
"Haha.. haha.. kamu jangan terlalu percaya diri seperti itu Fitri. Aku tadi hanya ingin sedikit mengujimu dan baru saja seperti itu, kamu sudah langsung mengambil kesimpulan seperti ini." Husain menghela nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Apa tadi kamu bilang? Aku belum bisa melupakanmu? Haha.. apa itu tidak terbalik? Bukankah sudah sangat jelas disini, bahwa kamulah yang sebenarnya belum bisa melupakanku. Lihat dirimu sekarang, kamu datang ke sini dan merencanakan sesuatu untukku. Apalagi itu namanya jika bukan kamu yang belum bisa melupakanku dan mengikhlaskan perpisahan kita dulu?" Imbuh Husain yang kini membalas Fitri dengan kebenaran yang memang sedang terjadi saat ini.
"Kamu kembali membahas itu lagi tuan, sudah berapa kali aku tegaskan aku disini untuk bekerja, bukan untuk seperti yang kamu tuduhkan." Tandas Fitri yang berusaha menegarkan dirinya, setelah tadi ia sempat terperangah mendengar ucapan Husain yang ia akui itu memang benar.
"Tapi tidak! Tidak Fitri, kamu kini sudah tidak mencintainya lagi. Ingat! Bahwa dialah yang sudah menghancurkanmu, dia tidak pantas lagi untuk kamu cintai. Kamu harus membencinya dan membalas atas semua perbuatannya dulu padamu." Ucap Fitri dalam hati yang berbicara pada dirinya sendiri.
Husain melangkah semakin mendekati Fitri, kemudian tanpa aba - aba apapun lagi dia menarik dan menggenggam tangan Fitri hingga jarak diantara mereka saat ini sangatlah dekat.
"Kamu tidak perlu berpura - pura lagi Fitri, kita sudah sama - sama tahu disini. Tahu bahwa perpisahan kita waktu itu berakhir dengan tidak baik dan jauh dari kata kebenaran." Bisik Husain tepat ditelinga Fitri, sehingga membuat Fitri menggeliat geli dan ingin segera melepaskan diri dari Husain.
"Tapi.. haruskah seperti ini Fit? Lihat pakaianmu sekarang, kamu terlihat tak jauh berbeda dari wanita murahan di luaran sana. Kamu berusaha untuk menggoda tuan Taufik kan?" Ujar Husain dengan sedikit menjauhkan dirinya dari tubuh Fitri, kemudian ia melihat cara Fitri berpakaian yang memang saat ini Fitri memakai pakaian yang bisa dibilang kuranglah sopan.
Rok span yang sangatlah pendek dan atasan yang memperlihatkan b*lahan dadanya. Dan ya.. tadi ketika Husain berada di ruangan Taufik, ia melihat semua hal itu dan langsung mengetahui apa tujuan Fitri sebenarnya.
Fitri membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan Husain, ia kaget karena ternyata rencananya sudah lebih dulu terendus oleh Husain sebelum ia bisa melancarkan aksinya itu. Fitri mengepalkan kedua tangannya kesal dengan hal itu.
__ADS_1
"Hah.. tapi tidak papa, aku akan melakukannya secara terang - terangan sekarang. Dan mari kita lihat, akan seperti apa reaksinya nanti." Batin Fitri dengan tersenyum miring.
"Fitri.. Fitri.. kamu boleh saja sakit hati dan merasa sedih, tapi seputus asa inikah dirimu aku tinggalkan? Sampai - sampai kamu beralih profesi seperti ini. Menjadi wanita penggoda dan murahan, yang akan melakukan apapun untuk mengejar dan mengganggu suami orang. Seperti itukah?" Ucap Husain lagi yang mula - mula berbisik, namun pada kalimat - kalimat akhirnya ia buat penuh penekanan dan dengan nada bicara yang sedikit lebih meninggi.
"Tidak malukah dirimu Fitri?! Lihat Fitri, lihat kamu murahan, kau! MURAHAN!!" Teriak Husain dengan mengarahkan jari telunjuk tepat pada wajah Fitri.
"CUKUP! Sudah cukup kamu menghinaku. Kenapa memangnya jika aku ingin menggoda tuanmu itu? Dan kenapa juga aku harus merasa malu akan hal itu? Atau jangan - jangan malah kamu yang cemburu dengan kenyataan itu, ya.. kamu cemburu Husain. Kamu belum bisa melihatku bersanding dengan orang lain kan? Terlihat dari reaksimu itu Husain, bahwa kau memang masih sangat mencintaiku." Balas Fitri dengan berteriak tak mau kalah dari Husain.
"Haha.. sudah ku bilang jangan terlalu percaya diri kamu disini. Siapa? Siapa yang akan mencemburui wanita murahan seperti dirimu itu Fitri? Aku melakukan semua ini, bukan karena aku peduli padamu. Justru yang aku khawatirkan disini adalah tuan Taufik yang mungkin saja akan merasa risih dan terganggu oleh seekor lalat sepertimu." Sanggah Husain lagi pada Fitri.
"Ah.. sudahlah kamu terlalu banyak mengelak. Aku lelah berdebat denganmu, dan lebih baik aku pergi dari sini karena masih ada banyak hal yang jauh lebih bermanfaat disana dari pada hanya berbicara hal yang tidak penting denganmu." Dan Fitri pun bergegas berlalu dari ruangan Husain.
"Cih, berani sekali dia. Hah.. sekarang harus bagaimana lagi aku menghentikannya. Memecatnya dari pekerjaan ini, itu tidak akan baik pada perusahaan karena dia sudah menandatangani kontrak kerja selama 2 tahun lamanya. Dan jika aku tetap memaksakan hal itu, itu akan sangat bertentangan dengan peraturan dan prosedur perusahaan ini." gumam Husain yang berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. Karena ditakutkan masalah ini akan menjadi lebih rumit dan tak terkendali nantinya, apalagi jika Taufik sudah menyadarinya dan ya.. Salma juga. Husain tidak mau jika masalah ini nanti mengganggu hubungan mereka.
Sedangkan diluar ruangannya, begitu Fitri berhasil keluar dari ruangan Husain. Ia segera berlari ke kamar kecil dan menangis sesegukan didalam sana, sekeras apapun ia sangkal dan mencoba menahannya ternyata ia tidak bisa menghalau rasa sakit hatinya itu.
Setiap ucapan dan hinaan dari Husain tadi benar - benar membuatnya sangat marah dan sakit hati, tapi ia juga tak bisa marah saat itu. Ia terus berusaha melakoni sandiwaranya itu dengan baik saat dihadapan Husain. Ia tidak mau kalau sampai harus terlihat lemah dihadapan pria yang masih sangat ia cintai itu, juga pria yang telah berhasil menggores dan menancabkan luka dihatinya itu.
__ADS_1
Ya.. kebenaran memanglah pahit, seberapa keras apapun Fitri mencoba melupakan dan membenci Husain. Tapi tetap saja ia masih mencintai laki - laki itu, cinta pertamanya dan orang yang ia cintai selama bertahun - tahun lamanya itu.
Sebenarnya Fitri juga masih bingung dengan keinginannya untuk balas dendam pada Husain. Dimana ia memang masih mencintainya dan karena hal itu juga ia tak ingin dan tak akan bisa melihat orang yang dicintainya itu terluka. Bahkan aksi balas dendam ini, yang akan menggoda atasannya itu hanyalah rekayasanya saja.
Sebagai perempuan baik - baik dan mendapat pendidikan agama yang baik dari kedua orang tuanya, jelas Fitri tidak akan mungkin melakukan hal sehina itu sangat sangat tidak mungkin bagi Fitri melakukan hal keji itu. Tapi demi membuat Husain kesal dan memancing emosinya, Fitri dengan sengaja melakukan semua hal itu meski ia tak sungguh - sungguh dalam melakukannya.
Dan kejadian tadi saat ia akan mengantar minuman keruangan Taufik, sebelumnya ia sengaja menarik roknya keatas agar terlihat lebih pendek dan membuka dua kancing atas kemejanya itu ketika ia tahu bahwa Husain pun ada didalam ruangan Taufik. Dan hal yang membuatnya semakin berani melakukan semua hal itu adalah karena ia tahu dengan pasti bahwa Taufik tidak akan pernah meliriknya sedikitpun, dan hal itu benar terbukti Taufik tidak sedikitpun mengangkat kepalanya untuk melihat Fitri.
Fitri tahu jelas bagaimana atasannya itu, setelah bekerja kurang lebih satu bulan dengan Taufik. Sedikit banyak ia tahu bahwa atasannya itu tipe pria yang setia dan sulit untuk tertarik pada seseorang. Dan hal itulah, yang membuatnya berani memilih hal ini sebagai aksi balas dendamnya pada Husain.
.
.
Segitu dulu ya.. maaf jika kata - katanya ada yang belibet dan mungkin juga buat kalian pusing.
Makasih yang setia menunggu aku Up😊😊.
__ADS_1
Bersambung...