Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Berita Duka


__ADS_3

Setelah dari studionya, Ken kembali ke butik mommynya. Dia akan menunggu Gitta di sana sampai Gitta selesai bekerja. Ken juga memesan makan siang hari itu.


Ken menunggu pesanan makan siangnya di ruangan mommynya. Dia tidak tahu jika sang mommy sudah pulang terlebih dahulu.


Ceklek.


Pintu ruang kerja mommy terbuka. Ken segera menoleh. Gitta masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa pesanan makan siang sang suami.


"Banyak banget makanannya Mas?" Tanya Gitta sambil meletakkan makan siangnya di atas meja.


"Buat aku, kamu dan mommy. Buat mbak Arin dan Naura sudah di berikan?" Tanya Ken balik.


"Sudah Mas. Tapi, mommy kan tidak ada Mas. Tadi sudah pulang duluan di jemput oleh daddy." Kata Gitta.


"Hhhhaaa? Huh dasar daddy benar-benar tidak mau ketinggalan." Gerutu Ken.


"Halah, sama saja denganmu Mas. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Cibir Gitta.


"Lha, tidak selalu begitu juga kok." Jawab Ken.


"Maksudnya?"


"Ya, bisa saja pohonnya berada di tepi tebing. Jadi saat buahnya jatuh, langsung ngglundung ke dalam jurang. Hahahaha." Jawab Ken.


"Halah, itu ada-ada kamu saja Mas." Jawab Gitta sambil mencebikkan bibirnya.


Setelahnya, mereka kembali melanjutkkan makan siangnya hari itu.


Hari berganti hari, minggu pun mulai bulan. Kuliah Gitta sudah memasuki ujian akhir semester. Dia sibuk mempersiapkan ujian yang akan dimulai tiga hari lagi. Saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam. Gitta tengah membaca buku kuliahnya di ruang tengah sejak setelah makan malam tadi. Ken membiarkan istrinya mempersiapkan ujiannya. Dia sendiri sedang memeriksa pekerjaannya yang tinggal menunggu finishing itu. Ken duduk di kursi menghadap jendela, sementara Gitta duduk di sofa panjang di sampingnya.


"Mas, mommy kapan pulang sih?" Tanya Gitta di tengah aktivitasnya membaca materi kuliah.


Ken menoleh menatap istrinya sekilas sebelum menjawab pertanyaannya. "Nggak tahu juga sih. Tapi daddy kemungkinan akan lama. Masalah perusahaan di Singapura agak lebih rumit." Jawab Ken.


Gitta menoleh menatap wajah sang suami yang masih fokus pada laptopnya.


"Separah itu kah Mas?" Tanya Gitta.


"Hhhmmm"


"Kenapa kok sampai kebobolan sih Mas?" Tanya Gitta.


"Entahlah, aku juga kurang begitu tahu permasalahannya." Jawab Ken.


Gitta kembali fokus pada buku kuliahnya saat sang suami tidak berniat membahasnya lebih lanjut. Namun, fokus Gitta kembali terpecah saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia menoleh menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja dan segera meraihnya. Gitta segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut saat mengetahui identitas penelepon.

__ADS_1


"Hallo Vit, ada apa malam-malam begini telepon?" Tanya Gitta setelah panggilan telepon tersebut tersambung.


"...."


"Innalillahi, kamu dimana Vit?" Tanya Gitta setengah berteriak. Ken yang mendengar suara Gitta pun langsung menoleh. Netra matanya bisa melihat kepanikan yang menghampiri sang istri.


"Iya-iya aku tahu. Aku akan segera kesana. Kamu yang sabar ya." Jawab Gitta sambil menutup ponselnya. 


Gitta langsung menoleh menatap wajah Ken yang memang tengah memperhatikannya.


"Ada apa?" Tanya Ken.


"Ayahnya Vita meninggal Mas, sekarang masih di rumah sakit." Jawab Gitta. "Antarkan aku ke sana ya Mas." Lanjut Gitta.


Ken segera mengangguk mengiyakan. Mereka segera bersiap-siap dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Gitta langsung mencari keberadaan sang sahabat. Begitu menemukan Vita, Gitta langsung memeluk sahabatnya itu yang masih menangis terisak. Gitta berusaha untuk menguatkannya. 


Ada beberapa orang keluarga Vita disana, namun baik Ken dan Gitta tidak menemukan keberadaan Gilang. Apa mereka masih backstreet? Pikir Ken. 


Tak berapa lama kemudian, jenazah ayah Vita sudah bisa dibawa pulang ke rumah duka. Gitta dan Ken ikut mengiringinya. Kedatangan jenazah disambut tangisan duka dari beberapa keluarga di sana. Gitta masih menemani sang sahabat berusaha untuk menguatkannya. 


Keluarga Vita memutuskan untuk memakamkan jenazah sang ayah esok pagi hari. Hal itu dikarenakan kakak Vita masih dalam perjalanan. Dia ingin melihat sang ayah untuk terakhir kalinya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.35 dini hari. Ken dan Gitta memutuskan untuk pulang dan akan kembali keesokan harinya. Sesampainya di rumah, Ken dan Gitta segera membersihkan diri dan langsung beristirahat. Mereka sangat lelah malam itu.


"Mas, hari ini nggak ada jadwal survey lapangan?" Tanya Gitta yang sudah tahu jadwal Ken pada hari Sabtu.


"Ada sih, tapi aku sudah meminta Bima untuk menggantikanku." Jawab Ken.


Tak berapa lama kemudian, Ken dan Gitta sudah sampai di rumah duka. Sudah terlihat beberapa orang sedang bersiap-siap untuk pemakaman. Gitta langsung berjalan masuk ke dalam rumah untuk menemui sang sahabat. Sedangkan Ken, langsung bergabung dengan para bapak-bapak di bagian depan rumah duka tersebut.


Saat Ken sedang mengobrol dengan seseorang yang diketahui sebagai tetangga Vita, netra matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya tengah menelepon di dekat pintu gerbang rumah tersebut. Sosok yang sekitar dua tahun ini sudah tidak dijumpainya. Ya, dia adalah Alfaro. Sahabat Ken sejak kecil.


Ken berjalan mendekati Al yang saat itu tengah berdiri menghadap ke samping kiri, sehingga dia tidak mengetahui kedatangan Ken. Saat dilihat Al sudah selesai menelepon, Ken menepuk bahunya dengan pelan. Seketika Al menoleh dan mendapati sang sahabat tengah tersenyum tipis.


Al begitu terkejut saat mendapati Ken berada di sana. Kedua sahabat tersebut saling berpelukan singkat dan menanyakan kabar masing-masing. Belum sempat mereka mengobrol lama, namun jenazah ayah Vita sudah hendak dimakamkan. Ken dan Al memutuskan untuk menunda obrolan mereka.


Siang itu, Ken dan Al tengah duduk berdua di sebuah kafe yang berada tak jauh dari rumah Vita. Mereka memutuskan untuk mengobrol di sana. Ken meninggalkan Gitta sebentar di rumah Vita, karena dia masih ingin menemani sang sahabat.


"Jadi, bagaimana lo bisa ada disana?" Tanya Al sesaat setelah mereka memesan makanan.


Ken yang memang belum memberitahu Al jika dia sudah menikah menjadi bingung untuk menjelaskan. Namun, dia tetap harus menjelaskan hal itu kepada Al.


"Ehm, sebenarnya gue sudah nikah Al. Dan, Vita itu sahabat istri gue." Jawab Ken.


"Hhaaa, seriusan lo sudah nikah Ken?" Tanya Al terkejut.

__ADS_1


"Hhhmmm. Sorry, acaranya dadakan, jadi nggak sempat kabar-kabar." Jawab Ken.


Al mengerutkan dahinya sambil menatap wajah Ken. "Dadakan? Jangan bilang lo.." kata Al tidak meneruskan perkataannya.


Ken yang paham maksud Al langsung memotong perkataannya. 


"Enak saja. Enggaklah. Gue nggak nyicil dulu ya." Jawab Ken.


Mendengar jawaban Ken, Al hanya bisa tersenyum sambil menggeleng.


"Lalu, bagaimana ceritanya lo bisa nikah dadakan? Kalian pacaran?" Tanya Al masih penasaran.


Makanan pesanan mereka sudah datang. Mereka menyantapnya sambil sesekali bercerita. Ken menatap wajah sahabatnya itu sebentar sebelum akhirnya dia mulai menceritakan kejadian sebenarnya. Al sesekali menimpali cerita Ken.


"Jadi, sekarang lo bisa terima istri lo?" Tanya Al.


Ken mengangguk mantab mengiyakan pertanyaan Al. "Iya, gue bisa terima dia. Bahkan, gue sudah mulai candu dengannya. Hahahaha." Jawab Ken sambil tertawa.


"Dasar. Si antartika bisa meleleh juga." Kata Al.


"Lalu, bagaimana lo bisa ada di rumah Vita?" Tanya Ken pura-pura tidak tahu.


Al menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Ken.


"Gue …."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf ya jika mulai hari ini upnya agak molor, kerjaan sudah mulai aktif lagi 🙏


Tapi tetap diusahakan up terus.


Mohon juga dukungannya, like, comment dan vote.


Thank you 🤗

__ADS_1


__ADS_2