
Semenjak pembicaraannya dengan Bu Sahidah tempo hari, sedikit demi sedikit Salma pun kini sudah bersikap seperti biasanya. Ia juga sudah tidak terlalu memikirkan dan mengingat kejadian nahas itu, ia benar-benar ingin belajar mengikhlaskan semuanya. Dan ia juga sadar selama berhari-hari ini ia sudah bertindak dan berpikir salah, ia sempat kecewa bahkan ragu terhadap takdir yang Allah SWT berikan padanya dan hal itu jelas salah. Padahal ia sendiri sudah tahu, bahwa tidak ada sesuatu hal apapun yang tidak meninggalkan hikmah dan pembelajaran dalam kehidupan ini, termasuk kejadian yang menimpa dirinya itu. Ya, mungkin dengan ini Allah menginginkannya untuk bisa jauh lebih sabar dan banyak bertawakal kepada-Nya.
"Sayang.. tolong bantu aku memakaikan dasiku." Pinta Taufik pada Salma yang saat itu masih menyiapkan tas kerja milik suaminya.
"Iya Mas, tunggu sebentar.." sahut Salma yang segera beranjak mendekati Taufik.
Kini Salma sudah melakukan tugasnya sebagai istri seperti biasanya, melayani dan menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Walau soal memasak dan hal lain yang dikhawatirkan mampu membuat Salma terlalu lelah dan memberatkan Salma, masih Taufik larang dan batasi ia tidak mau jika keadaan Salma justru malah drop jika terlalu diporsir.
"Em.. ke..kemari biar ku bantu." Ujar Salma sambil mengambil sebuah dasi dari tangan Taufik, ia merasa sangat gugup berdekatan seperti ini dengan Taufik. Apalagi sejak tadi Taufik terus saja menatapi wajahnya lekat, bahkan sekarang bukan hanya itu kedua tangan Taufik pun sudah melingkar indah dipinggang Salma hingga membuat pergerakan Salma menjadi menipis.
Menengadahkan wajahnya disela ia memasangkan dasi milik Taufik, namun tak lama dari itu dengan segera ia kembali menunduk. Karena ternyata Taufik masih saja dengan setia menatapi dirinya, gugup? Salma semakin dibuat gugup bahkan detak jantungnya berpacu sangat kencang ia rasakan kini.
"M..Mas, ke..kenapa kamu terus menatapku?" Dengan mengumpulkan semua keberaniannya yang tersisa Salma berhasil bertanya pada Taufik, meski matanya masih ia fokuskan pada simpulan dasi didepannya.
"Memangnya kenapa? Apa itu salah?" Bukannya menjawab Taufik dengan usilnya malah kembali bertanya kepada Salma. Ia dengan sengaja ingin menjahili Salma, dan nampaknya masih ingin lebih lama menatap rona kemerahan dari wajah Salma yang dilanda rasa malu itu.
"Ekhm.. bu..bukannya begitu, aku.. aku hanya malu Mas." ujar Salma kembali dengan suara lirih dan sangat pelan, hingga mungkin jika bukan karena jarak mereka yang sedekat ini Taufik pun tidak akan mendengarnya.
Ingin rasanya Taufik tertawa saat ini juga, namun dengan sekuat tenaga ia menahannya dan hanya bisa mengulum senyuman dibibirnya. Ditatapnya Salma semakin lekat dan dalam, lalu kembali ia berucap dengan nada jahilnya.
"Malu? Kenapa harus malu, bukankah aku suamimu? Aku bahkan.." Taufik berbicara dengan memainkan matanya usil, namun belum pun Taufik selesai dengan kalimatnya, Salma dengan cepat menutup mulut Taufik dengan tangannya.
"Mas! Cukup, cukup. Ini lihat, dasimu sudah selesai, sekarang mari ku bantu untuk pakai jasmu dan pergi sarapan. Kasihan Pak Husain, mungkin sekarang dia sudah menunggumu." Ucap Salma sambil memakaikan jas ditubuh Taufik dengan cepat, ia sungguh ingin segera mengakhiri obrolan pagi mereka hari ini yang sudah mulai mengarah kemana-mana.
__ADS_1
Melihat tingkah Salma seperti itu, akhirnya tawa Taufik pun pecah. Niat hati ingin mengusili Salma, namun belum sempat pun niatannya itu berhasil ternyata Salma sudah mencium niatnya itu.
"Kamu memang pintar!" Pujinya sambil menjawil dagu Salma dan berlalu keluar kamar untuk sarapan. Sedangkan Salma hanya mencebikkan bibirnya menanggapi ucapan Taufik, namun tetap mengikuti Taufik dibelakangnya dengan membawakan tas kerjanya.
"Kamu selalu saja ingin menggangguku." Gerutu Salma dalam hati sambil menatap punggung Taufik yang melangkah didepannya.
ππππ
Setelah kepergian Taufik ke kantor, Salma dan Bu Sahidah menghabiskan waktu mereka untuk berbincang dan menonton televisi di ruang keluarga. Ya, Bu Sahidah memang masih berada di rumah Salma, karena rencananya beliau memang akan menginap selama satu minggu disana. Lagi pula suaminya, Pak Sulaiman memang sedang tidak ada di rumah jadi dari pada tinggal sendiri di rumahnya, ia memilih menginap di rumah anaknya itu.
"Sayang.. Mama dengar katanya kamu pintar membuat kue ya..?" Tanya Bu Sahidah disela-sela acara menonton mereka.
"Em.. tidak juga Ma, hanya saja aku memang bisa tapi hanya sedikit-sedikit." Sahut Salma dengan seadanya.
"Hahaa.. Mama bisa saja. Tapi kenapa harus nanti, jika Mama mau sekarang pun aku bisa membuatkannya untuk Mama." Ujar Salma setelah ia berhasil menghentikan tawanya saat melihat tingkah lucu mertuanya.
"Tidak sayang, tidak sekarang. Kesehatanmu belum pulih benar, dan lagi Taufik pasti tidak akan membiarkanmu kelelahan." Tolak Bu Sahidah pada Salma.
"Tidak Ma, tidak pa-pa kok. Lagi pula Mas Taufik tidak akan tahu kan, karena dia masih berada di kantornya." Sanggah Salma yang sebenarnya ia sedang merasa bosan, jadi mungkin tidak ada salahnya jika ia mengikuti permintaan mertuanya. Itung-itung mengisi waktu kosongnya ini.
"No! sayang.. Mama berbicara seperti tadi hanya karena memang Mama sedang teringat saja untuk menanyakan hal itu. Bukan untuk memintamu membuatnya saat ini juga, Taufik pasti akan marah jika tahu kamu memasuki dapur saat ini."
"Dan lagi Mama juga akan cemas nanti jika kamu sampai kelelahan, apalagi Mama yang menjadi penyebabnya." lanjut Bu Sahidah yang berupaya mencegah Salma.
__ADS_1
Disela-sela mereka yang tengah berbincang seperti itu, tiba-tiba Bi Ati menghampiri mereka dan memberitahu Salma jika saat ini ada tamu untuknya.
"Maaf Nyonya, nona mengganggu. Tapi didepan ada tamu ingin bertemu nona Salma dan katanya beliau temannya nona Salma." Ujar Bi Ati menyela percakapan mereka.
"Em.. siapa ya.. Bi?" Sahut Salma bingung, namun tetap beranjak juga untuk menemui tamunya itu.
"Tidak tahu Non, tapi beliau membawa seorang anak laki-laki non." Timpal Bi Ati lagi.
"Oh.." sahut Salma yang sepertinya saat ini dia sudah tahu siapa tamunya yang dimaksud Bi Ati itu.
"Ma, mari kita kedepan sepertinya yang dimaksud Bi Ati itu Izma deh Ma." Ajak Salma pada Bu Sahidah yang segera dibalas anggukan oleh mertuanya itu.
"Ayo nak, kita lihat. Dan Bi Ati tolong bawakan minum dan cemilan ya.. kedepan." Ucap Bu Sahidah menimpali Salma dan meminta Bi Ati untuk menyiapkan jamuan untuk tamu.
"Iya, baik Nyah.." Balas Bi Ati yang segera berlalu pergi kearah dapur.
.
.
.
Mohon maaf nih sebelumnya, aku jarang bangett Upnya dan mohon maaf juga ya.. jika ceritanya jadi gak nyambung atau gaje gitu. Tapi semogalah ya.. kaloan tetap terhibur meski dengan cerita yang segini adanyaππ
__ADS_1