
Namun sekarang yang Fitri bingungkan adalah apakah ia akan tetap melanjutkan rencananya itu atau tidak. Ia dilema sekarang, apakah benar dengan caranya ini ia mampu membalaskan rasa sakit hatinya pada Husain. Apakah benar, dengan semua ini ia akan merasa puas nantinya? Atau bahkan malah ia yang akan terus merasa sakit dan kosong disetiap harinya. Dan jika ia terus bersikeras melanjutkan hal itu apakah ia nanti akan sanggup terus melakukan sandiwaranya seharian, yang bahkan semakin hari akan semakin menuntutnya melakukan hal gila lainnya. Dan semua itu ia lakukan hanya untuk membuat Husain merasa was-was dan tidak tenang dalam menjalani hari-harinya. Apakah sungguh dirinya akan melakukan itu?
"Aaah... menyebalkan, menyebalkan! Kenapa aku tidak bisa membencinya? Kenapa sangat sulit untuk melupakan semua tentangnya. Sampai kapan aku harus merasakan semua ini?" gerutu Fitri sambil menggebrak meja kerjanya, ya.. kini ia sudah kembali duduk dihadapan meja kerjanya.
"Apa aku sudah seperti seorang penjahat sekarang? Hingga aku tega merencanakan sesuatu untuk keburukan orang lain? Hiks... hiks.. sebenarnya aku tak menginginkan ini semua, bukan ini keinginan hatiku yang sebenarnya. Bukan ini!" Fitri terus bergumam sambil menangis dan menelusupkan kepalanya diatas meja, ia memukul dadanya berkali-kali berusaha menyingkirkan rasa sakitnya didalam sana.
"Kenapa Husain.. kenapa harus sesakit ini untuk mencintaimu?" jeritnya dalam hati.
🌟🌟🌟🌟
Hari ini Taufik pulang dari kantor cukup larut malam, selain karena memang pekerjaannya yang sedang banyak, ia juga merasa kurang semangat untuk pulang ke rumah karena ia tahu tidak akan ada Salma yang akan menanti dan menyambut kepulangannya disana.
Taufik melangkah memasuki rumah dengan langkah gontainya, rasa lelah yang selalu dirasakannya setiap pulang dari kantor biasanya akan sedikit menguap dan hilang oleh kehadiran sang istri yang akan menyambutnya dengan senyuman dan pelukannya yang hangat. Namun, saat ini hal itu tidak ada. Taufik merasa rumahnya seakan gelap dan mati tanpa kehadiran Salma, Taufik terus melangkah dan kemudian mengucapkan salam meski ia tahu mungkin tidak akan ada yang membalas ucapan salamnya.
"Wa'alaikumsalam tuan, anda baru pulang? Apa anda sudah makan malam? Jika belum, saya akan siapkan makan malam untuk anda." Seru bi Ati yang entah sejak kapan sudah ada didepan Taufik. Taufik pun tidak menyadari hal itu, ia kira sudah tidak ada siapa - siapa lagi di rumah mengingat ini sudah sangat malam.
Namun, ternyata bi Ati masih menunggu Taufik untuk memastikan bahwa majikannya itu sudah makan apa belum, seperti apa yang diamanatkan Salma terhadapnya bi Ati pun melakukan semua hal itu.
Baru saja Taufik akan menolak agar bi Ati tidak perlu menyiapkan makan malam untuknya. Namun pesan Salma saat di bandara tadi pagi kembali terngiang ditelinganya.
"...... Ingat! Mas jangan sampai lupa makan ya.. disini." Pesan Salma lengkap dengan senyuman dan nada mengultimatimnya kembali terekam diingatan Taufik. Taufik tersenyum mengingat hal itu lagi.
"Emm.. baiklah bi, bibi siapkan saja. Aku akan keatas dulu untuk membersihkan diri." Putus Taufik yang kemudian berlalu menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Ya, silahkan tuan." Sahut bi Ati yang kemudian bergegas pergi kearah dapur.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka dengan Taufik yang tak segera masukinya, ia kini sedang berdiri mengamati kamarnya. Melihat kearah ranjang yang biasanya sudah ada Salma yang sedang terbaring disana, jika ia baru selesai dari ruang kerjanya.
Melangkah dan mulai membuka jas dan sepatunya, kemudian duduk diatas sofa berupaya mengistirahatkan tubuhnya sejenak dari rasa lelahnya sambil memejamkan mata. Setelah beberapa waktu berlalu Taufik sudah berada di ruang ganti, ia baru selesai mandi dan kini harus mencari baju gantinya sendiri. Ia terlihat kebingungan mencari pakaiannya sampai - sampai ia sudah beberapa kali membuka dan menutup lemari-lemari yang ada disana.
Karena biasanya Salmalah yang akan sudah menyiapkan semuanya untuk Taufik, dan Taufik hanya tinggal memakainya dan terima beres dengan semua keperluannya itu. Tapi sekarang coba lihat, ia harus menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar mengobrak abrik isi lemarinya saja.
"Hah.. aku sangat membutuhkanmu disini Salma.." gumamnya ketika ia sudah merasa lelah mengacak - acak isi lemarinya.
Sebenarnya sebelum Taufik menikah dengan Salma, ia sudah terbiasa dan selalu bisa mengurus dan mengatur apapun miliknya sendiri. Hanya saja saat ini berbeda, semenjak ia menikah dan hidup bersama dengan Salma dalam satu atap, banyak hal yang berubah dalam kehidupan Taufik. Ia seakan sudah sangat ketergantungan dengan sosok Salma istrinya itu, ia juga menjadi terbiasa untuk dilayani dan diatur oleh sang istri.
"Huh.. akhirnya, aku menemukannya." Ucap Taufik lagi yang berhasil mendapatkan satu pasang piyama tidurnya.
Ya.. hanya untuk mengambil satu pasang piyama Taufik menghancurkan semua isi lemarinya dan entah apa yang akan terjadi besok, saat ia mencari pakaian kerjanya. Ah.. mungkin akan jauh lebih baik jika besok ia akan meminta bantuan pada bi Ati saja.
Malam semakin larut saja, setelah tadi selesai dengan makan malamnya Taufik kini sedang berbaring dengan menggenggam ponsel ditangan kanannya. Ia sedang menimbang harus menelpon Salma atau tidak, karena menurut perkiraan Taufik seharusnya dari beberapa jam yang lalu Salma sudah sampai di negara X. Namun sampai saat ini Salma belum ada juga menelpon dan mengubunginya, untuk sekedar memberinya kabar jika Salma baik-baik saja saat ini. Kenyataan itu membuat Taufik menjadi cemas sendiri sekarang, berbagai pikiran buruk mulai menghinggapi kepalanya kini.
"Sedang apa dia sekarang? Bagaimana keadaannya saat ini?" Gumam Taufik yang kemudian melihat kearah jarum jam di kamarnya.
"Disana pasti sudah pagi saat ini, apa aku telpon lebih dulu saja ya.. pasti dia juga sudah bangun disana." Lanjutnya yang langsung menekan tanda panggil.
__ADS_1
Menunggu beberapa saat hingga tak lama kemudian Salma pun mengangkat panggilan darinya.
"Hallo mas, Assalamu'alaikum.." seru Salma ketika panggilan tersambung.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, bagaimana keadaanmu? Jam berapa kamu sampai disana? Dan kenapa tidak langsung menghubungiku ketika kamu sudah sampai disana?" Sahut Taufik yang dilanjut dengan pertanyaan yang memberondong, mencemaskan keadaan Salma.
"Mas.. kamu tenang dulu, aku baik-baik saja disini. Maaf karena tidak segera menghubungimu ketika sampai disini. Karena saat sudah sampai di hotel, aku merasa sangat lelah dan aku ketiduran. Dan ya.. awalnya aku akan menelpon pun tadi, tapi mengingat disana kini sudah larut malam aku mengurungkannya. Aku pikir kamu sedang beristirahat sekarang." Papar Salma panjang lebar.
"Tapi tunggu dulu, apa-apa ini? Apa yang sedang kamu lakukan tengah malam begini? Apa kamu tidak istirahat? Atau.. jangan bilang kamu sedang bekerja disana? Mas... kamu juga perlu istirahat, tolong jangan seperti ini mas. Kamu membuatku khawatir." Imbuh Salma dengan nada kesal dan berakhir dengan cemberut setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak, aku tidak sedang bekerja sekarang. Aku mencemaskanmu, coba kamu pikir bagaimana aku bisa istirahat dengan tenang, jika aku saja belum tahu seperti apa keadaanmu disana? Apa menurutmu aku tidak akan kepikiran dengan hal itu?" Balas Taufik.
"Ah.. baiklah, aku benar-benar minta maaf soal itu. Sekarang aku baik-baik saja disini dan mas tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, ayo.. sekarang mas tidur dan istirahatlah." Ucap Salma mencoba menghilangkan kekhawatiran Taufik.
"Dan.. maaf mas sebelumnya, karena mungkin untuk beberapa hari kedepan aku tidak akan bisa menghubungimu dan mungkin kamu juga akan sulit untuk menghubungiku. Emm.. kamu tidak apa-apakan jika seperti itu?" Sambung Salma dengan tidak enak hati.
"Ya.. aku tidak apa-apa, aku mengerti karena bagaimanapun kamu akan sibuk disana. Yang penting kamu hati-hati dan jaga selalu kesehatanmu." Balas Taufik dan merekapun terus mengobrol hingga tak terasa Taufik pun tertidur dengan ponsel yang masih tersambung dengan Salma. Salma tersenyum dari sebrang sana, ketika mendengar dengkuran halus suaminya.
"Selamat malam mas, semoga bermimpi indah. Dan do'akan selalu aku agar pekerjaanku disini segera selesai." Ujar Salma sesaat sebelum mengakhiri panggilannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...