
Nyassshh. Rasa pedas sambal langsung menyambar lidahnya. Vanno benar-benar merasakan lidahnya seperti terbakar. Keringat dingin langsung keluar. Vanno bahkan tidak mengunyah tempe tersebut hingga halus. Dia langsung menelannya dan kemudian meminum air putih yang sudah disiapkan Retta.
Bukannya mereda, namun rasa panas dan pedas malah menyebar ke seluruh mulutnya. Air matanya bahkan sudah mulai keluar. Retta yang merasa kasihan melihat Vanno langsung beranjak untuk mengambilkan susu agar dapat meredakan rasa pedas yang dialami Vanno.
Retta mengulurkan susu yang baru diambilnya kepada Vanno yang langsung diterima dan ditenggak hingga habis oleh Vanno. Retta merasa kasihan melihat Vanno yang tengah kepedasan.
"Sudah Mas, jangan makan lagi. Wajah dan telinganya sampai merah begitu," kata Retta.
"Itu karena sambal kamu yang pedas Ta, awas saja kalau kamu makan sambal itu," kata Vanno.
Retta mengangguk mengerti. Dia mengambil tempe mendoan tanpa sambal dan segera melahapnya. Vanno juga ikut menikmati tempe mendoan itu tanpa sambal. Setelah habis, Retta segera membereskan sisa-sisa tempe dan membersihkan meja makan. Dia juga segera mencuci tangan yang segera diikuti oleh Vanno.
"Mas Vanno mau dibawakan minum apa?" tanya Retta sambil berbalik menatap Vanno.
"Bawakan air putih saja," kata Vanno sambil berjalan menuju kamar tidur. Retta segera mengambil sebotol air minum. Setelah mematikan lampu, Retta segera menuju kamar tidurnya untuk menyusul Vanno.
Retta segera meletakkan botol air minum di atas nakas dan segera menuju walk in closet untuk mengganti bajunya. Sementara Vanno masih berada di dalamnya yang juga sedang mengganti bajunya.
__ADS_1
Retta yang melihat punggung Vanno menelan ludahnya dengan kasar. Dia segera mendekat dan memeluk Vanno dari belakang. Vanno yang terkejut langsung menegakkan badannya.
"Maaass," kata Retta sambil mengeratkan pelukannya.
Vanno yang menyadari tindakan Retta langsung memutar tubuhnya. Dia melihat wajah Retta yang memerah sambil giginya menggigiti bibir bawahnya. Vanno yang sudah hafal dengan keinginan Retta hanya bisa pasrah. Awal-awal kehamilan ini Retta benar-benar sangat agresif. Vanno harus berusaha mengalihkan perhatian Retta secara terus menerus. Jika tidak, bisa dipastikan setiap hari Retta akan menyerangnya. Bukan Vanno tidak mau, bukan Vanno tidak ingin, tapi dia berusaha untuk menjaga kehamilan Retta yang masih sangat muda.
"Kamu mau lagi Ta?" tanya Vanno. Dia sudah sangat hafal dengan tingkah istrinya jika sedang sangat bernafsu.
Dengan penuh semangat Retta segera menganggukkan kepalanya. Wajahnya sangat berbinar mendengar pertanyaan Vanno. Sementara itu, Vanno hanya bisa mendengus dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Retta langsung mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Vanno. "Mas Vanno marah?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga tidak tahu Mas kenapa keinginanku ini begitu besar. Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi, begitu melihat mas Vanno, rasanya aku selalu ingin memeluk tubuh mas Vanno. I want you, always want you." kata Retta yang diiringi dengan lelehan air mata pada pipinya.
Vanno yang melihatnya menjadi tidak tega. Dia mendekati Retta dan mengusap air mata yang membasahi pipi Retta dengan jarinya. Vanno benar-benar tidak bisa melihat air mata Retta.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memarahimu tadi," kata Vanno sambil merengkuh Retta ke dalam pelukannya. "Bukan aku tidak ingin melakukannya, bukan aku tidak mau. Aku cuma mengkhawatirkan baby kita. Aku tidak mau dia kenapa-napa sayang," lanjut Vanno sambil mengusap rambut Retta.
Retta masih terisak. Entah kenapa dadanya terasa sakit mendengar Vanno tidak mau melakukannya. Padahal, dia sangat tahu alasan Vanno menolaknya karena apa, namun entah mengapa dia merasa sesedih itu.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku akan melakukan sesuatu yang bisa membuat kamu senang dan tidak membahayakan baby kita," kata Vanno sambil melepaskan pelukannya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Apa ya kira-kira yang akan dilakukan Vanno?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, comment dan vote
__ADS_1