
Ken segera mengantarkan Gitta untuk membeli permen loli seperti yang diinginkannya. Namun, setelah dapat, dia malah merasa mual saat melihatnya. Alhasil, Ken lah yang dipaksa untuk memakannya.
Pagi ini, Gitta diantar Ken ke butik. Sementara mommy, harus pergi ke hotel karena ada meeting pagi di sana. Ken menghentikan mobilnya di depan butik mommynya.
"Sayang, baik-baik disana ya. Jangan rewel, kasihan mommy." Kata Ken sambil mengusap perut Gitta. Dia juga menciumnya sesekali.
"Iya, daddy. Jangan ganjen cama ciwi-ciwi ya daddy." Jawab Gitta sambil menirukan suara anak kecil.
Ken yang mendengar perkataan Gitta langsung merengut. Dia mengerucutkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Gitta.
"Aku kan tidak pernah ganjen sama cewek-cewek, Yang." Protes Ken.
Gitta yang melihat Ken tengah kesal pun merasa gemas. Dia menangkup wajah Ken dengan kedua tangannya. Didekatkannya wajahnya pada wajah Ken. Dan, cup. Sebuah kecupan singkat mendarat pada bibir Ken.
Seketika Ken membulatkan matanya. Ditatapnya wajah Gitta dengan tajam.
"Apa itu. Cuma nempel kan nggak enak. Nggak ada rasanya." Gerutu Ken.
"Nanti gantinya jika baby sudah lahir ya Mas, jika sekarang aku masih sering mual." Kata Gitta sambil melepaskan tangannya.
Hhhhhhhfffft. Ken mendesah berat.
"Iya, aku akan tetap berusaha kuat, demi kalian." Jawab Ken sambil berusaha tersenyum.
"Makasih, Daddy." Jawab Gitta dengan binar bahagia. "Ingat, jangan dekat-dekat dengan cigan-cigan di kantor." Lanjut Gitta.
"Apa itu cigan?" Tanya Ken sambil mengerutkan keningnya.
"Ciwi-ciwi ganjen."
"Hhuuuhhh, enak saja. Sudah dibilang aku nggak pernah ganjen sama cewek-cewek, Yang." Kata Ken.
"Iya, iya. Aku percaya Mas Ken tidak akan aneh-aneh. Tapi, boleh kan aku khawatir pada perempuan-perempuan di luar sana. Mereka pasti akan sangat senang hati mengejar Mas." Jawab Gitta.
Ken hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia sudah sangat malas untuk mendebat sang istri. Perempuan memang selalu benar. Apalagi sedang hamil. Dobel-dobel lah benarnya. Bisa jadi apa yang dikatakan perempuan, apalagi yang sedang hamil seperti istrinya, sudah pasti semuanya benar, sudah mutlak. Fix no debat. Batin Ken.
Setelahnya, Gitta segera turun dari mobil Ken untuk masuk ke butik mommy. Sementara Ken, dia harus segera ke kantor sang daddy. Mengingat hari ini dia sudah mulai bekerja di kantor utama. Meskipun belum menduduki posisi strategis.
Keesokan harinya, Ken sudah berada di bandara. Hari ini dia yang bertugas untuk menjemput Khanza. Sopir keluarganya sedang mengantar mommy ke Bandung, sedangkan daddy harus ke Bali untuk urusan kantornya. Gitta juga tidak bisa ikut menjemput Khanza, karena harus menemani mbak Arini menemui klien.
Ken sudah menunggu sekitar dua puluh menit, namun Khanza juga belum tiba. Setelah kurang lebih empat puluh menit kemudian, terdengar pengumuman jika pesawat yang ditumpangi Khanza sudah tiba. Tak berapa lama kemudian, terlihat Khanza berjalan menarik koper-kopernya menemui sang kakak.
Ken segera membawa semua barang-barang Khanza ke dalam mobil. Sementara Khanza mengekori Ken di belakangnya.
"Kak Gitta kenapa nggak ikut Kak?" Tanya Khanza.
"Dia lagi bantuin mbak Arin di butik mommy." Jawab Ken sambil mulai menyalakan kendaraannya.
"Ouuwwhh gitu. Eh Kak, mampir makan siang dulu ya. Cacing-cacing dalam perutku sudah lapar ini. Dari tadi bunyi terus." Kata Khanza sambil memegangi perutnya.
Ken yang melihatnya menjadi kasihan. Dia menyetujui permintaan sang adik. Khanza ingin makan bebek goreng sambal ijo. Ken mengerutkan keningnya dimana ada bebek goreng sambal ijo siang-siang begini. Namun, dia teringat di warung makan sederhana di dekat kantor polisi ada yang menjual bebek sejak siang hari.
__ADS_1
Ken segera mengarahkan kendaraannya ke warung makan sederhana tersebut. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di warung makan tersebut. Ken dan Khanza segera memasuki warung makan tersebut dan memesan makan siang.
Ken dan Khanza memilih meja paling ujung yang menghadap kantor polisi di sampingnya. Mereka terlihat memainkan ponselnya. Ken dan Khanza tidak menyadari jika ada seseorang yang diam-diam memotret mereka sebelum keluar dari warung makan tersebut.
Saat masih menunggu pesanan mereka siap, tiba-tiba terdengar sebuah suara mendekati mereka.
"Ken, lo ada di sini juga?"
Ken dan Khanza segera mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menyapa mereka.
"Lho Al, lo juga ada di sini?" Jawab Ken. Ya, dia adalah Al yang juga kebetulan juga berada di sana untuk memesan bebek goreng pesanan mamanya.
"Iya, mama nitip bebek goreng tadi." Jawab Al.
"Duduk sini, sekalian makan siang bareng juga." Pinta Ken.
Al pun segera mengangguk dan menggeser sebuah kursi untuknya duduk. Saat ini posisi duduk Ken berada di ujung sebelah utara. Dia menghadap selatan. Khanza berada di sebelah kanan Ken menghadap timur, sedangkan Al berada di sebelah kiri Ken menghadap ke barat. Dan fix, Khanza dan Al saling berhadapan.
Al langsung mengeluarkan ponselnya karena terdengar ada pesan baru masuk. Sementara Khanza yang tersadar jika ada Al, sahabat sang kakak di sana langsung tertarik. Jiwa gombale mukiyo Khanza langsung keluar. Khanza masih menatap Al tanpa kedip. Kedua tangannya menumpu pada siku diatas meja. Sementara senyumannya tak lepas dari bibirnya.
Ken yang menyadari tingkah sang adik langsung menoleh.
"Kamu kenapa sih Za?" Tegur Ken kepada sang adik.
Khanza mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sambil menoleh menatap wajah sang kakak. Sementara Al yang mendengar pertanyaan Ken juga langsung menoleh menatap Ken.
"Aku sedang memandang imam Kak, jangan ganggu." Jawab Khanza sambil mendelik menatap wajah sang kakak.
"Imam siapa? Imam Arifin? Imam Sadikin? Imam Rojali? Atau Imam siapa?" Tanya Ken sambil masih memandangi sekitarnya.
Mendengar pertanyaan Ken, Khanza langsung mendengus kesal pada sang kakak.
"Tentu saja imam sholatku. Imam untuk anak-anakku juga nantinya." Jawab Khanza dengan entengnya.
Seketika Ken langsung cengo. Dia masih tidak mengerti dengan perkataan Khanza.
"Maksud kamu apa sih Za, jangan ngadi-ngadi deh. Kesambet apa sih tadi di pesawat? Kamu kena sawan apa gimana sih." Gerutu Ken.
Khanza langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kak Ken apaan sih. Aku serius tahu. Yang aku maksud itu kak Al, calon imamku." Jawab Khanza dengan yakin. Seyakin cintaku padamu, eeeaaaa. 😂😂
Seketika Ken dan Al langsung menoleh sambil melongo. Mereka masih tidak mempercayai pendengaran mereka saat itu.
"Al siapa kamu?" Tanya Ken tidak percaya.
"Calon imam dong." Jawab Khanza dengan penuh semangat sambil tersenyum lebar.
Seketika Ken menoleh menatap Al.
"Kalian pacaran ya Al?" Tanya Ken.
Al segera menggeleng dengan cepat menjawab pertanyaan Ken.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Jangan ngaco deh Ken." Jawab Al.
Khanza yang mendengarnya langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kak Al kok ngomong gitu sih, padahal dulu sudah main tusuk lho." Kata Khanza dengan wajah sedih sambil mengerucutkan bibirnya.
Kali ini Al yang terkejut. Dia tidak mengerti maksud perkataan Khanza.
"Apa maksudmu menusuk? Aku sama sekali tidak pernah menyentuhmu." Kata Al sedikit kesal.
"Iya, kak Al memang tidak pernah menyentuh tubuhku tapi langsung menyentuh hatiku." Jawab Khanza dengan sok dramatisnya.
Ken dan Al langsung melongo mendapati jawaban Khanza tersebut.
"Ken, sepertinya adik lo kesambet deh, minta di ruqyah." Kata Al sambil masih menatap Khanza.
"Ho oh. Gue kira juga begitu. Kok dia jadi ajaib begini ya. Apa mungkin kesambet angin yang mobat mabit karena terlalu berat membawa titipan rindu orang-orang itu ya." Jawab Ken tambah ngasal.
Al menoleh menatap wajah Ken yang sok serius.
"Sepertinya lo juga harus di ruqyah deh Ken." Kata Al.
Ken langsung menoleh menatap Al.
"Lhah, kok gue juga ikutan?" Tanya Ken.
"Ho oh. Lo jauh lebih ngasal." Jawab Al
Khanza yang baru pulang dari bandara.
Ekspresi pusing Ken menghadapi adiknya.
Al yang menatap ke arah Khanza.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Ini bagaimana masih mau lanjut?
__ADS_1