
"Honeeyyy!"
Panggil Khanza sambil melambaikan tangan kepada Al yang tengah menatap tajam ke arah mereka. Senyum lebar tak pernah lepas dari bibirnya.
Rangga dan Clarissa yang tengah berdiri di depan Khanza pun langsung menoleh ke arah pandangan Khanza. Mereka bertanya-tanya dalam hati siapakah yang tengah di sapa oleh Khanza. Ada beberapa orang yang berada pada arah yang dituju Khanza. Namun, hampir semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Hanya ada dokter Al yang memang berdiri menatap ke arah mereka. Mungkinkah dokter Al yang dimaksud Khanza? Batin mereka.
Belum sempat keterkejutan Rangga dan Clarissa hilang, tiba-tiba Khanza menginterupsi pikiran mereka berdua.
"Maaf kak Rangga, aku permisi dulu." Kata Khanza sambil meraih barang-barang Gitta dan Ken yang terletak di kursi di sampingnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Rangga dan Clarissa, Khanza melenggang pergi dari depan mereka menuju arah Al yang masih berdiri mematung menghadap ke arahnya.
"Ayo, Kak." Kata Khanza yang dengan beraninya mengapit lengan kiri Al dan menariknya menjauh dari Rangga dan Clarissa.
Khanza sempat menoleh dan melambaikan tangan pada Rangga dan Clarissa sebelum berbelok pada ujung lorong rumah sakit.
Rangga dan Clarissa masih mematung di tempat semula.
"Dia siapanya dokter Al?" Tanya Clarissa.
Rangga tidak menjawab pertanyaan Clarissa. Dia hanya mengendikkan bahunya sambil melangkah pergi meninggalkan Clarissa. Dokter muda itu langsung mendengus kesal mendapati respon yang datar-datar saja dari Rangga.
Sementara Khanza masih diam membisu berjalan di samping Al. Dia tidak berani membuka suara saat itu. Dia benar-benar takut jika Al akan memarahinya. Khanza memang berani menggoda Al, tapi hanya sebatas godaan biasa yang tidak akan diketahui oleh orang lain, terlebih keluarga atau teman Al. Namun, entah mengapa hari ini dia berani mengatakan hal itu di depan teman sejawat Al. Dia benar-benar merutuki mulutnya yang lemes.
Khanza dan Al sudah sampai di tempat parkir dimana mobil Al sudah terparkir di sana. Khanza masih diam tak bergerak. Al yang melihat Khanza masih terdiam langsung menoleh.
"Cepat masuk!" Katanya kemudian.
Khanza menoleh menatap Al yang masih menampilkan wajah datar-datarnya. Namun, dia segera beranjak untuk menyelinap masuk mobil Al. Dia mendudukkan diri di samping Al yang tengah fokus memundurkan kendaraannya.
Khanza melirik wajah Al yang masih terlihat datar sambil fokus pada jalanan di depannya.
"Maaf Kak." Kata Khanza. Dia masih menunduk sambil menggigiti bibir bawahnya.
Al menoleh sekilas menatap wajah Khanza yang tengah menunduk.
__ADS_1
"Mengapa kamu memanggilku seperti itu tadi?" Tanya Al. "Apa kamu nggak sadar jika itu rumah sakit, banyak rekan sejawatku di sana." Lanjut Al.
Khanza kembali dihantui rasa bersalah. Dia tidak memikirkan hal itu tadi. Khanza masih menundukkan kepalanya sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali.
Al menghembuskan nafas beratnya sebelum membuka suara lagi.
"Aku hanya tidak mau rekan-rekanku berpikir yang tidak-tidak mengenai kita." Jelasnya setelah keheningan cukup lama.
"Maaf, Kak. Aku nggak bermaksud buat kak Al dalam masalah. Aku tadi hanya berpikir bagaimana caranya agar dokter Clarissa tidak salah paham padaku. Maaf ya Kak." Kata Khanza sambil menatap wajah Al. Dia menampilkan wajah bersalahnya di sana, sehingga Al menjadi tidak tega.
"Dokter Clarissa? Apa maksudnya?" Tanya Al. Dia masih tidak mengerti maksud Khanza. Ya, tadi Al memang melihat dokter Rangga dan dokter Clarissa sedang bersama Khanza. Tapi, Al masih tidak mengetahui apa hubungan mereka dengan Khanza.
Khanza menghembuskan nafas sebelum menceritakan hal sebenarnya kepada Al.
"Sebenarnya, aku sudah kenal lama dengan kak Rangga. Dia tetanggaku saat masih di Surabaya. Namun, kami kehilangan komunikasi saat kak Rangga melanjutkan kuliah di Jakarta. Kami baru bertemu lagi beberapa hari yang lalu." Jelas Khanza.
Al yang sudah mulai mengerti hanya bisa menganggukkan-anggukkan kelapanya.
"Lalu, apa hubungannya dengan dokter Clarissa?" Tanya Al. Dia memang mengenal Rangga dan Clarissa. Mereka berusia satu tahun diatas Al. Akan tetapi, Al tidak terlalu dekat dengan mereka.
Al cukup terkejut saat mendengar jika Clarissa menyukai dokter Rangga. Bukannya rumor yang beredar jika dokter Rangga sudah bertunangan, atau jangan-jangan dokter Clarissa lah tunangan dokter Rangga. Batin Al.
Khanza yang melihat Al masih diam saja merasa tidak enak hati. Dia berfikir jika Al masih marah terhadapnya.
"Kak Al masih marah ya?" Tanya Khanza. Dia masih melihat ke arah Al takut-takut.
"Enggak, aku nggak marah. Cuma nggak enak saja jika nanti ada yang mengira ada apa-apa di antara kita." Jawab Al.
"Kalau pun ada apa-apa di antara kita juga nggak apa-apa kok Kak. Aku ikhlas." Jawab Khanza. Namun, secepat kilat dia menutup mulutnya.
Khanza merutuki mulutnya yang suka keceplosan kalau ngomong. Dia langsung membekap mulutnya sendiri dengan dengan tangannya.
Al yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah mulai terbiasa dengan celetukan ajaib Khanza.
"Setahuku, dokter Rangga itu sudah punya tunangan. Ya, itu desas desus yang beredar di rumah sakit." Kata Al setelah beberapa lama terdiam.
__ADS_1
Khanza menoleh menatap wajah Al. Dia cukup terkejut saat mendengarnya.
"Benarkah kak Rangga sudah bertunangan?" Tanya Khanza tidak percaya. Jika memang benar kak Rangga sudah bertunangan, kenapa dia tidak ngomong waktu bertemu beberapa hari yang lalu. Batin Khanza.
Namun, keterkejutan Khanza di salah artikan oleh Al. Dia mengira jika Khanza tengah kecewa saat mendengar Rangga sudah bertunangan.
"Kamu kecewa mengetahui dokter Rangga sudah bertunangan?" Tanya Al sambil mengerutkan dahinya.
"Eh, kenapa kak Al bertanya begitu?" Tanya Khanza sambil menatap wajah Al.
Al yang mendapati pertanyaan Khanza hanya bisa meliriknya.
"Ya, kelihatan saja kamu kecewa saat mengetahui kalau ternyata dokter Rangga sudah memiliki tunangan." Jawab Al.
"Hhaaahh, kecewa dilihat dari mananya Kak?" Tanya Khanza. "Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kak Rangga. Aku juga tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya. Jadi, kecewa karena apa?" Lanjut Khanza. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Al.
"Benarkah?" Tanya Al. "Kamu benar tidak ada hubungan dengan dokter Rangga?"
"Benar, Kak. Aku sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan kak Rangga. Aku tidak menyukainya seperti seorang perempuan terhadap laki-laki. Aku hanya menganggapnya seperti seorang kakak saja. Hanya itu, tidak lebih." Kata Khanza. Dia sendiri bingung kenapa harus menjelaskan hal itu kepada Al. Namun, akan lebih membingungkan lagi nanti buatnya jika Al berpikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya dan Rangga.
"Lalu, bagaimana denganku?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungannya ya, thank you 🤗
__ADS_1