Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 4


__ADS_3

Retta mendengus kesal dan berdiri untuk meninggalkan Vanno yang tengah merajuk. Melihat Retta yang tengah kesal Vanno segera beranjak untuk membujuk sang istri. Bisa puasa lama ini jika Retta ngambek, pikir Vanno.


Retta merebahkan diri di tempat tidur dan memiringkan badan untuk memunggungi Vanno. Melihat hal ini, Vanno langsung mendekat dan segera melingkarkan tangannya untuk memeluk Retta dari belakang. Retta menghembuskan napasnya dengan kasar ketika tangan Vanno sudah mulai nakal kesana kemari.


"Mas Vanno ih, pindahin tangannya" gerutu Retta.


Bukannya memindahkan tangannya, Vanno semakin memeluk Retta dengan erat. Tangannya juga tak tinggal diam. Dia sudah mulai bergerilya kesana kemari untuk mencari posisi yang buatnya nyaman.


"Sudah ih, jangan pegang-pegang. Aku sedang marah tau," kata Retta sambil menoleh dan mengerucutkan bibirnya.


Vanno tersenyum mendengar sang istri tengah menggerutu. Emang ada ya lagi marah-marah tapi ngomong, batin Vanno sambil terkekeh geli.


Vanno memutar tubuh Retta hingga menghadapnya. Dia segera menahan tangan Retta agar tidak mendorongnya menjauh. 


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku janji tidak akan ngomong gitu lagi sama Ken," kata Vanno dengan wajah menyesal. Dia benar-benar tidak memprediksi jika Retta akan marah. "Aku cuma bercanda tadi," lanjut Vanno sambil mengerjapkan matanya.


Retta yang melihat kesungguhan di wajah Vanno mulai melunak. Dia tidak lagi berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari dekapan Vanno. Merasakan Retta sudah tidak memberontak lagi, Vanno tersenyum dan mendaratkan satu kecupan pada pipi Retta.


Blush.


Retta masih saja merasa malu mendapat perlakuan seperti itu dari Vanno, meskipun mereka sudah menikah lebih dari tiga tahun. Vanno yang menyadari sang istri tengah malu, malah semakin menggodanya.


"Kenapa diam saja?" Tanya Vanno. Retta yang tengah merasa malu segera memalingkan tubuhnya untuk menjauhi tubuh Vanno. Belum sempat Retta berbalik, Vanno sudah lebih dulu menyerangnya.


"Ah Mas Vannoo," teriak Retta tertahan. Dia tidak mau Ken terbangun karena aktifitas nakal sang suami.


Tanpa menunggu aba-aba, Vanno segera melepas penutup tubuh yang dipakai Retta. Tak lama setelahnya, Vanno juga sudah melepas semua penutup tubuhnya. Mereka segera memulai pertempuran panas di malam yang dingin itu. 


"Mas Vanno kok lama sih" kata Retta ngos-ngosan di tengah aktifitas panas mereka.


"Seb-bentaarr lagi sayang" jawab Vanno yang tak kalah ngos-ngosannya.


Beberapa saat kemudian, mereka menggeram bersama setelah mencapai puncak ledakan lokal. Vanno dan Retta saling berebut oksigen dengan napas yang masih memburu.


"Mas, lepas gih" pinta Retta sambil mendorong tubuh Vanno yang tengah menindihnya. 


Vanno menegakkan tubuhnya dan menatap wajah lelah Retta setelah olahraga malam yang mereka lakukan bersama. 


"Kenapa harus di lepas?" Tanya Vanno.

__ADS_1


Puk. Retta memukul bahu suaminya.


"Maksud kamu apa mas, ini sudah selesai kenapa nggak di lepas?" Tanya Retta gusar.


"Ya biar saja, biar mateng" goda Vanno.


"Ccckk, di kira ini oven yang memanaskan sosis apa," Retta berdecak kesal. "Sudah cepat lepas, Ken sebentar lagi bangun minta minum' lanjut Retta.


Vanno menghela napas berat sebelum melepaskan selang alaminya pada gua lokal Retta. Setelahnya, Retta segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Vanno juga menyusul Retta ke kamar mandi.


Ketika masih membersihkan sisa-sisa pertempuran mereka, Ken terbangun dan segera mencari keberadaan sang mommy. Lampu kamar yang memang masih redup membuatnya sedikit ketakutan hingga menangis. 


Retta segera menyambar baju tidurnya dan segera keluar begitu sudah memakai pakaiannya. Dia segera menghampiri Ken yang tengah terisak sambil terduduk di atas tempat tidurnya.


"Cup cup cup, anak mommy yang cakep kenapa menangis," tanya Retta sambil memangku Ken dan menghapus air mata yang mengalir pada pipinya.


"Adik atut, eyap mom" jawab Ken ditenggah tangisnya.


"Cup, cup sudah jangan menangis lagi. Sudah ada mommy dan daddy di sini," jawab Retta ketika melihat Vanno sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana boxer.


Ken yang masih menyisakan isakan tangisnya menoleh ke arah daddynya. Dia mengusap matanya yang masih berair. Melihat tingkah Ken, Vanno merasa gemas. Segera dia menghampiri Retta dan Ken yang tengah duduk di tepi tempat tidur Ken.


Ken mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Vanno. Vanno segera meraupnya ke dalam gendongan.


"Adik aus, api mommy tan teddy tak da. Adik atut," jawab Ken sambil mengeratkan pelukannya pada leher Vanno. Vanno mengusap punggung Ken dengan lembut.


"Sudah, sekarang mimi susu ya. Mau botol apa mau mommy?" Tanya Vanno.


Ken menjauhkan tubuhnya dari Vanno. "Au mommy," jawab Ken sambil menunjuk Retta. Vanno segera membaringkan Ken di tempat tidurnya. Setelahnya, Retta segera mengikuti Ken dan berbaring di sebelahnya untuk menyusui.


Vanno yang melihat anak dan istrinya berbaring merasakan perasaan hangat di hatinya. Dia sangat bersyukur memiliki istri seperti Retta dan mendapatkan karunia terindah, Ken. Vanno ikut merebahkan diri di samping Ken. Dia mengusap-usap punggung Ken dengan lembut. 


Vanno beringsut mendekat ke arah Retta. "I love you both," kata Vanno sambil memberikan kecupan singkat pada pucuk kepala Retta dan Ken. 


Retta tersenyum sambil mengusap pipi Vanno dengan lembut. "I love you more and more daddy" jawab Retta.


Beberapa saat kemudian, Ken sudah terlelap. Retta juga melirik ke arah Vanno yang juga sudah terlelap di samping Ken. Retta tersenyum melihat dua laki-laki istimewa dalam hidupnya tengah tertidur lelap di sampingnya. Tak butuh waktu lama, Retta pun akhirnya juga ikut terlelap.


*****

__ADS_1


Keesokan paginya, setelah mengantarkan keberangkatan kedua mertuanya ke Bali untuk menghadiri acara perusahaan sang daddy, Retta segera memandikan Ken. Batita itu sangat suka bermain air. Ya, sedari tadi dia ikut menemani Vanno yang tengah mencuci motor kesayangannya.


"Sayang, mandi dulu yuk" ajak Retta kepada Ken. "Bajunya basah semua ini, nanti demam lho," lanjut Retta.


"Ndak au. Adik au andi bayeng teddy mom," tolah Ken.


"Tapi daddy masih lama sayang, nanti sakit lho," bujuk Retta lagi.


Ken masih kekeh tidak mau. Dia justru berlarian kesana kemari sambil memainkan air. Retta yang melihat hal itu menjadi khawatir. 


"Mas, cepetin gih nyuci motornya. Ken nggak mau mandi nanti," kata Retta.


Vanno yang tengah membilas motornya melirik ke arah sang istri yang tengah cemberut. "Sebentar lagi sayang, ini hampir selesai kok" jawab Vanno.


Benar saja, beberapa menit kemudian Vanno telah selesai mencuci motornya. Vanno membereskan peralatan mencucinya dan segera mengajak sang putra untuk mandi bersama. Setelah selesai, mereka semua segera sarapan.


Ken yang antusias sarapan dengan bubur ayam pun tak berhenti berceloteh. Dia menanyakan banyak hal kepada mommy dan daddynya.


"Mommy, kenapa peyut mbak Acih besal?" Tanya Ken ketika melihat mbak Asih, sang asisten rumah tangga, tengah hamil berjalan keluar dapur. "Mbak Acih cakit ya mommy? Lanjut Ken.


Retta dan Vanno saling melirik. Mereka bingung menjelaskan kepada Ken.


"Oh, itu karena ada adik bayi di dalam perut mbak Asih sayang," jawab Retta berusaha memberikan penjelasan kepada Ken.


"Adik bayi cepelti Ken?" Tanya Ken bingung. "Tok adik bayi na bica cembunyi di peyut mbak Acih, Ken juga au cembunyi di peyut mommy," kata Ken dengan polosnya.


Hhhaaaa.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Masih mau part tambahannya nggak nih 🤭🤭


__ADS_2