
"Karin dimana ya..?" Tanya Salma dalam hati sambil celingukan melihat ke kiri dan ke kanan.
"Siapa yang kamu mencari?" Tanya Taufik yang ikut melebarkan penglihatannya ketika melihat Salma seperti menunggu dan mencari seseorang.
"Ah.. itu aku mencari asistenku Karin, apa dia belum sampai ya..?" Balas Salma sambil menoleh kearah Taufik, lalu kembali melihat ke segala arah.
"Mungkin, tapi tidak papa kita tunggu saja dia." Ucap Taufik kembali dengan menggiring Salma untuk duduk dikursi yang tersedia disana.
"Hmm.. baiklah." Baru beberapa langkah mereka melangkah, tiba - tiba seseorang datang dan menegur mereka.
"Assalamu'alaikum bu Salma, tuan! Maaf lama menunggu, tadi saya habis dari toilet dulu bu." Seru Karin yang tiba - tiba muncul dari arah samping dengan menyeret dua koper, satu koper kecil berisi barang pribadinya dan satu koper besar lainnya berisi perlengkapan show mereka nanti disana.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, ya tidak papa. Saya juga baru saja datang." Sahut Salma, setelah itu mereka pun langsung melakukan serangkaian tahapan sebelum naik pesawat.
Waktu berlalu, kini sampailah dimana Taufik harus melepas Salma.
"Mas, aku pamit. Ingat! Mas jangan sampai lupa makan ya.. disini." Pesan Salma kepada Taufik.
Dan bukannya menjawab Salma, Taufik malah menarik tangan Salma dan merengkuhnya erat, sangat erat.
Salma terkekeh dalam pelukan Taufik, kemudian menengadahkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Taufik.
"Mas.. aku hanya sebentar kok." Ucap Salma dengan meraih wajah Taufik dengan tangannya, ngelusnya pelan dan tersenyum.
"Bukan itu, justru yang aku takutkan malah kamu yang nantinya merindukanku." Bisik Taufik ditelinga Salma, lalu ia pun terkekeh karena berhasil menggoda Salma.
Menunduk ingin melihat ekspresi Salma, setelah itu kekehannya berubah menjadi tawa yang cukup keras. Sehingga orang - orang disekitar mereka menoleh kearah Taufik, tapi sepertinya Taufik tak peduli dengan hal itu.
Ia terus tertawa dan tak mampu untuk mengendalikan dirinya. Bagaimana tidak, ketika tadi ia berhasil melihat wajah Salma, Salma ternyata sedang berdiri menatapnya dengan tatapan tak percaya dan mulut yang menganga. Namun, sejurus kemudian Salma memalingkan wajahnya dan menenggelamkannya didada bidang milik Taufik menandakan bahwa ia sedang malu sekarang.
__ADS_1
"Mas.. kamu benar - benar ya. Tapi jikapun itu terjadi memangnya kenapa, aku kan merindukan suamiku sendiri. Apa itu salah?" ujar Salma membalas ledekan Taufik setelah tadi ia sempat memukul Taufik pelan dengan wajah yang masih ia sembunyikan.
"Haha.. sudah, sudah. Nanti pesawatmu lebih dulu terbang, sebelum kamu menaikinya." Ucap Taufik menyudahi tawanya dan melerai pelukannya. Mencium kening Salma, dan Salma pun mencium punggung tangan miliknya.
"Baiklah, Assalamu'alaikum." Seru Salma mulai menyeret kopernya.
"Iya hati - hati, Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Sahut Taufik yang kemudian melambaikan tangannya pada Salma.
"Ibu.. ternyata suami ibu romantis sekali ya.." Ucap Karin yang memang sejak tadi melihat semua adegan perpisahan Salma dan Taufik.
Salma menautkan alisnya, lalu menoleh kearah Karin yang terlihat sedang senyum - senyum sendiri.
Kembali memalingkan wajahnya dan memejamkan mata sambil menarik nafas sesaat.
"Aduh.. kenapa aku sampai lupa, kalau ada Karin tadi disana. Ah.. bukan hanya Karin, bahkan ini tempat umum yang siapa saja mungkin tadi melihat kami." Gumam Salma dalam hati dengan merutuki tindakannya tadi.
🌟🌟🌟🌟
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu ruangan Taufik yang diketuk oleh Fitri yang akan mengantarkan secangkir teh untuk Taufik. Tadi begitu sampai di kantor Taufik meminta Fitri untuk membuatkannya minuman.
Saat ini Taufik sedang membicarakan beberapa persoalan proyeknya dengan Husain didalam ruangannya itu. Dan harus terjeda sejenak oleh suara ketukan pintu tadi.
"Ya masuk" tukas Taufik dengan melanjutkan membaca dokumen dan Husain pun melanjutkan penjelasannya mengenai dokumen yang berada ditangan Taufik itu.
"Permisi tuan, ini minumannya." Tutur Fitri dengan melangkah kearah meja Taufik, yang disana juga terlihat Husain sedang duduk berhadapan dengan Taufik. Dan bertepatan dengan kedatangan Fitri, pemaparan yang sedang Husain lakukan pun selesai.
"Ya, terima kasih." Sahut Taufik tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap menunduk.
__ADS_1
Sedangkan Husain, sedari tadi ia sudah memperhatikan Fitri dari mulai Fitri melangkahkan kakinya. Entah apa yang Husain pikirkan saat ini, ia terus saja menelisik dan memantau pergerakan Fitri. Husain tahu benar siapa Fitri sebenarnya, hingga ia sangat wadpada dan harus hati - hati dalam menghadapinya.
Meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya rencana Fitri, namun ia yakin dengan sangat pasti bahwa Fitri ingin mengganggu dan mengacaukan hidupnya.
Husain bangkit dari duduknya dan berlalu dari sana setelah sebelumnya ia memberitahu Taufik bahwa beberapa jam lagi rapat akan segera dilaksanakan.
"Buatkan juga aku minuman, dan antar ke ruanganku." Perintah Husain pada Fitri tepat setelah mereka keluar dari ruangan Taufik. Kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Fitri.
Mendengus " Memangnya siapa dia? Beraninya memerintahku." Gerutu Fitri namun tetap berlalu ke pantry dan membuatkan Husain minuman.
"Ini minumanmu tuan." seru Fitri setelah tadi dipersilahkan masuk, ia meletakkan cangkir dengan sedikit kasar hingga terdengar suara dentingannya yang terhantuk dengan meja.
"Jika tidak ada lagi yang tuan butuhkan, saya permisi." Lanjut Fitri sebelum Husain menjawab ucapnya tadi. Bersiap beranjak pergi, namun belum pun melangkah tangannya sudah ditahan seseorang.
"Tunggu dulu, kenapa kamu terburu - buru sekali? Bukankah dulu kamu selalu senang berlama - lama dekat denganku?" Ucap Husain berusaha memancing Fitri agar dia mengetahui apa rencananya.
Fitri menatap Husain dengan tatapan tak suka, lalu dengan segera menepis tangan Husain yang masih menggenggam tangannya.
"Heh.. seperti yang anda katakan barusan tuan, itu DULU. Ya, itu terjadi sudah sangat lama dan bukankah dengan waktu selama itu seseorang bisa saja berubah? Tapi.. yang saya lihat, sepertinya anda belum bisa melupakan hal itu tuan.." Balas Fitri dengan tajam dan menohok Husain, setelah sebelumnya ia mendengus mendengar ucapan Husain yang tidak disangkanya akan mengingatkannya pada masa lalu mereka.
Husain mengepalkan tangannya, niatnya ingin memancing emosi Fitri. Namun sekarang malah ia yang terpojok.
"Dia sudah benar - benar berubah sekarang, jika dulu ia akan dengan mudah terpancing dan tersulut emosi. Namun sekarang tidak, dia benar - benar sudah bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Dan sepertinya ia sudah berusaha dengan keras untuk sampai diposisi ini dan membalasku." Batin Husain dengan menatap Fitri.
"Kenapa tuan? Apa benar dugaan saya, kalau anda belum bisa melupakan saya dan kenangan manis kita?" Imbuh Fitri semakin gencar memojokkan Husain, ia tersenyum sangat puas saat ini. Karena akhirnya ia bisa mematahkan kesombongan Husain walaupun itu hanya sedikit.
.
.
__ADS_1
Bersambung...