
Masih di gedung tempat wisuda Fikri.
"Fik dari mana aja lo, tuh kakak sama kakak ipar lo nyariin." ucap Indra ketika ia menemukan Fikri yang segera dijawab dengan sebuah anggukan oleh Fikri dan berlalu dari sana.
"Kenapa tuh anak, kayak lemes gitu.." heran Indra yang melihat Fikri berjalan dengan lesu dan terlihat tidak bersemangat seperti sebelumnya.
"Hallo.. kak." sapa Fikri pada Taufik dan langsung mencium punggung tangan Taufik.
"Eh.. Fik, selamat ya.. mau langsung kerja atau gimana nih setelah ini?" tanya Taufik membalas sapaan adik iparnya.
"Emm.. belum tahu kak, nanti Fikri pikirkan dulu." jawabnya yang diangguki oleh Taufik.
"Ada apa dengannya, kenapa dia terlihat murung seperti itu? Tidak biasanya dia begitu." bingung Salma saat melihat adiknya seperti kehilangan semangatnya.
"Dek, kamu tidak papa? Habis dari mana tadi, kok ke toiletnya lama sekali." tanya Salma sambil masih dengan mengamati Fikri.
"Oh.. itu kak, tadi Fikri ngobrol dulu sebentar sama temen." sahut Fikri dan memang benar ia mengobrol dengan temannya, meski tadi tidak benar -benar ke toilet.
"Oh.. gitu. Terus kenapa, kamu kok jadi keliatan murung gitu. Apa terjadi sesuatu tadi?" tanya Salma lagi yang khawatir akan keadaan adiknya.
"Tidak kak, tidak terjadi sesuatu apapun kok. Itu perasaan kakak aja kali, Fikri cuma ngerasa cape aja kak." sahutnya lagi tak ingin kalau sampai Salma bertanya lagi, namun sepertinya Salma masih merasa ada yang janggal pada adiknya itu. Tapi, lebih baik ia tidak membicarakannya disini, ia juga tidak akan bertanya terlalu banyak lagi sekarang.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita pergi ke rumah makan saja. Untuk makan siang, sepertinya Fikri cape karena sudah lapar tuh.." ajak Bu Ilma dengan sedikit meledek anak bungsunya.
"Haha.. iya sepertinya begitu. Nak Taufik bagaimana, bisakan?" timpal Pak Imam, lalu bertanya akan kesediaan anak menantunya.
"Bisa kok Yah, pekerjaan Taufik juga sudah selesai tadi." sahut Taufik yang memang beberapa pekerjaannya sudah beres dan hari ini sedang agak senggang.
"Baiklah ayoo.." seru Fikri berusaha menyamarkan kegundahan hatinya yang masih memikirkan cara untuk menarik perhatian gadisnya itu. Salma masih mengamati gerak - gerik adiknya dan dapat Salma lihat dengan jelas bahwa kini Fikri sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.
"Awas saja ya, kamu sudah mulai berani berbohong dan merahasiakan sesuatu dari kakak." batin Salma yang kesal karena tahu Fikri membohonginya.
Bagaimana mungkin Salma bisa dikelabui seperti ini oleh adiknya, sementara segala rahasia apapun yang Fikri miliki selalu ia bagi dengan Salma selama ini. Mereka benar - benar sangat dekat dan mengerti satu sama lain. Bahkan terkadang tanpa yang satunya mengatakan tapi yang satunya lagi sudah tahu dan bisa merasakannya. Jadi, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah persaudaraan mereka.
Pukul 14.00 mereka baru sampai di sebuah restoran, meski mereka sudah terlambat untuk mengatakan bahwa ini adalah makan siang. Tapi tidak masalah, mereka tetap dengan riang dan semangat menyantap makanan mereka karena ini merupakan kali pertama untuk Taufik makan siang bersama dengan keluarga Salma.
"Fikri, kenapa kamu malah melamun. Ayo.. dimakan nak, katanya tadi cape. Cepat habiskan makanannya biar nanti segera istirahat setelah dari sini." tegur Bu Ilma yang melihat anaknya belum menyentuh makanannya sejak tadi.
"Eh.. Iya Bu." balas Fikri dengan cengengesan, kemudian matanya tak sengaja melihat Salma yang sejak tadi memperhatikannya. Dan dengan cepat ia palingkan wajahnya dari Salma.
"Ck.. kenapa kakak terus memperhatikanku. Apa dia tahu, kalau aku sudah membohonginya ya..?" tanya Fikri dalam hati, lalu sedikit melirik Salma lagi yang ternyata masih menatapinya dari tadi dan langsung kembali tertunduk lagi ketika sadar Salma masih melihatnya.
__ADS_1
"Tuh'kan pasti dia menyembunyikan sesuatu dariku, awas saja kamu Fikri..." gerutu Salma yang semakin kesal melihat tingkah adiknya.
Seusai sudah acara makan siang mereka yang sedikit terlambat itu, Pak Imam mengajak menantunya untuk sedikit berbincang mengenai pekerjaan karena kebetulan mereka sama - sama menggeluti dunia perbisnisan.
Sedangkan Salma yang sudah tidak tahan lagi untuk mengintrogasi Fikri, segera mencari alasan untuk mengajaknya berbicara hanya berdua.
"Oh ya.. dek kamu antar kak ya, membeli sesuatu didepan. Hanya sebentar kok, ayo!" ajaknya dengan menarik tangan Fikri. Fikri dibuat gelisah karena sepertinya tebakannya tadi benar, dan sekarang pikirannya sedang buntu untuk sekedar menolak ajakan kakaknya.
"Em.. Ayah,Ibu dan Mas Taufik Salma tinggal dulu ya.. hanya sebentar kok. Tidak papa kan?" ijin dan tanya Salma pada mereka yang akan ia tinggal. Taufik dan ayah segera mengangguk dan melanjutkan obrolannya yang sempat terpotong, sedangkan ibu menatap curiga juga penasaran pada kedua anaknya itu. Namun ia tetap mengangguk dan membiarkan mereka pergi.
"Sepertinya ada sesuatu.." batin Bu Ilma yang juga sedang diliputi ke-kepoan.
Disinilah kini Salma dan Fikri berada, disebuah kursi taman yang terletak tidak jauh dari resto tempat mereka tadi makan.
"Sini kamu, kenapa duduknya menjauh begitu?!" ucap Salma yang Fikri tahu bahwa kakaknya saat ini sedang menahan kesal, itu dapat diketahui dari intonasinya saat berbicara.
Menggeser duduknya mendekati Salma, meski ia merasa takut karena ketahuan membohongi kakaknya.
"A..ada apa kak? Kenapa tiba - tiba kakak mengajakku kesini?" tanya Fikri seolah tidak tahu maksud kakaknya.
"Lihat kakak! Kamu tadi berbohongkan pada kakak?" tanya Salma menatap Fikri dengan penuh selidik.
"Ayo dek jawab, atau jangan - jangan kamu sudah tidak mempercayai kakak lagi ya?" tanya Salma dengan wajah sendu dan kini sudah mengubah nada bicaranya dengan sangat lirih.
"Tidak kak, tidak. Bukan begitu, tapi aku.. aku takut nanti kakak malah marah padaku." sanggah Fikri yang tidak mau kalau kakaknya salah paham.
Salma menatap Fikri kemudian mengangkat kedua alisnya keatas, seolah meminta penjelasan lebih dari Fikri.
"Tapi kakak janji ya.. jangan marah, dengarkan aku dulu sampai selesai." lanjut Fikri dan Salma hanya mengangguk kecil.
"Jadi begini, aku.. menyukai teman kuliahku kak.." ucap Fikri namun terpotong oleh Salma.
"Oh jadi kamu masih main - main ya.." potong Salma geram.
"Tuh'kan kakak pasti akan menyimpulkan begitu. Aku malas ah.. bicara dengan orang yang tidak percaya padaku." ucapnya yang membuatnya terpaku dengan ucapannya sendiri.
"Eh.. ralat, maksudku kecuali dia. Karena dia juga tidak mempercayaiku, tapi aku tidak malas untuk bicara dengannya malah aku semakin bersemangat untuk mendekatinya." Fikri membatin.
"Hei.. kenapa jadi melamun. Oke.. oke.. kakak minta maaf telah memotong ucapanmu. Jadi bagaimana hmm?" ujar Salma dengan menaik nurunkan alisnya.
"Aku bertemu dengannya tepat dihari aku menyelesaikan skripsiku. Awalnya kami hanya tidak sengaja bertabrakan waktu itu, tapi hari - hari selanjutnya aku semakin sering bertemu dengannya. Aku mulai memperhatikan setiap kegiatannya di kampus, hingga tanpa aku sadari.. aku menyukainya kak." Fikri diam sejenak, kemudian melanjutkannya.
__ADS_1
"Iya, aku menyukainya. Kali ini aku sungguh - sungguh kak, aku bermaksud serius padanya. Aku yakin bahwa ini bukan hanya rasa penasaranku saja, tapi aku benar menyukainya bahkan jatuh hati padanya kak. Namun sangat disayangkan.. dia tidak mempercayaiku kak, dia bahkan terus mengabaikanku seolah aku ini tidak pernah ada. Nama baikku benar - benar sudah tercoreng disana kak." Fikri diam lagi sambil tertunduk dalam, sedangkan Salma masih setia menanti kelanjutan cerita Fikri.
"Dan tadi sebenarnya aku bukan ke toilet kak, tapi.. aku menemuinya dan berbicara padanya." lanjut Fikri yang mengakui kebohongannya tadi.
"Hmm.. sudah ku duga." gumam Salma kecil namun masih terdengar oleh Fikri.
"Maaf kak, tapi bukankah tadi kakak juga melakukan hal yang sama. Berbohong ingin membeli sesuatu, nyatanya malah mengintrogasi aku." bela Fikri.
"Ya.. itu'kan beda lagi. Ini darurat dek, tadi kakak sangat merasa khawatir dan takut kalau kamu kenapa kenapa. Karena tak biasanya kamu murung seperti tadi, biasanya kamu hanya akan uring - uringan jika sudah kebingungan mengenai para gadismu dan itu juga terjadi hanya sebentar. Tapi sekarang reaksimu terlihat berbeda, jadi kakak merasa takut." kilah Salma yang memang mengungkapkan kekhawatirannya.
"Hahaa... memang aku terlihat seperti itu ya.. kak? Berarti itu juga bisa dijadikan sebagai bukti, kalau aku tidak main - main kak. Kakak mau kan membantuku, kak?" timpal Fikri menatap Salma penuh harap.
Salma mengerutkan dahi.
"Bantu? Bantu apanya?" tanya Salma yang memang merasa bingung.
"Ya.. bantu aku mendapatkannya kak. Ya.. mau ya.." balas Fikri terus membujuk Salma.
"Ya.. mana kakak tahu soal begituan, kamu berjuanglah sendiri jika memang kamu sungguh sungguh." timpal Salma.
"Kakak kok gitu, bantu akulah kak." bujuk Fikri lagi dengan memegang kedua tangan Salma.
"Bantu bagaimana sih dek, begini ya.. dek. Kalau menurut kakak, perempuan itu tidak membutuhkan janji dan ucapan manis kamu. Dia itu hanya perlu diyakinkan bahwa kamu memang serius, tidak main - main dan dapat dia percaya. Tidak harus melulu mengatakan 'aku mencintaimu' setiap waktu, walau sesekali itu memang dibutuhkan. Tapi, dia akan selalu membutuhkan orang yang bisa menjaganya, menghargainya dan orang yang bisa dipercaya dan dipegang kata - katanya." menghela nafas, sedangkan Fikri larut dengan pikirannya yang mendalami kata - kata Salma.
"Ya.. begitulah kira - kira kalau menurut kakak." kemudian menoleh pada adiknya.
"Aih.. dia malah melamun lagi. Dek.. dek.." ucap Salma mengguncang tubuh adiknya.
"Hmm.. iya kak." sahutnya setelah kembali dari lamunannya.
"Ayo kita kembali, sepertinya kita sudah terlalu lama." ajak Salma sambil beranjak dari duduknya.
Akhirnya merekapun kembali ke resto, dimana ayah, ibu dan Taufik menunggu mereka disana.
.
.
Bersambung...
Tolong like dan votenya dongg😯
__ADS_1