Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Kepergok


__ADS_3

Pagi itu, Gitta segera menyiapkan sarapan untuk Ken. Dia hanya membuat omelet untuk sarapan pagi itu. Gitta sudah berkutat di dapur setelah mencuci semua baju kotor miliknya dan milik Ken. Setelah sarapan sudah siap, Gitta segera memanggil Ken yang saat itu tengah berolahraga di depan rumah. 


"Mas, bersih-bersih dulu gih, lalu sarapan." Kata Gitta sambil membuang sampah di tong sampah yang terdapat di depan rumah.


"Hhhmmm."


Gitta yang hanya mendapati jawaban seadanya dari sang suami malah mendekatinya dan mencubit pinggang Ken dari belakang.


"Aaawwww, aduuhh apa-apaan ini." Kata Ken sambil mengusap pinggangnya bekas cubitan Gitta.


"Dikurang-kurangin deh itu nyanyi ham hem ham hem nya. Nggak enak di dengar tahu." Gerutu Gitta sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Ken tidak menyahutinya dan segera mengikuti Gitta dari belakang sambil mengusap peluh yang membasahi leher dan tengkuknya. Ken segera membersihkan diri di kamar mandi. Sementara Gitta menyiapkan baju ganti untuknya.


Ken segera turun setelah dirinya siap. Mereka sarapan bersama pertama dengan masakan sendiri. Meskipun hanya sarapan sederhana.


"Hari ini ada jadwal apa Mas?" Tanya Gitta.


Ken menoleh sebentar menatap istrinya. "Tidak ada sih, kemarin sudah terlanjur izin. Sebenarnya hari ini check lokasi pertama dengan klien, tapi biar saja nggak ikut." Jawab Ken. Gitta hanya mengangguk mengiyakan.


"Ehhmm, boleh tidak Mas nanti aku ke rumah sakit?" Tanya Gitta sambil meletakkan gelas yang baru saja dia teguk airnya.


Ken mengerutkan dahinya bingung. 


"Mau apa ke rumah sakit?" Tanyanya.


"Vita, temanku yang kemarin aku ceritakan itu sakit Mas. Dia terkena demam berdarah. Sudah hampir lima hari ini dia di rawat di rumah sakit." Jawab Gitta.


"Oh."


"Oh bagaimana? Aku boleh pergi ke rumah sakit apa tidak nih?" Tanya Gitta lagi.


"Hhhmmm. Aku antar nanti." Jawab Ken.


Seketika Gitta menoleh menatap wajah Ken. Dia seperti menimbang sesuatu saat itu. Ken yang merasa diperhatikan pun langsung menoleh.

__ADS_1


"Kenapa? Nggak mau ku antar?" Tanya Ken.


Gitta langsung menggeleng dengan cepat. "Enggak Mas, cuma nanti ngrepotin mas Ken apa tidak." Kata Gitta.


Seketika Ken menoleh menatap wajah Gitta. Dia meletakkan sendoknya diatas piring. Saat ini bahkan Ken memutar tubuhnya hingga menghadap Gitta. Tangan kanannya meraih tangan Gitta dan menggenggamnya dengan erat sambil memberikan kecupan singkat di sana.


"Dengarkan aku. Saat ini, kita sudah menikah, sah secara hukum dan agama. Sekarang, aku adalah suamimu dan kamu adalah istriku. Aku sudah mengucapkan ijab qobul atas kamu, berarti semua tanggung jawab atas dirimu sudah berpindah kepadaku. Jangan lagi merasa sungkan atau merasa tidak enak. Aku sudah ikhlas menerima pernikahan ini, aku sudah ikhlas menerima kamu menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Jadi, aku harap mulai saat ini jangan merasa tidak enak lagi. Jangan lagi merasa sungkan. Kami semua, keluargaku sangat bahagia dengan hadirmu di keluarga ini. Jangan lagi merasa sendiri." Kata Ken panjang lebar.


Gitta hanya bisa mengangguk setelah mendengar perkataan Ken. Bibirnya terasa kelu untuk berucap. Gitta merasakan hangat di seluruh tubuhnya. Dia merasa sangat bahagia telah diterima dengan baik di keluarga ini, meski dirinya bukan siapa-siapa. Bahkan, tak terasa air mata bahagia mengalir dari ujung kedua matanya. Ken yang melihat hal itu segera menghapus air mata Gitta dengan ujung jarinya.


"Hey, jangan menangis." Kata Ken sambil mengusap pipi Gitta.


"Aku bahagian Mas, sangat sangat bahagia. Aku beruntung bertemu mommy dan memilikimu sebagai suami. Aku beruntung bisa memiliki keluarga yang utuh. Aku bahagia Mas." Kata Gitta sambil terisak.


"Sudah, jangan menangis lagi. Mulai sekarang, mari berusaha untuk saling terbuka. Jangan lagi merasa sungkan atau tidak enak. Mengerti?" Tanya Ken.


Gitta mengangguk mengiyakan. "Iya Mas. Terima kasih." Jawab Gitta sambil berusaha mengulas senyumannya.


Ken benar-benar merasa candu dengan bibir Gitta. Entah mengapa hanya dengan melihat bibirnya bergerak berbicara saja dia sudah membuat tubuhnya meminta lebih. Ken segera menangkup kedua pipi Gitta dan mendekatkan bibirnya pada bibir Gitta. Tangan kiri Ken menekan tengkuk Gitta, sementara tangan kanannya membelai pipi Gitta dengan lembut. Dia ******* dan memanjakan bibir Gitta dengan sangat lembut.


Saat tengah konsentrasi dengan kegiatan mereka, tiba-tiba terdengar sebuah suara.


"Sayang, aku juga mau dong." 


"Iihhh apaan sih Mas. Mau apa memangnya?"


"Mau adu mulut nih." Jawabnya sambil memonyong-monyongkan bibirnya.


Seketika Ken dan Gitta terkejut dan menoleh menatap sumber suara. Tubuh mereka seakan membeku karena malu. Bagaimana tidak, ditengah adegan yang menguras napas mereka ternyata dilihat oleh mommy dan daddynya. Apalagi, sang daddy bahkan sempat menggodanya.


"Eh, sejak kapan mommy dan daddy ada disini?" Tanya Ken kikuk. 


Dia cukup malu dengan kelakuannya. Gitta, jangan ditanya lagi. Jika ada lubang menganga di depannya saat ini, dia akan sukarela masuk ke dalamnya untuk menutupi rasa malunya. Dia benar-benar merasa tidak punya muka lagi di hadapan kedua mertuanya kali ini.


"Sejak kamu mulai menggengam tangan Gitta dan mulai berbicara panjang kali lebar tadi." Jawab mommy sambil tersenyum puas. "Mas, akhirnya gletser antartika kita sudah meleleh, sudah mencair. Aku bahagia sekali sekarang." Lanjut mommy sambil menatap wajah sang suami.

__ADS_1


"Tentu saja si gletser antartika akan meleleh. Lihat saja pemanasnya saja seperti itu, ya pasti langsung leder (mencair)." Jawab Vanno sambil tertawa dengan keras.


Ken dan Gitta, sudah jangan ditanya lagi. Wajah mereka sudah sangat merah padam karena ledekan mommy dan daddynya. Sementara Retta masih memberikan cubitan kepada Vanno agar berhenti menertawakan anak dan menantunya.


"Aduuhhh duuuhh auuww. Sakit sayang." Rengek Vanno. "Kamu hobi sekali sih KDRT sama suami." Kata Vanno sambil mengusap pinggangnya yang telah berhasil mendapat hadiah cubitan dari sang istri.


"Biarin. Habis gemes lihat kamu tertawa gitu Mas." Kata Retta sambil berjalan menuju meja ruang makan untuk meletakkan makanan. Ya, maksud kedatangan mereka pagi itu adalah untuk mengantarkan sarapan untuk Gitta dan Ken.


"Iihhh, kalau gemes jangan nyubit pinggang atau paha dong sayang, ada bekasnya nanti." Kata Vanno sambil mengikuti sang istri.


"Oh, jadi mas Vanno mau dicubit ditempat yang tidak terlihat dan tidak berbekas?" Tanya Retta.


Seketika pikiran Vanno langsung travelling mendengar pertanyaan sang istri. Pikirnya dia akan mendapat cubitan ditempat, ah sudahlah.


Vanno tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat untuk menjawab pertanyaan sang istri.


"Baiklah, nanti aku tidak akan mencubit pinggang atau di paha mas Vanno lagi." Kata Retta yang sudah ditanggapi Vanno dengan semangat empat lima.


Namun, seketika semangatnya anjlok saat mendengar perkataan sang istri selanjutnya. "Aku akan cubit ginjal mas Vanno biar tidak ada bekasnya."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih ada yang nungguin mommy Retta dan daddy Vanno nggak nih?


Jangan lupa like, comment dan vote nya ya

__ADS_1


Thank you 🤗


__ADS_2