
Salsa dan Dina langsung terdiam saat melihat Siska dan beberapa orang yang tadi mengguyur badan mereka dengan air kotor berdiri di depan mereka. Salsa dan Dina pasrah saat mereka menjadi pusat perhatian.
"Kalian dengar baik-baik. Aku tidak akan melepaskan kalian, terutama kamu!" Kata Siska sambil menunjuk tajam ke arah Salsa. "Kalian tidak akan bisa hidup tenang di kota ini!" Lanjutnya sambil beranjak pergi dari tempat itu.
Setelah Siska dan anak buahnya pergi, Dian menoleh ke arah Salsa.
"Ini semua gara-gara lo! Karena semua perbuatan lo gue jadi ikut terseret. Nyesel banget gue temenan sama lo." Bentak Dina dan langsung pergi dari hadapan Salsa.
Salsa yang tidak terima dengan bentakan Dina pun langsung berusaha untuk mengejarnya. Namun, saat dia hendak melangkahkan kakinya, ponselnya berbunyi. Dia segera menghentikan langkahnya dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Salsa melihat nama papanya tertera pada layar ponselnya. Segera dia menggeser ikon berwarna hijau tersebut.
"Hal…" belum sempat Salsa menyapa sang papa, suara melengking papanya sudah terdengar dari seberang sana.
"Dasar anak ku**** A***, tidak tahu diri. Kamu sengaja mempermalukan keluargamu hah?!" Teriak sang papa.
"Ak…"
"Kamu sudah membuat karir papa hancur. Kamu sudah berhasil membuat keluarga kita menanggung malu dan berantakan." Bentak papa Salsa.
"Pa…"
"Sekarang kamu pulang!" Kata papa Salsa. Setelahnya panggilan telepon tersebut dimatikan.
Salsa hanya bisa memandang ponselnya setelah papanya memutuskan panggilan teleponnya. Dia masih belum sadar jika dirinya masih menjadi pusat perhatian dari sekitar lima puluhan orang yang berada di sekitarnya.
Salsa langsung menyadari hal itu saat ada beberapa orang yang terlihat mengabadikan dirinya dengan ponselnya. Seketika Salsa menutupi wajahnya dengan tas dan berjalan dengan cepat untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah acara konferensi pers, Ken dan Vanno segera keluar dari ruangan. Mereka segera menuju ke ruang kerja mommy Retta untuk menjemputnya. Sore itu, mereka akan bersama-sama ke rumah sakit untuk menjemput Gitta.
Sementara itu di rumah sakit, Khanza sudah membantu Gitta bersiap-siap. Infus Gitta juga sudah dilepas sejak siang tadi. Khanza duduk di sofa yang terletak tak jauh dari brankar Gitta.
"Kak, gimana rasanya menikah muda?" Tanya Khanza dengan antusiasnya.
"Eh," Gitta yang saat itu sedang membalas pesan Ken seketika langsung menoleh menatap wajah sang adik ipar. "Kenapa tanya seperti itu?" Tanya Gitta.
"Ya, aku hanya ingin tahu rasanya Kak. Sepertinya sangat menyenangkan sekali bisa menikah muda. Dulu mama dan papa, mommy dan daddy juga menikah muda. Sekarang, kak Ken dan kak Gitta juga menikah muda. Apa aku nanti juga akan menikah muda ya?" Kata Khanza sambil menerawang.
Gitta tersenyum melihat sang adik. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas dan memperbaiki posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaan Khanza.
"Setiap pernikahan itu tidaklah bisa disamakan Za. Pernikahan mama dan papa, mommy dan daddy, mas Ken dan aku, semuanya punya cerita sendiri. Ibaratnya jika sedang ujian sekolah, semua siswa akan mendapatkan soal dengan seri berbeda. Begitu juga dengan pernikahan."
"Mungkin, kita melihat pernikahan mama dan papa serta mommy dan daddy sangat bahagia. Tapi, kita tidak tahu seberapa besar perjuangan mereka dulu hingga sampai detik ini. Bahkan, sampai kini pun mereka masih terus berusaha."
"Mas Ken dan aku pun juga mengalami hal yang sama. Meskipun pernikahan kami masih beberapa bulan, kami masih terus berusaha untuk saling menyesuaikan diri. Apalagi, sejarah pernikahan kami kan luar biasa. Hehehehe." Kata Gitta.
Khanza yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. Dia ingin menanyakan beberapa hal kepada Gitta. Namun, saat hendak mengutarakan pertanyaannya, terdengar suara pintu diketuk. Khanza segera beranjak berdiri untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Ceklek.
Begitu pintu terbuka, wajah Khanza langsung terlihat berbinar. Senyum terbit pada bibirnya. Matanya juga seakan tak rela untuk berkedip.
"Mas imam." Gumam Khanza yang masih dapat didengar oleh orang yang berdiri di depan pintu. Ya, dia adalah Al. Al memang sengaja datang ke sana setelah jam tugasnya habis sore itu. Dia berharap bisa bertemu dengan Ken. Namun, bukannya Ken yang di temui di sana, malah adiknya yang ajaib itu yang ditemui.
Al mendengus kesal setelah mendengar perkataan Khanza.
"Enak saja imam. Namaku Al." Kata Al dengan ekspresi wajah datarnya.
Khanza masih terdiam sambil memperhatikan wajah Al. Dia masih menatap wajah Al dengan tatapan mata penuh binar bahagia.
"Nggak apa-apa Kak, nanti juga akan ganti." Jawab Khanza asal.
"Ccckkk. Enak saja mau ganti nama orang. Mau kamu ganti apa?" Entah apa maksud Al masih menyahuti pernyataan konyol Khanza.
"Jadi imam sholat, imam keluarga dan imam diatas ranjang." Jawab Khanza.
Al mengetuk kepala Khanza dengan stetoskop yang dibawanya.
Puk.
Khanza langsung mengaduh sambil meringis mendapati perlakuan dari Al. Dia langsung merengut kesal.
Khanza menggeser tubuhnya agar Al bisa masuk. Setelahnya, dia segera mengekori Al yang sudah masuk ke dalam kamar untuk menemui Gitta.
"Bagaimana kabarmu Git?" Tanya Al.
"Eh, baik Kak. Sudah selesai praktek hari ini?" Tanya Gitta.
"Iya, habis ini juga pulang. Ehm, Ken belum datang ini?"
"Masih di jalan Kak, sebentar lagi juga sampai." Jawab Gitta.
Dan benar saja, Ken, mommy dan daddy terlihat masuk ke dalam ruang perawatan Gitta.
"Al, lo disini. Sudah selesai praktek lo?" Tanya Ken sambil memberikan kecupan pada pucuk kepala sang istri.
"Iya." Jawab Al setelah memberikan salam kepada mommy Retta dan daddy Vanno.
Mommy yang baru saja tiba, langsung berdiri di samping sang menantu.
"Sudah siap pulang sayang?" Tanya mommy.
"Iya, Mom. Aku sudah siap." Jawab Gitta.
__ADS_1
"Syukurlah. Ken, kamu urus administrasinya dulu gih." Kata mommy kepada Ken. Ken segera mengangguk dan beranjak pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kepulangan Gitta.
Daddy memperhatikan Khanza yang tengah tersenyum-senyum sendiri saat memandang Al langsung berdehem.
"Sayang, kamu mau nggak punya menantu lagi?" Tanya daddy Vanno sambil mencolek lengan mommy Retta.
"Eh, menantu? Memangnya siapa yang mau menikah Mas?" Tanya mommy.
"Entahlah. Nanti kita tanyakan apakah Al mau jadi menantu kita." Jawab Vanno sambil melirik Khanza. Mommy yang sudah mulai paham dengan maksud Vanno langsung tersenyum.
"Ah iya. Al, apakah kamu sudah punya niatan untuk menikah?" Tanya mommy.
Al yang saat itu tengah memainkan ponselnya segera mendonggakkan kepalanya untuk menatap Retta.
"Eh, menikah tante?" Tanya Al memastikan.
"Iya. Tante kira kamu sudah pantas untuk menikah. Lagipula, papa dan mama kamu juga meminta kamu untuk segera menikah kan?" Kata Retta.
Al terlihat menghembuskan nafas beratnya. Dia kembali teringat oleh permintaan papa dan mamanya tadi malam. Mereka menginginkan Al untuk segera menikah. Papa dan mamanya Al memberikan waktu selama satu bulan untuknya mencari calon istri.
"Iya, tante benar." Jawab Al sambil menunduk. "Mama dan papa memang meminta Al segera menikah. Mereka ingin agar Al segera memberikan mereka cucu." Lanjut Al.
Vanno dan Retta sama-sama tersenyum mendengarnya. Begitu juga dengan Khanza yang mendengar jawaban Al. Pikiran Khanza sudah mulai menjelajah ke mana-mana hingga membuatnya tak berhenti menyunggingkan senyuman pada bibirnya. Hingga lamunan Khanza ambyar karena pertanyaan Vanno
"Za?" Tanya Vanno berusaha untuk menyadarkan lamunan sang putri.
"Khanza siap kok Dad."
"Hhaah."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, like, comment dan vote
Thank you 🤗
__ADS_1