
"Siapa yang kempong?" Tanya Ken yang ternyata sudah kembali lagi ke butik.
Glek. Ketiga orang yang tadi tengah membicarakannya segera menoleh menatap Ken. Retta segera berdiri dan berjalan mendekati sang putra.
"Bukan siapa-siapa sayang." Kata Retta. "Kamu sudah siap?." Lanjutnya.
"Hhhmmm."
"Baiklah. Kali ini kamu akan pergi bersama Gitta. Kalian sudah saling mengenal kan."
"Hhhmmm."
Retta menghembuskan napas dengan kasar. Putranya ini memang sangat irit bicara. Dia jadi merasa kasihan pada Gitta yang akan pergi bersamanya nanti.
"Dengar Ken." Kata Retta yang sudah mulai tegas dengan memanggil nama Ken langsung. Si empunya pun juga langsung menoleh menatap sang mommy. "Kali ini, kamu dan Gitta akan pergi bersama ke Bandung untuk urusan pekerjaan. Sukses tidaknya, lancar tidaknya pekerjaan ini, semua tergantung pada kerja sama kalian. Jadi, mommy mohon kalian harus bisa saling membantu. Naura tidak bisa ikut kali ini. Sedangkan mommy tidak bisa menggantikannya dengan orang lain yang tidak mengerti konsep pekerjaan kali ini. Mommy tidak mau ambil resiko terlalu besar. Kamu mengerti kan?" Tanya mommy kepada Ken.
"Iya Mom, aku sudah tahu itu. Aku akan bekerja sebaik mungkin." Jawab Ken.
Retta tersenyum mendengarnya. Segera dia menangkup pipi sang putra dan dengan gemas mencubitnya. "Bagus, mommy senang mendengarnya. Hhhhmmmmm." Kata Retta sambil mencubit gemas pipi Ken.
Ken berusaha menghindar dari tingkah mommy nya yang berusaha mencubit pipinya lagi. "Mom, jangan gini dong. Aku sudah bukan anak kecil lagi ih. Lebih baik Khanza suruh balik lagi ke Jakarta deh, biar bisa mommy usilin." Gerutu Ken.
Retta yang mendengar Ken menggerutu malah tertawa lebar. Dia selalu gemas melihat tingkah putranya itu jika sedang merajuk.
"Sudah-sudah, kalian harus segera berangkat." Kata Retta setelah berhasil meredakan tawanya. "Ingat Ken, kali ini kamu tidak pergi sendiri. Apalagi perjalanan kali ini lumayan jauh. Jadi, mommy mohon jangan terlalu dingin dan ketus sama Gitta. Kasihan dia jika harus puasa ngomong." Lanjut Retta.
"Iya Mom,"
Setelahnya, mereka segera bersiap-siap untuk memasukkan semua perlengkapan yang dibutuhkan ke dalam mobil. Kali ini, Ken membawa mobil daddynya yang lebih besar. Setelah semua selesai, mereka bersiap berangkat.
"Hati-hati Git. Ingat apa yang aku sampaikan tadi." Pesan Retta pada Gitta.
"Iya Bu."
"Hati-hati Ken. Jangan ngebut, ingat juga kamu membawa anak orang. Kamu bertanggung jawab untuk menjaganya." Pesan Retta.
"Iya Mom. Memang Ken ngapain sih harus bertanggung jawab pula." Ken masih saja merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh sang mommy.
__ADS_1
Retta tersenyum kecil mengiringi keberangkatan Ken dan Gitta ke Bandung. Dan, dari sinilah cerita bermula. 🤭🤭
Gitta terpaksa duduk di kursi samping kemudi karena Retta memaksanya. Dia duduk tidak nyaman di sana. Tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Ken juga menyalakan musik untuk mengusir keheningan.
Gitta tetap memainkan ponselnya ketika Ken membelokkan kendaraannya ke sebuah masjid. Seketika Gitta mendongakkan kepalanya.
"Sholat maghrib dulu." Kata Ken singkat tanpa menoleh ke arah Gitta. Setelahnya, Ken segera keluar dari mobil dan diikuti oleh Gitta. Ken segera menuju toilet laki-laki, sementara Gitta beranjak menuju tempat wudhu wanita.
Ken menunggu Gitta selesai sholat di dalam kemudinya. Dia terlihat memainkan ponselnya hingga tidak menyadari Gitta sudah selesai.
"Maaf menunggu lama." Kata Gitta sambil mendudukkan diri di samping kemudi.
"Hhhmmm." Hanya itu respon Ken sambil menyalakan mesin mobilnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah warung lesehan bebek goreng. Gitta menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekeliling.
"Kita makan malam dulu." Kata Ken sambil beranjak keluar dari dalam mobil.
Gitta hanya mendengus kesal setelah melihat Ken keluar. Dia merutuki diri dalam hati kenapa harus bekerja sama dengan orang seperti Ken. Namun, dia tidak bisa menolaknya. Gitta mengikuti Ken memasuki warung lesehan tersebut.
Diedarkannya pandangan matanya untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah mendapatkan tempat duduk yang masih kosong, Gitta hendak beranjak kesana. Namun, langkahnya terhenti ketika Ken menarik jaketnya hingga dia berhenti.
Mendengar perkataan Ken, Gitta hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia mengekori kemana tujuan Ken. Ken membawanya duduk lesehan di dekat pagar pembatas. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh pengunjung yang ada di warung lesehan tersebut.
Seorang laki-laki terlihat berjalan menghampiri meja Ken dan Gitta.
"Malam mas Ken, suwi ndak rene je." Kata laki-laki itu.
Mendengar perkataan laki-laki tersebut, Ken tersenyum. "Lumayan sibuk Mas. Kerjaan semua numpuk." Jawab Ken.
"Tapi semua keluarga sehat kan?" Tanya laki-laki itu.
"Alhamdulillah sehat, Mas Bud." Jawab Ken. Ya, dia adalah mas Budi, pemilik warung makan lesehan tersebut dan juga merupakan adik dari menantu bi Mar. Dia sudah pindah kesini dari Surabaya, mengikuti sang kakak sebelum akhirnya sang kakak bekerja ke Kalimantan.
"Waahh, sekarang sudah ada perkembangan nih. Sudah bawa pacar." Goda mas Budi sambil melirik ke arah Gitta.
Ken hanya tersenyum tanpa menyangkal atau mengiyakan. Sementara Gitta gelagapan mendengar perkataan laki-laki itu.
__ADS_1
"Pesen seperti biasa ya Mas, dua porsi. Dua porsi lagi dibungkus." Kata Ken kepada mas Budi. Mas Budi segera mengangguk mengiyakan dan meminta karyawannya untuk menyiapkan pesanan Ken.
Sementara itu, Gitta terlihat kesal. Dia menatap ke arah Ken sambil mencebikkan bibirnya. Menyadari dirinya tengah ditatap, Ken segera mendongakkan kepalanya.
"Apa?" Tanya Ken kepada Gitta.
Gitta tambah kesal dibuatnya. "Kenapa tadi Mas Ken diam saja tidak menyangkal jika aku bukan pacar Mas?" Tanya Gitta.
Ken mengendikkan bahunya sambil mencebikkan bibirnya tanpa merespon perkataan Gitta. Gitta semakin dibuat kesal dengan tingkah Ken. Jika bukan karena Ken adalah anak dari bosnya, Gitta pasti sudah mengamuk kepada Ken. Namun, Gitta masih mengingat siapa Ken sebenarnya, jadi dia hanya bisa menahan gemuruh yang ada di batinya.
Beberapa saat kemudian, pesanan mereka sudah datang. Ken dan Gitta segera menyantap makan malam mereka. Tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Di mata orang lain yang melihat, mungkin Ken dan Gitta terlihat seperti pasangan yang sedang marahan.
Setelah selesai, Ken segera membayar makan malamnya dan pamit kepada mas Budi. Ken berjalan ke arah mobilnya dan diikuti oleh Gitta di belakangnya. Setelah siap, Ken segera menyalakan mobilnya dan berangkat menuju lokasi bumi perkemahan yang ada di Bandung.
Gitta menghembuskan napas dengan kasar saat dirinya sudah mulai bosan karena tidak adanya obrolan yang terjadi di antara mereka. Ken melirik Gitta yang tengah menoleh ke arah luar jendela. Gelap, itulah yang mereka lihat di sepanjang jalan tol yang mereka lalui.
"Tidurlah. Akan aku bangunkan jika sudah sampai." Kata Ken kemudian.
Gitta menoleh menatap Ken saat mendengar laki-laki itu membuka suara sejak hampir tiga puluh menit berlalu setelah dari warung makan.
"Tidak usah. Aku akan tetap berusaha terjaga." Kata Gitta.
"Hhhmmm."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Maaf segini dulu ya, authornya masih di jalan.
__ADS_1
Jika berkenan, jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote. 🤗
Terima kasih 🤗