
Setelah beberapa saat tadi Taufik menenangkan dirinya, kini Taufik pun mau tidak mau harus sudah siap dan berbesar hati memberitahukan mengenai keadaan Salma kepada seluruh keluarganya. Karena bagaimanapun ia sadar, bahwa ia harus menghadapi semua musibah ini dengan ikhlas dan tabah.
Taufik akhirnya melangkah semakin mendekati ruangan tempat Salma dirawat, disana terlihat Ibunya, serta kedua mertuanya sedang duduk menanti dengan sangat setia. Terbersit rasa ragu untuk menghampiri mereka, namun segera ditepisnya dengan kembali menata keberanian dan kekuatan untuk bisa menyampaikan semuanya dengan baik tanpa harus menambah rasa sedih dan terpukulnya mereka akan kejadian buruk ini.
"Ekhmm.." dehem Taufik ketika ia sudah berada dilorong yang sama dengan para orang tuanya.
"Eh.. Fik gimana? Apa kata dokter tadi?" Tanya Pak Imam yang lebih dulu menyadari kehadiran menantunya.
"Iya, gimana nak kata dokter?" Ujar Bu Ilma dan Bu Sahidah dengan kompak.
"Emm..." Taufik masih terlihat menimbang kata apa yang layaknya ia katakan agar Ibu dan kedua mertuanya itu mengerti dan tak membuat mereka shock.
"Apa? Bicaralah nak, kami sudah sangat cemas disini dan ingin segera mengetahui kondisi Salma." Tukas Bu Sahidah yang merasa gregetan dengan tingkah anaknya itu.
"Baiklah. Tapi sebelum itu.. Taufik minta tolong, tolong agar kalian tenangkan diri dan mampu menerima semua ini dengan penuh keikhlasan." Pinta Taufik akhirnya sebelum ia menceritakan apa yang tadi dokter sampaikan.
Dan dengan segera Bu Sahidah, Bu Ilma dan Pak Imam pun menganggukan kepalanya, seolah mereka sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui keadaan Salma. Terlebih lagi kata-kata Taufik barusan membuat perasaan mereka semakin tak karuan dan was-was.
Dengan Perlahan dan hati-hati Taufik pun menjelaskan semuanya pada orang tuanya itu, ia sangat berusaha agar setiap kata yang ia lontarkan itu tidak membuat Ibu dan kedua mertuanya itu terkejut atau bahkan membuat kesehatan mereka menjadi drop. Dengan tutur kata yang lembut juga intonasi yang baik, Taufik akhirnya berhasil menyampaikan dengan lugas dan jelas. Meski dapat ia tangkap dengan sangat, sangat jelas dan nyata wajah ketiga orang tuanya itu berubah sendu dan muram mendengar berita ini.
Ya.. walaupun sebenarnya mereka sudah dapat menduga hal ini, hal itu terlihat dari bagaimana kondisi Salma saat terbaring lemah tadi. Rasa-rasanya Bu Ilma tak sanggup membayangkan bagaimana kecelakan itu terjadi, sehingga mengharuskan anak perempuan satu-satunya itu terkapar lemah diatas brangkar rumah sakit dengan kepala dan beberapa bagian tubuhnya yang terlilit perban.
Namun, mendengar rincian keadaannya secara langsung justru membuatnya semakin sedih dan terluka atas kejadiaan nahas yang dialami putrinya itu.
"Astahgfirullaah.. Ya Allah.. Salma. Hiks.. hikss.." tangis Bu Ilma yang tak mampu lagi mengucapkan kata.
__ADS_1
"Sabar Bu, sabar.. kita harus ikhlas. Kita harus kuat dan bisa menghibur Salma setelah ini." Ujar Pak Imam mengingatkan Bu Ilma bahwa mereka harus kuat demi bisa mendukung Salma nantinya, ia bahwa nanti Salma akan jauh lebih terluka dan kecewa dari apa yang mereka rasakan saat ini.
Berbeda dengan Bu Ilma, Bu Sahidah justru menangis dengan suara yang tertahan tak jauh dari tempat duduk Bu Ilma sekarang. Ada perasaan bersalah dalam dirinya tentang mengapa ia harus menyetujui dan mengijinkan Salma pergi tadi, ia lebih memilih menepis dan mengabaikan firasat buruknya tadi.
"Andai saja aku melarang Salma tadi, andai saja aku lebih menghiraukan kecemasanku dan tidak menyepekan hal itu." Sesal Bu Sahidah dalam hati.
Melihat sang Ibu seperti itu, segeralah Taufik menghampiri dan menegurnya.
"Ma.." seru Taufik sambil mendekat dan memeluk Ibunya.
"Mama kenapa? Mama ikhlas ya.. Ma, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita. Mama sabar ya.. Ma." Bisik Taufik sambil memeluk erat sang Ibu.
"Hiks.. maafkan Mama ya.. Fik, ini.. ini semua salah Mama hiks.." ucap Bu Sahidah dengan tersedu.
Karena memang hari sudah beranjak malam, maka Taufik pun meminta mereka untuk pulang dan beristirahat. Taufik tahu mereka pasti lelah, mengingat ini adalah hari yang melelahkan untuknya dan mereka semua. Ia tak mungkin membiarkan mereka tetap tinggal dengan keadaan yang seperti ini, ditakutkan justru kesehatan merekalah yang nantinya akan terganggu karena kelelahan dan karena faktor usia mereka juga mempengaruhi terlebih Ibunya yang kemarin baru saja terjatuh sakit, ia tak ingin membuat semuanya semakin sulit nantinya.
"Ya sudah lebih baik sekarang Mama, Ibu dan Ayah sebaiknya pulang dan beristirahat. Biar aku yang menunggu dan menjaga Salma disini." Ucap Taufik ketika ia sudah mengurai pelukannya dengan Bu Sahidah.
"Tidak nak, kami akan menunggu saja disini." Tolak Bu Ilma yang sepertinya ingin tetap berada disana.
"Tidak Bu, ini demi kebaikan kita semua. Lebih baik Ibu pulang dan beristirahat, besok Ibu bisa kembali lagi kesini untuk menemui Salma." Jelas Taufik kepada Ibu mertuanya itu.
"Iya Bu, nak Taufik benar. Lebih baik kita pulang saja, Ibu tidak mau kan jika nanti Salma siuman, Ibu yang malah terjatuh sakit." Bujuk Pak Imam.
"Hmm.. baiklah, kalau begitu Ibu titip Salma ya nak, hubungi kami jika butuh apa-apa. Dan.. Bu Sahidah, saya pamit pulang ya.. Bu, Ibu juga jangan lupa beristirahat." Pamit Bu Ilma yang diangguki oleh Taufik dan Bu Sahidah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.." salam Bu Ilma dan Pak Imam sebelum berlalu pergi.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." sahut Taufik dan Bu Sahidah setelah sebelumnya mereka bersalamkare
"Ma.. sekarang Mama juga pulang ya Ma, biar Taufik saja yang menginap disini. Mama pulanglah, didepan sudah ada Husain menunggu Mama. Dan.. kebetulan Husain pun tadi Taufik minta untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Taufik selama Taufik disini." Ucap Taufik pada Ibunya yang sepertinya masih enggan beranjak dari sana.
"Dan satu lagi, Mama jangan pernah menyalahkan diri Mama seperti tadi. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi Ma, ini semua musibah. Kita tentu tidak akan pernah menginginkan semua ini terjadi, saat ini Mama cukup istirahat dan jaga kesehatan Mama ya.." pesan Taufik sambil menuntun dan mengantar Bu Sahidah sampai lobbi rumah sakit.
"Iya nak, Mama minta maaf." Timpal Bu Sahidah meski dengan tidak bersemangat, ia bahkan hanya diam saja sejak tadi.
"Kalau begitu Mama pulang ya.. nanti akan Mama titipkan juga makan malam untukmu pada Husain. Assalamu'alaikum.." pamit Bu Sahidah.
"Iya Ma terima kasih, wa'alaikum salam waramatullah." Sahut Taufik dengan menatap kepergian ibunya.
.
.
.
Assalamu'alaikum semuanya.. apa kabar? Semoga baik ya.. dan berada dalam lindungan Allah SWT selalu.. Aamiin.
Sebelumnya Author mau minta maaf nih.. karena udah lamaaaaaa bangetss gak up.. up dan membuat kalian semua harus menunggu tanpa kepastian Ceiiiilah..😂😂 Tapi meski begitu, Author ucapkan beribu-ribu terima kasih pada kalian yang masih setia membaca bahkan sangat sangat antusias menunggu akuh.. up lagi Terima kasih.😙😙💞
Dan semoga episode ini dan episode-episode yang akan datang nanti mampu mengobati sedikit rasa rindu kalian ya..
__ADS_1