Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 32 Husain vs Fitri


__ADS_3

"Iya maaf, sudah lama tak bertandang ke sana. Tapi tenang saja, malam ini pasti aku akan ke sana dan pastikan juga dia belum tidur ya.." Sahut Taufik yang malah dibalas tawa oleh Wijaya.


"Iya, akan ku pastikan itu." Jawabnya yakin.


"Emm.. maaf mengganggu pembicaraan kalian, tapi apa aku boleh tahu, siapa sebenarnya yang kalian maksud?" Tanya Salma menyela pembicaraan mereka, karena sudah penasaran juga sejak tadi.


"Oh iya.. maaf, maaf.. aku sampai lupa jika kamu belum mengetahuinya. Jadi, dia itu anakku, dia sangat dekat dengan Taufik. Tapi ya.. karena tuan Taufik ini yang entah karena kesibukannya atau ia yang begitu sombong sampai melupakan fans kecilnya itu." Balas Wijaya dengan sedikit menyindir dan mencibir Taufik.


Belum sempat Salma menyahuti ucapan Wijaya, Taufik sudah menyerobot bicara tak terima dikatai seperti itu oleh Wijaya.


"Hei.. kenapa kau berbicara seperti itu? Kan aku sudah meminta maaf tadi, aku tak bermaksud melupakan jagoanmu itu. Tapi karena memang waktunya saja sedang seperti ini, jadi tidak sempat." Protes Taufik yang terprovokasi dengan cibiran Wijaya dan tentu saja Wijaya yang memang sengaja ingin memancing Taufik dibuat sangat senang karena ternyata Taufik terpancing oleh candaannya.


"Hahaha..." tawa Wijaya memenuhi ruang kerja Taufik, dia terlihat sangat puas. Sampai terdengar suara ketukan pintu, itu Fitri yang membawakan minuman untuk tamu Taufik tersebut.


"Permisi tuan, nyonya.. maaf mengganggu. Ini saya membawakan minuman." Ucapnya ketika sudah dipersilahkan masuk tadi, lalu meletakkannya tiga cangkir diatas meja.


"Terima kasih." Sahut Wijaya sedangkan Taufik hanya mengangguk terhadapnya.


"Sama - sama tuan, kalau begitu saat permisi." Fitri berlalu keluar ruangan sedangkan mereka melanjutkan kembali obrolannya.


Terlihat Fitri yang baru saja menutup pintu ruangan Taufik, diwaktu yang bersamaan Husain baru saja keluar dari ruangannya dengan membawa sebuah map dan berniat akan ke meja Fitri. Namun, saat beberapa langkah lagi ia sampai, langkahnya terhenti ketika melihat Fitri sedang berdiri didepan ruangan Taufik.


"Hei.. sedang apa kau disana? Kau menguping ya..?" Tanyanya disertai tuduhan kepada Fitri.


Fitri terlonjak kaget dengan suara Husain yang memang lumayan tinggi, dia segera berjalan mendekati Husain.


"Tidak tuan, saya hanya mengantar minuman saja tadi." Elak Fitri ketika sudah dihadapan Husain.


"Alah.. jangan mengelak! Jika benar kamu hanya mengantarkan minum, lalu kenapa malah berdiri sana?" Ucap Husain dengan tajamnya.


"Tadi saya baru saja keluar dan menutup pintu tuan, bersamaan dengan itu tuan menegur saya." Jelas Fitri lagi.


"Menyebalkan sekali dia, dia pikir untuk apa aku menguping ck.. yang benar saja." Gerutu Fitri dalam hati.


"Kau selalu saja berkilah, lihat saja jika nanti kau macam - macam. Kau pikir aku tidak tahu maksudmu dengan bekerja disini hah!" Ancam Husain menatap Fitri sangat tajam.

__ADS_1


"Memangnya apa hah? Jangan bertingkah seakan kau tahu segalanya tentangku." Balas Fitri menatap Husain tak kalah tajam.


Flashback on


Tok.. Tok.. Tok..


"Iya, masuk!" Teriak Husain dalam ruangannya.


"Permisi tuan, sekretaris yang anda minta sudah ada didepan. Apa tuan ingin mewawancarainya lagi?" Tanya pria bagian HRD itu setelah masuk ke ruangan Husain.


"Ya boleh, panggil dia masuk!" Titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.


"Baik tuan." Dia pun keluar memanggil calon sekretaris atasannya.


"Ini dia tuan, kalau ada yang tuan butuhkan lagi tuan bisa memanggil saya. Saya permisi tuan." Berlalu menutup pintu.


"Silahkan duduk." Ucap Husain pada orang didepannya masih dengan kepala yang menunduk.


"Iya, terima kasih tuan." Ucap gadis itu setelah tadi sempat tertegun sesaat.


"Kau!" Ucapnya dengan mata yang membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Selamat pagi tuan." Sapa gadis itu yang tak lain adalah Fitri.


"Mau apa kau kemari?" Ucap Husain lagi tanpa membalas sapaan Fitri tadi.


"Saya sedang wawancara kerja tuan, dan bukankah tuan sendiri yang akan mewawancarai saya?" Tanyanya dengan sopan.


"Jangan bersandiwara Fitri, apa tujuanmu datang ke sini dan apa yang membuatmu tertarik melamar kerja disini?" Tanya Husain lagi.


"Apa maksud anda tuan? Tentu saja saya datang kesini untuk bekerja dan kebetulan saya tertarik dengan posisi yang ditawarkan disini." Sahut Fitri dengan tenang.


Brakk.. suara gebrakan meja yang dilakukan oleh Husain.


"Cukup Fitri! Katakan apa sebenarnya tujuanmu, jangan membuat kesabaranku habis." Ujar Husain penuh dengan penekanan pada setiap katanya.

__ADS_1


"Justru kau yang sejak tadi menguji kesabaranku. Apakah seperti ini caramu bekerja dan mewawancarai pegawaimu? Apa kau tidak bisa bersikap profesional hah? Jangan pernah berpikir aku datang kesini untukmu, karena itu salah besar tuan Husain." Balas Fitri dengan menuding Husain, kemudian tersenyum miring meremehkan Husain.


Husain terlihat memejamkan matanya dengan rahang yang sudah mengeras.


"Cih.. kenapa aku jadi tidak terkontrol begini, apa yang telah aku lakukan." Batin Husain dengan sekuat tenaga ia mengendalikan emosinya untuk bersikap seperti seharusnya. Ini adalah pertama kalinya ia tak terkendali dan terbawa emosi seperti ini disaat bekerja. Biasanya ia mampu mengontrol diri dengan baik, apapun masalah yang sedang ia hadapi.


Membuka matanya kembali dan menatap Fitri dalam, seakan sedang mencari kebenaran dari yang diucapkan Fitri tadi. Juga menelisik jikalau apa yang dirasa dan curigainya pada Fitri itu salah.


"Ekhmm.. baiklah, maaf nona atas kesalahpahaman barusan. Mari kita mulai saja wawancaranya." Kata Husain setelah menarik nafas dan meredakan emosinya.


"Aku memang tak bisa membuktikannya sekarang, tapi aku akan tetap waspada kepadamu." gumam Husain dalam hati masih menaruh curiga pada Fitri.


"Baik, silahkan." Mereka memulai wawancaranya dengan lancar, seakan tidak pernah terjadi kejadian tadi sebelumnya.


"Baiklah, anda diterima untuk bekerja disini nona. Saya harap anda serius dan profesional dalam pekerjaan anda disini." Ucap Husain dengan sedikit penekanan saat mengakhiri wawancaranya.


"Heh.. apa tidak salah? Bukankah tadi dia sendiri yang tidak profesional? Dan sekarang dia mengingatkan hal itu pada orang lain?" Cibir Fitri dalam hati.


"Ah.. ya baik tuan, terima kasih. Kalau begitu saya permisi." Sahutnya lalu beranjak meninggalkan ruangan Husain.


"Kita lihat saja Husain.. kau telah menghancurkanku, dan kini saatnya untuk aku membalasmu. Dengan menghancurkan apa yang kau anggap penting dan apa yang menjadi prioritasmu itu!" Gumam Fitri dalam hati.


Flashback off


"Hah.. sudahlah, bereskan ini hari ini juga!!" Titah Husain pada Fitri yang tidak mau kalau sampai harus berdebat panjang. Apalagi sampai terdengar oleh orang - orang di ruangan Taufik.


Fitri pun merebut map yang Husain sodorkan dengan kasar dan segera kembali ke meja kerjanya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Husain.


.


.


Ada hubungan apa ya.. antara Husain dan Fitri, ada yang tahu??


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2