
Keesokan harinya, Fitri bertekad untuk menemui Husain dan mengatakan semua isi hatinya saat ini. Tak peduli dengan respon Husain nantinya, ia akan bersikeras untuk mendapatkan hati dan perhatian Husain kembali. Husain harus tahu tentang perasaannya ini, ia juga sangat berharap kalau Husain akan kembali padanya dan jika pun Husain menolak, Fitri akan mengerahkan semua kemampuannya demi untuk meyakinkan Husain.
Hah.. memang ini terdengar sangat konyol, tapi mau bagaimana lagi jika kenyataannya Fitri sudah sangat mencintai Husain. Dan hari ini pun, Fitri akan mencari jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini bercokol dan terus menggempur otak dan pikirannya. Sebuah pertanyaan yang sangat membuatnya dilanda rasa penasaran, sejak Husain memutuskan untuk meninggalkannya waktu itu.
Ya.. pertanyaan tentang sebab dan alasan Husain memilih pergi meninggalkannya, bahkan ia sampai rela meninggalkan dan menghentikan mimpinya yang sedari dulu sangat ia utamakan dan prioritaskan yaitu masuk ke universitas mimpiannya dengan jalur beasiswa itu. Sampai saat ini pun Fitri masih tak habis pikir dengan Husain, bagaimana tidak? Karena Fitri jelas tahu benar, ketika bagaimana kerasnya usaha Husain untuk bisa mendapatkan beasiswanya itu. Namun, ketika ia sudah mendapatkannya tiba-tiba dia berbalik arah dan meninggalkan semua mimpi dan cita-citanya tersebut. Begitupun dengan meninggalkan janji yang mereka berdua buat dahulu, untuk saling mencintai dan memiliki selamanya.
Ceklek..
Tanpa mengetuk pintu dan permisi terlebih dahulu, Fitri masuk kedalam ruangan Husain dan langsung kembali menutup pintu tersebut.
"Kamu! Mau apa kamu kesini? Dan apa kamu tak punya sopan santun heh?!!" Teriak Husain yang terkejut sekaligus kesal dengan tingkah Fitri tersebut.
Ia merasa Fitri semakin seenaknya dan tak menghargainya sebagai salah satu atasannya disini. Berbeda dengan Fitri, ia masih diam berdiri di tempatnya, tanpa merespon bahkan menghiraukan ucapan Husain saja tidak. Ia terlihat sedang berusaha menenangkan diri, sebelum nantinya ia akan mengatakan semua keluhannya terhadap Husain.
"Huh.. tapi ya sudahlah. Karena kamu sudah kesini, bahkan meski tanpa ku minta sebelumnya. Ini! Urus berkas-berkas ini, seperti yang kamu ketahui bahwa besok lusa aku dan Tuan Taufik akan pergi ke luar kota. Maka, kamu harus bisa menghandle semua dan jika pun ada masalah yang mendesak, kamu cukup hubungiku. Jangan mengganggu Tuan Taufik sedikit pun, apa kamu mengerti?!" Ucap Husain panjang lebar dengan menatap Fitri cukup tajam.
Fitri belum merespon juga, meski ia mendengar semua perkataan Husain barusan tapi ia tak ada niatan untuk menyahutinya.
"Hei.. apa kamu mendengarku? Cepat ambil ini!" Lanjut Husain dengan menggebrak meja dan sedikit membentak Fitri, sungguh mengesalkan orang yang ia ajak bicara malah melamun dan mengabaikannya pikir Husain.
Hingga akhirnya Fitri hanya mengangguk, melangkah mendekat kearah meja Husain. Mungkin untuk mengambil berkas yang dimaksud oleh Husain tadi, tapi tidak! Ia melewati meja kerja Husain dan terus melangkah semakin mendekati Husain.
"Hei.. hei.. hei.. mau apa kamu?" Panik Husain memundurkan tubuhnya, lalu ia bangkit berdiri dari kursinya.
Fitri tak mengindahkan semua ucapan Husain yang terus memperingatinya dan ia juga terlihat sangat panik saat ini. Fitri menulikan pendengarannya dan terus melangkah dan
Grep..
Secara tiba-tiba Fitri memeluk tubuh Husain erat, sangat erat seakan tidak rela dan tidak akan pernah melepas pelukannya.
"Fitri!! Apa yang kau lakukan hah?! Lepas! Lepaskan aku sekarang juga!!" Teriak Husain meminta Fitri melepas pelukannya, ia juga mendorong tubuh Fitri berupaya dengan itu pelukan Fitri bisa terlepas. Namun, karena karena eratnya Fitri memeluk tubuhnya bahkan pelukannya malah semakin mengerat kala ia mendorongnya, membuat usahanya itu sia-sia saja.
__ADS_1
"Sen, maukah kamu kembali padaku?" Ucap Fitri akhirnya setelah beberapa waktu lalu terdiam.
Deg..
Husain mematung mendengar hal itu, ia benar-benar tidak menyangka sama sekali sebelumnya jika Fitri akan bersikap dan berucap demikian padanya.
"Kembali mengulang kisah kita yang dulu? Aku tidak pernah sedikitpun melupakanmu dan melupakan hal-hal yang pernah kita lalui dulu." Lanjut Fitri dengan masih mendekap tubuh Husain.
"Jika dulu aku melakukan kesalahan dan itu membuatmu kecewa bahkan terluka, aku minta maaf Sen hiks.." entah sejak kapan Fitri menangis, ia terluka dan sakit mengingat masa kelam itu.
"Kamu tahu? Selama ini aku begitu merindukanmu, aku sangat tersiksa setelah kepergianmu. Kenapa? Kenapa waktu itu kamu meninggalkanku Sen? Apa salahku, katakan? Hiks.. kamu dengan teganya mengambil keputusan secara sepihak lalu pergi tanpa meninggalkan jejak. Hiks.. hiks.. ak..aku sakit Sen, kamu perlakukan seperti ini." Lanjut Fitri yang kini berbicara dengan menatap Husain, kemudian mengguncangnya kala ia belum juga menyahutinya.
Fitri menangis dengan tersedu-sedu, kembali merasakan sakit yang dulu dirasakannya. Tangisan yang begitu menyayat hati bagi setiap orang yang mendengarnya, namun tidak bagi Husain yang kini malah menatap Fitri datar tanpa merasa iba sedikitpun bahkan untuk sedikit terenyuh pun tidak.
"Kau sakit? Lalu apa kaitannya dengaku? Apa begitu pentingkah setiap ucapanmu barusan, hingga aku harus merelakan telingaku hanya untuk mendengarkan hal konyol ini?" Ujar Husain tajam bahkan tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.
Seketika tangisan Fitri terhenti, kala mendengar ucapan Husain yang begitu menyakitkan untuknya. Mendongkak dan menatap Husain tak percaya sekaligus ia kaget. Benarkah ini Husain? Benarkah ini laki-laki yang sama dengan laki-laki yang ia cintai selama bertahun-tahun lamanya itu? Jika iya, kenapa dia begini. Kenapa dia berubah dan sangat jauh berbeda, kemana sosok lembut dan penuh kasih sayangnya itu? Kenapa laki-laki yang akan panik dan kelimpungan saat ia terluka, meski itu hanya luka yang ditimbulkan oleh goresan kecil?
"Iya ini aku, kenapa memangnya? Kamu terkejut?" Sahut Husain dengan sedikit menantang.
"Kamu harus ingat Fitri, jika hubungan kita sudah selesai dan berakhir beberapa tahun yang lalu. Dan hal itu tidak akan pernah bisa untuk kita ulang kembali, jadi kumohon jangan pernah mengatakan hal gila seperti tadi karena itu tidak akan pernah mungkin terjadi." Papar Husain tanpa ingin tahu dan mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Fitri sekarang.
"Kamu harus profesional bekerja disini. Disini kamu dan aku adalah rekan kerja dan tidak ada yang perlu kita bahas dan bicarakan selain soal pekerjaan. Jadi tolong, bersikaplah sebagaimana meskinya kamu harus bersikap. Dan jika kamu keberatan akan hal itu, silahkan! Silahkan kamu ajukan surat pengunduran dirimu dari sekarang." Husain berkata dengan tegas dan kejamnya, meski ia juga dapat melihat raut wajah Fitri dan tatapan matanya yang berubah semakin sendu seolah memendam banyak kesakitan.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku? Aku masih sangat mencintaimu Husain." Ucap Fitri kembali memperlihatkan jiwa rapuh dan terlukanya lagi.
Husain berdecih.
"Cinta? Lalu kamu mau bagaimana? Jika ternyata, aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padamu. Aku sudah tidak mencintaimu lagi Fitri!" Balas Husain dengan penuh penekanan dikalimat terakhirnya.
"BOHONG! Kamu berbohong Husain, aku tahu kamu masih begitu mencintaiku kan dan aku bisa merasakan hal itu Husain." Bantah Fitri, ia tak terima dengan ucapan Husain barusan yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan kenyataannya.
__ADS_1
"Kamu hanya sedang merasa bingung dan ragu saja Husain, aku tahu itu. Tapi kamu tidak perlu khawatir aku akan terus berusaha membuatmu kembali yakin, bahwa akulah orang yang benar-benar mencintaimu dan yang kamu cintai. Kamu.." ucapan Fitri terpotong dengan teriakan dan bentakkan Husain.
"CUKUP!! Cukup kamu berbicara hal yang tidak penting dan menyia-nyiakan waktuku. Hentikan semua drama murahanmu ini Fitri, bawa berkas ini dan segeralah keluar dari ruanganku. Atau aku sendiri yang akan memintamu untuk segera mengajukan surat pengunduran dirimu." Teriak Husain yang sudah dibatas kesabarannya.
"Tidak! Aku tidak akan keluar dari sini, sebelum kamu mau kembali padaku dan memulai semuannya dari awal Husain. Sungguh, aku tidak berbohong aku ingin kamu kembali Husain kumohon." Tolak Fitri dengan terus bersikukuh dan mengiba pada Husain.
Dan tanpa mau berdebat lebih panjang lagi dan menyia-nyiakan waktu serta emosinya. Akhirnya Husain menarik paksa Fitri untuk keluar dari ruangannya, meski mendapat penolakan dan Fitri yang terus meronta sambil terus melayangkan kata-kata untuk meyakinkan Husain, hingga kemudian Husain pun berhasil mendorong tubuh Fitri keluar dari ruang kerjanya.
Brukk..
Kedua lutut Fitri pun akhirnya mendarat dengan cukup keras kelantai, diikuti berkas-berkas tadi yang juga dilempar keluar oleh Husain.
"Kerjakan berkas-berkas itu, dan berhentilah berulah dan membuat masalah denganku. Jangan sampai kamu membuat kesabaranku benar-benar habis!" desisnya sesaat sebelum menutup pintu dengan sangat kencang.
Braak..
"Husain!!" Teriak Fitri dengan posisi masih bersimpuh dilantai.
Ia merasa seperti wanita murahan yang dibuang setelah ia tak diinginkan, yang dilempar setelah kehilangan martabat dan harga dirinya. Ya, bagaimana tidak begitu. Setelah ia mati-matian menekan rasa malu dan mempertaruhkan harga dirinya, ia hanya mendapatkan hal memalukan seperti ini? Ia bahkan dilempar dan dibuang seolah sampah yang sangat menjijikan dan tidak diinginkan keberadaannya.
"Aku tidak akan pernah menyerah begitu saja Husain!" Ujar Fitri kembali bertekad dengan keinginannya itu. Kemudian ia bangkit setelah memunguti beberapa berkas yang terhampar didekatnya tadi.
.
.
.
Hallo.. kok sepi?! Pada kemana nih? Ceritanya ngeboseninnya? Maaf-maaf, tapi kalian tunggu aja sebenar lagi akan muncul konflik-konflik baru. Dan semoga aja seru dan kalian menyukainya ya.. See you😚
Bersambung...
__ADS_1