Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 57


__ADS_3

Retta terkejut mendapat serangan Vanno. Dia hendak memprotes perbuatan suaminya. Namun, begitu dia membuka bibirnya untuk memprotes perbuatan suaminya, Vanno sudah terlebih dahulu menjelajah mulut Retta dengan lidahnya begitu bibir Retta terbuka. 


Mendapat perlakuan seperti itu dari Vanno, Retta hanya bisa mengikuti permainan Vanno. Dia bahkan mulai memberikan reaksi kepada Vanno. Kedua tangannya sudah di kalungkan pada leher Vanno. Bahkan, tangan Retta sudah menelusup pada Rambut Vanno dan meremasnya dengan pelan. Tangan Vanno juga sudah mulai bergerilya mencari harta karun yang tersimpan rapi di balik bajunya.


Tangan Vanno yang sudah sangat handal segera mencari tombol alami untuk menghidupkan suara yang sangat ingin didengarnya. Entah mengapa Vanno sangat suka mendengar suara des*han Retta.


Menyadari perbuatan Vanno, Retta segera melepaskan tangannya dari rambut Vanno dan mendorong dada bidang Vanno agar berhenti dan menjauh dari tubuhnya.


Vanno yang bingung segera menatap Retta dengan tatapan tajam. Bagaimana mungkin Retta menghentikannya ketika keinginannya sudah merangkak naik hingga mencapai delapan puluh persen, batinnya.


Melihat suaminya yang tengah menatapnya dengan tajam, Retta segera mengusap pipi Vanno sambil memberikan kecupan singkat pada bibirnya. Cup.


"Maaf Mas, bukannya tidak mau melanjutkannya. Ini sudah jam berapa?, bukannya kita akan pulang malam ini?" tanya Retta sambil tersenyum lembut.


Vanno mendengus kesal. Dia merutuki dirinya sendiri yang sudah lupa dengan rencananya untuk pulang malam itu. Dia melirik Vj yang sudah berdiri kokoh disana seolah menantangnya untuk bertarung. Namun, dia harus mengalah malam ini.


Retta tersenyum semakin lebar melihat reaksi Vanno. "Sabar ya Mas, ditahan dulu," kata Retta sambil beranjak berdiri." Dibilangi itu si paralon air agar jangan suka bangun tiba-tiba" lanjutnya sambil mengerling ke arah Vanno. 


Vanno mendengus kesal sambil berdiri mengikuti Retta untuk membereskan barang-barangnya. Setelah semua siap, Vanno segera menghubungi pak Andi untuk mengantarkannya ke bandara malam itu juga.


Dini hari Vanno dan Retta telah sampai di rumah. Mereka segera menuju ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat. 


*****

__ADS_1


Siang harinya, Vanno pergi ke tempat Axcell untuk membicarakan beberapa hal penting dengannya. Sementara Retta, dia tengah membereskan kamarnya dan mencuci pakaian kotornya dan Vanno.


Sore hari, Retta mendapat telepon dari Abel, sahabatnya. 


"Ta, lo kemana aja si dari kemarin nggak bisa dihubungi?" Abel langsung mengeluarkan suara cemprengnya begitu Retta sudah mengangkat teleponnya.


"Maaf Bel, aku lagi banyak kerjaan nih dari kemarin. Ponselku juga low batt sampai lupa buat ngecharge" jawab Retta yang memang belum memberitahu sahabatnya itu jika dia telah menikah sejak beberapa bulan yang lalu.


"Kebiasaan! Eh, sudah tau informasi terbaru belum?"


"Informasi apa?"


"Tentang mas Andre."


Retta mengernyitkan dahinya. Mas Andre?, batinnya. Selama beberapa bulan ini dia memang tidak mendengar informasi apapun tentang mas Andre. Retta masih terdiam tanpa memberikan komentar apapun kepada Abel.


"Aah iya, maaf maaf." 


"Besok ketemu di sekolah ya, aku ceritakan semuanya. Dan, dijamin kamu pasti suka." Kata Abel bersemangat.


Retta segera menutup teleponnya setelah Abel berpamitan. Dia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ketika hendak berbalik, dia dikejutkan oleh dua buah tangan yang melingkar di perutnya. 


Retta memutar badannya untuk balas memeluk orang itu, Vanno. "Siapa yang telepon?" tanya Vanno.

__ADS_1


"Abel. Besok ada yang harus diselesaikan di sekolah, jadi besok aku harus masuk sekolah Mas."


"Cepat pulang. Besok kita harus ke Dubai," kata Vanno sambil melepaskan pelukannya.


"Dubai?, kenapa Mas?"


"Ada yang harus kita lakukan di sana. Selain itu, kita harus segera menghentikan permainan Angela. Segera." Kata Vanno sambil menggertakkan giginya.


Retta bergidik ngeri melihat ekspresi Vanno yang penuh amarah. Dia segera mendekatkan tubuhnya dan mengusap dada suaminya dengan pelan. "Ada apa lagi Mas?" tanya Retta dengan penuh kelembutan. "Ada yang bisa aku bantu?" lanjutnya sambil terus mengusap dada Vanno.


Vanno langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Retta. Dia segera menarik ujung bibirnya dan menghentikan tangan Retta yang hendak menyentuh pipinya. 


"Iya. Kamu harus bantu aku menjinakkan Vj!" kata Vanno sambil tersenyum smirk.


.


.


.


.


.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Semoga bisa cepet up lagi


__ADS_2