
Sebelum baca dilike dulu ya.. jangan lupa vote dan lima bintangnya😊😊
...----------------...
Menjelang siang Bu Sahidah mengajak Salma untuk menemaninya pergi ke Supermarket membeli keperluan bulanannya. Ya.. hari ini Salma masih di rumah mertuanya dan diminta Bu Sahidah untuk tidak pergi bekerja dulu, ia ingin seharian ini ditemani dan menghabiskan waktu dengan menantu kesayangannya itu sebelum nanti sore Salma akan pulang dan dijemput oleh Taufik.
Sebenarnya bukan hanya Salma yang diminta tidak bekerja oleh Bu Sahidah, Taufik bahkan Pak Sulaiman juga dibujuk atau bisa dikatakan dipaksa untuk libur dulu olehnya. Namun, meski begitu Taufik tidak bisa memenuhinya, ia selalu berkilah bahwa pekerjaannya sedang banyak dan pada kenyataannya memang seperti itu. Sedangkan ayahnya bisa lolos dengan mudah hanya dengan mengatakan jika ia memiliki jadwal operasi pagi ini, jika sudah seperti itu Bu Sahidah tidak bisa lagi melakukan apa - apa selain membiarkan mereka pergi meskipun ia merasa kecewa.
"Ayo sayang kita berangkat." ajak Bu Sahidah setelah ia dan Salma sudah siap berangkat.
"Iya Ma." Merekapun memasuki mobil yang dikendarai oleh supir pribadi Bu Sahidah.
"Oh ya Salma, bagaimana kabar Ayah dan Ibu kamu? Sudah lama kita tidak berkumpul bersama." tanya Bu Sahidah ketika dalam perjalanan menuju Supermarket.
"Alhamdulillah mereka sehat Ma, kemarin baru saja Salma menelpon mereka. Dan rencananya Salma juga akan berkunjung kesana nanti." sahut Salma.
"Alhamdulillah jika memang mereka sehat. Dan sampaikan salam Mama ya.. pada mereka jika kamu berkunjung kesana." lanjut Bu Sahidah.
"Baik Ma, nanti Salma sampaikan. Mereka pasti senang." timpal Salma.
"Oh iya sayang, maaf ya.. jika permintaan Mama semalam membebanimu. Maaf tidak bermaksud seperti itu.." ucap Bu Sahidah lagi.
"Tidak Ma, aku tidak merasa terbebani kok dengan permintaan Mama." balas Salma.
"Iya, tapi bisa saja 'kan kamu dan Taufik berencana untuk menunda dulu menimang anak. Tapi Mama malah.." ucapan Bu Sahidah terpotong oleh Salma.
"Tidak Ma, Mama jangan berpikir seperti itu. Aku dan Mas Taufik tidak ada niatan untuk menundanya kok." sanggah Salma diiringi dengan senyuman untuk menyakinkan Bu Sahidah.
"Ah.. syukur bila begitu. Tapi bagaimana menurutmu keinginan Mama itu?" tanya Bu Sahidah pada Salma, takut - takut nanti Salma belum siap akan hal itu.
"Ya.. Salma siap - siap saja Ma, jika memang Allah SWT sudah menghendakinya. Salma tidak terlalu terburu - buru atau juga menunda, Salma bagaimana yang diatas saja." jawab Salma yang membuat Bu Sahidah lebih tenang dan bahagia.
"Alhamdulillah jika seperti itu. Yah.. kamu tahu sendiri 'kan Salma, jika Mama sudah merindukan sosok kecil itu sudah dari dulu. Sejak Mama divonis tidak bisa lagi memiliki anak, harapan Mama hanyalah satu yaitu menimang cucu dari Taufik dan kini mungkin sebentar lagi akan terwujud." papar Bu Sahidah dengan berseri dan bahagia.
Tersenyum dan menjawab "Iya Ma, semoga saja." ucap Salma dan penuh harap agar Allah segera mengaruniakan malaikat kecil pada keluarganya dan membuat harapan mertuanya ini segera terkabul.
Akhirnya merekapun sampai di Supermarket, dan segera memasukinya.
"Ma, biar Salma saja yang dorong trolinya." putus Salma.
__ADS_1
"Iya sayang, tapi apa tidak merepotkan?" tanya Bu Sahidah.
"Tentu tidak Ma, justru Salma senang bisa menemani Mama seperti ini." ujar Salma dengan mendorong troli mengikuti langkah Bu Sahidah.
Bu Sahidah mulai memasukkan barang - barang yang akan dibelinya kedalam troli.
"Salma, apa yang ingin kamu beli?" tanya Bu Sahidah.
"Tidak Ma, Salma tidak ingin membeli apa - apa." tolak Salma karena ia memang sedang tidak memerlukan apapun.
"Kok gitu, ayolah sayang beli sesuatu. Biar Mama yang belikan untukmu." bujuk Bu Sahidah.
"Tapi Ma, Salma sedang tidak memerlukan apa - apa." tolak Salma kembali.
"Baiklah jika seperti itu, nanti kamu ikut Mama ke spa saja ya.." putus Bu Sahidah dan Salma pun hanya bisa mengangguk, karena tidak enak jika harus terus menolak mertuanya.
Merekapun terus berkeliling, sampai akhirnya kini mereka sedang berada ditempat sayur dan buah. Saat Salma sedang sibuk membantu mertuanya memilihkan beberapa jenis sayur, tiba - tiba ada suara anak kecil yang memanggil namanya.
"Aunty Salma.." teriak anak kecil tersebut, Salma pun segera menoleh kearah suara karena ia sepertinya mengenal suara itu.
"Akmal!" seru Salma dengan mata berbinar bahagia bisa berjumpa lagi dengan keponakan tampannya itu.
ucapnya dengan sedikit belepotan saat mengucapkannya.
"Haha.. iya sayang, mana Mamamu?" tanya Salma sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Akmal, kemudian celingukan mencari Izma.
"Itu Aunty disana" tunjuknya kearah ibunya yang berada agak jauh dari mereka.
"Salma siapa anak manis ini?" tanya Bu Sahidah setelah lama terdiam mendengarkan kedekatan Salma dengan balita tersebut.
"Ah.. iya Ma, ini anak teman Salma Ma. Itu dia teman Salma.." tunjuk Salma pada Izma yang berjalan kearah mereka.
"Akmal.. Mama mencarimu tadi, kamu ya.. jangan diulangi lagi ya nak." omelnya pada sang anak, kemudian memeluknya sejenak.
"Oh.. jadi kamu mencarinya, tadi dia menghampiriku. Ku kira kamu mengetahuinya." ujar Salma.
"Tadi dia melepas genggaman tanganku, saat aku sedang mengambilkan cemilan untuknya." paparnya yang masih terlihat cemas dan panik.
Salma menggendong Akmal, kemudian bicara padanya.
__ADS_1
"Akmal sayang, jangan seperti itu nak.. itu tidak baik. Lihat Mamamu, dia jadi sedihkan, lain kali kamu minta izin dulu pada Mama ya.." nasehat Salma yang diangguki oleh Akmal.
"Ayo sekarang kamu minta maaf pada Mama" imbuh Salma.
"Iya Aunty" Akmal turun dari gendongan Salma kemudian menghampiri Mamanya.
"Ma.. aku minta maaf, aku janji tidak akan nakal lagi." ucapnya dengan pengucapan cadelnya.
"Hiks.. iya sayang, jangan diulangi lagi ya.. muach" balas Izma dengan menghapus air matanya, lalu mencium putranya.
"Tadi Akmal melihat Aunty Salma, makanya Akmal berlari kesini." tutur Akmal dengan mendekati Salma kembali dan meminta Salma untuk menggendongnya lagi.
"Anak pintar! Tapi jangan diulangi ya.. sayang, kasihan tuh Mamanya." ucap Bu Sahidah menimpali. Namun, Akmal hanya menimpalinya dengan cengengesan.
"Oh ya.. Iz, perkenalkan ini ibu mertuaku. Dan Ma, ini Izma teman Salma waktu kuliah dulu." Salma memperkenalkan keduanya.
"Oh ya.. saya Sahidah." tutur Bu Sahidah dengan mendekati Izma kemudian mengulurkan tangannya.
"Eh.. iya tante, saya Izma." balas Izma dengan menyambut uluran tangan Bu Sahidah.
"Sudah nak, tidak papa. Dengan kejadian ini, kamu harus lebih hati - hati lagi dan lebih memperhatikan anakmu." ucap Bu Sahidah berusaha menenangkan Izma dengan mengelus punggungnya pelan.
"Anak tante dulu juga pernah hilang dipusat perbelanjaan. Tante panik, nangis dan kelimpungan mencarinya. Bahkan tante sampai menelpon suami tante, tapi untung saja anak tante diaman oleh keamanan setempat. Hah.. dari situ tante jadi lebih hati - hati lagi, saat membawanya ke tempat yang ramai." papar Bu Sahidah.
"Tante harap kamu juga begitu, dan jadikan ini sebagai pelajaran ya.. nak Izma." imbuh Bu Sahidah yang langsung diangguki oleh Izma.
"Iya tante, terima kasih." sahutnya dengan tersenyum tulus pada Bu Sahidah.
"Ya sudah mari kita ke kasir, kamu sudah belanjanya?" ajak Bu Sahidah pada Salma, kemudian bertanya pada Izma.
"Sudah tan." balasnya.
"Kalau begitu ayo kita barengan saja." lanjut Bu Sahidah dengan mendorong trolinya sendiri karena Salma sedang menggendong Akmal yang terus saja berceloteh sepanjang jalan.
.
.
Bersambung...
__ADS_1