
"Assalamu'alaikum, bagaimana keadaan Salma Ma?" Tanya Taufik dengan paniknya ketika ia baru sampai di rumah sakit, dan segera menghampiri ibunya yang sedang duduk dengan berderai air mata didepan ruangan Salma yang masih diperiksa oleh dokter.
Ia juga melihat ibu dan ayah mertuanya serta adik iparnya juga sedang duduk dan menunggu disana, terlihat wajah mereka semua yang terlihat sangat khawatir dan kesedihan sangatlah terpancar diwajah mereka. Bahkan ibu mertuanya terus menangis dengan tersedu-sedu dipelukan ayah mertuanya.
"Wa'alaikumsalam, nak! Akhirnya kamu sampai juga, kita masih belum mengetahuinya. Salma masih ditangani oleh dokter sejak tadi." Balas Bu Sahidah dengan derai air mata.
Taufik hanya menghela napas berat mendengar jawaban ibunya itu, kemudian ia pun mendekati dan memeluk ibunya berupaya dengan begitu bisa membantunya sedikit lebih tenang. Lalu ia pun menghampiri kedua mertuanya, menyalami mereka dan meminta mereka untuk tenang dengan berusaha menyakinkan mereka bahwa Salma akan baik-baik saja didalam sana.
Setelah beberapa saat mereka menunggu, hingga akhirnya dokter yang baru saja memeriksa Salma pun keluar. Dan dengan segera mereka pun mendekat dan bertanya pada dokter tersebut mengenai keadaan Salma.
"Bagaimana dok, keadaan menantu saya?" Tanya Bu Sahidah yang lebih dulu mengeluarkan pertanyaan, yang kemudin disusul dengan pertanyaan yang sama dari yang lain.
Dokter tidak langsung menjawab pertanyaan dari mereka, ia justru terlihat sedang mencari seseorang. Boleh dikatakan ia bahkan menelisik orang-orang didepannya.
"Maaf, yang mana suami dari pasien?" Tanya dokter itu, tanpa menjawab pertanyaan tadi.
"Saya dok, ada apa? Bagaimana keadaan istri saya didalam dok?" Sahut Taufik yang sudah dihinggapi berbagai pikiran negatifnya.
__ADS_1
"Begini saja Tuan, lebih baik kita bicarakan ini di ruangan saya saja. Mari!" Ajaknya yang langsung diangguki oleh Taufik yang sudah ingin mengetahui keadaan istrinya dengan segera.
"Dokter, lalu apakah saya bisa melihat anak saya?" Tanya Bu Ilma menghadang dokter yang akan berlalu bersama Taufik.
"Iya Bu bisa, tapi harus bergiliran ya Bu.. karena kondisi pasien masih cukup lemah saat ini." Balas dokter sebelum akhirnya ia pun berlalu.
"Iya dok, terima kasih." Bu Ilma dengan segera masuk kedalam ruangan Salma, setelah sebelumnya ia meminta izin pada suaminya dan besannya untuk melihat Salma terlebih dahulu.
Sedangkan di ruangan dokter, Taufik kini sudah duduk berhadapan dengan sang dokter yang akan menjelaskan tentang keadaan istrinya.
"Jadi, bagaimana dok dengan keadaan istri saya?" Taufik yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari sang dokter.
"Dan.. mengenai kandungan istri anda, saya minta maaf Tuan, kami sudah melakukan dengan sebaik yang kami bisa. Namun, janin yang ada dalam kandungan Nyonya tidak bisa kami selamatkan. Untuk itu saya juga ucapkan turut berduka cita atas musibah yang Tuan dan keluarga hadapi." Lanjut dokter yang menjelaskan tentang kandungan Salma.
Taufik menghela napas panjang, berusaha ikhlas dan lapang dada dengan apa yang baru saja dokter jelaskan. Memejamkan matanya dengan salah satu tangannya yang mengepal kuat, menekan semua rasa sakit dan kecewanya atas hilangnya calon anak mereka yang sudah dinanti-nantikan oleh kedua keluarga besar mereka.
"Keadaan Nyonya saat ini pun, belum bisa dikatakan membaik. Beliau baru saja melewati masa kritisnya, dan saat ini kondisi beliau masih belum stabil dan perlu dilakukan peninjaun secara berlanjut. Saya harap Tuan dan keluarga bisa menghadapinya dengan tabah dan penuh kesabaran." Ucap dokter kembali.
__ADS_1
"Hmm.. terima kasih dok, dan mohon lakukan semua yang terbaik untuk istri saya." Balas Taufik dengan berusaha kembali untuk tegar.
"Iya Tuan, pasti. Pasti kami akan melakukannya." Ujar dokter itu yang kemudian mereka pun berjabat tangan dan Taufik keluar dari ruangan itu.
Taufik melangkah dengan langkah gontainya menyusuri setiap lorong di rumah sakit, rasa sedih juga kecewa terus menghantam perasaannya. Terlebih lagi kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi, menjaga dan selalu ada disisi sang istri. Menyesal dan merasa bersalah akan apa yang Salma alami saat ini, sehingga mengharuskan mereka kehilangan calon buah hati mereka.
Lama melangkah hingga akhirnya ia memilih mendudukkan dirinya dideretan kursi kosong dilorong itu. Memang, itu masih jauh dari ruangan tempat Salma dirawat, ia sengaja ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum nantinya ia harus menjelaskan mengenai kondisi Salma pada seluruh kelurganya yang kini sedang menanti disana.
Taufik duduk dengan tertunduk memikirkan apa yang akan ia katakan pada Salma nanti, ia juga membayangkan apa yang akan Salma lakukan nantinya, kala ia telah mengetahui kenyataan bahwa calon anak mereka kini telah tiada. Taufik benar-benar tidak akan sanggup untuk memberitahu Salma akan hal itu, bahkan saat ini untuk sekedar membayangkannya saja Taufik sudah tidak mampu dan tidak tahan.
Entah akan sehisteris apa nanti istrinya itu, padahal ia sangat tahu betul bagaimana Salma sudah mengharapkan dan menantikan kehadiran seorang anak ditengah-tengah keluarga kecil mereka. Belum lagi, Salma yang nantinya akan merasa bersalah pada ibu mertuanya yang juga sama-sama menantikan moment-moment kehadiran si kecil.
Huh.. ingin rasanya Taufik melewati dan meniadakan saat-saat yang menyedihkan dan menyayat hati istrinya ini. Ia tidak akan pernah sanggup jika nanti harus melihat dengan mata kepalanya sendiri wajah sedih dan terlukanya Salma, juga melihat bagaimana hancurnya perasaan dan harapan Salma karena hal ini.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...