Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 30 Keputusan Taufik


__ADS_3

"Masuk" terdengar teriakan dari dalam sana.


Salma pun masuk setelah Fitri membukakan pintu untuknya. Salma sempat terkaget - kaget karena diperlakukan sedemikiannya oleh para pekerja Taufik, padahal ia 'kan bisa melakukan semua itu sendiri. Tapi ya sudahlah..


"Assalamu'alaikum mas" seru Salma sesaat setelah menutup pintu dan melangkah mendekati Taufik.


Taufik langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk mengamati laptop didepannya. Memastikan apa ia tidak salah dengar, mendengar suara istrinya disini.


"Salma.." kagetnya hingga lupa menjawab salam dari Salma.


"Wa.. wa'alaikumsalam, kamu kesini?" Tanyanya setelah menyadari bahwa itu memang benar - benar istrinya.


"Iya mas, apa tidak boleh?" Sahut Salma dengan sedikit sendu karena dari ucapan Taufik sepertinya ia tidak senang akan hal ini.


"Bukan, bukan begitu maksudku.." bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Salma yang kini sedang berdiri didepannya dengan tertunduk.


"Aku hanya terkejut, kenapa tidak bilang padaku jika kamu mau kesini?" Sambung Taufik setelah berada didepan Salma, meraih dagu Salma dan mengdongkakan kepala Salma agar bisa bersitatap dengannya kemudian mengecup kening Salma singkat.


"Ayo duduk." Ajaknya dengan merangkul Salma berjalan kearah sofa didalam ruangannya.


"Aku membawakanmu makan siang, maaf jika tak memberitahumu sebelumnya. Apa aku mengganggu?" Ucap Salma setelah mereka berhasil duduk bersebelahan disofa.


"Tidak,kamu tidak mengganggu sama sekali. Justru aku senang kamu datang kesini dan berinisiatif membawakanku makan siang." Tutur Taufik dengan mengamati Salma yang sedang menyajikan makan siang untuk mereka.


"Benarkah? Kamu sedang tidak berbohongkan?" Tanya Salma kembali dengan menatap Taufik, seakan meminta untuk diyakinkan.


"Kenapa dia selalu bertingkah menggemaskan seperti ini? Selalu saja berhasil mengacaukan hati dan pikiranku." Batin Taufik yang melihat ekspresi Salma.

__ADS_1


"Mas..! Tuhkan kamu malah melamun" Salma mengguncang pundak Taufik lalu dengan sedikit cemberut ia memalingkan wajahnya kesal karena Taufik belum juga meresponnya.


"Eh.. iya, apa tadi? Maaf aku tidak begitu mendengarnya." Sahut Taufik.


"Ah.. sudahlah, tidak penting juga. Ayo mas dimakan, ini tadi aku membelinya karena tidak akan sempat jika aku pulang dulu untuk memasak untukmu." Jelas Salma dengan menyodorkan makanan pada Taufik.


"Tidak papa, aku mengerti. Tapi apa benar, tujuanmu kesini hanya ini? Kenapa aku merasa ada yang lain ya.." tutur Taufik yang sengaja menggoda dan memancing Salma. Karena jujur saja, ia pun merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan Salma hingga ia melakukan hal yang tak biasa ini. Meski Taufik senang dan tanpa disadari ia berdo'a agar selalu ada yang Salma inginkan dan butuhkan darinya, hingga berujung seperti sekarang ini. Salma menyambanginya tanpa perlu ia minta.


Salma tertunduk malu dengan wajah yang sudah bersemu merah, karena ternyata Taufik sudah menyadari maksud tujuannya itu.


"Em.. sebenarnya.. ada yang ingin aku bicarakan mas denganmu. Tapi nanti saja, lebih baik kita makan saja dulu." balas Salma yang memang sudah tertangkap basah.


"Hmm..baiklah." Taufik akhirnya mengiyakan dan mereka pun memulai makan siangnya. Dan dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjama'ah, masih di ruangan Taufik.


Salma dan Taufik sudah kembali duduk disofa dan akan melanjutkan perbincangan mereka atau lebih tepatnya mendengarkan maksud tujuan Salma tadi. Walaupun sebenarnya untuk itu, Taufik sampai harus menunda pekerjaannya terlebih dahulu hanya demi istri tercintanya itu.


"Izin? Izin untuk apa?" Tanya Taufik dengan sedikit menautkan alisnya, kemudian Taufik pun melanjutkan ucapannya ketika melihat Salma ragu untuk mengutarakan keinginannya itu.


"Tidak papa, ayo bicaralah aku tidak akan marah untuk hal itu." Sambung Taufik menyakinkan Salma.


"Sebenarnya akan ada acara fashion show di negara X, dan aku diundang untuk menghadiri dan ikut serta dalam acara tersebut."


"Acara ini adalah hal yang aku nanti - nantikan sebenarnya, dan sudah pasti aku ingin sekali mengikutinya. Namun, semua keputusan ada padamu mas dan aku akan ikhlas dengan apapun keputusanmu." lanjut Salma setelah tadi sempat berhenti.


Taufik menatap Salma lekat, berat rasanya ia harus melepas Salma pergi kesana. Apalagi jarak dari sini ke negara X memerlukan waktu yang terbilang tidaklah singkat. Ia juga merasa enggan jika harus menahan rindu lagi nantinya, tapi ia tidak boleh egois. Ini adalah pekerjaan dan mimpi Salma, sudah barang tentu jika Salma menginginkan karirnya semakin maju dan jauh lebih baik.


"Apa kamu begitu menginginkannya?" Tanya Taufik mencoba mencari hal yang akan membuatnya semakin yakin akan keputusannya itu.

__ADS_1


"Ya" Sahut Salma dengan anggukan antusiasnya.


Huh.. Taufik menarik nafasnya.


"Baiklah, aku mengizinkanmu. Kapan kamu akan berangkat ke sana? Dan berapa lama kamu disana?" Tanya Taufik setelah mengatakan keputusannya yang meski dengan pertimbangan yang sulit.


"Haah.. kamu tidak bohongkan mas? Kamu seriuskan dengan yang kamu ucapkan barusan? Kamu benar - benar mengizinkan aku pergi?" Pertanyaan beruntun dari Salma yang merasa lega, bahagia juga girang akan keputusan Taufik.


"Iya" balas Taufik.


"Ah.. mas terima kasih, terima kasih.. terima kasih banyak sudah mengizinkanku pergi." Girang Salma yang langsung memeluk Taufik dengan eratnya, seakan menyalurkan rasa bahagianya sekaligus kelegaannya karena apa yang ia khawatirkan ternyata tidak terjadi.


Mendapat pelukan dari Salma dan melihat Salma yang begitu gembira, membuat perasaan Taufik menjadi sedikit lebih baik. Meski tetap ada perasaan tidak rela bila Taufik melepas Salma pergi.


"Mas, apa kamu tahu. Tadi aku merasa takut sekali untuk mengatakan hal ini padamu. Aku takut jika nanti kamu tidak mengizinkanku, aku juga sempat merasa ragu sampai - sampai Karin terus memberiku semangat dan memberikan saran - saran yang salah satunya ya.. itu tadi membawakanmu makan siang ke kantor." Tutur Salam panjang lebar.


"Oh.. jadi yang tadi bukan benar - benar keinginanmu ya?" Ketus Taufik berpura - pura merajuk pada Salma, hal itu tentu saja membuat Salma langsung bungkam saat itu juga.


"Hehe.. bukan begitu mas, aku dengan senang hati kok membawakanmu makan siang. Hanya saja tadi, memang agak sedikit ada campur tangan Karin. Mas jangan marah ya.. jika mas menginginkannya aku bahkan bisa membawakan makan siang untukmu setiap hari, aku siap kok mas." Papar Salma yang tak ingin membuat Taufik salah paham, apalagi sampai mencabut izinnya.


"Mm.. baiklah kamu lolos kali ini, dan untuk tawaranmu yang akan membawakanku makan siang setiap hari itu.. aku terima. Dan besok kamu akan memulainya." Putus Taufik membuat Salma menelan ludahnya saat mendengar hal itu.


"Haha.. itu kamu sendiri yang menawarkannya dan tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan emas ini." Ucap Taufik membatin.


.


.

__ADS_1


MOHON MAAF BILA CERITANYA JADI NGELANTUR BEGINI, DAN AKU UCAPKAN TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG MASIH SETIA MEMBACA DAN MENUNGGUKU UNTUK UP..😊😊


__ADS_2