Mendadak Istri

Mendadak Istri
Daddy Evan 4


__ADS_3

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pa?" Evan menatap sang papa dengan tatapan putus asanya. Dia sudah mulai terlihat kalut saat mengingat sang mama.


"Kita harus sama-sama membantu mama kamu, Van. Pelan-pelan, kita bujuk mama kamu untuk mau menjalani pengobatan. Sebenarnya, Papa sudah mencoba untuk membujuk mama kamu sejak beberapa bulan yang lalu. Namun, selalu saja mama kamu menolaknya. Ada saja alasan yang membuat mama kamu mangkir dari pengobatan." Papa Jimmy terlihat juga sangat frustasi. Dia berulang kali meraup wajahnya dengan kasar.


Evan menatap wajah papanya tersebut dengan tatapan khawatir. Dia benar-benar tidak bisa melihat orang tuanya tersebut cemas.


"Aku akan berusaha untuk membujuk mama, Pa. Aku akan terus membujuknya agar mama mau melakukan pengobatan." Evan berkata dengan sangat mantap. Dia sudah bertekad untuk membuat mamanya tersebut mau melakukan pengobatan. Evan ingin mamanya bisa segera sembuh.


Sebuah senyuman merekah dari bibir papa Jimmy. Sebuah harapan baru, terlihat pada wajah papa Jimmy. Dia berhadap semoga istrinya tersebut mau menuruti perkataan sang putra semata wayang.


Namun, angan-angan tidak semulus kenyataan. Awalnya, mama cukup terkejut saat tahu jika putranya mengetahui tentang penyakit yang dideritanya. Mama sempat mengelak dari pertanyaan yang diberikan oleh Evan. Namun, lama kelamaan mama akhirnya mengakui juga tentang penyakitnya.


Sejak saat itu, Evan benar-benar gencar untuk membujuk mama agar mau melakukan pengobatan. Namun, ternyata hal itu tidak mudah. Mama seolah kehilangan semangat untuk hidup. Keinginannya untuk sehat pun seolah tidak ada. Mama yang dulu sangat ceria, kini mendadak tidak lagi ceria. Rumah yang dulu merupakan tempat yang selalu Evan rindukan saat berada di luar negeri, kini tidak lagi tampak lagi kehangatan.


Berulang kali mama dan Evan membujuk mama untuk melakukan serangkaian pengobatan, namun hanya beberapa kali saja mama menuruti keinginan putra dan suaminya.

__ADS_1


***


Tak terasa, kini sudah hampir satu tahun lamanya Evan berada di Jakarta. Selama itu pula, dia sibuk kuliah dan juga sibuk menjaga sang mama. Beruntung saat memasuki bulan keempat, mama Evan sudah mulai mau mengikuti pengobatan secara rutin. Dia juga bahkan sudah mau mengikuti jadwal check up di Singapura, meskipun hanya satu bulan sekali.


Meskipun begitu Evan dan sang papa merasa cukup bahagia, karena mama sudah mau mengikuti pengobatan.


Hari itu, adalah hari terakhir di semester empat yang diikuti oleh Evan. Dia sudah bersiap di atas mobilnya dan segera melajukannya menuju rumah. Sesampainya di rumah, Evan segera bergegas untuk menemui mamanya. Hari itu, mereka akan ke dokter untuk pemeriksaan rutin sang mama.


"Sudah pulang, Sayang?" Tiba-tiba sang mama sudah berjalan untuk menghampiri sang putra. Terlihat sekali dia sudha bersiap.


"Sudah. Mama sudah siap?"


"Aku ganti baju dulu, Ma. Setelah itu, kita berangkat."


"Iya. Nanti setelah dari rumah sakit, kita belanja sebentar, ya?"

__ADS_1


Evan yang sudah sering menemani sang mama belanja pun langsung mengangguk mengiyakan.


"Baiklah."


Tak berapa lama kemudian, keduanya segera berangkat menuju rumah sakit. Evan bersyukur, kondisi mama semakin membaik. Dia dan sang papa bahkan sempat heran dengan semangat sang mama.


Setelah dari rumah sakit, seperti biasa, Evan segera mengantarkan sang mama untuk berbelanja bahan makanan. Hari itu, sang mama belanja bahan makanan sedikit lebih banyak. Evan tidak terlalu tahu mengapa mamanya belanja bahan makanan sebanyak itu.


Menjelang pukul tiga sore, Evan dan mama sudah sampai di rumah. Evan membantu sang mama untuk membawakan belanjaan mereka ke dalam rumah.


"Van, nanti malam kamu jangan keluar rumah, ya." Mama berkata sambil berjalan menuju dapur.


"Eh, ada apa, Ma?"


"Nanti akan ada tamu yang datang untuk makan malam di rumah kita."

__ADS_1


"Tamu? Siapa, Ma?"


"Nanti kamu juga pasti akan tau," ucap mama sambil mengulas senyumannya.


__ADS_2