
Like dan votenya jangan lupa ya... 😊😊
...----------------...
Keluar dari Supermarket, Bu Sahidah mengajak Salma, Izma dan juga Akmal untuk makan siang terlebih dahulu sebelum nanti sholat dzuhur. Karena ternyata Akmal pun sudah merasa lapar jadi mereka pergi ke rumah makan terdekat di daerah sana.
"Akmal, kamu mau makan apa?" tanya Izma pada anaknya ketika mereka sudah duduk disalah satu meja dan akan memesan makanan.
"Em.. ayam aja Ma!" sahut Akmal yang masih duduk dipangkuan Salma, entah mengapa ia begitu lengket kepada Salma.
"Masa ayam terus sih nak, tadi pagi juga kamu makan itu. Yang lain ya.." bujuk Izma, bukan apa - apa dia seperti itu. Tapi karena Akmal setiap hari terus ingin makan dengan ayam sedangkan menu lainnya seperti sayur misalnya ia tidak pernah mau, Izma jadi khawatir akan kesehatan dan gizi anaknya nanti.
"Tidak ah.. Ma, Akmal ingin ayam aja." keukeuhnya.
Salma dan Bu Sahidah hanya tersenyum, menanggapi ibu dan anak tersebut yang satu terus membujuk dan yang satunya tetap keukeuh dengan kemauannya. Hingga makanan pesanan merekapun datang, sudah disajikan dan siap untuk mereka santap.
"Sini sayang, Mama suapin.." ucap Izma dengan menarik piring milik Akmal yang berisi ayam itu, ya.. Akmal tetap dengan pilihannya dan Izma hanya bisa menghela nafas dan mengalah tadi.
"Tidak Ma, Akmal ingin aunty yang suapin Akmal." tolaknya.
"Tidak sayang, jangan mengganggu auntymu. Aunty juga akan makan, kamu biar Mama saja yang suapin, sini.." sanggah Izma.
"Aunty.. apa Akmal mengganggu aunty?" tanya Akmal dengan polosnya kepada Salma.
Salma tersenyum kemudian menjawab "Tidak sayang, kamu tidak mengganggu aunty sama sekali." sahut Salma.
Akmal tersenyum kemudian berbicara pada Mamanya.
"Tuhkan Ma, Akmal tidak mengganggu aunty." ucapnya membela diri dan disambut tawa oleh Salma dan Bu Sahidah sedangkan Izma hanya tersenyum kecut pada Akmal.
"Ah.. anak ini! Bagaimana ini aku merasa tidak enak pada Salma dan tante Sahidah." ucap Izma dalam hati.
"Bagaimana bolehkan Ma? Aunty.. aunty juga maukan menyuapi Akmal makan?" tanyanya pada Izma kemudian pada Salma.
Izma belum menjawab, ia masih mencari cara agar Akmal tidak meminta Salma yang menyuapinya.
__ADS_1
"Iya sayang, aunty mau kok. Tapi ada syaratnya, Akmal mau gak memenuhi syarat aunty dulu?" Salma menjawab lalu bertanya pada Akmal.
Mendengar Salma memenuhi keinginan anaknya, Izma semakin merasa tidak enak dan segera menyanggah ucapan Salma sebelum Akmal menjawab pertanyaan Salma tadi.
"Tidak Salma, tidak usah mendengarkan Akmal. Biar aku saja yang menyuapinya." tolak Izma dengan tak enak hati.
"Tidak papa kok Iz, aku malah senang bisa memalahi anak manis ini. Jadi bolehkan aku menyuapi Akmal?" ucap Salma lagi.
"Emm.. bagaimana ya, tapi kamu benar tidak papa? Aku jadi tidak enak padamu Sal." sahut Izma.
"Tidak, kamu tidak perlu merasa begitu Iz. Bukankah aku ini temanmu? Seperti pada orang lain saja kamu Iz." seloroh Salma santai.
Izma hanya tersenyum canggung dan berucap "Maaf ya Sal merepotkanmu, maaf juga ya.. tante."
"Tidak papa nak, Salma juga pasti tidak merasa direpotkan. Iya 'kan Salma?" balas Bu Sahidah yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Salma.
"Ya sudah, ayo kita makan!" ajak Bu Sahidah kemudian.
"Aunty apa tadi syaratnya?" tanya Akmal yang sudah duduk dikursi lain yang berada disebelah Salma.
Tak lama kemudian akhirnya Akmalpun mengangguk, menyanggupi syarat dari Salma.
"Oke, kalau begitu mari kita makan. Jangan lupa baca do'anya dulu." Ingat Salma pada Akmal. Dan suapan pertama pun masuk kedalam mulut Akmal setelah tadi membaca do'a terlebih dahulu.
Izma tersenyum karena akhirnya anaknya mau memakan sayuran yang biasanya akan Akmal lepeh ketika Izma menyuapinya dengan itu tanpa sepengetahuan anaknya. Dan disisi lain Bu Sahidah pun tersenyum bahagia melihat kedekatan Salma dengan Akmal, ia jadi membayangkan bagaimana nanti itu adalah cucunya sendiri, anaknya Salma dan juga Taufik.
"Salma sudah sangat cocok menjadi seorang ibu. Ya Allah.. semoga Engkau segera menganugrahi hamba seorang cucu." Do'a Bu Sahidah dalam hatinya dengan terus mengamati Salma yang telaten menyuapi Akmal.
"Wah.. hebat! Lihat, makananmu sudah habis sayang. Kamu memang anak pintar." puji Salma ketika makanan dipiring Akmal kosong tak tersisa.
"Bagaimana, makanannya enak 'kan? Apa aunty bilang, sayuran tidaklah buruk. Selain, menyehatkan sayuran juga makanan yang enak dan banyak mengandung manfaat. Jadi, jangan menolak lagi ya.. jika nanti makan sayur!" nasehat Salma pada Akmal yang langsung diangguki oleh Akmal karena memang ia merasa makanannya barusan sangat enak, saking nikmatnya ia sampai tidak sadar jika makanannya sudah habis.
🌟🌟🌟🌟
Sore hari pun tiba, kini saatnya Salma pulang karena ternyata Taufik pun sudah menjemputnya. Tadi setelah makan siang Salma dan Bu Sahidah pergi dulu ke tempat spa, Bu Sahidah pun mengajak Izma tadi. Namun, Izma menolak karena ternyata ia sudah dijemput oleh suaminya yang sedang menungguinya didepan resto tersebut dan juga karena Akmal yang sudah tertidur karena kelelahan. Merekapun berpisah dan tinggallah Salma dan Bu Sahidah yang akan mengakhiri jalan - jalannya hari itu dengan pergi ke spa seusai melaksanakan sholat dzuhur.
__ADS_1
"Ma, Salma pamit pulang dulu. Mama dan Papa baik - baik ya.. di sini." pamit Salma pada mertuanya kemudian mencium punggung tangan mertuanya dan merekapun cupika - cepiki seperti biasanya.
"Iya sayang, terima kasih. Kami pasti akan baik - baik saja di sini." balas Bu Sahidah.
"Taufik juga pamit, Ma. Sampaikan juga pada Papa, maaf Taufik yang tidak bisa menunggu sampai Papa pulang." timpal Taufik pada ibunya.
Ya.. saat ini Pak Sulaiman belum pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, biasanya pukul enam atau setengah tujuh baru Pak Sulaiman pulang.
"Iya nak, tidak papa. Papa pasti akan mengerti, yang penting kalian jangan lupa segera beri kami kabar gembira itu.." seloroh Bu Sahidah dengan berbisik di kalimat terakhirnya.
Taufik menautkan alisnya tanda tak mengerti dengan maksud ucapan Bu Sahidah, sedangkan Salma yang sudah tahu kemana arah pembicaraan hanya tersenyum menunduk.
"Ya 'kan sayang?" kali ini ucapan Bu Sahidah hanya ditujukan pada Salma, ia bertanya sambil menepuk pundak Salma lembut.
"Eh.. iya Ma, InsyaAllah. Mama do'akan saja." balas Salma yang dibalas dengan anggukan dan senyum oleh Bu Sahidah.
Taufik masih belum mengerti, tapi ia memilih untuk membiarkannya saja tanpa ada niatan untuk bertanya.
"Ya sudah Ma, kalau begitu kami pulang. Assalamu'alaikum." salam Taufik yang juga diikuti salam Salma.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, hati - hati sayang." ujar Bu Sahidah sedikit berteriak karena Salma dan Taufik sudah berlalu dan siap memasuki mobilnya.
Dalam perjalanan pulang, Taufik sebenarnya masih merasa penasaran dengan ucapan Mamanya tadi. Ia tadi berencana untuk menanyakannya saja pada Salma nanti di rumah atau dimobil, karena sepertinya Salma mengetahui maksud Mamanya. Tapi sekarang saat ia akan bertanya, tiba - tiba saja suasana didalam mobil jadi canggung dan membuatnya sedikit ragu untuk bertanya.
"Kenapa jadi canggung begini, apa hanya aku yang merasakan hal ini." batin Taufik sambil mencuri lirikan dari Salma.
Dan ternyata bukan hanya Taufik yang merasa seperti itu, Salma juga merasakannya. Ia bahkan dari tadi terus menggenggam ujung pakaiannya, saking gugup dan canggungnya.
"Aduhh.. kenapa aku jadi gugup begini, dan Mas Taufik juga kenapa diam saja dari tadi. Aah.. aku sampai lupa, dia memang selalu seperti itu bukan dari dulu." gerutu Salma dalam hatinya.
.
.
Bersambung...
__ADS_1