Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 77


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Vanno terlihat sudah kembali setelah makan siangnya bersama dua orang sahabatnya. Dia membawa dua bungkus paper bag dan segera menyerahkannya kepada Retta.


"Apa ini Mas?" tanya Retta sambil menerima paper bag tersebut.


"Emmmphuoll," jawab Vanno dengan mulut penuh dengan roti yang sejak tadi di lahapnya.


"Ap-apa?!"


Tuk. Vanno memukul dahi Retta dengan sendok yang sedang dibawanya. Mendapat pukulan singkat, Retta meringis sambil mengusap-usap dahinya.


"Apaan sih Mas," kata Retta sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Sakit tau," lanjutnya.


"Kamu yang apa-apaan. Pikirannya ngeres mulu." kata Vanno. " Ini isinya sempol, Ta. Tadi ada yang jual sempol di depan rumah makan padang di samping rumah sakit ini. Aku pikir kamu akan sangat senang jika aku bawakan sempol," lanjut Vanno.


Mendengar penjelasan Vanno, wajah Retta tampak berbinar. Dia memang sangat menggemari jajanan tersebut. Dibukanya paper bag tersebut dengan segera. Bibir Retta langsung menyunggingkan senyumannya ketika mendapati bahwa paper bag tersebut memang berisi sempol lengkap dengan saos, kecap dan sambal yang dikemas dengan kemasan berbeda.


Vanno yang melihat Retta sangat bahagia merasa senang. Ternyata rasanya seperti ini bisa membahagiakan istri walau dengan hal sepele, batin Vanno. Retta segera memasukkan saos, kecap dan sambal ke dalam satu mangkuk yang memang sudah disiapkan oleh Vanno.


Retta segera melahapnya ketika semua sudah siap. Vanno juga ikut menikmati sempol tersebut setelah Retta menyodorkan satu tusuk sempol kepadanya. 

__ADS_1


"Axcell dan Neo langsung balik Mas?" tanya Retta sambil mengunyah sempolnya.


"Iya, mereka titip salam," jawab Vanno. Sementara itu, Retta hanya mengangguk mengiyakan.


*****


Tak terasa Retta sudah tiga hari di rawat di rumah sakit. Hari ini, dia sudah diijinkan pulang oleh dokter Yudith. Retta sangat senang sekali mendengar perkataan dokter Yudith.


Menjelang siang, Retta, Vanno dan mommy sudah sampai di kediaman mereka. Vanno segera memindahkan Retta ke atas kursi Roda. Awalnya Retta menolak menggunakan kursi roda tersebut. Namun, karena Vanno mengancam akan membuatnya tidak bisa beristirahat sepanjang malam selama dua minggu penuh, akhirnya Retta menyetujuinya.


Retta benar-benar merasa heran bagaimana mungkin suaminya menjadi semakin mesum seperti itu. Selama tiga hari di rumah sakit, Vanno sudah dua kali mengerjai Retta. Pertama di dalam kamar mandi dan kedua di atas tempat tidur  setelah dokter Yudith memeriksa keadaan Retta.


Retta yang membayangkan adegan panasnya dengan Vanno di rumah sakit merasakan panas di seluruh tubuhnya. Bulu tangannya meremang, sedangkan wajahnya terasa sangat panas.


Melihat wajah Retta yang semakin merah membuat Vanno menghentikan kegiatannya membawa beberapa paper bag menuju walk in closet. Dia meletakkan paper bag tersebut di atas sofa yang ada di ruangan tersebut, kemudian berjalan mendekati Retta.


"Apa yang kamu pikirkan hmm?" tanya Vanno sambil membungkuk di depan Retta dan menatap wajahnya.


Retta hanya menggelengkan kepala dan menunduk menghindari tatapan Vanno. "Ti-tidak ada," jawabnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin jika tidak ada," kata Vanno. "Kenapa wajahmu memerah, apa kamu memikirkan adegan ranjang kita?" tanya Vanno sambil tersenyum smirk.


Retta yang terkejut segera mendongak dan memandang Vanno dengan nanar. Belum sempat Retta hendak protes, dia sudah dibungkam oleh bibir Vanno.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, vote dan komen


Kasih rating juga biar tambah semangat upnya 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2