dengan menunjuk kearah perutnya sendiri.
"Disini? Diperut aunty?" Tanya Akmal bingung dengan ucapan Salma, ia tidak mengerti kenapa temannya ada diperut auntynya?
"Hmm.. dia ada diperut aunty sekarang." Timpal Salma lagi sambil mengangguk.
Izma yang sejak tadi mendengarkan dan menerka-nerka ucapan Salma dan Akmal akhirnya membelalakkan matanya kaget.
__ADS_1
"Salma hamil?! Dan dia tidak memberitahuku?" Gumam Izma dalam hati dengan menahan kesalnya.
"Salma, kamu.. hamil?" Tanya Izma akhirnya yang sudah sangat penasaran.
Salma mendongkakkan kepalanya menatap Izma yang bertanya padanya. Ia tersenyum sebelum kemudian menjawab.
"Alhamdulillah iya Iz, sekarang sudah mau memasuki bulan ke dua." Sahut Salma dengan senyuman bahagianya.
"Alhamdulillah, aku ikut merasa bahagia untukmu Sal dan akhirnya Akmal akan punya teman juga." Balas Izma turut merasakan kebahagiaan yang sedang Salma rasakan.
Sebenarnya Akmal bukan benar-benar tidak memiliki teman seorangpun, tapi karena memang ia belum bersekolah dan karena Wijaya juga yang begitu protektif dan sangat hati-hati dalam memilih pergaulan untuk anaknya. Bukan karena ia berlebihan atau apa, hanya saja ia merasa takut jika anaknya nanti terbiasa bergaul dengan bebasnya, sehingga nanti tak bisa untuk ia kontrol. Terlebih ada alasan lain yang membuat Wijaya semakin dirundung rasa takut dan khawatir yaitu karena memang Wijaya sendiri pernah terjerumus dalam pergaulan bebas, hingga ia bahkan pernah meminum minuman keras disaat ia remaja dulu.
Dan karena hal itulah ia sangat protektif pada anaknya itu, tidak ada orang tua manapun yang ingin dan akan membiarkan anaknya tersesat dan salah dalam memilih jalan kehidupannya.
"Iya, aku juga turut bahagia untuk kalian." Timpal Wijaya yang ternyata ia pun mendengarkan perbincangan mereka.
"Iya terima kasih Iz, Kak Wijaya. Maaf kami tidak memberitahu kalian sebelumnya." Balas Salma dengan merasa sedikit tak enak.
"Iya! Baru saja aku mau protes tentang hal itu padamu, tapi ya sudahlah.. yang penting kamu selalu sehat dan jaga baik-baik keponakanku ya.." ujar Izma yang gagal mengungkapkan kekesalannya pada Salma.
"Em.. bagaimana jika kita pergi makan siang bersama saja sekarang?" Tanya Wijaya.
"Ya.. bagaimana menurutmu Sal? Inikan sudah waktunya makan siang, dan kupikir pekerjaanmu juga selesai kan?" Tambah Izma dengan antusiasnya kembali.
"Hmm.. baiklah. Aku akan bereskan meja kerjaku dulu." Balas Salma yang kemudian berdiri untuk membereskan meja kerjanya dan mengambil tasnya.
"Ayo.." ajak Salma ketika ia selesai, dan akhirnya pun mereka pergi untuk makam siang.
Dan tanpa sepengetahuan Salma dan Izma, Wijaya diam-diam mengirim sebuah pesan pada Taufik dan mengajaknya juga makan siang bersama.
Dalam chattingan Wijaya dan Taufik.
"Assalamu'alaikum, sibuk gak Fik? Makan siang bareng yuk.." pesan Wijaya yang berhasil terkirim pada Taufik.
Setelah beberapa saat.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah. Ya.. beginilah Wij, aku sekarang sedang benar-benar sibuk karena pekerjaanku sedang menumpuk. Mungkin lain kali saja kita makan siang, maaf." Balas Taufik yang ternyata menolak ajakan Wijaya dengan alasan pekerjaannya.
Ya.. selalu saja pekerjaan pikir Wijaya, padahal jelas-jelas mereka sama saja. Sama-sama terlalu pekerja keras, meski kini Wijaya sudah sedikit berubah semenjak ia menikah dengan Izma.
"Kamu yakin nih Fik, gak mau ikut makan siang bareng kita? Kamu tahu tidak kita sekarang makan siang dengan siapa?" Bujuk Wijaya pada Taufik, kata 'kita' yang ia gunakan ditujukannya untuk ia dan istrinya. Karena memang mereka sudah biasa makan bersama.
Disebrang sana Taufik menautkan alisnya, siapa memangnya? Tidak biasanya sampai membuat Wijaya membujuknya seperti ini? Pikir Taufik.
"Siapa?" Tanya Taufik akhirnya.
"Coba tebak, siapa ini?" Balas Wijaya lagi dengan mengirimkan foto Izma dan Salma yang sedang berbincang, dan foto itu diambil tanpa sepengetahuan mereka.
Taufik melihat foto yang Wijaya dikirimkan dan detik selanjutnya ia pun mengenali siapa gerangan orang yang dimaksud Wijaya.
"Salma?" Gumamnya yang kemudian ia tersenyum dan segera bangkit dari kursi kerjanya.
"Dimana?" Tanyanya pada Wijaya dengan semangat keluar dari ruang kerjanya.
Wijaya tertawa saat membaca pesan Taufik barusan, ia tak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini dari sahabatnya.
"Kenapa? Bukankah kamu sibuk?" Balas Wijaya sengaja ingin menggoda Taufik.
Taufik mendesah mendapat jawaban seperti itu dari Wijaya, padahal ia sudah berada dalam mobil dan sudah ingin buru-buru meluncur.
"Aku berubah pikiran, cepat kirimkan lokasinya!" Balas Taufik lagi dan tak lama dari itu, ia pun sudah mendapat jawabannya.
Meski saat mengirimkannya Wijaya terus tertawa geli, karena sepertinya ia berhasil membuat Taufik kesal.
.
.
LIKE, COMENT DAN VOTE YA..😍😍
Bersambung...
__ADS_1