
Suasana dalam mobil itu kini hening tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk kembali mengeluarkan suara. Ya, setelah sebelumnya Fitri berkoar-koar mengungkapkan segala perasaannya, tak ada respon atau tanggapan apapun yang Husain berikan. Dan lagi sebenarnya pun Fitri memang tidak sedang membutuhkan hal itu, ia hanya ingin melampiaskan emosinya saja yang sudah lama ia pendam.
Hening, sepi dan mencekam, hawa dingin mulai terasa didalam mobil tersebut, baik Fitri maupun Husain keduanya larut dalam keheningan yang mereka ciptakan, berjibaku dengan pikiran masing-masing. Tak ada suara sedikit pun, yang ada hanyalah suara mesin mobil yang sedang terus melaju ke tempat yang mereka tuju.
Namun siapa yang menduga, diam-diam tanpa sepengetahuan Fitri karena saat itu ia sedang melamun dengan pandangan yang ia tujukan keluar kaca jendela mobil. Husain justru meliriknya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, antara bimbang dan nelangsa melihat dan mendengar penuturan Fitri tadi.
"Apakah sesakit itu dirimu, Fit? Apa selama ini kamu begitu menderita? Kenapa, kenapa tak kamu lupakan saja aku, kenapa kamu masih menunggu dan mengharapkan ku?" Batin Husain yang juga bisa merasakan dan membayangkan bagaimana perasaan dan kehidupan Fitri selama ini. Ya, karena bagaimana pun sedikit atau banyak ia juga mengalaminya.
Apakah benar ia yang jahat disini?
Kepala Husain benar-benar akan pecah jika terus seperti ini, mempertanyakan pertanyaan yang sama pada dirinya sendiri bahkan disaat ia sendiri tak tahu lagi mana yang sebenarnya salah dan mana yang benar.
Tin.. Tin..
Mendengar suara itu reflek Husain celingukan, karena merasa suara itu begitu dekat dan sepertinya tertuju pada mobilnya.
"Haah.. Polisi? Ada apa ini?" Seru Husain dalam hati, jelas ia terkejut karena sejak tadi ia mengemudikan mobilnya dengan setengah melamun. Tak jauh berbeda dari Husain, Fitri yang sedari tadi sama-sama melamun pun baru tersadar dengan raut kebingungan diwajahnya.
Masih dengan kebingungannya akhirnya Husain pun memilih menepikan mobilnya, apalagi polisi tersebut pun meminta hal yang sama. Membuka kaca jendela mobil dan kemudian ia bertanya.
"Ada apa ya.. Pak?" Tanyanya pada salah satu polisi tersebut.
"Selamat pagi Tuan, mohon tunjukan surat-surat pribadi anda." Balas polisi tersebut to the point.
"Selamat pagi kembali Pak, tapi sebelumnya boleh saya tahu kenapa bapak menghentikan perjalanan kami dan kini meminta saya menunjukan surat pribadi saya?" Tanya Husain dengan pertanyaan yang sangat konyol menurut Fitri, karena jelas Fitri tahu bahwa kini mereka sedang ditilang. Namun, Husain justru masih belum menyadari bahwa kini dirinya sedang ditilang.
__ADS_1
"Bodoh! Untuk apa dia bertanya begitu, jelas saja karena kau melakukan kesalahan. Memangnya polisi tidak ada kerjaan hingga menahan tanpa alasan, ck.." Fitri berdecak gemas sekali dengan tingkah Husain.
"Begini Tuan, anda baru saja melanggar aturan lalu lintas dengan tindakan anda yang menerobos lampu merah dipertigaan jalan tadi." Jelas polisi tersebut lugas.
"Oh.. Benarkah seperti itu? " Husain terkejut kembali, karena untuk pertama kalinya ia dihadang polisi seperti ini. Apalagi ini dikarena ia melakukan pelanggaran saat mengemudi.
Sedangkan Fitri tersenyum miring saat melihat keterkejutan di wajah Husain, ingin rasanya ia tertawa namun sekuat tenaga ditahannya dan sesaat kemudian ia memilih kembali acuh dan seakan akan tidak pernah mendengar apapun.
Husain yang memang sejak dulu terkenal dengan kedisiplinannya dan selalu mematuhi setiap peraturan yang ada, kini ia benar-benar shock dengan perbuatannya sekarang. Bagaimana mungkin dia yang selalu teliti dan berhati-hati, melakukan kecerobohan seperti ini, sungguh ini sangatlah memalukan bagi Husain.
Melirik Fitri sekilas, namun yang dilihat sepertinya tak peduli dengan apa yang kini terjadi. Dengan segera Husain pun memberikan surat pribadinya yang tadi diminta oleh pak polisi.
"Sungguh! Ini benar-benar sangat memalukan! " Gerutu Husain dalam hati sambil menunggu polisi menyelesaikan tugasnya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Husain bisa menyelesaikan urusannya dengan polisi tersebut. Dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Beberapa jam telah berlalu, kini tepat pukul 13.00 siang Husain dan Fitri sampai di kota A. Mereka lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka terlebih dulu disebuah hotel yang sebelumnya sudah mereka pesan, dan barulah nanti sore mereka akan mulai melakukan tugas mereka di kota A ini dan mungkin hari ini akan menjadi hari yang melelahkan bagi keduanya, mengingat begitu banyaknya urusan yang harus segera mereka selesaikan disini.
⭐⭐⭐⭐
Tiga hari sudah Fitri dan Husain berada di kota A pekerjaan yang menumpuk juga beberapa kendala yang harus mereka selesaikan, tanpa sadar menguras habis waktu mereka berdua. Bahkan dalam menjalani hari-harinya tersebut keduanya baik secara sadar atau tak sadar menjadi semakin terikat. Bagaimana tidak jika dalam waktu 24 jam, lebih dari setengahnya mereka menghabiskan hanya untuk berduaan. Meski bukan untuk membahas masalah pribadi, tapi secara tidak langsung keduanya menjadi terus berinteraksi dan bukankah pernah ada sebuah pepatah yang berkata jika berhubungan secara terus menerus seperti yang dilakukan Husain dan Fitri saat ini, itu akan menumbuhkan percikan-percikan cinta diantara keduanya. Apalagi dalam kisah Husain dan Fitri yang sebelumnya memang mereka pernah memiliki riwayat dan masa lalu dalam hal percintaan.
Seperti halnya saat ini, terlihat Husain dan Fitri yang sudah rapih dan bersiap untuk meninggalkan salah satu hotel berbintang yang beberapa hari ini mereka tempati.
"Apa semua berkasnya sudah kau bawa?" Tanya Husain sambil terus melangkah menuju mobil miliknya.
__ADS_1
"Sudah." Sahut Fitri sekenanya, ia berjalan dibelakang Husain dengan sedikit menggerutu sebal. Karena sejak tadi ia sudah berusaha mengejar dan mensejajarkan langkahnya dengan Husain, namun malah berakhir dengan ia yang hampir saja jatuh bahkan mungkin hak sepatunya bisa saja patah karena hal itu.
"Ih.. menyebalkan! Apa dia tidak bisa berjalan lebih pelan? Setidaknya tunggu aku, jika dia memang mau bertanya sambil berjalan seperti ini. " Gerutu Fitri yang jengkel dengan Husain.
"Hei bicara yang benar, awas saja ya.. jika nanti sampai ada yang tertinggal. " Ujar Husain sedikit menggertak karena ia merasa Fitri seperti main-main itu terdengar dari nada ia bicara.
Huftt..
"Iya.. iya kau tenang saja, aku sudah mengeceknya tadi! " Balasnya dengan berusaha tetap sabar.
"Hmm.. baguslah." Husain pun masuk kedalam mobil dengan diikuti oleh Fitri, dan akhirnya mereka pun berlalu meninggalkan hotel untuk melakukan pertemuan dengan salah satu kolega mereka.
.
.
.
.
Haiii... readers maaf yaa mungkin kalian merasa kalau makin kesini ceritanya makin gak jelas, tapi walau pun gitu semoga masih bisa kalian sukai dan dapat menghiburr😊
Salam literasi🙏
.
__ADS_1
.
Bersambung...