Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 58 Mama Sakit.


__ADS_3

Seminggu sudah sejak kepergian Taufik ke luar kota, juga beberapa hari setelah Salma mendatangi pesta ulang tahun Akmal anak dari sahabatnya itu.


Ya, meski saat itu Akmal nampak sedih dan kecewa, namun ternyata kesedihannya itu teralihkan oleh hadiah dari Taufik. Hadiah tersebut ternyata merupakan mainan yang sangat diinginkan oleh Akmal, Salma juga tidak tahu Taufik mengetahui hal ini dari mana yang jelas setidaknya ia merasa lega karena Alhamdulillahnya ketidakhadiran Taufik tidak sampai merusak mood anak itu dihari spesialnya.


Dan pagi ini seperti biasa Salma pergi dan berangkat ke butiknya, memilih menyibukan diri dengan setumpuk pekerjaannya disana. Menghalau dan melupakan kerinduannya terhadap Taufik sejenak, karena beberapa hari terakhir ini diam-diam Salma selalu menangis tengah malam saking rindunya ia kepada Taufik. Entahlah, apa karena Salma yang terlalu berlebihan atau karena itu pengaruh dari hormon ibu hamilnya. Yang jelas Salma sangat merindukan suaminya dan merasa sangat kesepian, mungkin karena ini juga untuk pertama kalinya ia ditinggal Taufik dalam waktu selama ini.


Apalagi Taufik yang tidak menghubunginya dan tidak bisa juga untuk ia hubungi, karena memang sebelumnya Taufik sudah memberitahu Salma tentang hal itu.


Drtt.. drtt.. drtt..


Tiba-tiba ponsel Salma berdering, Salma pun meraih dan melihat siapa yang menelponnya itu. Ketika ia sudah membaca nama yang tertera dilayar ponselnya, seketika matanya berbinar bahagia dan cepat-cepat ia pun menjawabnya.


"Assalamu'alaikum Mas, Mas apa kabar? Apa kamu baik-baik saja disana?" Seloroh Salma yang langsung menyerang Taufik dengan pertanyaan-pertanyaannya. Ya, yang menghubungi Salma adalah Taufik, orang yang sangat dirindukannya itu.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, Alhamdulillah kabarku baik sayang. Bagaimana denganmu?" Balas Taufik yang juga merindukan istrinya itu.


"Alhamdulillah aku juga baik Mas, oh ya.. ada apa Mas? Bukankah kamu bilang kamu tidak akan bisa menghubungiku? Apa ada hal serius?" Tanya Salma yang merasa aneh dengan Taufik yang menghubunginya, walau disisi lain ia juga merasa senang.


"Ah iya, hampir saja aku lupa. Begini, aku.. ingin meminta tolong padamu." Tutur Taufik mulai menjelaskan maksudnya.


"Mama sedang sakit sayang, bisakah kamu menjenguk dan merawatnya disana? Karena kebetulan Papa juga sedang ada seminar di luar kota, Mama sendiri sekarang dan aku mencemaskan keadaannya disana. Jadi, bisakah kamu melakukannya?" Jelas Taufik dengan rasa cemasnya.


"Apa? Mama sakit Mas, sejak kapan? Kenapa tidak bilang padaku dari awal. Dan apa maksudmu itu Mas? Jelas aku akan dengan senang hati merawatnya, tidak perlu kamu bertanya seperti itu." Salma langsung bangkit dari kursi kerjanya, saking kaget dan ia juga cemas dengan keadaan ibu mertuanya.


"Iya sayang, sejak 3 hari lalu. Aku juga baru mengetahuinya tadi, Papa memberitahuku tadi pagi. Karena beliau harus segera pergi, acara seminarnya sudah dijadwalkan dari lama jadi beliau tidak bisa membatalkannya begitu saja. Aku juga minta maaf karena harus merepotkanmu, dan maaf aku belum bisa pulang sekarang." Lanjut Taufik dengan sesalnya.

__ADS_1


"Iya Mas tidak apa-apa, tapi tolong jangan memperlakukanku seakan aku ini orang asing. Dia juga Mamaku Mas, aku tidak suka dengan perkataanmu." Sahut Salma yang ternyata sedikit tersinggung dengan perkataan Taufik.


Disebrang sana Taufik tercengang mendengar suara isakkan Salma dan ucapan Salma barusan. Jujur saja, ia tak bermaksud melukai dan menyinggung istrinya itu, ia hanya merasa tak enak karena mungkin saja Salma saat ini sedang sibuk ditambah lagi Salma juga sedang mengandung jadi ia tak mau jika Salma harus sampai kelelahan karena ini.


"Em.. sayang, sayang bukan itu maksudku. Aku hanya tidak mau kalau kamu sampai kelelahan, itu maksudku. Maaf, jika ucapanku membuatmu tersinggung dan tolong kamu jangan menangis ya.." bujuk Taufik yang disana sudah kelimpungan mendengar Salma menangis.


"Ya, baiklah. Lagi pula aku juga sedang buru-buru ingin secepatnya menemui Mama." Balas Salma dengan tangan yang sibuk mengemas barang-barangnya kedalam tas dan dengan ponsel genggamnya yang ia tahan oleh bahunya, Salma bahkan sudah lupa jika tadi ia sedang menangis.


"Hah.. secepat itu? Tadi dia menangis dan sekarang? Ck, ck, ck.. " gumam Taufik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan tingkah Salma barusan.


"Apa Mas? Aku tidak mendengarnya tadi?" Ucap Salma yang memang tidak terlalu mendengar gumam Taufik tadi.


"Ahh.. tidak, tidak. Itu tadi aku mau bilang kamu jangan terlalu buru-buru, perlahan saja. Ingat! Kamu sedang mengandung, hati-hati ya disana dan jangan sampai kamu kelelahan." Ingat Taufik sekalian ia juga ngeles dan mengalihkan pembicaraan tadi. Bisa bahaya jika sampai Salma mendengarnya tadi.


"Oh.. iya Mas, aku akan hati-hati. Kamu tenang saja dan tidak perlu mengkhawatirkanku, aku juga pasti akan menjaga dan merawat Mama dengan baik. Sudah dulu ya Mas, aku akan pergi sekarang dan nanti aku juga akan mengabari Mas tentang keadaan Mama. Assalamu'alaikum.." ujar Salma berniat mengakhiri panggilan tersebut.


"Huh.. semoga Mama baik-baik saja disana. Dan.. aku juga harus segera menyelesaikan permasalahan ini secepatnya. Masalah ini benar-benar telah menguras habis waktu dan pikiranku." Keluh Taufik karena ia masih mencari dan menelusuri siapa gerangan yang mendalangi penggagalan proyeknya itu.


Di tempat lain, terlihat pria berpakaian serba hitam memasuki sebuah ruangan dan akan melaporkan informasi yang didapatnya pada sang atasan.


"Siang Bos!" Serunya pada sang atasan.


"Bagaimana? Apa semuanya sudah selesai?" Tanya pria yang sedang duduk dikursi singgasananya itu to the point.


"Maaf Bos, saat ini dia sedang ada di tempat yang kita targetkan dn sepertinya dia juga masih akan lama disana.

__ADS_1


"Maaf Bos, saat ini dia sedang ada di tempat yang kita targetkan dan sepertinya dia juga masih akan lama disana. Karena dia sepertinya sudah mencurigai pergerakan kita Bos dan sedang berusaha melacak kita." Jelas si pria berbaju serba hitam itu.


"Lalu? Apa kamu takut dengan hal itu?" Bentak pria bermata tajam itu menatap bawahannya dengan tatapan mengintimidasi.


"Aki tidak mau tahu, rencanaku kali ini harus berhasil. Dan jika sampai besok masih belum ada kesempatan untuk kita bergerak, maka lakukanlah planing B!" Imbuhnya tegas dan tak terbantahkan.


"Iya, siap laksanakan Bos! Kalau begitu saya permisi." Pamit bawahan itu yang kemudian berlalu dan keluar dari ruangan atasannya.


"Heuh.. lihat saja Taufik, secara perlahan aku pasti akan menghancurkanmu. Hancur! Sehancur-hancurnya, hahaa.. haha..." Teriakan pria itu menggema diseluruh ruangan itu, ia terlihat sangat memendam dendam dan kekesalan terhadap Taufik.


.


.


.


🔊 Jangan lupa suntikan semangatnya berupa


👍Like


📑Coment


💯Vote


Terimakasih💞

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2