Mendadak Istri

Mendadak Istri
Side Story MI 2


__ADS_3

"Salsa?" Gitta cukup terkejut saat melihat Salsa sebagai kasir minimarket tersebut. Hal yang sama juga tampak di wajah Salsa yang sama terkejutnya melihat Gitta berada di depannya. 


"Hhmmm." Respon Salsa yang hanya berupa gumaman tersebut membuat Gitta mau tidak mau mencebikkan bibir. Setelah itu, tidak da percakapan apapun diantara mereka. 


Gitta tidak mau membuat keributan atau menarik perhatian orang, karena saat itu ada beberapa orang yang juga mengantri di depan kasir. Setelah semua selesai di hitung, Gitta segera membayar belanjaannya dan langsung beranjak pergi. Dia tidak menyadari jika Salsa mperhatikannya sejak tadi.


Hari itu, Zee sudah dibawa pulang. Dia sudah lumayan aktif seperti dulu, meskipun masih sedikit lemah. Mommy Retta bahkan sudah sejak siang berada di rumah Ken.


"Kamu jangan ke butik dulu ya, Sayang. Temani cucu Mommy sampai dia benar-benar pulih."


"Iya, Mom. Aku akan merawat Zee dulu sampai dia benar-benar pulih."


Malam harinya, Ken sudah berada di atas tempat tidur dengan Zee yang sedang bermain-main dengan jarinya. Ken selalu merasa gemas dengan Zee yang sudah mulai tertawa-tawa seperti itu.


"Yang, sepertinya Zee sudah haus nih. Susuin dulu, gih." Ken menolehkan kepala ke arah walk in closet, dimana Gitta berada.


"Iya, sebentar, Mas."


Tak berapa lama kemudian, Gitta sudah keluar dan berjalan ke arah tempat tidur. Malam itu, dia hanya memakai baju tidur biasa berlengan pendek dengan celana pendek sebatas lutut.


Gitta langsung membuka beberapa kancing baju tidurnya, dan segera merebahkan diri di samping Zee. Zee yang melihat hal itu langsung melepaskan jari Ken. Dia seolah melupakan keberadaan sang daddy di sana.

__ADS_1


Hap. Dengan penuh semangat, bayi laki-laki tersebut langsung menyambar pabrik nutrisinya. Ken yang melihat hal itu hanya bisa pasrah. Selama kurang lebih dua tahun, dia harus bersabar berbagi dengan sang putra.


Gitta yang melihat perubahan ekspresi Ken pun langsung paham. "Ckckck, kenapa lagi sih, Mas? Masih saja cemberut lihat anaknya cari nutrisi. Ingat, Mas, Zee juga baru sakit. Dia harus banyak-banyak dapat asupan gizi yang bagus. Jangan sampai dia sakit lagi."


Ken hanya bisa mengangguk dengan lemas. Setelah itu, dia segera merebahkan diri di samping Zee yang tengah membelakanginya. Ya, sejak Zee pulang dari rumah sakit, Gitta dan Ken membawa sang putra tidur bersama mereka.


Ken masih mengamati apa yang dilakukan sang putra. Sesekali, dia menoel-noel punggung Zee yang tengah menyedot pabrik nutrisinya tersebut. Gitta yang melihat hal itu langsung memelototkan kedua bola matanya dengan tajam ke arah Ken.


"Apa-apaan sih, Mas. Jangan ganggu, ih. Sana jauh-jauh," usir Gitta. Mau tidak mau, Ken hanya bisa mencebikkan bibirnya. 


Saat dia hendak menyahuti perkataan Gitta, terdengar suara getar ponsel miliknya. Ken segera membalik tubuhnya dan meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas tersebut. Terlihat nama daddy Vanno di layar ponselnya. Ken segera menyambungkan panggilan telepon tersebut.


"Hallo, Dad. Ada apa?"


"Ini dirumah, Dad. Lagi nunggu giliran."


"Nunggu giliran? Giliran apa?"


"Nyen nyen."


Puk. Gitta yang mendengar jawaban sang suami langsung memukul bahunya. "Sembarangan kalau ngomong," gerutu Gitta.

__ADS_1


Ken hanya bisa meringis sambil mengusap-usap bahunya. Dia juga bisa mendengar helaan napas sang daddy di seberang sana.


"Kapan sih otak kamu bisa benar, Ken?"


"Ckckck, Daddy nanyain itu ke aku, coba kalau aku tanya balik. Memang Daddy bisa jawab?"


"Ya jelas lah."


"Jelas apa?"


"Jelas nggak bisa. Hahahaha."


Ken hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar jawaban sang daddy. Setelah cukup puas tertawa, daddy Vanno kembali bersuara.


"Kamu bisa kemari sebentar, Ken?"


"Memangnya ada apa, Dad?"


"Ini ada yang ngirim paket. Tapi tertulis untuk kamu dan Gitta. Tadi, Daddy pikir itu hadiah pernikahan kamu dan Gitta. Namun, setelah dibuka, ternyata isinya mengejutkan."


"Eh, memangnya apa isinya?"

__ADS_1


"Kamu lihat saja sendiri."


🤔🤔


__ADS_2