
"Mas imam?!" Kata Khanza saat melihat Al tengah bersandar pada dinding di dekat tangga. Dia begitu terkejut sahabat sang kakak itu berada di sana.
Rupanya, tak hanya Khanza yang terkejut. Al juga lumayan terkejut saat melihat penampilan Khanza saat itu. Khanza dengan balutan dress berwarna merah, ditambah wajahnya yang menggunakan make up minimalis dan menggunakan sepatu dengan warna senada, membuat dia terlihat berbeda. Tidak terlihat kekanakan seperti biasanya saat sering menggombali dirinya.
Al masih menatap Khanza tak bergeming di tempatnya berdiri. Dia bahkan tidak menyadari saat Khanza sudah berdiri di depannya.
"Apa yang kak Al lakukan di sini?" Tanya Khanza membuyarkan lamunan Al.
Seketika Al menegakkan tubuhnya sambil berpura-pura membenahi kancing jasnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan sikap konyolnya tadi. Setelahnya, Al berdehem cukup keras untuk menetralisir tenggorokannya yang tiba-tiba kering dan rasa yang tiba-tiba merembes masuk ke dalam hatinya. Eeaaaa 😂
"Ehem. Aku diminta Ken untuk menemanimu ke acara nikahannya Vita." Jawab Al.
Khanza langsung membulatkan mulut dan matanya. Dia benar-benar masih tidak mempercayai perkataan Al baru saja. Benarkah? Batin Khanza.
Namun, seketika hatinya berbunga-bunga saat menyadari jika Al memang sedang menunggunya. Senyum hangat langsung terbit pada bibirnya.
"Ah, benarkah? Kenapa kak Ken tidak memberi tahu?" Tanya Khanza bingung.
Al hanya mencebikkan bibirnya sambil mengendikkan bahunya. Setelahnya, Al berjalan mendahului Khanza.
"Ayo segera berangkat. Acara sudah hampir dimulai." Kata Al.
Setelah mendengar perkataan Al, Khanza segera berjalan mengekori Al. Tak lupa juga dia mengambil hadiah titipan dari Gitta dan Ken buat Vita yang tadi dititipkan pada resepsionis.
Khanza mengikuti Al yang masih berjalan menuju ke arah mobilnya terparkir. Al melirik Khanza yang tengah kesulitan membawa hadiah dari Gitta dan Ken seketika berhenti di depan pintu utama salon tersebut. Dia berbalik hingga menghadap Khanza.
"Biar aku yang bawa." Kata Al sambil mengambil alih hadiah yang tengah dibawa oleh Khanza.
Khanza memberikan hadiah tersebut kepada A, karena memang dirinya juga kesulitan membawanya. Apalagi dia menggunakan stiletto yang lumayan tinggi.
Al memasukkan hadiah itu di jok belakang kemudian membukakan pintu untuk Khanza. Khanza yang melihatnya masih diam mematung tak percaya.
"Jadi berangkat nggak nih?" Tanya Al membuyarkan pikiran Khanza.
__ADS_1
Khanza yang mendengar perkataan Al langsung tersadar. Buru-buru dia menyelinap masuk pada kendaraan Al. Setelahnya, Al menutup pintu mobilnya dan berjalan berputar menuju bagian kemudi.
Tak berapa lama kemudian, Al segera menjalankan mobilnya menuju tempat acara pernikahan Vita.
Selama dalam perjalanan, Khanza masih mencuri-curi pandang ke arah Al. Dia masih belum mendapat pencerahan kenapa Al bisa diminta Ken untuk datang ke sana dan menjemputnya. Kemana sang sopir yang tadi menunggunya. Khanza masih bingung mengenai hal itu.
Bukan Al tidak menyadari jika Khanza tengah mencuri-curi pandang ke arahnya, namun Al berusaha untuk tidak mempedulikannya. Al masih diam membisu sambil fokus pada jalanan di depannya.
Khanza yang sudah tidak tahan akhirnya membuka suara.
"Ehm kak Al, kalau boleh tahu kenapa kak Ken meminta kak Al datang menjemputku? Kemana mang Jo?" Tanya Khanza memberanikan diri.
Al melirik Khanza sekilas sebelum menjawab pertanyaannya.
"Tadi Ken bilang jika kamu tidak mempunyai teman. Jadi dia memintaku untuk menemanimu." Jawab Al dengan ekspresi wajah datarnya.
Khanza menghembuskan nafas beratnya setelah mendengar jawaban Al. Bukan dia tidak senang berangkat dengan Al, senang sekali malah. Namun, setelah melihat ekspresi Al yang datar-datar saja, dia sedikit kecewa. Khanza berfikir jika Ken terpaksa harus menjemputnya dan pergi bersama ke acara nikahannya Vita.
Khanza benar-benar merasa tidak enak hati dengan hal itu. Dia segera mengambil ponselnya untuk memprotes sang kakak atas permintaannya kepada Al. Namun, saat hendak membuka ponselnya, sebuah pesan masuk dari akun instagramnya.
Khanza mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan langsung itu. Karena penasaran, dia mengetikkan balasan untuk pesan tersebut.
Ini siapa? Apa aku mengenalmu? ~ tulis Khanza pada balasan pesan tersebut.
Al yang melirik Khanza yang tengah sibuk membalas pesan langsung yang masuk pada salah satu akun media sosialnya. Dia terlihat mengernyitkan keningnya.
"Pacar kamu?" Tanya Al. Entah mengapa pertanyaan itu meluncur dengan sendirinya dari mulutnya.
Khanza yang mendengar pertanyaan Al pun langsung menoleh sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Aku hanya nggak tahu dia siapa Kak. Dari beberapa hari yang lalu dia sering mengirimiku pesan aneh." Jawab Khanza.
Al semakin mengernyitkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Pesan aneh? Maksudnya?" Tanya Al.
Khanza menghembuskan nafas beratnya sebelum mulai menjelaskan maksud pesan aneh tersebut. Dia juga memberitahu Al akun yang digunakan untuk memgiriminya pesan langsung tersebut.
Al yang mendengarkan penjelasan Khanza hanya bisa diam. Dia tidak merasa mengenal akun tersebut. Jadi, dia hanya merespon biasa saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, entah mengapa ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Al sudah sampai di lokasi pernikahan. Al segera mencari tempat parkir yang kosong dan segera memarkirkan kendaraannya. Acara pernikahan Vita dilaksanakan di sebuah gedung tak jauh dari rumahnya.
Al membantu Khanza turun dari mobil dan membawakan hadiah dari Gitta dan Ken. Mereka berjalan masuk ke dalam gedung bersama-sama.
Tamu undangan yang hadir siang itu lumayan ramai. Banyak rekan sejawat ibu Vita yang merupakan guru sebuah SMP pun terlihat hadir.
Setelah memberikan hadiah dari Gitta dan mengisi daftar hadir, Khanza dan Al berniat memberikan selamat kepada kedua mempelai. Mereka hendak berjalan menuju pelaminan. Namun, karena banyaknya tamu yang hadir siang itu, suasana pun terlihat ramai. Hingga ada seorang ibu yang tak sengaja menyenggol bahu Khanza dengan lumayan keras. Khanza yang terkejut langsung terdorong hendak terjatuh. Beruntung Al yang berada di sampingnya menyadari hal itu. Secepat kilat dia menangkap tubuh Khanza dan memeluknya dengan erat agar tubuhnya tidak menyentuh lantai.
Kedua lengan Khanza langsung mengalung dengan sempurna pada leher Al. Sedangkan kedua tangan Al memegangi pinggang Khanza untuk menahannya agar tidak terjatuh. Tubuh keduanya saling menempel.
Khanza masih belum menyadari posisi tubuhnya. Seketika dia menoleh menatap wajah Al yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Khanza begitu terkejut saat wajah itu berada sangat dengan wajahnya.
Kedua netra mata Khanza terkunci oleh tatapan Al. Khanza seolah lumpuh dengan tatapan mata Al yang seolah menusuk hingga hatinya. Khanza seolah tak mampu mengalihkan pandangan matanya pada wajah Al. Khanza masih terpaku pada wajah Al, hingga tatapan matanya turun pada bibir lembut itu. Dia tidak menyadari saat bibirnya bergumam.
"Piye rasane kuwi?" 🙄
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mohon maaf slow up, kerjaan di real life menumpuk karena ngedrop kemarin 🙏