
"Lalu.. bagaimana dengan undangan Izma dan Kak Wijaya? Apa tidak apa jika kamu tidak menghadirinya?" Tanya Salma setelah beberapa waktu mereka terdiam.
"Ah ya.. untuk itu tolong kamu sampaikan saja permintaan maafku pada mereka, karena tidak bisa hadir ke sana. Tapi, aku yakin mereka pasti akan mengerti nanti. Dan tolong kamu berikan juga hadiah ini untuk Akmal, aku sudah menyiapkan ini dari sebelum-sebelumnya. Hah.. sepertinya aku harus memikirkan ide dari sekarang, entah bagaimana nanti aku harus membujuk Akmal." Sahut Taufik dengan sedikit keluhan di kalimat akhirnya.
Salma tertawa dengan renyahnya mendengar keluhan Taufik itu.
"Kamu memang harus memikirkannya dari sekarang Mas. Jika tidak, dia pasti akan merajuk padamu. Haha.." ujar Salma dengan kembali tertawa.
"Hmm.. aku akan melakukannya. Tapi, apa ini? Kamu malah menertawakanku, apa kamu senang meliahatku seperti ini?" Tandas Taufik membuat Salma seketika menutup mulutnya.
"Hhehe.. tidak Mas, maaf." Cicit Salma.
"Hmm.. sekarang aku tahu bagaimana jalan keluarnya." Batin Taufik memiliki sebuah ide untuk masalahnya itu.
"Karena kamu sudah berani menertawakanku, maka kamu harus mendapat hukuman sayang. Dan sebagai hukumannya.. kamu yang akan membantuku mencarikan cara untuk membujuk Akmal nanti." Lanjut Taufik lagi dengan senyum liciknya.
"Lho? Kenapa jadi aku? Aku tidak mau!" Tolak Salma tegas.
"Kamu harus mau, jika tidak... aku akan terus menggelitikmu seperti ini." Keukeuh Taufik dengn tangan yang sudah menggelitik tubuh Salma.
"Ah.. hahahaa.. Mas.. haha.. geli, ini benar-benar geli ahhaha.. baik,baik aku akan melakukannya. Sudah.. sudah aku tidak tahan." Teriak Salma yang kegelian karena Taufik terus saja menggelitiknya.
"Nah seperti itu baru benar." Taufik berhenti menggelitik Salma dan kemudian ia membaringkan dirinya diranjang samping Salma. Sedangkan Salma mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
"Aihss.. perutku jadi sakit begini." Gerutu Salma dengan suara pelan, memegang perutnya dan merasai rasa sakit diperutnya. Mungkin karena terlalu lama ia tertawa dan terus digelitik oleh Taufik, pikir Salma.
"Kenapa?" Tanya Taufik saat melihat Salma sedikit meringis.
"Ini gara-gara kamu Mas!" Sergahnya lalu ia pun beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar mandi.
Taufik pun bangun dengan menautkan alisnya.
"Gara-gara aku?" Gumamnya, lalu ia pun segera menyusul Salma ke kamar mandi untuk menanyakan maksudnya.
"Apa yang kamu maksud gara-gara aku?" Tanyanya saat Salma sudah selesai dari kamar mandi.
"Sudahlah lupakan saja, lagi pula kini perutku sudah tidak sakit lagi." Sahut Salma berjalan melewati Taufik.
"Perutmu sakit?! Kenapa?" Kaget Taufik dengan kecemasan yang kentara diwajahnya.
"Sudah Mas tidak apa, tadi hanya sedikit kram saja mungkin karena terlalu lama tertawa." Salma dengan perlahan membaringkan tubuh diranjang, bersiap pergi tidur.
"Apa?! Maafkan aku sayang, aku tidak tahu akan seperti ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Taufik dengan sungguh-sungguh.
"Sekarang bagaimana? Apa ini masih sakit? Apa perlu kita pergi ke dokter sekarang?" Tanya Taufik beruntun karena saking cemasnya dengan kondisi Salma, ia meraba dan terus mengelus perut Salma. Berharap dengan seperti itu janin diperut Salma akan baik-baik saja.
"Tidak Mas, aku sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu secemas ini, lebih baik sekarang kita tidur. Sudah malam, dan aku pun sudah sangat mengantuk. Ayo.." Salma meminta Taufik untuk berbaring, lalu ia pun tertidur dengan memeluknya.
__ADS_1
Sedangkan Taufik hanya menuruti saja apa yang Salma katakan, ia masih merasa bersalah dan cemas dengan keadaan Salma tadi.
"Benar kamu tidak apa-apa?" Tanya Taufik kembali memastikan keadaan Salma.
"Hmmm... sudah Mas, aku mau tidur." Balas Salma dengan mata yang sudah terpejam dan mengeratkan pelukannya ditubuh Taufik.
🌟🌟🌟🌟
Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen terlihat Fitri sedang merenung. Mencari arti dan apa yang menjadi keinginan hatinya itu, karena ketika ia berkali-kali menyangkal dan menepis rasa cintanya pada Husain. Semakin ia tersiksa dengan hal itu, karena sungguh hatinya malah terus menyuarakan apa yang dirasakannya. Meneriakkan bahwa ia memang masih mencintai pria itu bahkan rasa itu masih terpahat kuat dan utuh tak berkurang walau hanya sedikitpun.
Fitri menyeka air matanya yang terus saja mengalir, meski ia sudah berusaha keras untuk tidak menangis. Ia semakin menyadarinya sekarang, bahwa sampai kapanpun dihatinya memang hanya ada pria itu dan hanya menginginkan pria itu. Tak ada yang lain, tidak akan pernah ada yang bisa menggantikannya. Dan hal itu semakin ia yakini setelah kejadian beberapa minggu lalu, saat ia dan Husain harus lembur bahkan hampir menghabiskan waktu semalaman penuh di ruangan kerja Husain.
Tapi, yang menjadi masalahnya kini adalah Fitri masih ragu dan belum yakin jika Husain pun merasakan hal yang sama dengannya, mengingat dulu ia yang meninggalkan Fitri dan sampai sekarang Fitri masih belum mengetahui apa sebenarnya yang menjadi alasan Husain waktu itu.
"Huh.. aku tidak bisa terus seperti ini, aku juga ingin dan membutuhkan kebahagiaan. Cukup beberapa tahun terakhir ini aku tersiksa, tapi tidak lagi untuk sekarang. Aku harus memastikannya sendiri, dan aku yakin pasti Husain pun masih memiliki perasaan padaku, ya.. walaupun itu hanya sedikit." Ujar Fitri pada dirinya sendiri.
"Dan aku semakin yakin, karena sampai hari ini pun Husain tidak pernah terlihat dekat atau memiliki hubungan dengan wanita lain. Aku hanya perlu menyakinkan dia dan membuatnya menyadari bahwa aku dan dia memang tercipta untuk bersama." Lanjutnya dengan kembali optimis, tak lupa ia juga menghapus jejak air matanya.
Dan ini ada sedikit tentang masa lalu Husain dan Fitri ya.. teman-teman. Biar kalian gak terlalu bingung dengan hubungan Husain dan Fitri ini.
Flash back on
"Kamu jadikan ambil beasiswa itu? Karena.. aku juga sudah bilang pada Papa dan Mamaku untuk melanjutkan studi disana, biar bisa bareng-bareng sama kamu." Ucap Fitri pada laki-laki yang merupakan kekasihnya itu.
Ya! Saat itu dia baru saja selesai dan lulus sekolah menengah atas dan akan segera melanjutkan studinya ke salah satu universitas yang ada diluar negeri. Bukan tanpa alasan Fitri ingin kuliah disana, ia memilih melanjutkan studi di negara yang jauh dan bahkan harus rela berjauhan dengan orang tuanya. Itu dikarenakan kekasihnya juga akan kuliah disana, bahkan kekasihnya itu sudah bersusah payah untuk bisa mendapatkan beasiswa dan masuk ke universitas impiannya.
Namun, ada sedikit yang berbeda dari raut wajahnya dibanding beberapa waktu lalu saat ia memberitahu Fitri bahwa ia berhasil mendapat beasiswa yang diinginkannya itu. Waktu itu, terlihat jelas raut wajah Husain yang sangat tergambar sekali bahwa ia sedang gembira, kilatan bahagia dan wajah antusias sungguh-sungguh terpancar nyata. Tapi kini.. ada apa dengannya? Pikir Fitri
"Kamu kenapa sih, kok kayak gak semangat gitu?" Tanya Fitri sambil memperhatikan raut wajah Husain.
"Aku? Aku tidak apa-apa kok." Sahut Husain singkat bahkan laki-laki itu terlihat sedang gamang saat ini.
Fitri menelisik Husain, menatapnya seakan bertanya-tanya ada apa dengan kekasihnya itu hari ini.
"Ada apa dengannya, tak biasanya dia seperti ini.Apa dia lagi ada masalah ya..?" Batin Fitri, namun ia tak terla bertanya lagi dan terlalu memaksa Husain untuk terbuka padanya.
Beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke luar negeri untuk berkuliah disana.
"Hallo, kamu gimana? Apa persiapan kamu sudah selesai?" Tanya Fitri terdengar sangat bersemangat dan merasa sudah tak sabar.
Hening, Husain belum menyahutinya disebrang sana. Membuat Fitri menautkan alisnya, lalu melihat layar ponselnya memastikan jika panggilannya memang masih terhubung.
"Hallo... Husain? Kamu disana kan?" Tanyanya lagi memastikan.
"I..iya, ini aku." Jawab Husain akhirnya, setelah ia kembali dari lamunanya.
"Emm.. Fit, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.." Ucap Husain.
__ADS_1
"Ya, katakanlah!" Balas Fitri masih dengan keceriaannya.
"Emm.. sebelumnya aku mau minta maaf Fit." Lanjut Husain yang kemudian terpotong oleh Fitri.
"Lho, kenapa? Kenapa kamu harus minta maaf begitu, memangnya ada apa?" potong Fitri dengan perasaan yang mulai tak enak.
"Sebenarnya.. aku, gak bisa untuk lanjut kuliah disana bareng kamu." Ucap Husain ragu, namun kemudian mengatakan maksudnya dalam satu tarikan napas.
Deg..
Fitri mematung mendengar penuturan Husain barusan, ia kaget, bahkan sangat sangat kaget. Kenapa Husain tiba-tiba berkata seperti itu, padahal keberangkatan mereka tinggal menghitung hari dan lusa merupakan jadwal penerbangan mereka.
"Ke..kenapa Sen? Kenapa.. tiba-tiba begitu?" Tanya Fitri yang masih linglung dan tak tahu harus berkata seperti apa.
"Ini sudah menjadi keputusanku Fit, maaf. Dan.. ada satu hal lain yang ingin aku katakan kepadamu." Husain sengaja menjeda katanya, terdengar Husain menghela napasnya disebrang sana.
"Aku.. aku mau kita putus Fit, maaf! Tapi, aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Aku akan selalu mendo'akanmu disini, dan setelah ini tolong jangan pernah mencariku lagi. Ini terakhir kalinya kita bicara, terima kasih atas kebaikanmu selama ini." Sambung Husain membuat Fitri seakan tersambar petir malam itu, Fitri ambruk terduduk dilantai kamarnya ketika mendengar keputusan Husain tersebut.
Namun, seketika Fitri kembali tersadar. Bukan saatnya kini ia terdiam dan menangis seperti ini.
"Tidak!! Tidak Husain, apa maksudmu? Apa yang kamu katakan barusan, aku tidak mau tau, tarik kembali kata-katamu itu Husain!!!" Teriak Fitri dengan histeris.
"Tarik kembali Husain. Aku tidak mau, aku tidak mau seperti ini! Tolong Husain aku mohon jangan begini, jika kamu punya masalah.. ayo, ayo ceritakan padaku. Tapi tolong jangan tinggalkan aku Husain, aku mohon hikss.. hikss" Kembali Fitri histeris dengan air mata yang sudah menggenang diwajahnya.
Tut.. tut.. tut..
Bukannya menjawab Husain mematikan panggilannya itu, yang sontak saja membuat Fitri berteriak tak terima dan mencoba menghubungi Husain kembali. Terus Fitri mencoba menelpon Husain sampai berkali-kali, namun tidak kunjung juga Husain mengangkatnya bahkan telpon Husain malah jadi tidak aktif.
Mendapatkan hal seperti itu, membuat Fitri mengambil kunci mobilnya dan bergegas ingin menemui Husain di rumahnya. Meski sempat mendapat sebuah larangan dari kedua orang tuanya, Fitri tetap memaksa pergi dari rumah malam itu. Dengan kekalutannya ia mengendarai mobilnya cukup kencang, ia bahkan lupakan keselamatan dirinya dan hanya fokus untuk ingin segera bertemu Husain dan meminta penjelasannya.
Sesampainya ia di rumah laki-laki itu, terlihat rumahnya sudah gelap seperti tak berpenghuni. Meski seperti itu, Fitri terus menggedor dan meneriaki nama Husain didepan pintu rumah itu. Hingga muncullah seorang ibu para baya yang meruapakan tetangga Husain, mungkin ibu itu tergannggu dengan suara teriakan dari Fitri.
"Maaf mbak, rumah itu kosong. Dan pemiliknya sudah menjualnya beberapa minggu yang lalu, setelah terjual mereka pun pindah dan entah kenapa mereka pindahnya saya juga tidak tahu." Ujar ibu paruh baya tersebut.
Bruk..
Seketika kaki Fitri terasa lemas dan dia jatuh terduduk didepan pintu rumah itu. Ia menagis dan meraung disana, entahlah ia sudah tidak memperdulikan lagi bagaimana pendapat orang-orang terhadap dirinya. Yang jelas ia kini benar-benar terluka dan merasakan sakit yang teramat sangat, apa salahnya? Kenapa orang yang begitu ia cintai malah melukai dan meninggalkannya seperti ini.
Flash back off
.
.
Like, coment dan Votenya ya..😚😚
Bersambung...
__ADS_1