
Tak berapa lama Vanno dan Retta memperhatikan sesosok orang asing yang mengamati villa mereka, namun sosok misterius itu menyadarinya dan segera menghilang ke jalan setapak yang ada di depan villa. Vanno segera menghidupkan motornya untuk mengikuti sosok misterius tersebut. Namun nihil.
Vanno segera memutar motornya hingga memasuki garasi villa. Vanno segera menarik Retta ke dalam villa untuk menuju kamarnya. Retta yang kebingungan hanya bisa menuruti Vanno.
Tanpa banyak bicara, Vanno segera meminta Retta untuk mengemasi barang-barangnya. Malam itu juga Vanno ingin segera pulang.
"Mas, ada apa ini?" tanya Retta. "Kenapa kita mendadak harus pulang malam ini, apa ada hal buruk yang terjadi Mas?" Retta masih bingung.
Vanno tidak menjawab pertanyaan Retta. Dia hanya membantu Retta mengambil pakaiannya dan memasukkannya sembarangan ke dalam koper. Sementara tangan kanannya tengah mengotak atik ponselnya.
Retta merasa geram dengan sikap Vanno. Dia menarik lengan Vanno ketika melintas di depannya hingga tubuh Vanno berputar menghadap Retta.
"Aku tidak mau pulang sebelum mas Vanno menjelaskan semuanya padaku. Ada apa ini mas? siapa orang tadi?" tanya Retta.
Vanno menghembuskan napas berat sebelum menarik Retta untuk duduk di tepi tempat tidur kamar mereka. Melihat tatapan mata penuh selidik Retta, Vanno tidak bisa menyembunyikan kenyataan lagi. Mau tak mau, Vanno akhirnya menjelaskan semua kejadian yang telah terjadi. Mulai dari peristiwa penguntitan dirinya yang terjadi beberapa hari sebelum kecelakaan dulu, kecelakaan dirinya yang memang telah direncanakan sebelumnya, hingga peristiwa pengiriman paket tadi siang.
Retta segera menutup mulutnya yang terkejut mendengar penjelasan Vanno. Dia belum bisa berpikir dengan jernih. Jessika, bukannya dia sudah mati?, batin Retta.
__ADS_1
Anggapan itu terus berputar di kepalanya, hingga dia tidak begitu menyimak ketika Vanno menjelaskan rencananya dan daddy untuk beberapa hari kedepan. Vanno yang memperhatikan ekspresi Retta segera mengusap bahunya pelan.
"Apa kamu takut?" tanya Vanno ketika melihat ekspresi Retta yang terlihat bingung sambil mengerutkan dahinya.
Retta segera tersadar dan mengerjapkan matanya. "Tidak mas. Aku tidak takut" jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Aku hanya heran, dulu kata mommy, pihak kepolisian sudah menyatakan bahwa Jessika sudah meninggal karena kecelakaan waktu di kejar polisi kan, tapi kenapa bisa begini?" lanjut Retta.
Vanno tidak menjawab pertanyaan Retta. Dia hanya menatap wajah Retta dengan dalam. Merasa tidak ditanggapi, Retta segera mencubit paha Vanno.
"Aauuwwhhh, sakit Ta," Vanno meringis kesakitan.
Vanno masih mengusap pahanya yang dicubit oleh Retta. "Pihak kepolisian itu benar Ta, yang di dalam mobil itu memang Jessika" kata Vanno. "Hasil forensik juga sudah dilakukan dan menyatakan bahwa orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah Jessika" lanjut Vanno.
"Lalu, jika itu memang benar-benar Jessika yang asli, lantas Jessika siapa yang mas Vanno maksud yang telah mengganggu kita?" tanya Retta. "Apa itu kembarannya Jessika?" lanjut Retta.
Vanno mendengus kesal. "Kamu terlalu banyak baca novel Ta. Bukan, itu bukan kembarannya Jessika" kata Vanno.
"Lalu, siapa dia mas?"
__ADS_1
"Angela, Angela Kurniawan" kata Vanno. "Dia adalah adik dari Jessika Kurniawan, sekretaris daddy yang telah menghancurkan kebahagiaan kami." lanju Vanno.
Mata Vanno berkilat-kilat merah menahan amarah. Rahangnya mengeras dengan suara gemelethuk gigi menandakan dia tengah menahan geramannya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf slow up ya..
__ADS_1